Bab 3: Menguji Pedang yang Baru Diasah

​Lin Tian melirik ayahnya. Lin Xiao hanya kembali merebahkan diri di atas ranjang jerami, menarik selimut loak yang menutupi tubuhnya, lalu memejamkan mata seolah tidak terjadi apa-apa.

​"Urus sendiri, Tian'er. Anggap ini batu asahan pertamamu,"

gumam Lin Xiao tanpa membuka mata. Bau arak kembali keluar dari tubuhnya, menyembunyikan aura kultivator hebat yang tadi sempat bangkit.

​Lin Tian tersenyum tipis. "Dimengerti, Ayah."

​Dengan gerakan cepat, Lin Tian menyambar sehelai kain bersih untuk mengelap cairan hitam berbau busuk yang keluar dari pori-pori kulitnya akibat pembersihan sumsum tulang tadi. Begitu selesai, dia melangkah menuju pintu kayu gubuknya yang reot.

​DUAAAARR

​Belum sempat tangan Lin Tian menyentuh gagang pintu, pintu tersebut sudah ditendang kasar dari luar hingga engselnya hampir lepas.

​Tiga orang remaja melangkah masuk dengan angkuh. Di depan mereka berdiri Gu Chen, mengenakan jubah sutra abu-abu yang tampak mewah untuk ukuran desa terpencil. Wajahnya yang tirus dipenuhi ekspresi meremehkan. Di belakangnya, dua anteknya yang merupakan pemuda desa setempat langsung menutup hidung mereka.

​"Ughh! Bau apa ini? Mengapa busuk sekali? Seperti bau bangkai tikus!"

seru salah satu antek Gu Chen sambil mengibas-ngibaskan tangan di depan hidungnya.

​Gu Chen tidak memedulikan bau itu. Matanya yang tajam langsung mengedar ke seluruh penjuru gubuk yang sempit, lalu tertuju pada Lin Tian. Alis Gu Chen bertaut saat menyadari ada sesuatu yang berbeda dari penampilan Lin Tian malam ini. Kulit remaja lemah itu tampak lebih bersih, dan matanya tidak lagi sayu melainkan jernih dan tajam.

​Namun, Gu Chen segera membuang pikiran itu. Di matanya, Lin Tian selamanya hanyalah seonggok sampah yang tidak bisa berkultivasi.

​"Lin Tian! Di mana harta karunnya?" tanya Gu Chen ketus, nadanya penuh pemaksaan.

"Tadi aku dan anak buahku melihat cahaya emas membubung tinggi dari arah gubukmu. Jangan coba-coba berbohong! Sampah seperti kalian tidak mungkin bisa memicu fenomena alam seperti itu. Pasti ada harta karun kuno atau obat spiritual tingkat tinggi yang jatuh dari langit ke gubuk ini!"

​Lin Tian berdiri tegak dengan tenang. Di dalam tubuhnya, pusaran Dantian di Level 3 Pengumpulan Qi berputar perlahan, siap meledak kapan saja. Namun, dia menekan auranya dengan rapat menggunakan teknik dasar penyembunyian napas yang dia pahami secara insting setelah fisiknya bangkit.

​"Tuan Muda Gu, Anda pasti salah lihat," jawab Lin Tian datar, wajahnya tanpa ekspresi.

"Tidak ada harta karun di sini. Cahaya yang Anda maksud mungkin hanya pantulan petir atau ilusi malam. Gubuk kami hanya berisi barang rongsokan dan arak murah."

​"Salah lihat? Kamu pikir mataku buta? HAH!" Gu Chen mendengus geram. Dia melangkah maju, melepaskan tekanan energi dari tubuhnya.

​Wush!

​Aura Ranah Pengumpulan Qi Level 4 mengalir keluar dari tubuh Gu Chen, menciptakan angin kecil yang membuat debu di lantai beterbangan. Bagi orang biasa di desa, tekanan ini sudah cukup membuat mereka berlutut ketakutan.

​"Lin Tian, aku beri kamu satu kesempatan terakhir."

"Serahkan harta itu, atau aku akan menggeledah gubuk ini dan mematahkan kaki kirimu!" ancam Gu Chen sambil mengepalkan tinjunya yang mulai dialiri sedikit Qi fana.

​Melihat keangkuhan Gu Chen, sebersit kilatan dingin melintas di mata Lin Tian. Di masa lalu, dia selalu mengalah dan menahan diri karena fisiknya yang lemah. Namun sekarang, segel tubuhnya telah terbuka. Mengapa dia harus takut pada seekor katak di dalam sumur?

​Level 4 Pengumpulan Qi?

​Meskipun kultivasi Lin Tian saat ini berada di Puncak Level 3, kualitas Qi yang dimilikinya berasal dari Batu Roh Esensi Murni dan dimurnikan oleh Fisik Suci Yang Terbalik. Dari segi kemurnian dan kepadatan, Qi milik Lin Tian jauh melampaui Qi fana milik Gu Chen yang kotor dan tipis!

​"Bagaimana jika aku katakan... memang tidak ada apa-apa di sini?" ucap Lin Tian, nadanya kini beralih menjadi dingin dan menantang.

​Gu Chen tertegun sejenak. Dia tidak menyangka si pengecut Lin Tian berani berbicara seperti itu padanya. Rasa bersalah dan terhina langsung membakar emosinya.

​"Bocah cacat, kamu benar benar mencari mati!"

​Gu Chen berteriak murka. Dia melangkah maju dengan cepat, tangan kanannya membentuk cakar dan mengarah langsung ke pundak Lin Tian. Ini adalah teknik bela diri tingkat rendah klan kepala desa: Cakar Macan Angin.

​Di mata kedua anteknya, gerakan Gu Chen sangat cepat dan mematikan. Mereka sudah tersenyum sinis, membayangkan Lin Tian akan menjerit kesakitan dengan tulang pundak yang retak.

​Namun, di mata Lin Tian, gerakan Gu Chen terasa sangat lambat. Berkat kebangkitan fisiknya, indra penglihatan dan refleks tubuh Lin Tian telah meningkat ribuan kali lipat.

​Tepat saat cakar Gu Chen hampir menyentuh pakaiannya, Lin Tian sedikit memiringkan tubuhnya ke kiri. Gerakannya sangat halus, membuat cakar Gu Chen hanya mengenai angin kosong.

​"APA?!" Gu Chen terkejut saat serangannya meleset.

​Belum sempat Gu Chen menarik kembali tangannya, Lin Tian sudah mengepalkan tangan kanannya. Energi spiritual murni di dalam Dantiannya mengalir deras menuju lengannya, membuat tinju Lin Tian bergetar samar memancarkan aura keemasan yang tersembunyi.

​Pukulan Penghancur Batu!

​Tanpa teknik bela diri yang rumit, hanya mengandalkan kekuatan fisik murni dan kepadatan Qi, Lin Tian menghantamkan tinjunya lurus ke arah perut Gu Chen yang terbuka lebar.

​BOOM!

​Suara hantaman tumpul bergema keras di dalam gubuk.

​"Ughaaak!"

​Mata Gu Chen membelalak lebar, wajahnya langsung memucat seketika. Dia merasakan seolah-olah perutnya dihantam oleh godam besi seberat seribu kati. Energi murni yang sangat ganas menembus pertahanan Qi miliknya, mengoyak jalur energinya dari dalam.

​BRUAAAK!

​Tubuh Gu Chen melesat mundur dengan cepat, menabrak pintu gubuk hingga hancur berkeping-keping, lalu terlempar keluar dan berguling di atas tanah berlumpur di halaman. Dia memegangi perutnya sambil memuntahkan seteguk darah segar, wajahnya dipenuhi rasa tidak percaya yang mendalam.

​Suasana di dalam dan luar gubuk mendadak menjadi sunyi senyap. Dua antek Gu Chen berdiri mematung di tempat, rahang mereka hampir jatuh ke lantai melihat pemandangan mengerikan di depan mata mereka.

​Seorang jenius Level 4 Pengumpulan Qi... dikalahkan dalam satu pukulan oleh si cacat desa?

Terpopuler

Comments

Nanik S

Nanik S

Lanjutkan Tor🙏🙏

2026-08-26

0

yos helmi

yos helmi

😄😄😄😄😄😄

2026-08-09

0

Aman Wijaya

Aman Wijaya

gaaas terus Thor

2026-07-23

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Api dalam Abu
2 Bab 2: Kebangkitan Fisik Suci
3 Bab 3: Menguji Pedang yang Baru Diasah
4 Bab 4: Sutra Sembilan Transformasi Langit
5 Bab 5: Badai di Pagi Hari
6 Bab 6: Menghantam Batu dengan Besi
7 Bab 7: Menebas Angkuh
8 Bab 8: Bayang-Bayang dari Luar Desa
9 Bab 9: Hutan Kematian
10 Bab 10: Pertemuan di Batas Maut
11 Bab 11: Menghadang Cakar Raksasa
12 Bab 12: Mengalahkan Beast tingkat 2
13 Bab 13: Alkimia Pertama
14 Bab 14: Token Pedang Azure
15 Bab 15: Penawaran dari sang Jenius
16 Bab 16: Gerbang Kota Azure Wood dan Ujian Arogansi
17 Bab 17: Ujian Pertama, Batu Penguji Bakat
18 Bab 18: BAKAT EMAS
19 Bab 19: Labirin Ilusi Tujuh Emosi
20 Bab 20: Panggung Maut
21 Bab 21: Tebasan Penghancur Ilusi
22 Bab 22: Puncak Tirani Kuno
23 Bab 23: Pilihan di Ujung Pedang
24 Bab 24: Puncak Azure Heaven
25 Bab 25: Menara Kitab dan Provokasi Baru
26 Bab 26:Teknik Pedang Angin Puyuh
27 Bab 27: Arena Pembuktian
28 Bab 28: Badai Angin Puyuh Emas
29 Bab 29: Mengocok Ulang Peta Kekuatan Puncak
30 Bab 30: Menembus Batas Belenggu
31 Bab 31: Pergerakan Faksi Bayangan
32 Bab 32: Perangkap Bernama Lembah Kabut Darah
33 Bab 33: Membalik Peran Pemburu
34 Bab 34: Membuka Gerbang Neraka
35 Bab 35: Kelahiran Tulang Emas
36 Bab 36: Jejak yang Terhapus
37 Bab 37: Tuduhan Kosong sang Tetua Agung
38 Bab 38: Peta Kuno dan Persiapan Menerobos
39 Bab 39: Perjalanan Menuju Batas Domain
40 Bab 40: Memanen Jiwa di Hutan Pinus
41 Bab 41: Lembah Gerhana Bulan
42 Bab 42: Kompresi Esensi Tertinggi
43 Bab 43: Teknik Pergerakan Dewa
44 Bab 44: Tiga Langkah Naga
45 Bab 45: Puncak Fondasi Melawan Tirani
46 Bab 46: kepulangan Lin Tian
47 Bab 47: Panggung yang Membara
48 Bab 48: Sapuan Badai Tirani
49 Bab 49: Keputusasaan di Atas Panggung
50 Bab 50: Kepalan Tiran Meremukkan Api
51 Bab 51: Badai di Tribun Utama
52 Bab 52: Undian Babak Utama
53 Bab 53: Gemuruh di Atas Panggung Azure Heaven
54 Bab 54: Kebangkitan Jiwa Api Iblis
55 Bab 55: Patahnya Sayap Sang Elang Api
56 Bab 56: Bayang-Bayang Delapan Besar
57 Bab 57: Badai Silsilah Darah
58 Bab 58: Kepunahan Faksi Dalam
59 Bab 59: Menuju Empat Besar
60 Bab 60: Hancurnya Sayap Angin
61 61: Panggung Puncak
62 Bab 62: Terbakarnya Sayap Sang Putri
63 Bab 63: Tebasan Tirani Meremukkan Phoenix
64 Bab 64: Tamu dari Sekte Kekaisaran
65 Bab 65: Tiga Pukulan Tirani
66 Bab 66: Guntur yang Padam
67 Bab 67: Riak dari Wilayah Perbatasan
68 68: Tiga Bulan dalam Keheningan Emas
69 Bab 69: Badai di Ibu Kota
70 Bab 70: Provokasi Lei Zhan
71 Bab 71: Aliansi Para Naga dan Harimau
72 Bab 72: Formasi Sembilan Arena Melayang
73 Bab 73: Pembantaian dalam Tiga Ketukan Waktu
74 Bab 74: Tatapan sang Pangeran Pedang
75 Bab 75: Delapan Puncak Berkumpul
76 Bab 76: Benturan Dua Kekuatan Absolut
77 Bab 77: Runtuhnya Tembaga Vajra
78 Bab 78: Babak Penyaringan Darah
79 Bab 79: Pedang Besar yang Terhunus
80 Bab 80: Guncangan di Singgasana Naga
81 Bab 81: Mahkota sang Tiran Baru
82 Bab 82: Lembah Jatuh Kabut
83 83: Warisan keluarga
84 Bab 84: Pedang Penghancur Surga
85 Bab 85: Cakrawala yang Terbelah
86 Bab 86: Tirai Langit Sembilan Lapisan
87 Bab 87: Panggung Baru
88 Bab 88: Membakar Kota Awan Hitam
89 Bab 89: Peta Langit yang Berdarah
90 Bab 90:Identitas Baru di Balik Topeng Tiran
91 Bab 91: Tambang Batu Darah
92 Bab 92: Pergolakan di Barak Tambang
93 93: Gua Nomor Empat Puluh Tujuh
94 94: Pembebasan Budak Tambang
95 Bab 95: Tarian Pedang Tiran
96 96: Bayangan di Kota Angin Puyuh
97 97: Menyusup ke Sarang Umpan
98 Bab 98: Membuka Kunci Gudang senjata
99 Bab 99: Pembantaian di Lorong Bawah Tanah
100 100: Blackline City
101 Bab 101: Celah Tulang Naga
102 Bab 102: Menembus Celah Spasial
103 Bab 103: langkah awal
104 Bab 104: Kota Gunung Hijau
105 Bab 105: Gejolak di Panggung Bintang
106 Bab 106: Zhao Chen
107 Bab 107: Ujian Pemahaman Pedang Bintang
108 Bab 108: Pengakuan puncak
109 Bab 109: Puncak Ketujuh
110 Bab 110: Tugas Pertama
111 Bab 111: Pertarungan di Lembah
112 112: kematian Zhao Chen
113 Bab 113: Kepulangan ke Puncak Ketujuh
114 Bab 114: Rahasia lantai 4
115 Bab 115: Kompetisi antar puncak
116 Bab 116: Pembukaan Arena Bintang Agung
117 Bab 117: Lu Chen
118 Bab 118: Pembantaian
119 Bab 119: Gu Yuan
120 Bab 120: Rencana Gila
121 Bab 121: Puncak pertama
122 Bab 122: Merobos Batas Kultivasi
123 Bab 123: Menuju Jurang Api Tiran
124 Bab 124: Masuk Rencana Musuh
125 Bab 125: Jurang Api Tiran
126 Bab 126: Pengepungan Musuh
127 Bab 127: Pertempuran Berdarah
128 Bab 128: Kematian Sang Tiran
129 129: Firasat Penatua Mo
130 Bab 130: Sorak Kemenangan
Episodes

Updated 130 Episodes

1
Bab 1: Api dalam Abu
2
Bab 2: Kebangkitan Fisik Suci
3
Bab 3: Menguji Pedang yang Baru Diasah
4
Bab 4: Sutra Sembilan Transformasi Langit
5
Bab 5: Badai di Pagi Hari
6
Bab 6: Menghantam Batu dengan Besi
7
Bab 7: Menebas Angkuh
8
Bab 8: Bayang-Bayang dari Luar Desa
9
Bab 9: Hutan Kematian
10
Bab 10: Pertemuan di Batas Maut
11
Bab 11: Menghadang Cakar Raksasa
12
Bab 12: Mengalahkan Beast tingkat 2
13
Bab 13: Alkimia Pertama
14
Bab 14: Token Pedang Azure
15
Bab 15: Penawaran dari sang Jenius
16
Bab 16: Gerbang Kota Azure Wood dan Ujian Arogansi
17
Bab 17: Ujian Pertama, Batu Penguji Bakat
18
Bab 18: BAKAT EMAS
19
Bab 19: Labirin Ilusi Tujuh Emosi
20
Bab 20: Panggung Maut
21
Bab 21: Tebasan Penghancur Ilusi
22
Bab 22: Puncak Tirani Kuno
23
Bab 23: Pilihan di Ujung Pedang
24
Bab 24: Puncak Azure Heaven
25
Bab 25: Menara Kitab dan Provokasi Baru
26
Bab 26:Teknik Pedang Angin Puyuh
27
Bab 27: Arena Pembuktian
28
Bab 28: Badai Angin Puyuh Emas
29
Bab 29: Mengocok Ulang Peta Kekuatan Puncak
30
Bab 30: Menembus Batas Belenggu
31
Bab 31: Pergerakan Faksi Bayangan
32
Bab 32: Perangkap Bernama Lembah Kabut Darah
33
Bab 33: Membalik Peran Pemburu
34
Bab 34: Membuka Gerbang Neraka
35
Bab 35: Kelahiran Tulang Emas
36
Bab 36: Jejak yang Terhapus
37
Bab 37: Tuduhan Kosong sang Tetua Agung
38
Bab 38: Peta Kuno dan Persiapan Menerobos
39
Bab 39: Perjalanan Menuju Batas Domain
40
Bab 40: Memanen Jiwa di Hutan Pinus
41
Bab 41: Lembah Gerhana Bulan
42
Bab 42: Kompresi Esensi Tertinggi
43
Bab 43: Teknik Pergerakan Dewa
44
Bab 44: Tiga Langkah Naga
45
Bab 45: Puncak Fondasi Melawan Tirani
46
Bab 46: kepulangan Lin Tian
47
Bab 47: Panggung yang Membara
48
Bab 48: Sapuan Badai Tirani
49
Bab 49: Keputusasaan di Atas Panggung
50
Bab 50: Kepalan Tiran Meremukkan Api
51
Bab 51: Badai di Tribun Utama
52
Bab 52: Undian Babak Utama
53
Bab 53: Gemuruh di Atas Panggung Azure Heaven
54
Bab 54: Kebangkitan Jiwa Api Iblis
55
Bab 55: Patahnya Sayap Sang Elang Api
56
Bab 56: Bayang-Bayang Delapan Besar
57
Bab 57: Badai Silsilah Darah
58
Bab 58: Kepunahan Faksi Dalam
59
Bab 59: Menuju Empat Besar
60
Bab 60: Hancurnya Sayap Angin
61
61: Panggung Puncak
62
Bab 62: Terbakarnya Sayap Sang Putri
63
Bab 63: Tebasan Tirani Meremukkan Phoenix
64
Bab 64: Tamu dari Sekte Kekaisaran
65
Bab 65: Tiga Pukulan Tirani
66
Bab 66: Guntur yang Padam
67
Bab 67: Riak dari Wilayah Perbatasan
68
68: Tiga Bulan dalam Keheningan Emas
69
Bab 69: Badai di Ibu Kota
70
Bab 70: Provokasi Lei Zhan
71
Bab 71: Aliansi Para Naga dan Harimau
72
Bab 72: Formasi Sembilan Arena Melayang
73
Bab 73: Pembantaian dalam Tiga Ketukan Waktu
74
Bab 74: Tatapan sang Pangeran Pedang
75
Bab 75: Delapan Puncak Berkumpul
76
Bab 76: Benturan Dua Kekuatan Absolut
77
Bab 77: Runtuhnya Tembaga Vajra
78
Bab 78: Babak Penyaringan Darah
79
Bab 79: Pedang Besar yang Terhunus
80
Bab 80: Guncangan di Singgasana Naga
81
Bab 81: Mahkota sang Tiran Baru
82
Bab 82: Lembah Jatuh Kabut
83
83: Warisan keluarga
84
Bab 84: Pedang Penghancur Surga
85
Bab 85: Cakrawala yang Terbelah
86
Bab 86: Tirai Langit Sembilan Lapisan
87
Bab 87: Panggung Baru
88
Bab 88: Membakar Kota Awan Hitam
89
Bab 89: Peta Langit yang Berdarah
90
Bab 90:Identitas Baru di Balik Topeng Tiran
91
Bab 91: Tambang Batu Darah
92
Bab 92: Pergolakan di Barak Tambang
93
93: Gua Nomor Empat Puluh Tujuh
94
94: Pembebasan Budak Tambang
95
Bab 95: Tarian Pedang Tiran
96
96: Bayangan di Kota Angin Puyuh
97
97: Menyusup ke Sarang Umpan
98
Bab 98: Membuka Kunci Gudang senjata
99
Bab 99: Pembantaian di Lorong Bawah Tanah
100
100: Blackline City
101
Bab 101: Celah Tulang Naga
102
Bab 102: Menembus Celah Spasial
103
Bab 103: langkah awal
104
Bab 104: Kota Gunung Hijau
105
Bab 105: Gejolak di Panggung Bintang
106
Bab 106: Zhao Chen
107
Bab 107: Ujian Pemahaman Pedang Bintang
108
Bab 108: Pengakuan puncak
109
Bab 109: Puncak Ketujuh
110
Bab 110: Tugas Pertama
111
Bab 111: Pertarungan di Lembah
112
112: kematian Zhao Chen
113
Bab 113: Kepulangan ke Puncak Ketujuh
114
Bab 114: Rahasia lantai 4
115
Bab 115: Kompetisi antar puncak
116
Bab 116: Pembukaan Arena Bintang Agung
117
Bab 117: Lu Chen
118
Bab 118: Pembantaian
119
Bab 119: Gu Yuan
120
Bab 120: Rencana Gila
121
Bab 121: Puncak pertama
122
Bab 122: Merobos Batas Kultivasi
123
Bab 123: Menuju Jurang Api Tiran
124
Bab 124: Masuk Rencana Musuh
125
Bab 125: Jurang Api Tiran
126
Bab 126: Pengepungan Musuh
127
Bab 127: Pertempuran Berdarah
128
Bab 128: Kematian Sang Tiran
129
129: Firasat Penatua Mo
130
Bab 130: Sorak Kemenangan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!