Bab 5. Interogasi Sang Mayor

Gadis itu mendengus kecil, mengingat kejadian satu jam yang lalu. Tepat jam tiga sore, saat mereka baru saja memesan minuman dan mulai membuka laptop, sebuah pesan singkat nan kaku dari nomor Satria masuk ke ponselnya. Isinya sangat singkat dan padat: 'Sudah sampai di mana?'. Saat itu Keisha hanya membalasnya dengan cuek: 'Udah di kafe, Kak. Aman, enggak pakai nyusruk got lagi kok.'

Keisha mengira rentetan interogasi itu sudah berakhir di sana. Namun ternyata dia salah besar. Jam baru menunjukkan pukul empat sore, dan sebuah pesan baru kembali masuk dari nomor yang sama.

Keisha meraih ponselnya, membuka ruang obrolan, dan membaca baris kalimat yang tertulis di sana dengan saksama.

Kak Satria: Kirim foto keadaan kamu di sana sekarang. PAP. Ibu yang bertanya, khawatir kamu menyimpang ke tempat lain.

Membaca pesan tersebut, Keisha langsung garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Matanya mengerjap-ngerjap heran melihat kombinasi kata-kata yang dikirimkan kakak iparnya. Kirim PAP? Dengan alasan Ibu nanya?

"Kenapa, Kei? Kok muka kamu kusut gitu kayak belum disetrika?" tanya Yeyen yang menyadari perubahan ekspresi wajah Keisha.

"Ini loh ... Kakak ipar aku," gerutu Keisha setengah berbisik agar tidak terlalu menarik perhatian. "Aneh banget tahu enggak sih. Jam tiga tadi udah nanya posisi, sekarang jam empat malah minta PAP. Katanya Ibu khawatir aku nyangkut di tempat lain. Helooo, aku kan udah gede, bukan anak TK yang kalau lepas dari pandangan langsung hilang diculik!"

Hilma langsung tertawa kecil mendengar keluhan Keisha. "Wah, protektif banget ya kakak ipar Mayor kamu itu. Mungkin efek insting tentara, Kei. Segalanya harus serba terpantau dan terlapor sesuai komando."

"Komando-komando ... dikira aku lagi latihan baris-berbaris apa," omel Keisha absurd, bibirnya mengerucut sebal.

Meskipun dalam hati menggerutu dan merasa sikap Satria sangat berlebihan, Keisha tetap tidak berani membantah. Dia tahu betul bagaimana watak kakak iparnya jika perintahnya diabaikan—dinginnya bisa berhari-hari. Dengan malas, Keisha mengaktifkan kamera depan ponselnya.

"Eh, semuanya, geser dikit dong! Sini, foto bareng bentar. Mau laporan ke markas besar nih, biar enggak dicariin," ajak Keisha sambil merentangkan tangan kanannya tinggi-tinggi untuk mengambil sudut foto yang pas.

"Ayo, ayo! Pasang muka paling rajin biar dikira benar-benar belajar!" seru Yeyen bersemangat, langsung merapat di sebelah kanan Keisha sambil berpose dua jari.

Hilma ikut bergeser di belakang mereka sambil tersenyum manis ke arah kamera. Sementara Rendra, yang posisinya berada di sebelah kiri, secara refleks memiringkan tubuhnya mendekat ke arah Keisha agar bisa masuk ke dalam bingkai foto. Wajah Rendra tampak tersenyum lebar tepat di samping wajah Keisha, dengan latar belakang meja kafe yang dipenuhi buku tugas kuliah.

Cekrek!

Satu foto bersama berhasil diambil. Tanpa memeriksa ulang atau memberikan filter kecantikan, Keisha langsung mengirimkan foto tersebut ke nomor Satria. Setelah memastikan tanda centang dua berubah menjadi biru, Keisha langsung melempar ponselnya kembali ke atas meja dan kembali fokus pada draf tugasnya.

"Dah, kelar tugas negara. Ayo lanjut lagi, tadi sampai mana kita?" ujar Keisha dengan sifat cueknya, mengabaikan getaran kecil yang sempat singgah di hatinya.

Sementara itu, beberapa kilometer dari kafe, suasana di ruang tengah rumah keluarga Ayah Farrel jauh lebih tenang. Embusan pendingin ruangan membuat udara terasa sejuk. Di atas karpet bulu yang tebal, Rafka sedang asyik menyusun balok-balok mainan menjadi sebuah benteng pertahanan yang megah.

Satria duduk bersila di sebelah anaknya. Laptopnya sudah ditutup dan diletakkan di atas meja kaca. Di tangannya, sebuah ponsel pintar sedang digenggam. Bunyi notifikasi masuk terdengar, disusul dengan munculnya sebuah gambar di ruang obrolan WhatsApp bersama adik iparnya.

Satria membuka foto kiriman Keisha. Detik itu juga, matanya yang hitam pekat langsung memicing tajam. Wajahnya yang semula datar kini tampak semakin mengeras, memancarkan aura dingin yang seolah mampu membekukan ruangan seketika.

Fokus mata Satria bukan tertuju pada sosok Keisha yang tampak segar, bukan pula pada kedua teman perempuannya. Tatapan tajam sang Mayor mengunci penuh pada sosok Rendra yang duduk sangat dekat di sebelah Keisha, tersenyum lebar dengan bahu yang hampir bersentuhan dengan bahu adik iparnya itu. Ada rasa tidak nyaman yang mendadak bergejolak di dalam dada Satria, sebuah perasaan asing yang selama lima tahun ini tidak pernah dia rasakan lagi. Rahangnya mengetat samar, tangannya mencengkeram pinggiran ponsel sedikit lebih erat.

"Papa, benteng Rafka sudah jadi!" seru Rafka dengan riang, menepuk tangannya sendiri.

Karena tidak ada respons dari sang ayah, bocah lima tahun itu memiringkan kepalanya bingung. Dia melihat ayahnya hanya diam menatap layar ponsel dengan ekspresi yang menyeramkan. Rasa penasaran khas anak-anak membuat Rafka langsung bangkit berdiri dan bersandar di bahu tegap Satria, ikut mengintip ke arah layar ponsel yang masih menyala.

"Wah, itu foto Tante Kei, ya, Pa?" tanya Rafka, jari mungilnya menunjuk ke arah layar. Matanya yang bulat memperhatikan foto Keisha bersama teman-temannya.

Rafka terdiam sejenak, mengamati sosok pria yang duduk di sebelah bibinya dalam foto tersebut. Dengan kepolosan anak kecil yang tanpa filter, Rafka tiba-tiba mengeluarkan celetukan yang sukses membuat suasana di tempat itu semakin beku.

"Tante Kei lagi jalan sama pacarnya ya, Pa? Itu Om yang tadi siang jemput pakai motor, kan? Cocok ya, Pa, Tante Kei senyumnya banyak banget kalau sama Om itu."

Mendengar kalimat yang keluar dari mulut anaknya, Satria langsung terdiam. Jantungnya terasa seperti dihantam sesuatu yang tak kasat mata. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Satria langsung menekan tombol *power*, mematikan layar ponselnya hingga menjadi hitam pekat, lalu meletakkannya dengan posisi terbalik di atas karpet.

Ekspresi dinginnya kembali terpasang sempurna, rapi seolah tidak terjadi apa-apa di dalam kepalanya.

Satria menoleh ke arah Rafka, lalu mengusap rambut anaknya dengan gerakan pelan yang kaku. "Jangan bicara sembarangan, Rafka. Tante Kei sedang belajar untuk tugas kuliahnya."

"Oh ... dikira Rafka itu pacarnya Tante Kei," sahut Rafka sambil mengerucutkan bibirnya, lalu kembali duduk di depan benteng mainannya. "Pa, ayo lanjut main lagi! Sekarang giliran robot Papa yang menyerang benteng Rafka!"

"Baik," jawab Satria pendek.

Pria itu mengambil sebuah robot mainan dari lantai, mencoba mengalihkan seluruh fokus dan pikirannya untuk menemani sang anak bermain. Namun, meski tangannya bergerak mengikuti permainan Rafka, tatapan matanya yang dingin sesekali masih melirik ke arah ponsel yang tergeletak bisu di atas karpet.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

Kar Genjreng

Kar Genjreng

panassss hati Sang Mayor ketika memandang foto ternya ada hendra yang terlalu dekat dengan wajah Kai,,,pikir Mayor Satria ini mirip kuman nyempil hahaha setelah laima tahun baru tadi pagi di bahas di meja makan dan Kai seolah jadi kompor makanya ada harapan buat Sang Mayor,,, apalagi Rafka juga mengatakan mengira itu pacar Tante Kai,,,
bukan sayang itu calon Mama pengganti buat Rafka dukung Papa ya supaya lancar jaya,,,, sebenarnya. lucu orang kejebur got saja di gandeng di bawa pulang mirip bocah padahal wis perawan kayanya akan. seru. bila Mayor menikahi Kaisha ,,, karena akan di sayang sebagi adek dan sebagai istri sebagai ibu buat keponakan nya,,,jadi merangkap 😄ayo gas lah Mas Mayor selak di Pepet sama rendra,,

2026-07-03

5

Puput Assyfa

Puput Assyfa

hoho ada yg kepanasan keknya butuh siraman biar dingin,gaje bgt sih mas duda cemburu sama adik ipar klo gak punya perasaan tersimpan,jls bgt satria ada perasaan yg tersimpan buat Keisha

2026-07-03

2

Esther

Esther

Ada yang cemburu nih, apalagi pas Rafka bilang itu pacar tante Kei dan senyumnya lebar😂

2026-07-03

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Operasi Penyelamatan Got
2 Bab 2. Makan Siang dan Desakan Ibu
3 Bab 3. Menjemput Keisha
4 Bab 4. Kecurigan di Ruang Tengah
5 Bab 5. Interogasi Sang Mayor
6 Bab 6. Jemputan Tak Terduga Sang Mayor
7 Babb 7. Celetukan Maut
8 Bab 8. Menu Terserah
9 Bab 9. Izin yang Salah Alamat
10 Bab 10. Gendongan Darurat
11 Bab 11. Minyak Urut
12 Bab 12. Nampan Sarapan
13 Bab 13. Masih Nyeri?
14 Bab 14. Sinyal yang Keliru
15 Bab 15. Tamu Sore Hari
16 Bab 16. Kayak Ibu-Ibu Lagi PMS
17 Bab 17. Otak yang Korslet
18 Bab 18. Monolog Tengah Malam
19 Bab 19. Kak Satria Stres
20 Bab 20. Pinangan di Balik Kopi Pagi
21 Bab 21. Penolakan Keisha
22 Bab 22. Kabar Orang Tua Satria
23 Bab 23. Cokelat di Meja Kuliah dan Patroli Status
24 Bab 24. Tamu dari Bandara
25 Bab 25. Singgah di Rumah Pribadi
26 Bab 26. Hidangan Malam Hari
27 Bab 27. Gelas Yang Pecah
28 Bab 28. Calon Istri Cadangan
29 Bab 29. Kedatangan Rombongan Resmi
30 Bab 30. Perjanjian Dua Hari
31 Bab 31. Bujukan Ingrid
32 Babb 32. Penolakan Rafka
33 Bab 33. Cokelat yang Pindah Tangan
34 Bab 34. Laporan Rahasia Bik Nini
35 Bab 35. Batas Waktu
36 Bab 36. Jawaban Keisha
37 Bab 37. Bisik-Bisik di Kamar Tamu
38 Bab 38. Hari Pertunangan
39 Bab 39. Cincin di Jari
40 Bab 40. Siasat yang Tertunda
41 Bab 41. Rahasia di Balik Gaun Pengantin.
42 Bab 42. Bicara Dengan Ibu
43 Bab 43. Janji Suci
44 Bab 44. Patah Hati
45 Bab 45. Pesta Pedang Pora
46 Bab 46. Canggung Di Balik Pelaminan
47 Bab 47. Kamar Utama
48 Bab 48. Ciuman Pertama
49 Bab 49. Aturan Baru
50 Bab 50. Menu Balas Dendam yang Gagal
51 Bab 51. Mengantar Ingrid
52 Bab 52. Ocehan Rafka
53 Bab 53. Teguran Satria
54 Bab 54. Kejutan Untuk Keisha
55 Bab 55. Doa Vania
56 Bab 56. Bermain di Pinggir Pantai
57 Bab 57. Insiden Konyol
58 Bab 58. Tugas Pertama Ibu Persit
59 Bab 59. Masih Canggung
60 Bab 60. Penolakan Satria
61 Bab 61. Badai Cemburu
62 Bab 62. Suka Lihat Keisha Cemburu
63 Bab 63. Kehangatan yang Kian Berakar
64 Bab 64. Seragam Hijau
65 Bab 65. Pijatan Suami
66 Bab 66. Hati Bu Reni yang Luluh
67 Bab 67. Liburan Singkat
68 Bab 68. Kecilin Dulu Ularnya
69 Bab 69. Perpisahan 3 Bulan
70 Bab 70. Istri Cadangan
71 Bab 71. Ide Culas Ingrid
72 Bab 72. Saat Suami Rindu
73 Bab 73. Jangan Berbohongg, Dek!
74 Bab 74. Kedatangan Ingrid
75 Bab 75. Surat dari Pedalaman
76 Bab 76. Teguran Satria
77 Bab 77. Pelukan Hangat di Dapur
78 Bab 78. Sentuhan Hangat
79 Bab 79. Periksa Ke Dokter
80 Bab 80. Kebahagiaan Satria dan Keisha
81 Bab 81. Sayang, Mau Makan Apa?
82 Bab 82. Ketika Sang Mayor Mulai Mual
83 Bab 83. Biar Mas Saja
84 Bab 84. Ngidam Aneh
85 Bab 85. Subuh yang Menghebohkan
86 Bab 86. Momenn Lucu
87 Bab 87. Keisha Lulus Sidang
88 Bab 88. Syukuran Sederhana
89 Bab 89. Babymoon Dadakan
90 Bab 90. Kelas Ibu Hamil
91 Bab 91. Serangan Palsu
92 Bab 92. Kontraksi Palsu
93 Bab 93. Detik-Detik Persalinan
94 Bab 94. Kehadiran Adik Kecil
95 Bab 95. Tangisan Pertama
96 Bab 96. Acara Akikah dan Kebahagiaan Keluarga Besar
97 Bab 97. Rumah yang Penuh Warna
Episodes

Updated 97 Episodes

1
Bab 1. Operasi Penyelamatan Got
2
Bab 2. Makan Siang dan Desakan Ibu
3
Bab 3. Menjemput Keisha
4
Bab 4. Kecurigan di Ruang Tengah
5
Bab 5. Interogasi Sang Mayor
6
Bab 6. Jemputan Tak Terduga Sang Mayor
7
Babb 7. Celetukan Maut
8
Bab 8. Menu Terserah
9
Bab 9. Izin yang Salah Alamat
10
Bab 10. Gendongan Darurat
11
Bab 11. Minyak Urut
12
Bab 12. Nampan Sarapan
13
Bab 13. Masih Nyeri?
14
Bab 14. Sinyal yang Keliru
15
Bab 15. Tamu Sore Hari
16
Bab 16. Kayak Ibu-Ibu Lagi PMS
17
Bab 17. Otak yang Korslet
18
Bab 18. Monolog Tengah Malam
19
Bab 19. Kak Satria Stres
20
Bab 20. Pinangan di Balik Kopi Pagi
21
Bab 21. Penolakan Keisha
22
Bab 22. Kabar Orang Tua Satria
23
Bab 23. Cokelat di Meja Kuliah dan Patroli Status
24
Bab 24. Tamu dari Bandara
25
Bab 25. Singgah di Rumah Pribadi
26
Bab 26. Hidangan Malam Hari
27
Bab 27. Gelas Yang Pecah
28
Bab 28. Calon Istri Cadangan
29
Bab 29. Kedatangan Rombongan Resmi
30
Bab 30. Perjanjian Dua Hari
31
Bab 31. Bujukan Ingrid
32
Babb 32. Penolakan Rafka
33
Bab 33. Cokelat yang Pindah Tangan
34
Bab 34. Laporan Rahasia Bik Nini
35
Bab 35. Batas Waktu
36
Bab 36. Jawaban Keisha
37
Bab 37. Bisik-Bisik di Kamar Tamu
38
Bab 38. Hari Pertunangan
39
Bab 39. Cincin di Jari
40
Bab 40. Siasat yang Tertunda
41
Bab 41. Rahasia di Balik Gaun Pengantin.
42
Bab 42. Bicara Dengan Ibu
43
Bab 43. Janji Suci
44
Bab 44. Patah Hati
45
Bab 45. Pesta Pedang Pora
46
Bab 46. Canggung Di Balik Pelaminan
47
Bab 47. Kamar Utama
48
Bab 48. Ciuman Pertama
49
Bab 49. Aturan Baru
50
Bab 50. Menu Balas Dendam yang Gagal
51
Bab 51. Mengantar Ingrid
52
Bab 52. Ocehan Rafka
53
Bab 53. Teguran Satria
54
Bab 54. Kejutan Untuk Keisha
55
Bab 55. Doa Vania
56
Bab 56. Bermain di Pinggir Pantai
57
Bab 57. Insiden Konyol
58
Bab 58. Tugas Pertama Ibu Persit
59
Bab 59. Masih Canggung
60
Bab 60. Penolakan Satria
61
Bab 61. Badai Cemburu
62
Bab 62. Suka Lihat Keisha Cemburu
63
Bab 63. Kehangatan yang Kian Berakar
64
Bab 64. Seragam Hijau
65
Bab 65. Pijatan Suami
66
Bab 66. Hati Bu Reni yang Luluh
67
Bab 67. Liburan Singkat
68
Bab 68. Kecilin Dulu Ularnya
69
Bab 69. Perpisahan 3 Bulan
70
Bab 70. Istri Cadangan
71
Bab 71. Ide Culas Ingrid
72
Bab 72. Saat Suami Rindu
73
Bab 73. Jangan Berbohongg, Dek!
74
Bab 74. Kedatangan Ingrid
75
Bab 75. Surat dari Pedalaman
76
Bab 76. Teguran Satria
77
Bab 77. Pelukan Hangat di Dapur
78
Bab 78. Sentuhan Hangat
79
Bab 79. Periksa Ke Dokter
80
Bab 80. Kebahagiaan Satria dan Keisha
81
Bab 81. Sayang, Mau Makan Apa?
82
Bab 82. Ketika Sang Mayor Mulai Mual
83
Bab 83. Biar Mas Saja
84
Bab 84. Ngidam Aneh
85
Bab 85. Subuh yang Menghebohkan
86
Bab 86. Momenn Lucu
87
Bab 87. Keisha Lulus Sidang
88
Bab 88. Syukuran Sederhana
89
Bab 89. Babymoon Dadakan
90
Bab 90. Kelas Ibu Hamil
91
Bab 91. Serangan Palsu
92
Bab 92. Kontraksi Palsu
93
Bab 93. Detik-Detik Persalinan
94
Bab 94. Kehadiran Adik Kecil
95
Bab 95. Tangisan Pertama
96
Bab 96. Acara Akikah dan Kebahagiaan Keluarga Besar
97
Bab 97. Rumah yang Penuh Warna

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!