Bab 2. Makan Siang dan Desakan Ibu

Aroma gulai ayam dan sambal goreng ati langsung menyengat indra penciuman begitu Keisha melangkah keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih terbungkus handuk kecil. Di ruang makan, Ibu Dania tampak sibuk mengelap pinggiran piring saji, dibantu oleh Bik Minah yang baru saja meletakkan semangkuk besar sayur asem di tengah meja.

"Bik, sendok garpunya jangan lupa ditambah dua set lagi, ya. Satria sama Rafka makan di sini sekalian," puji Ibu Dania, tangannya dengan cekatan menata ulang posisi mangkuk agar terlihat rapi.

"Sampun, Bu. Ini sudah siap semua di meja," jawab Bik Minah ramah, lalu berbalik kembali ke dapur untuk mengambil teko berisi es teh manis.

Keisha berjalan mendekati meja makan dengan langkah yang masih sedikit pincang. "Aduh, baunya enak banget, Bu. Ini dalam rangka merayakan keberhasilan Keisha lolos dari maut di got tadi, ya?"

Ibu Dania menoleh, langsung berkacak pinggang menatap anak bungsunya. "Keberhasilan apa? Yang ada Ibu jantungan! Kamu itu cepat keringkan rambut, ganti baju yang benar. Masih untung Kakak iparmu yang nemuin kamu tadi. Kalau orang lain, mau ditaruh di mana muka Ibu punya anak perawan hobi nyemplung got?"

"Kan gotnya kering, Ibu sayang ...." Keisha menyengir kuda, memperlihatkan deretan giginya yang rapi sebelum melesat kembali ke kamarnya untuk berganti pakaian.

Sementara itu, di bagian lain rumah yang lebih tenang, pintu kamar bernuansa krem terbuka perlahan. Kamar itu adalah kamar almarhumah Vania, kakak kandung Keisha. Di kamar itulah Satria selalu tidur jika memutuskan untuk menginap demi menemani Rafka menghabiskan akhir pekan bersama kakek dan neneknya.

Satria keluar dengan penampilan yang jauh lebih santai. Seragam PDL-nya yang kaku dan baret hijaunya sudah ditanggalkan, digantikan oleh kaos polo berwarna biru tua yang pas di tubuh tegapnya, serta celana chinos berwarna krem. Meski pakaiannya kasual, potongan rambut cepak dan postur tubuhnya yang selalu tegap membuat aura militernya tidak berkurang sedikit pun.

"Papaaa!"

Sebuah hantaman kecil mendarat di paha Satria. Rafka, yang sudah bersih dan harum setelah dimandikan Ibu Dania, langsung *nyelendot* manja, memeluk erat kaki sang ayah dengan kedua tangan mungilnya. Wajahnya yang tadi coreng-moreng kini sudah berseri kembali, lengkap dengan wangi bedak bayi yang tebal di pipi.

Satria berjongkok, menyamakan tingginya dengan sang anak. Tangan besarnya mengusap kepala Rafka dengan lembut. "Sudah mandi? Lututnya masih sakit?"

"Sudah, Pa! Tadi digosok pakai sabun sama Eyang Putri, perih dikit tapi Rafka kan tentara, jadi enggak nangis!" ujar bocah lima tahun itu dengan bangga, menepuk dadanya sendiri.

Satria memberikan anggukan apresiasi yang tipis. "Bagus. Anak Papa harus kuat."

"Nah, Satria, Rafka, ayo langsung ke meja makan. Makanan sudah siap semua, keburu dingin nanti," ajak Ayah Farrel yang tiba-tiba muncul dari arah ruang tengah sambil melipat koran sorenya. Pria paruh baya itu menepuk pundak menantunya dengan hangat. "Ayo, kita makan siang bersama."

"Baik, Ayah," jawab Satria formal. Dia berdiri kembali, menggandeng tangan kecil Rafka dan berjalan beriringan bersama Ayah Farrel menuju ruang makan.

***

Suasana di meja makan terbilang hangat. Denting sendok dan garpu beradu dengan suara riuh Rafka yang menceritakan teman TK-nya yang bisa meniru suara dinosaurus. Ayah Farrel sesekali menanggapi dengan tawa kecil, sementara Ibu Dania sibuk mengambilkan nasi dan lauk untuk cucu serta menantunya.

"Ini gulai ayamnya dimakan yang banyak, Satria. Kamu kelihatan agak kurusan setelah dinas lapangan minggu ini," kata Ibu Dania sambil meletakkan sepotong paha ayam besar ke piring Satria.

"Terima kasih, Ibu. Ini sudah lebih dari cukup," balas Satria santun. Cara makannya sangat rapi dan tenang, khas didikan militer yang disiplin.

Keisha baru saja bergabung di meja makan, kini sudah mengenakan kaos oblong longgar dan celana kulot santai. Rambutnya yang setengah basah dibiarkan terurai. Tanpa canggung, dia langsung menyendok nasi dalam porsi besar, lalu mengambil sepotong dada ayam dan menyiramnya dengan kuah gulai yang melimpah.

"Pelan-pelan makan gulai ayamnya, Kei. Enggak akan ada yang merebut," tegur Ayah Farrel melihat cara makan anak bungsunya yang terkesan buru-buru.

"Lapar tingkat dewa, Yah. Tadi kan habis latihan fisik angkat sepeda dari dalam parit," sahut Keisha asal, membuat Ibu Dania hanya bisa menghela napas panjang melihat kelakuan absurd anaknya.

Di tengah keheningan yang sempat tercipta saat semua orang mulai fokus menikmati hidangan, Ibu Dania meletakkan sendoknya perlahan. Matanya menatap Satria yang duduk tepat di hadapannya. Raut wajah wanita paruh baya itu berubah menjadi agak serius, namun tetap memancarkan kehangatan seorang ibu.

"Satria," panggil Ibu Dania lembut.

Satria menghentikan gerakan sendoknya, mendongak menatap ibu mertuanya dengan takzim. "Iya, Ibu?"

"Ibu mau nanya sesuatu, tapi kamu jangan tersinggung, ya," Ibu Dania melirik suaminya sejenak, seolah meminta dukungan lewat tatapan mata. Ayah Farrel hanya mengangguk kecil, memberikan kode bahwa pembicaraan ini memang sudah seharusnya dibuka.

Satria meletakkan sendok dan garpunya di atas piring, memberikan perhatian penuh. "Silakan, Ibu. Tidak apa-apa."

"Sudah lima tahun semenjak Vania pergi ...." Ibu Dania menjeda kalimatnya, ada gurat kesedihan yang sempat melintas, namun segera digantikan oleh senyuman tulus. "Kami sebagai orang tua almarhumah Vania, sudah sangat ikhlas kalau kamu mau mencari pendamping lagi, Satria. Kamu tidak perlu merasa beban atau tidak enak pada kami."

Mendengar topik yang tiba-tiba bergeser ke arah yang cukup sensitif, Keisha yang sedang mengunyah kerupuk langsung menghentikan kunyahannya. Matanya mengerjap, melirik bergantian antara ibunya dan sang kakak ipar.

"Kamu itu masih muda, Satria. Perjalanan kariermu masih panjang, tugasmu sebagai Mayor juga pasti sangat menyita waktu dan pikiran," lanjut Ibu Dania, suaranya terdengar penuh perhatian. "Pastinya kamu butuh pendamping yang bisa mengurus keperluan kamu sendiri, dan yang paling penting ... ada yang mengurus Rafka secara penuh di rumah. Ibu dan Ayah kan sudah semakin tua, tidak bisa terus-menerus mengawasi Rafka kalau kamu sedang ditinggal tugas."

Satria tetap diam. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan gejolak emosi apa pun. Pria itu mendengarkan dengan tatapan lurus, sedatar permukaan air di dalam gelas.

Keisha yang dasarnya ceplas-ceplos dan tidak suka suasana tegang, langsung ikut menimpali sambil mengacungkan sendoknya ke udara. "Nah! Betul banget kata Ibu, Kak! Aku setuju seratus persen! "

Bersambung...

Terpopuler

Comments

Kar Genjreng

Kar Genjreng

Kaisha langsung setuju tau Kamu Kai ,,, yang sedang di tunggu adalah kelulusan mu oleh Kakak ipar karena daripada cari cari pasangan lah mending Adek ipar nya saja toh bukan selingkuhan maut. tetapi turun ranjang namanya, lagian keseharian nya bersama dengan Tante Kaisha. paling juga nanti di ajari. apalagi kemaren belajar terbang masuk got sepeda nyangkut di parit,,,,, sekarang ya Mas Satria mending Kaisha saja setuju' mudah mudahan mau,,halo mommy maaf baru di baca rempes banget di rumah 👍💪 semangat Mommy

2026-07-02

3

Gustinur Arofah

Gustinur Arofah

untuk karya baru mu aku sudah like, komen, bunga, kopi, vote dan semangat mom🤗😁

2026-07-01

2

Valen Angelina

Valen Angelina

hihihi... paling seru dpat cerita cweknya bar2 kwkwkwk karna yg baca juga bar2 orangnya whahhaah🤭🤣

2026-07-01

4

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Operasi Penyelamatan Got
2 Bab 2. Makan Siang dan Desakan Ibu
3 Bab 3. Menjemput Keisha
4 Bab 4. Kecurigan di Ruang Tengah
5 Bab 5. Interogasi Sang Mayor
6 Bab 6. Jemputan Tak Terduga Sang Mayor
7 Babb 7. Celetukan Maut
8 Bab 8. Menu Terserah
9 Bab 9. Izin yang Salah Alamat
10 Bab 10. Gendongan Darurat
11 Bab 11. Minyak Urut
12 Bab 12. Nampan Sarapan
13 Bab 13. Masih Nyeri?
14 Bab 14. Sinyal yang Keliru
15 Bab 15. Tamu Sore Hari
16 Bab 16. Kayak Ibu-Ibu Lagi PMS
17 Bab 17. Otak yang Korslet
18 Bab 18. Monolog Tengah Malam
19 Bab 19. Kak Satria Stres
20 Bab 20. Pinangan di Balik Kopi Pagi
21 Bab 21. Penolakan Keisha
22 Bab 22. Kabar Orang Tua Satria
23 Bab 23. Cokelat di Meja Kuliah dan Patroli Status
24 Bab 24. Tamu dari Bandara
25 Bab 25. Singgah di Rumah Pribadi
26 Bab 26. Hidangan Malam Hari
27 Bab 27. Gelas Yang Pecah
28 Bab 28. Calon Istri Cadangan
29 Bab 29. Kedatangan Rombongan Resmi
30 Bab 30. Perjanjian Dua Hari
31 Bab 31. Bujukan Ingrid
32 Babb 32. Penolakan Rafka
33 Bab 33. Cokelat yang Pindah Tangan
34 Bab 34. Laporan Rahasia Bik Nini
35 Bab 35. Batas Waktu
36 Bab 36. Jawaban Keisha
37 Bab 37. Bisik-Bisik di Kamar Tamu
38 Bab 38. Hari Pertunangan
39 Bab 39. Cincin di Jari
40 Bab 40. Siasat yang Tertunda
41 Bab 41. Rahasia di Balik Gaun Pengantin.
42 Bab 42. Bicara Dengan Ibu
43 Bab 43. Janji Suci
44 Bab 44. Patah Hati
45 Bab 45. Pesta Pedang Pora
46 Bab 46. Canggung Di Balik Pelaminan
47 Bab 47. Kamar Utama
48 Bab 48. Ciuman Pertama
49 Bab 49. Aturan Baru
50 Bab 50. Menu Balas Dendam yang Gagal
51 Bab 51. Mengantar Ingrid
52 Bab 52. Ocehan Rafka
53 Bab 53. Teguran Satria
54 Bab 54. Kejutan Untuk Keisha
55 Bab 55. Doa Vania
56 Bab 56. Bermain di Pinggir Pantai
57 Bab 57. Insiden Konyol
58 Bab 58. Tugas Pertama Ibu Persit
59 Bab 59. Masih Canggung
60 Bab 60. Penolakan Satria
61 Bab 61. Badai Cemburu
62 Bab 62. Suka Lihat Keisha Cemburu
63 Bab 63. Kehangatan yang Kian Berakar
64 Bab 64. Seragam Hijau
65 Bab 65. Pijatan Suami
66 Bab 66. Hati Bu Reni yang Luluh
67 Bab 67. Liburan Singkat
68 Bab 68. Kecilin Dulu Ularnya
69 Bab 69. Perpisahan 3 Bulan
70 Bab 70. Istri Cadangan
71 Bab 71. Ide Culas Ingrid
72 Bab 72. Saat Suami Rindu
73 Bab 73. Jangan Berbohongg, Dek!
74 Bab 74. Kedatangan Ingrid
75 Bab 75. Surat dari Pedalaman
76 Bab 76. Teguran Satria
77 Bab 77. Pelukan Hangat di Dapur
78 Bab 78. Sentuhan Hangat
79 Bab 79. Periksa Ke Dokter
80 Bab 80. Kebahagiaan Satria dan Keisha
81 Bab 81. Sayang, Mau Makan Apa?
82 Bab 82. Ketika Sang Mayor Mulai Mual
83 Bab 83. Biar Mas Saja
84 Bab 84. Ngidam Aneh
85 Bab 85. Subuh yang Menghebohkan
86 Bab 86. Momenn Lucu
87 Bab 87. Keisha Lulus Sidang
88 Bab 88. Syukuran Sederhana
89 Bab 89. Babymoon Dadakan
90 Bab 90. Kelas Ibu Hamil
91 Bab 91. Serangan Palsu
92 Bab 92. Kontraksi Palsu
93 Bab 93. Detik-Detik Persalinan
94 Bab 94. Kehadiran Adik Kecil
95 Bab 95. Tangisan Pertama
96 Bab 96. Acara Akikah dan Kebahagiaan Keluarga Besar
97 Bab 97. Rumah yang Penuh Warna
Episodes

Updated 97 Episodes

1
Bab 1. Operasi Penyelamatan Got
2
Bab 2. Makan Siang dan Desakan Ibu
3
Bab 3. Menjemput Keisha
4
Bab 4. Kecurigan di Ruang Tengah
5
Bab 5. Interogasi Sang Mayor
6
Bab 6. Jemputan Tak Terduga Sang Mayor
7
Babb 7. Celetukan Maut
8
Bab 8. Menu Terserah
9
Bab 9. Izin yang Salah Alamat
10
Bab 10. Gendongan Darurat
11
Bab 11. Minyak Urut
12
Bab 12. Nampan Sarapan
13
Bab 13. Masih Nyeri?
14
Bab 14. Sinyal yang Keliru
15
Bab 15. Tamu Sore Hari
16
Bab 16. Kayak Ibu-Ibu Lagi PMS
17
Bab 17. Otak yang Korslet
18
Bab 18. Monolog Tengah Malam
19
Bab 19. Kak Satria Stres
20
Bab 20. Pinangan di Balik Kopi Pagi
21
Bab 21. Penolakan Keisha
22
Bab 22. Kabar Orang Tua Satria
23
Bab 23. Cokelat di Meja Kuliah dan Patroli Status
24
Bab 24. Tamu dari Bandara
25
Bab 25. Singgah di Rumah Pribadi
26
Bab 26. Hidangan Malam Hari
27
Bab 27. Gelas Yang Pecah
28
Bab 28. Calon Istri Cadangan
29
Bab 29. Kedatangan Rombongan Resmi
30
Bab 30. Perjanjian Dua Hari
31
Bab 31. Bujukan Ingrid
32
Babb 32. Penolakan Rafka
33
Bab 33. Cokelat yang Pindah Tangan
34
Bab 34. Laporan Rahasia Bik Nini
35
Bab 35. Batas Waktu
36
Bab 36. Jawaban Keisha
37
Bab 37. Bisik-Bisik di Kamar Tamu
38
Bab 38. Hari Pertunangan
39
Bab 39. Cincin di Jari
40
Bab 40. Siasat yang Tertunda
41
Bab 41. Rahasia di Balik Gaun Pengantin.
42
Bab 42. Bicara Dengan Ibu
43
Bab 43. Janji Suci
44
Bab 44. Patah Hati
45
Bab 45. Pesta Pedang Pora
46
Bab 46. Canggung Di Balik Pelaminan
47
Bab 47. Kamar Utama
48
Bab 48. Ciuman Pertama
49
Bab 49. Aturan Baru
50
Bab 50. Menu Balas Dendam yang Gagal
51
Bab 51. Mengantar Ingrid
52
Bab 52. Ocehan Rafka
53
Bab 53. Teguran Satria
54
Bab 54. Kejutan Untuk Keisha
55
Bab 55. Doa Vania
56
Bab 56. Bermain di Pinggir Pantai
57
Bab 57. Insiden Konyol
58
Bab 58. Tugas Pertama Ibu Persit
59
Bab 59. Masih Canggung
60
Bab 60. Penolakan Satria
61
Bab 61. Badai Cemburu
62
Bab 62. Suka Lihat Keisha Cemburu
63
Bab 63. Kehangatan yang Kian Berakar
64
Bab 64. Seragam Hijau
65
Bab 65. Pijatan Suami
66
Bab 66. Hati Bu Reni yang Luluh
67
Bab 67. Liburan Singkat
68
Bab 68. Kecilin Dulu Ularnya
69
Bab 69. Perpisahan 3 Bulan
70
Bab 70. Istri Cadangan
71
Bab 71. Ide Culas Ingrid
72
Bab 72. Saat Suami Rindu
73
Bab 73. Jangan Berbohongg, Dek!
74
Bab 74. Kedatangan Ingrid
75
Bab 75. Surat dari Pedalaman
76
Bab 76. Teguran Satria
77
Bab 77. Pelukan Hangat di Dapur
78
Bab 78. Sentuhan Hangat
79
Bab 79. Periksa Ke Dokter
80
Bab 80. Kebahagiaan Satria dan Keisha
81
Bab 81. Sayang, Mau Makan Apa?
82
Bab 82. Ketika Sang Mayor Mulai Mual
83
Bab 83. Biar Mas Saja
84
Bab 84. Ngidam Aneh
85
Bab 85. Subuh yang Menghebohkan
86
Bab 86. Momenn Lucu
87
Bab 87. Keisha Lulus Sidang
88
Bab 88. Syukuran Sederhana
89
Bab 89. Babymoon Dadakan
90
Bab 90. Kelas Ibu Hamil
91
Bab 91. Serangan Palsu
92
Bab 92. Kontraksi Palsu
93
Bab 93. Detik-Detik Persalinan
94
Bab 94. Kehadiran Adik Kecil
95
Bab 95. Tangisan Pertama
96
Bab 96. Acara Akikah dan Kebahagiaan Keluarga Besar
97
Bab 97. Rumah yang Penuh Warna

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!