Bab 4. Kecurigan di Ruang Tengah

Tepat pada saat itu, langkah kaki yang berirama cepat terdengar dari arah dalam rumah. "Rendra! Udah sampai ya? Bentar—"

Kalimat Keisha terputus begitu dia sampai di ambang pintu dan melihat Satria sudah berdiri di sana bagai benteng pertahanan. Keisha hari ini tampil berbeda. Tidak ada lagi kaos oblong longgar, rambut acak-acakan penuh daun kering, atau celana kulot yang kedodoran. Gadis itu mengenakan kemeja berwarna pastel yang pas di tubuhnya, dipadukan dengan celana jin putih bersih, serta riasan wajah yang tipis namun segar. Rambut panjangnya yang biasanya dikuncir asal kini digerai rapi, menyebarkan aroma wangi buah-buahan yang manis.

Satria memicingkan matanya. Sorot matanya yang tajam bergulir lambat, meneliti penampilan Keisha dari ujung kepala hingga ujung kaki, sebelum akhirnya kembali tertuju pada Rendra yang berdiri canggung di teras. Ada perubahan atmosfer yang mendadak terasa menyesakkan di udara.

"Mau ke mana?" tanya Satria. Suaranya rendah, berat, dan terdengar seperti introgasi komandan di markas.

Keisha menghela napas, mengabaikan tatapan tajam itu dengan sifat cueknya yang biasa. "Kan tadi Rendra udah bilang, Kak. Mau ngerjain tugas kelompok. Tugas kuliahku udah menumpuk setinggi Gunung Merapi tahu."

"Di mana?" tanya Satria lagi, mengabaikan kalimat bercanda Keisha.

"Di Kafe Amarta, yang di dekat jalan lingkar kampus itu loh," sahut Keisha sambil memakai flat shoes-nya di dekat rak sepatu.

"Pulang jam berapa?" Introgasi Satria belum selesai. Nada suaranya tidak meninggi, tetap datar, namun setiap kata yang keluar memiliki penekanan yang mutlak.

Keisha memutar bola matanya jengkel. "Ini kakak ipar atau satpam komplek sih? Protektifnya melebihi Ayah," gerutu Keisha dalam hati.

"Ya tergantung tugasnya selesainya jam berapa, Kak. Paling sore jam lima atau jam enam juga udah balik. Kenapa sih? Kakak mau nitip beli kopi susu?" tanya Keisha dengan nada absurdnya yang khas, mencoba memecah ketegangan yang dibuat oleh Satria.

Satria tidak merespons candaan itu. Ia justru mengalihkan pandangannya kembali pada Rendra. Pandangan mata Satria begitu mengunci, membuat Rendra yang ditatap langsung menegakkan posisi berdirinya secara refleks.

"Bawa motornya jangan mengebut. Keisha baru saja jatuh ke got tadi siang," ucap Satria dengan nada dingin yang tidak terbantahkan.

Rendra mengerjap, melirik Keisha sesaat dengan tatapan bingung sebelum kembali menatap Satria. "Ah ... iya, Kak. Siap. Saya bawa motornya pelan-pelan saja."

"Kak Satria ih! Enggak usah disebut gitu dong Rendranya, kasihan tuh mukanya langsung pucat kayak kertas hvs," protes Keisha sambil melangkah melewati Satria. Ia berbalik sebentar ke arah dalam rumah. "Ayah! Ibu! Keisha berangkat kerja kelompok dulu ya!"

"Iya, hati-hati, Kei! Jangan pulang kemalaman!" sahut Ibu Dania dari arah dapur.

Keisha beralih pada Rendra. "Ayo, Ren. Keburu sore, nanti teman-teman yang lain udah pada nyampai duluan lagi."

"Oh, iya, ayo," jawab Rendra lega, seolah baru saja lolos dari hukuman mati. Dia buru-buru memakai helmnya kembali. "Kami pamit dulu ya, Kak Satria."

Satria tidak menjawab dengan kata-kata, hanya memberikan sebuah anggukan kecil yang sangat kaku. Tangannya bertumpu pada bingkai pintu, sementara matanya terus mengawasi gerak-gerik kedua anak muda itu.

Keisha naik ke atas boncengan motor Rendra dengan gerakan yang agak hati-hati, karena lututnya yang dibalut plester besar tadi masih terasa sedikit linu. Setelah posisinya nyaman, Rendra perlahan menghidupkan mesin motor dan mulai melajukan kendaraannya keluar dari pekarangan rumah.

Dari atas motor, Keisha sempat menoleh ke belakang dan melambaikan tangannya dengan asal. "Daaah Kakak Ipar kaku! Jangan lupa temani Rafka main ya Kak!" teriak Keisha setengah tertawa, memperlihatkan sifat barbarnya yang tidak tahu tempat.

Satria tidak membalas lambaian tangan itu. Pria bertubuh tegap itu tetap berdiri kokoh di ambang pintu. Matanya yang hitam pekat memicing tajam, menatap lurus ke depan. Pandangannya mengunci pada sosok Rendra dan Keisha yang mulai menjauh menyusuri jalanan kompleks perumahan.

Bahkan ketika motor Rendra sudah berbelok di persimpangan jalan dan bayangannya benar-benar menghilang dari pandangan, Satria masih belum bergerak dari posisinya. Dia tetap berdiri di sana selama beberapa saat, menatap jalanan yang kosong dengan rahang yang mengetat samar.

Angin siang berembus kencang, menerbangkan beberapa daun kering di halaman teras, namun tidak mampu mencairkan ekspresi dingin dan penuh teka-teki yang terpatri di wajah sang Mayor. Sesuatu yang terpendam di dalam kepalanya tampak semakin rumit, mengalir lambat bagai arus bawah air yang tenang namun menghanyutkan.

***

Beberapa jam kemudian...

Suasana di Kafe Amarta lantai dua sore itu cukup riuh oleh suara denting cangkir, mesin pembuat kopi, dan obrolan para mahasiswa yang sedang berburu dengan tugas akhir. Di sudut dekat jendela besar yang menghadap langsung ke jalan raya, Keisha bersama Hilma, Yeyen, dan Rendra sedang duduk mengelilingi meja kayu panjang yang penuh dengan tumpukan buku referensi, beberapa lembar kertas draf proposal, serta laptop yang menyala.

"Menurut aku, bagian latar belakang ini harusnya diperkuat lagi di data sekunder deh, Kei," ujar Hilma sambil mengetuk-ngetuk pulpennya ke dagu, matanya fokus menatap layar laptop milik Keisha.

"Nah, iya, bener kata Hilma. Kalau cuma pakai data yang lama, nanti dosen penguji bakal langsung mencoret-coret lembar revisi kita, bisa pingsan di tempat," timpal Yeyen yang sibuk mengunyah kentang goreng.

Keisha mengangguk-angguk setuju, jari-jarinya menari cepat di atas keyboard laptop untuk memperbaiki kalimat yang dirasa kurang pas. "Oke, oke. Berarti kita cari jurnal keluaran tiga tahun terakhir dulu. Ren, tolong bukain situs jurnal yang biasa dong di laptop kamu. Kuota modemku lagi megap-megap nih."

"Siap, Bos. Sebentar, ini lagi proses loading," jawab Rendra yang duduk tepat di sebelah kiri Keisha. Jarak mereka cukup dekat karena harus bergantian melihat satu layar laptop yang sama untuk mencocokkan referensi data.

Drrrt ... Drrrt ...

Ponsel pintar milik Keisha yang tergeletak di atas tumpukan buku bergetar pendek. Sebuah notifikasi pesan WhatsApp masuk.

Keisha melirik sekilas layar ponselnya dengan malas. Begitu melihat nama kontak yang tertera di sana, dahinya langsung berkerut dalam. Kak Satria lagi.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

Kar Genjreng

Kar Genjreng

di awasi terus sama Kakak ipar karena memang ada maksud pokonya Kai tidak akan mudah bergaul dengan pria manapun akan di pantau di keker menggunakan insting Duda rambut cepak
Ojo kiro ga di awasi 😄 aduh puyeng puyeng deh Kaisha. ko bisa di WAin ini si beneran ajak perang ya Kai,,,0o pasti' alasannya. anak gadis ga boleh kamalaman di luar,,,🏃🏃kabur Kai biar gae jalaran,,,

2026-07-02

5

Ovha Selvia

Ovha Selvia

Lanjut terus mom 💪💪 Semoga banyak yg suka dan support karya barunya mom 🫰🫰

2026-07-02

3

Puput Assyfa

Puput Assyfa

Satria udah kek pengawas jarak jauh yg selalu mantau kegiatan Keisha,klo ada rasa tu bilang jgn cuma dipemdem dan bersikap kaya kanebo kering mana Keisha peka kakak ipar

2026-07-02

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Operasi Penyelamatan Got
2 Bab 2. Makan Siang dan Desakan Ibu
3 Bab 3. Menjemput Keisha
4 Bab 4. Kecurigan di Ruang Tengah
5 Bab 5. Interogasi Sang Mayor
6 Bab 6. Jemputan Tak Terduga Sang Mayor
7 Babb 7. Celetukan Maut
8 Bab 8. Menu Terserah
9 Bab 9. Izin yang Salah Alamat
10 Bab 10. Gendongan Darurat
11 Bab 11. Minyak Urut
12 Bab 12. Nampan Sarapan
13 Bab 13. Masih Nyeri?
14 Bab 14. Sinyal yang Keliru
15 Bab 15. Tamu Sore Hari
16 Bab 16. Kayak Ibu-Ibu Lagi PMS
17 Bab 17. Otak yang Korslet
18 Bab 18. Monolog Tengah Malam
19 Bab 19. Kak Satria Stres
20 Bab 20. Pinangan di Balik Kopi Pagi
21 Bab 21. Penolakan Keisha
22 Bab 22. Kabar Orang Tua Satria
23 Bab 23. Cokelat di Meja Kuliah dan Patroli Status
24 Bab 24. Tamu dari Bandara
25 Bab 25. Singgah di Rumah Pribadi
26 Bab 26. Hidangan Malam Hari
27 Bab 27. Gelas Yang Pecah
28 Bab 28. Calon Istri Cadangan
29 Bab 29. Kedatangan Rombongan Resmi
30 Bab 30. Perjanjian Dua Hari
31 Bab 31. Bujukan Ingrid
32 Babb 32. Penolakan Rafka
33 Bab 33. Cokelat yang Pindah Tangan
34 Bab 34. Laporan Rahasia Bik Nini
35 Bab 35. Batas Waktu
36 Bab 36. Jawaban Keisha
37 Bab 37. Bisik-Bisik di Kamar Tamu
38 Bab 38. Hari Pertunangan
39 Bab 39. Cincin di Jari
40 Bab 40. Siasat yang Tertunda
41 Bab 41. Rahasia di Balik Gaun Pengantin.
42 Bab 42. Bicara Dengan Ibu
43 Bab 43. Janji Suci
44 Bab 44. Patah Hati
45 Bab 45. Pesta Pedang Pora
46 Bab 46. Canggung Di Balik Pelaminan
47 Bab 47. Kamar Utama
48 Bab 48. Ciuman Pertama
49 Bab 49. Aturan Baru
50 Bab 50. Menu Balas Dendam yang Gagal
51 Bab 51. Mengantar Ingrid
52 Bab 52. Ocehan Rafka
53 Bab 53. Teguran Satria
54 Bab 54. Kejutan Untuk Keisha
55 Bab 55. Doa Vania
56 Bab 56. Bermain di Pinggir Pantai
57 Bab 57. Insiden Konyol
58 Bab 58. Tugas Pertama Ibu Persit
59 Bab 59. Masih Canggung
60 Bab 60. Penolakan Satria
61 Bab 61. Badai Cemburu
62 Bab 62. Suka Lihat Keisha Cemburu
63 Bab 63. Kehangatan yang Kian Berakar
64 Bab 64. Seragam Hijau
65 Bab 65. Pijatan Suami
66 Bab 66. Hati Bu Reni yang Luluh
67 Bab 67. Liburan Singkat
68 Bab 68. Kecilin Dulu Ularnya
69 Bab 69. Perpisahan 3 Bulan
70 Bab 70. Istri Cadangan
71 Bab 71. Ide Culas Ingrid
72 Bab 72. Saat Suami Rindu
73 Bab 73. Jangan Berbohongg, Dek!
74 Bab 74. Kedatangan Ingrid
75 Bab 75. Surat dari Pedalaman
76 Bab 76. Teguran Satria
77 Bab 77. Pelukan Hangat di Dapur
78 Bab 78. Sentuhan Hangat
79 Bab 79. Periksa Ke Dokter
80 Bab 80. Kebahagiaan Satria dan Keisha
81 Bab 81. Sayang, Mau Makan Apa?
82 Bab 82. Ketika Sang Mayor Mulai Mual
83 Bab 83. Biar Mas Saja
84 Bab 84. Ngidam Aneh
85 Bab 85. Subuh yang Menghebohkan
86 Bab 86. Momenn Lucu
87 Bab 87. Keisha Lulus Sidang
88 Bab 88. Syukuran Sederhana
89 Bab 89. Babymoon Dadakan
90 Bab 90. Kelas Ibu Hamil
91 Bab 91. Serangan Palsu
92 Bab 92. Kontraksi Palsu
93 Bab 93. Detik-Detik Persalinan
94 Bab 94. Kehadiran Adik Kecil
95 Bab 95. Tangisan Pertama
96 Bab 96. Acara Akikah dan Kebahagiaan Keluarga Besar
97 Bab 97. Rumah yang Penuh Warna
Episodes

Updated 97 Episodes

1
Bab 1. Operasi Penyelamatan Got
2
Bab 2. Makan Siang dan Desakan Ibu
3
Bab 3. Menjemput Keisha
4
Bab 4. Kecurigan di Ruang Tengah
5
Bab 5. Interogasi Sang Mayor
6
Bab 6. Jemputan Tak Terduga Sang Mayor
7
Babb 7. Celetukan Maut
8
Bab 8. Menu Terserah
9
Bab 9. Izin yang Salah Alamat
10
Bab 10. Gendongan Darurat
11
Bab 11. Minyak Urut
12
Bab 12. Nampan Sarapan
13
Bab 13. Masih Nyeri?
14
Bab 14. Sinyal yang Keliru
15
Bab 15. Tamu Sore Hari
16
Bab 16. Kayak Ibu-Ibu Lagi PMS
17
Bab 17. Otak yang Korslet
18
Bab 18. Monolog Tengah Malam
19
Bab 19. Kak Satria Stres
20
Bab 20. Pinangan di Balik Kopi Pagi
21
Bab 21. Penolakan Keisha
22
Bab 22. Kabar Orang Tua Satria
23
Bab 23. Cokelat di Meja Kuliah dan Patroli Status
24
Bab 24. Tamu dari Bandara
25
Bab 25. Singgah di Rumah Pribadi
26
Bab 26. Hidangan Malam Hari
27
Bab 27. Gelas Yang Pecah
28
Bab 28. Calon Istri Cadangan
29
Bab 29. Kedatangan Rombongan Resmi
30
Bab 30. Perjanjian Dua Hari
31
Bab 31. Bujukan Ingrid
32
Babb 32. Penolakan Rafka
33
Bab 33. Cokelat yang Pindah Tangan
34
Bab 34. Laporan Rahasia Bik Nini
35
Bab 35. Batas Waktu
36
Bab 36. Jawaban Keisha
37
Bab 37. Bisik-Bisik di Kamar Tamu
38
Bab 38. Hari Pertunangan
39
Bab 39. Cincin di Jari
40
Bab 40. Siasat yang Tertunda
41
Bab 41. Rahasia di Balik Gaun Pengantin.
42
Bab 42. Bicara Dengan Ibu
43
Bab 43. Janji Suci
44
Bab 44. Patah Hati
45
Bab 45. Pesta Pedang Pora
46
Bab 46. Canggung Di Balik Pelaminan
47
Bab 47. Kamar Utama
48
Bab 48. Ciuman Pertama
49
Bab 49. Aturan Baru
50
Bab 50. Menu Balas Dendam yang Gagal
51
Bab 51. Mengantar Ingrid
52
Bab 52. Ocehan Rafka
53
Bab 53. Teguran Satria
54
Bab 54. Kejutan Untuk Keisha
55
Bab 55. Doa Vania
56
Bab 56. Bermain di Pinggir Pantai
57
Bab 57. Insiden Konyol
58
Bab 58. Tugas Pertama Ibu Persit
59
Bab 59. Masih Canggung
60
Bab 60. Penolakan Satria
61
Bab 61. Badai Cemburu
62
Bab 62. Suka Lihat Keisha Cemburu
63
Bab 63. Kehangatan yang Kian Berakar
64
Bab 64. Seragam Hijau
65
Bab 65. Pijatan Suami
66
Bab 66. Hati Bu Reni yang Luluh
67
Bab 67. Liburan Singkat
68
Bab 68. Kecilin Dulu Ularnya
69
Bab 69. Perpisahan 3 Bulan
70
Bab 70. Istri Cadangan
71
Bab 71. Ide Culas Ingrid
72
Bab 72. Saat Suami Rindu
73
Bab 73. Jangan Berbohongg, Dek!
74
Bab 74. Kedatangan Ingrid
75
Bab 75. Surat dari Pedalaman
76
Bab 76. Teguran Satria
77
Bab 77. Pelukan Hangat di Dapur
78
Bab 78. Sentuhan Hangat
79
Bab 79. Periksa Ke Dokter
80
Bab 80. Kebahagiaan Satria dan Keisha
81
Bab 81. Sayang, Mau Makan Apa?
82
Bab 82. Ketika Sang Mayor Mulai Mual
83
Bab 83. Biar Mas Saja
84
Bab 84. Ngidam Aneh
85
Bab 85. Subuh yang Menghebohkan
86
Bab 86. Momenn Lucu
87
Bab 87. Keisha Lulus Sidang
88
Bab 88. Syukuran Sederhana
89
Bab 89. Babymoon Dadakan
90
Bab 90. Kelas Ibu Hamil
91
Bab 91. Serangan Palsu
92
Bab 92. Kontraksi Palsu
93
Bab 93. Detik-Detik Persalinan
94
Bab 94. Kehadiran Adik Kecil
95
Bab 95. Tangisan Pertama
96
Bab 96. Acara Akikah dan Kebahagiaan Keluarga Besar
97
Bab 97. Rumah yang Penuh Warna

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!