Episode 3

Bab 3

Kamar depan lantai dua ternyata memang kosong, tetapi bukan berarti siap ditempati.

Begitu pintu dibuka, aroma pengharum ruangan yang terlalu manis menyambut hidung Alya. Seprai baru sudah dipasang, lemari dilap, tirai diganti warna krem. Semua terlihat rapi. Terlalu rapi.

Alya berdiri di ambang pintu, memandang sekeliling.

Di kehidupan lalu, ia tidak pernah masuk kamar ini. Dinda menangis semalaman hanya karena Baskara sempat mengatakan mungkin kamar depan cocok untuk Alya. Keesokan harinya, seluruh rumah memutuskan Alya lebih nyaman di belakang.

Sekarang, karena Raka bicara, kamar itu menjadi miliknya hanya dalam lima menit.

Ternyata aturan rumah Wiratama tidak sekeras yang mereka katakan. Aturan itu hanya keras untuk orang yang mereka anggap bisa ditekan.

Mbak Sari, kepala ART, berdiri di samping pintu dengan wajah kaku.

"Non Alya, kalau ada yang kurang, bilang saja."

Non.

Di rumah ini, Dinda dipanggil Non Dinda dengan suara manis. Untuk Alya, panggilan yang sama terdengar seperti kewajiban.

Alya mengangguk. "Terima kasih, Mbak."

Mbak Sari tampak terkejut karena Alya tidak bersikap sombong. Ia buru-buru menunduk lalu pergi.

Rafi masuk setelah memastikan koridor kosong. Ia menaruh tas Alya di atas kursi, lalu memeriksa sudut ruangan. Lampu, rak, meja, belakang lukisan.

"Ada kamera?" tanya Alya.

"Belum terlihat."

"Belum?"

Rafi mengangkat satu vas bunga dari meja kecil. Di bawahnya ada perangkat kecil seukuran kancing.

Alya tertawa pendek. "Cepat sekali mereka menyambutku."

Rafi mematikan alat itu tanpa merusaknya, lalu memasukkannya ke kantong plastik kecil.

"Mau langsung dibuang?"

"Jangan." Alya duduk di tepi ranjang. "Biarkan mereka berpikir alatnya masih bekerja. Besok kita isi dengan suara yang mereka ingin dengar."

Rafi menatapnya lama. "Kamu menikmati ini?"

"Tidak." Alya melepas gelang dari Eyang Laras, mengusap permukaan peraknya. "Aku hanya tidak mau mati kedua kalinya karena terlalu sopan."

Rafi tidak menjawab.

Ada ketukan di pintu.

"Kak Alya?"

Suara Dinda.

Alya memberi isyarat pada Rafi untuk berdiri di sisi yang tidak terlihat dari pintu. Lalu ia membuka.

Dinda berdiri dengan piyama sutra berwarna lembut. Matanya masih merah, tetapi wajahnya sudah dirapikan. Di tangannya ada nampan kecil berisi susu hangat.

"Aku boleh masuk?"

"Ada apa?"

Dinda menggigit bibir. "Aku mau minta maaf soal kamar tadi. Aku tidak tahu Mama menyiapkan kamar belakang. Kalau aku tahu, aku pasti melarang."

Alya memiringkan kepala. "Benarkah?"

"Tentu." Dinda menatapnya dengan mata basah. "Aku tahu Kak Alya mungkin merasa aku mengambil semuanya. Tapi aku tidak pernah minta berada di posisi ini. Aku juga takut Kakak pulang lalu membenciku."

Dialog yang bagus.

Jika ada orang ketiga mendengar, Dinda akan terdengar sebagai gadis malang yang terjebak situasi.

Alya membuka pintu lebih lebar. "Masuklah."

Dinda melangkah masuk, matanya cepat menyapu kamar. Ia berhenti sejenak pada tas Alya yang sederhana, lalu pada Rafi yang berdiri dekat jendela.

"Kak, dia..."

"Rafi. Dia ikut dari rumah Eyang."

Dinda tersenyum canggung. "Oh. Aku kira kamar perempuan tidak boleh dimasuki laki-laki."

Alya duduk kembali. "Di rumah ini aturan seperti itu penting?"

Dinda terdiam sesaat. Ia cepat mengubah senyum. "Bukan begitu. Aku cuma takut nanti orang salah paham. Keluarga kita cukup dikenal. Kalau ada gosip..."

"Kalau begitu jangan sebarkan."

Wajah Dinda membeku.

Alya mengambil gelas susu dari nampan, tetapi tidak meminumnya. "Terima kasih."

Dinda duduk di kursi kecil dekat meja. "Kak Alya marah padaku?"

"Aku baru tiba. Belum ada alasan."

"Tapi sikap Kakak tadi di meja makan..." Dinda menunduk. "Aku merasa Kakak sengaja membuat Mama terlihat jahat."

Alya menatap susu di tangannya. "Tante Maya yang menyiapkan kamar belakang. Aku hanya bertanya."

"Kakak tahu Mama sensitif."

"Aku juga sensitif kalau ditempatkan dekat gudang."

Dinda menggenggam lututnya. Air mata muncul lagi. "Kak, jangan bicara seperti itu. Aku sungguh ingin kita akur. Aku sudah lama membayangkan punya kakak perempuan."

"Kamu sudah punya Mas Raka."

"Itu berbeda."

"Memang." Alya tersenyum. "Karena aku pulang membawa masalah untukmu."

Dinda mengangkat wajah, kali ini tidak sempat menyembunyikan keterkejutan.

Alya melanjutkan dengan suara lembut, "Aku bercanda. Kenapa wajahmu begitu?"

Dinda memaksa tertawa. "Kakak lucu juga."

Rafi yang sejak tadi diam tiba-tiba berkata, "Sudah malam. Alya harus istirahat."

Dinda menoleh. "Aku bicara dengan kakakku."

"Dan aku menjaga orang yang harus istirahat."

Nada Rafi tidak tinggi, tetapi Dinda tampak seperti ditampar. Ia berdiri sambil membawa nampan kosong.

"Baik. Kak Alya istirahat saja. Besok Mama mau ajak Kakak ke butik. Katanya ada acara keluarga beberapa hari lagi."

"Acara apa?"

Dinda tersenyum lebih manis. "Mungkin Papa belum bilang. Keluarga Santoso akan datang."

Susu hangat di tangan Alya hampir tidak bergerak.

Santoso.

Kevin.

Dinda memperhatikan wajah Alya, mencari reaksi. "Kakak belum tahu? Dulu keluarga kita dan keluarga Santoso punya pembicaraan lama. Papa bilang setelah Kakak pulang, semuanya bisa dibicarakan lagi."

Dia datang bukan untuk meminta maaf.

Dia datang untuk melempar umpan.

Alya mengangguk. "Begitu."

"Kakak tidak penasaran?"

"Besok juga tahu."

Dinda kecewa. Ia mungkin berharap Alya panik, bertanya, atau marah. Namun Alya hanya meletakkan susu di meja.

"Selamat malam, Dinda."

"Selamat malam, Kak."

Pintu tertutup.

Rafi mengambil gelas susu, menciumnya sebentar. "Ada obat tidur ringan."

Alya tersenyum dingin. "Malam pertama, kamera dan susu. Keluarga ini rajin sekali."

"Aku buang?"

"Tidak." Alya berdiri, membuka lemari, lalu mengeluarkan kantong kecil dari tasnya. Ia meneteskan sedikit cairan bening ke susu itu. "Kita kirim kembali."

Rafi menatapnya. "Untuk siapa?"

"Untuk orang yang paling ingin aku tidur nyenyak."

Beberapa menit kemudian, Alya keluar kamar dengan gelas susu di tangan. Rafi mengikuti dari jarak beberapa langkah.

Koridor lantai dua sepi. Namun dari bawah terdengar suara Maya berbicara pelan dengan Baskara.

"Anak itu tidak sesederhana kelihatannya," kata Maya.

Baskara menjawab, "Dia baru datang. Jangan membuat masalah."

"Aku tidak membuat masalah. Tapi kamu lihat sendiri tadi. Raka langsung membelanya."

"Raka memang selalu lembut."

"Lembut? Dia menentangku di depan anak itu."

Alya berhenti di tangga, mendengarkan.

Maya melanjutkan, "Kalau dia memengaruhi Raka, posisi Dinda bagaimana?"

Baskara terdengar lelah. "Dinda tetap anak kita."

"Tapi bukan darahmu."

Keheningan jatuh.

Alya tersenyum tanpa suara.

Ternyata Maya juga takut mengucapkan kebenaran itu.

Ia turun beberapa anak tangga. "Papa?"

Maya dan Baskara langsung menoleh. Wajah Maya berubah cepat menjadi lembut.

"Alya? Kenapa belum tidur?"

Alya mengangkat gelas susu. "Dinda tadi membawakan susu. Aku tidak biasa minum susu malam-malam. Tante mau?"

Maya menatap gelas itu.

Sedetik.

Dua detik.

Kalau ia menolak, ia akan tampak aneh. Kalau ia menerima, ia harus meminum sesuatu yang ia tahu sudah diberi obat.

Alya menunggu dengan wajah polos.

Baskara berkata, "Maya, minum saja. Anak ini sudah baik membawakan."

Jari Maya menegang. Ia menerima gelas itu, tersenyum pada Alya, lalu meneguk sedikit.

"Terima kasih, Nak."

"Sama-sama, Tante."

Alya berbalik naik.

Rafi menahan tawa ketika mereka kembali ke kamar.

"Kamu kejam."

"Tidak." Alya menutup pintu. "Aku hanya mengembalikan barang ke pemiliknya."

Malam itu, rumah Wiratama akhirnya tenang.

Namun pukul tiga pagi, terdengar suara panik dari kamar utama.

Maya tidak bisa bangun untuk rapat video penting dengan keluarga Santoso.

Dan ketika Baskara memanggil dokter keluarga, Alya berdiri di balik pintu kamarnya, mendengar semuanya dengan wajah tanpa rasa bersalah.

Permainan baru dimulai.

Terpopuler

Comments

Tri Septi

Tri Septi

hmmm senjata makan tuan

2026-08-06

0

arniya

arniya

seru..,...

2026-07-08

1

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
Episodes

Updated 110 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!