Pewaris yang Kembali Membalas Luka

Pewaris yang Kembali Membalas Luka

Episode 1

Bab 1

Gudang tua di dekat Pelabuhan Tanjung Priok meledak tepat ketika azan subuh dari masjid kampung nelayan mulai terdengar.

Api menyambar langit yang masih gelap. Sirene polisi, mobil pemadam, dan teriakan petugas bea cukai bercampur menjadi satu.

Di layar berita daring, judul besar muncul hampir bersamaan.

Bayang Kembali Membantu Polisi Bongkar Jalur Narkoba Pelabuhan.

Sosok Misterius di Balik Operasi Tanjung Priok Menghilang Sebelum Media Datang.

Nama itu membuat banyak orang penasaran. Bayang. Tidak ada foto wajah, tidak ada alamat, tidak ada akun media sosial pribadi. Yang ada hanya jejak laporan kasus yang rapi, potongan rekaman CCTV yang selalu datang tepat waktu, dan data terenkripsi yang tiba-tiba muncul di meja penyidik ketika semua orang sudah buntu.

Orang-orang membayangkan Bayang sebagai pria dewasa dengan jaringan luas.

Tidak ada yang membayangkan bahwa orang itu baru saja turun dari bak truk sayur di pinggir jalan menuju Kaliurang, melepas jaket hitam, lalu menyelipkan topi ke dalam tas kain.

Namanya Alya Maheswari.

Delapan belas tahun.

Dan malam ini, ia baru saja menyelesaikan pekerjaan terakhir sebelum kembali ke neraka yang dulu membunuhnya.

"Alya."

Suara rendah itu muncul dari balik pagar bambu. Alya berhenti, tetapi tidak terkejut.

Seorang pria muda berdiri di sana. Tubuhnya tinggi, bahunya lebar, wajahnya teduh tetapi matanya tajam. Kemeja hitam yang ia pakai membuatnya hampir menyatu dengan bayangan pohon mangga di halaman.

"Kamu belum tidur, Raf?" tanya Alya.

Rafael Pradipta, yang selama bertahun-tahun hanya dipanggil Rafi di rumah Eyang Laras, menatapnya dari kepala sampai kaki.

"Kamu baru pulang setelah bikin satu pelabuhan ribut. Aku harus tidur?"

Alya mengangkat alis. "Berita cepat sekali sampai sini."

"Internet ada juga di desa ini."

Alya tertawa kecil. Tawanya pendek, hampir tidak terdengar. Ia melewati Rafi dan masuk ke halaman. Rumah Eyang Laras tidak besar, tetapi selalu terasa hangat. Ada pot tanaman di sudut teras, kursi rotan tua, dan lampu kuning yang tidak pernah dimatikan kalau Alya belum pulang.

Rafi mengikuti dari belakang.

"Ada mobil di depan," katanya.

Langkah Alya berhenti.

Rafi melanjutkan, "Dua mobil. Plat Jakarta. Mereka datang hampir satu jam lalu. Sekarang bicara dengan Eyang di ruang tengah."

Udara pagi yang tadi dingin mendadak terasa keras di kulit Alya.

Jakarta.

Keluarga Wiratama.

Ternyata hari itu tetap datang.

Di kehidupan sebelumnya, ia pernah sangat menunggu hari ini. Ia pernah membayangkan ayah kandungnya datang dengan pelukan, meminta maaf, lalu membawanya pulang ke rumah besar yang seharusnya menjadi tempatnya sejak kecil.

Yang ia dapat justru tiga tahun penghinaan.

Baskara Wiratama, ayah kandungnya, tidak pernah menganggapnya anak. Maya, istri kedua ayahnya, tersenyum manis sambil mengajari semua orang melihat Alya sebagai gadis kampung yang tidak tahu aturan. Dinda, anak kesayangan keluarga itu, memakai semua yang seharusnya menjadi milik Alya, lalu menangis setiap kali Alya mencoba bernapas sedikit lebih lega.

Lalu Kevin Santoso.

Nama itu membuat tangan Alya mengepal.

Di kehidupan lalu, mereka menikahkannya dengan Kevin demi kerja sama bisnis. Kevin menjadikan hidupnya lelucon. Dinda menjadi perempuan yang diam-diam ia lindungi. Maya menutup semua jalan pulang. Baskara menandatangani apa pun selama nama keluarga tetap bersih.

Pada akhirnya, Alya mati dikubur oleh orang-orang yang pernah ia panggil keluarga.

Tuhan, atau takdir, atau siapa pun yang sedang bermain dengan hidupnya, mengirimnya kembali ke usia tujuh tahun. Sejak itu ia belajar. Ia belajar membaca orang, meretas sistem, membedah laporan medis, bertarung, berbohong, dan menunggu.

Sebelas tahun ia menunggu.

Sekarang mereka datang sendiri menjemputnya.

Dari dalam rumah terdengar suara Eyang Laras, tajam menahan marah.

"Anak itu kalian buang sejak bayi. Sekarang setelah delapan belas tahun, kalian datang seolah punya hak?"

Suara pria menjawab dengan nada dibuat halus. "Bu Laras, jangan bilang begitu. Alya tetap anak saya. Saya datang untuk membawa dia pulang."

"Pulang?" Eyang Laras tertawa getir. "Rumahnya di sini. Dia tumbuh di sini. Dia sakit, menangis, belajar berjalan, semua di sini. Kalian di mana waktu itu?"

Alya berdiri di ambang pintu. Ia melihat ruang tengah yang diterangi lampu kuning. Eyang Laras duduk tegak di kursi kayu. Rambut putihnya disanggul rapi, wajahnya penuh garis usia, tetapi matanya masih setajam dulu.

Di depannya duduk Baskara Wiratama. Jasnya rapi, jam tangannya mahal, rambutnya disisir licin. Di sampingnya, seorang pria muda memandang sekeliling dengan ekspresi tidak nyaman.

Mas Raka.

Kakak pertama Alya.

Di kehidupan lalu, hanya Raka yang pernah memberinya segelas air saat ia menangis sendirian di dapur rumah Wiratama. Kecil, tetapi cukup membuat Alya ingat bahwa di rumah itu tidak semua orang sepenuhnya busuk.

"Eyang," panggil Alya pelan.

Semua mata menoleh.

Baskara bangkit setengah berdiri. Wajahnya berubah cepat, dari terkejut menjadi senyum ayah yang terlambat dua dekade.

"Alya."

Alya menatapnya lama.

Ia ingin tertawa.

Nama itu terdengar asing keluar dari mulut pria ini. Seperti seseorang yang membaca nama dari berkas, bukan memanggil anak.

"Papa?" Alya membuat suaranya ragu, polos, seperti gadis desa yang belum tahu dunia.

Baskara tampak lega. Ia mungkin mengira semuanya akan mudah.

"Iya, Nak. Papa datang menjemput kamu. Mulai sekarang kamu tinggal di Jakarta bersama keluarga."

Eyang Laras memukul lantai dengan tongkatnya. "Aku belum setuju."

"Eyang." Alya mendekat dan berlutut di sampingnya. Tangannya menggenggam tangan tua itu. "Alya ingin pergi."

Wajah Eyang Laras berubah.

Rafi yang berdiri di belakang pintu juga menegang.

"Kamu tahu apa yang kamu katakan?" tanya Eyang Laras dengan suara rendah.

Alya mengangguk. "Tahu."

Tidak ada air mata. Tidak ada pelukan dramatis. Hanya tangan Eyang Laras yang pelan-pelan mengencang di tangannya.

Perempuan tua itu mengenal Alya lebih dari siapa pun. Ia tahu cucunya tidak pernah mengambil keputusan karena bujukan manis.

Baskara tersenyum lebar. "Bagus. Papa senang kamu mengerti. Kamu tidak perlu khawatir. Di Jakarta semuanya lebih baik. Sekolah, fasilitas, masa depan."

Masa depan.

Alya hampir lupa bagaimana rasanya mendengar orang ini menjual kebohongan dengan wajah penuh kasih.

Raka berdiri dan berjalan mendekat. "Alya, aku Raka. Kakakmu."

"Mas Raka," ucap Alya.

Raka tampak tersentuh mendengar panggilan itu. "Kita pulang malam ini juga?"

Baskara menjawab lebih dulu, "Lebih cepat lebih baik. Besok pagi ada urusan keluarga."

Alya menunduk, menyembunyikan senyum tipis.

Tentu saja. Mereka tidak datang karena rindu. Ada urusan keluarga. Ada alasan yang cukup besar sampai mereka perlu mengambil anak yang selama ini dibuang.

Rafi tiba-tiba berkata, "Aku ikut."

Baskara menoleh, baru menyadari keberadaan pria itu. "Kamu siapa?"

"Orang yang menjaga Alya."

Nada Rafi datar, tetapi ruang tengah mendadak dingin.

Baskara mengerutkan kening. "Kami membawa anak kami pulang. Tidak perlu orang luar ikut campur."

Alya berdiri. "Rafi ikut. Kalau tidak, aku tidak jadi pergi."

Baskara menatap Alya. Ia jelas tidak suka, tetapi ia lebih takut Alya berubah pikiran. Setelah beberapa detik, ia tersenyum kaku.

"Baik. Untuk sementara."

Rafi tidak berterima kasih. Ia hanya berdiri di belakang Alya seperti bayangan.

Eyang Laras menarik Alya ke kamar sebelum mereka berangkat. Di dalam kamar kecil yang penuh buku dan kotak obat, Eyang membuka laci, mengambil gelang tipis dari perak tua.

"Pakai ini."

Alya menunduk. "Eyang tidak marah?"

"Aku marah kalau kamu pergi karena percaya pada mereka." Eyang memasangkan gelang itu. "Tapi kalau kamu pergi karena punya rencana, aku hanya bisa mendoakan."

Hidung Alya terasa panas.

Eyang menyentuh wajahnya. "Jangan biarkan dendam membuatmu lupa pulang."

"Aku akan pulang."

"Dan jangan percaya darah hanya karena darah. Orang yang melukaimu tetap orang asing, meski namanya tertulis di akta lahirmu."

Alya mengangguk.

Saat ia keluar, mobil hitam sudah menunggu. Langit mulai memucat. Ayam tetangga berkokok. Dari kejauhan, suara motor pedagang sayur mulai terdengar.

Alya menoleh sekali lagi ke rumah Eyang.

Di kehidupan lalu, ia pergi dari rumah ini sebagai anak bodoh yang haus kasih sayang.

Kali ini, ia pergi sebagai seseorang yang membawa daftar nama.

Dan satu per satu, mereka akan membayar.

Terpopuler

Comments

Fitrian

Fitrian

umur 7 tahun alya terlahir kembali/reinkarnasi, dan terus belajar sampai 11 tahun lamanya alya menunggu di jemput keluarga nya. dan baru umur 28 tahun alya di jemput untuk di jadikan tumbal oleh keluarga nya 😒😤😤

2026-07-08

0

Tri Septi

Tri Septi

menunggu selama 11 tahun persiapan balas dendam, menjadi gadis yg kuat dan punya skill....semangat berjuang Alya 🔥😍😍😍

2026-08-06

0

Amiera Syaqilla

Amiera Syaqilla

hi author🔥

2026-07-08

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
Episodes

Updated 110 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!