Episode 5

Bab 5

Butik itu berada di salah satu mal paling mahal di Jakarta.

Maya akhirnya bangun menjelang siang dengan wajah pucat dan kepala berat. Ia tidak menyebut susu, tidak menyebut obat tidur, dan tidak menatap Alya lebih dari tiga detik. Namun begitu makan siang selesai, ia tetap memaksa pergi ke butik.

"Keluarga Santoso akan datang tiga hari lagi," kata Maya di dalam mobil. "Kamu harus punya pakaian yang pantas."

Dinda duduk di samping ibunya. "Kak Alya pasti belum punya gaun untuk acara formal."

Alya menatap jalan. "Belum."

Jawaban jujur itu membuat Dinda tampak puas.

Rafi tidak ikut masuk mobil. Baskara melarangnya, dengan alasan acara perempuan tidak perlu pengawal. Alya tidak membantah. Ia hanya mengirim pesan singkat kepada Rafi.

Ikuti dari jauh.

Balasan Rafi datang beberapa detik kemudian.

Sudah.

Butik itu disambut pegawai dengan senyum lebar. Mereka jelas mengenal Maya dan Dinda. Begitu masuk, pegawai langsung membawa beberapa gaun baru untuk Dinda, bukan untuk Alya.

"Non Dinda, koleksi yang kemarin Non pesan sudah datang."

Dinda tersenyum manis. "Terima kasih. Tapi hari ini kami cari gaun untuk Kak Alya dulu."

Suaranya terdengar baik.

Namun ia berdiri di tengah ruangan dengan tubuh anggun, seolah ingin menunjukkan siapa yang sebenarnya menjadi pusat butik itu.

Maya menatap Alya dari kepala sampai kaki. "Kulitmu putih bersih, tapi gayamu masih terlalu sederhana. Jangan khawatir. Tante bantu pilih."

Ia mengambil gaun warna hijau pucat yang modelnya kuno dan potongannya canggung.

"Coba ini."

Dinda cepat menambahkan, "Warna ini lembut. Cocok untuk Kak Alya yang baru pulang. Tidak terlalu mencolok."

Tidak terlalu mencolok.

Artinya, jangan mengalahkan Dinda.

Alya menerima gaun itu dan masuk ruang ganti. Di dalam, ia tidak langsung mengganti pakaian. Ia memeriksa label, jahitan, lalu melihat bekas kecil di bagian pinggang.

Gaun ini pernah dipakai.

Bukan koleksi baru.

Ia keluar tanpa mengenakannya. "Tidak cocok."

Maya tersenyum kaku. "Kamu belum mencoba."

"Aku tidak memakai gaun bekas yang jahitannya sudah diubah."

Pegawai butik membeku.

Dinda tertegun. "Kak, jangan sembarangan bicara. Butik ini langganan Mama."

Alya menyerahkan gaun itu pada pegawai. "Kalau aku salah, silakan panggil manajer dan tunjukkan catatan koleksi."

Pegawai itu tampak panik.

Maya menatap tajam. "Alya, kamu mempermalukan Tante."

"Tante yang memilih gaun ini."

"Aku tidak tahu itu bekas."

"Berarti pegawai butik ini menipu Tante." Alya menoleh ke pegawai. "Atau memang ada yang meminta menyiapkan gaun seperti ini?"

Pertanyaan itu jatuh pelan, tetapi menghantam semua orang.

Dinda buru-buru berkata, "Sudahlah, mungkin hanya salah ambil. Kak Alya tidak perlu membesar-besarkan."

"Aku tidak membesarkan. Aku hanya tidak mau datang ke acara keluarga pertamaku memakai gaun bekas yang sengaja dibuat buruk."

Maya menarik napas. "Pilih sendiri kalau begitu."

Itulah yang Alya tunggu.

Ia berjalan melewati rak, mengambil satu gaun warna biru gelap dengan potongan sederhana. Tidak terlalu terbuka, tidak terlalu manis. Kainnya jatuh berat dan bersih. Ia juga memilih selendang tipis dan sepatu senada.

Dinda memaksakan senyum. "Kak Alya yakin? Warna itu agak dewasa."

"Bagus. Aku memang bukan anak kecil."

Alya masuk ruang ganti. Kali ini ia benar-benar berganti.

Ketika keluar, percakapan di butik berhenti.

Gaun itu tidak ramai, tetapi justru membuat wajah Alya terlihat lebih tegas. Rambutnya yang hanya ia ikat sederhana memberi kesan dingin. Ia tidak memakai perhiasan selain gelang perak dari Eyang Laras, tetapi entah bagaimana gelang tua itu tampak lebih bernilai daripada kalung yang dikenakan Dinda.

Maya terdiam.

Dinda menggenggam tas kecilnya sampai buku jarinya memutih.

Pegawai butik spontan berkata, "Cantik sekali, Non."

Alya menatap cermin. Ia tidak mencari pujian. Ia hanya memastikan dirinya tidak lagi menjadi gadis bodoh yang dulu berdiri canggung dalam gaun salah ukuran.

Pintu butik terbuka.

Beberapa perempuan masuk sambil tertawa. Salah satunya mengenali Dinda.

"Dinda! Kamu di sini juga?"

Dinda langsung berubah cerah. "Mbak Naya."

Naya adalah sosialita muda, anak pemilik jaringan hotel. Di kehidupan lalu, ia pernah menjadi salah satu orang yang paling keras menertawakan Alya saat acara keluarga Santoso.

Naya menatap Alya. "Ini siapa?"

Dinda merangkul lengan Alya. "Ini Kak Alya. Kakakku yang baru pulang dari Yogyakarta."

Baru pulang dari Yogyakarta.

Kata-kata itu terdengar seperti kode. Beberapa perempuan di belakang Naya saling pandang.

"Oh," kata Naya, nada suaranya berubah. "Yang selama ini tinggal sama nenek di desa?"

Dinda pura-pura tidak mendengar nada itu. "Iya. Kak Alya baik kok, cuma masih menyesuaikan diri."

Alya menatap tangan Dinda di lengannya.

Dinda cepat melepaskan.

Naya memutari Alya dengan tatapan menilai. "Gaunnya bagus. Tapi kalau dipakai di acara Santoso, mungkin terlalu serius. Kamu tahu keluarga Santoso seperti apa?"

"Belum," jawab Alya.

Naya tersenyum. "Mereka tidak suka orang kaku."

"Bagus. Aku juga tidak suka orang palsu."

Senyum Naya berhenti.

Dinda panik. "Kak Alya bercanda."

"Tidak," kata Alya. "Aku sedang menjawab."

Salah satu teman Naya tertawa kecil, bukan mengejek Alya, tetapi menikmati Naya kena balas.

Naya tersinggung. "Kamu berani juga untuk orang baru."

"Orang baru masih boleh bicara, kan?"

Maya akhirnya turun tangan. "Alya, cukup. Naya ini teman Dinda."

Alya menatap Maya lewat cermin. "Kalau begitu Dinda perlu teman yang lebih sopan."

Wajah Dinda merah.

Naya melangkah maju. "Kamu pikir karena kamu anak kandung Pak Baskara, kamu langsung bisa masuk lingkaran kami?"

Alya berbalik. "Aku tidak meminta masuk."

"Lingkaran seperti ini tidak mudah dimasuki."

"Aku percaya. Terlihat melelahkan."

Pegawai butik menahan tawa. Naya mendengarnya dan semakin marah.

"Dinda, kakakmu ini lucu sekali. Baru pulang sudah merasa paling hebat."

Dinda menunduk. "Kak Alya mungkin belum tahu cara bicara di Jakarta."

Alya menatap Dinda. "Kalau cara bicara di Jakarta berarti menghina orang lalu berharap orang itu diam, aku memang belum tahu."

Maya menahan lengan Alya. "Kita pulang."

"Belum bayar."

"Aku yang bayar."

"Tidak perlu." Alya mengeluarkan kartu dari tas kecilnya.

Maya mengerutkan kening. "Kamu punya kartu?"

"Eyang memberiku uang saku."

Itu bohong sebagian. Eyang memang memberinya uang, tetapi kartu itu terhubung dengan rekening kerja Bayang yang tentu saja tidak diketahui siapa pun.

Pegawai memproses pembayaran. Nominalnya tidak kecil, tetapi transaksi berhasil tanpa hambatan.

Dinda menatap mesin EDC seolah benda itu baru saja mengkhianatinya.

Naya mencibir, "Lumayan juga uang saku dari desa."

Alya menerima kartu dan struk. "Kalau iri, bilang saja."

Naya maju satu langkah. "Apa katamu?"

Telepon Maya berbunyi sebelum situasi meledak. Ia melihat layar, lalu wajahnya berubah.

Baskara.

Maya mengangkat. "Mas?"

Entah apa yang dikatakan Baskara, wajah Maya semakin kaku.

"Sekarang? Tapi aku masih di butik."

Ia menoleh ke Alya.

"Baik. Kami pulang."

Panggilan berakhir.

Dinda bertanya pelan, "Ada apa, Ma?"

Maya menjawab dengan suara tertahan. "Keluarga Santoso datang lebih cepat. Mereka sudah di rumah."

Naya langsung tertarik. "Kevin juga?"

Dinda tidak menjawab, tetapi wajahnya berubah.

Alya mengambil tas belanja dari pegawai.

Bagus.

Tamu datang lebih cepat berarti rencana mereka berubah.

Dan rencana yang berubah biasanya membuat orang ceroboh.

Di luar butik, saat mereka berjalan menuju lift, Alya melihat pantulan kaca di seberang.

Rafi berdiri jauh di belakang pilar, memakai topi hitam, seolah pengunjung biasa.

Alya tidak menoleh.

Ia hanya mengetik pesan singkat.

Santoso sudah di rumah. Cari tahu alasan mereka datang lebih cepat.

Balasan Rafi muncul.

Sudah tahu. Kevin membuat masalah tadi malam. Mereka butuh pertunangan cepat untuk menutup berita.

Alya menatap layar beberapa detik.

Lalu ia tersenyum.

Ternyata bukan hanya keluarga Wiratama yang ingin menjualnya.

Keluarga Santoso juga sedang mencari kain penutup untuk bangkai mereka sendiri.

Terpopuler

Comments

Kamiasih Purnomo

Kamiasih Purnomo

suka ceritanya dan kosa kata bahasa sangat bagus terlihat kalau penulis pengalaman dalam menyusun kata

2026-08-21

0

Tri Septi

Tri Septi

seru👏👏👏 makasih Thor🙏

2026-08-06

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
Episodes

Updated 110 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!