Bab 3. Menjemput Keisha

Ibu Dania melotot kecil pada Keisha. "Keisha, kalau bicara sendoknya diturunkan."

"Eh, iya, maaf, Bu," Keisha menurunkan sendoknya tapi tetap melanjutkan bicaranya dengan semangat berapi-api. "Maksud aku, Kak Satria itu udah kayak Kanebo kering kelamaan dijemur, kaku banget. Kak Vania pasti sedih di atas sana kalau lihat Kak Satria menyendiri terus kayak pertapa di gua. Lagian, setidaknya Kakak mulailah buka hati buat wanita lain. Di luar sana pasti banyak kok Ibu-ibu Persit atau cewek-cewek yang antre mau sama Mayor ganteng tapi kaku kayak Kakak."

Selesai mengucapkan kalimat panjang lebar itu, Keisha kembali menyuapkan nasi ke dalam mulutnya dengan santai, merasa bahwa opininya barusan adalah sebuah kontribusi besar bagi masa depan keluarga mereka.

Namun, suasana di meja makan mendadak mendingin dalam sekejap.

Satria tidak langsung menjawab. Pria itu mengalihkan pandangannya dari Ibu Dania, kini matanya yang hitam pekat dan tajam tertuju lurus pada Keisha. Tatapannya begitu dingin, menghunjam langsung ke arah adik iparnya yang baru saja bicara tanpa beban. Tidak ada kemarahan yang meledak-ledak, namun intensitas tatapan itu sanggup membuat bulu kuduk Keisha meremang seketika.

Keisha yang sedang mengunyah mendadak merasa nasi di dalam mulutnya jadi susah ditelan. "Aduh, kenapa matanya seram banget begitu sih?" batin Keisha, mendadak salah tingkah sendiri di bawah intimidasi tatapan sang Mayor. Dia buru-buru meraih gelas es teh manisnya dan meminumnya hingga tandas untuk menghilangkan rasa canggung.

Sementara ketegangan tak kasatmata terjadi di antara kedua orang dewasa itu, Rafka sama sekali tidak terpengaruh. Bocah itu tetap sibuk menikmati ayam gorengnya, menggerogoti daging paha ayam hingga bumbunya belepotan di sekitar mulut, benar-benar kontras dengan atmosfer sunyi yang mendadak melingkupi meja makan.

Ayah Farrel berdeham kecil, mencoba mencairkan keheningan yang sempat membeku. "Satria, apa yang dikatakan Ibu dan Keisha itu tidak ada maksud mendesak. Kami hanya memikirkan kebaikanmu dan Rafka untuk jangka panjang. Tapi semua keputusan tentu ada di tanganmu."

Satria menarik napas pendek melalui hidung, lalu kembali menatap Ayah Farrel dan Ibu Dania. Ekspresi dinginnya perlahan melunak kembali menjadi rapi dan formal seperti biasa.

"Saya mengerti, Ayah, Ibu," jawab Satria dengan suara beratnya yang tenang. "Terima kasih atas perhatian dan keikhlasan yang diberikan. Untuk saat ini, fokus saya masih pada tugas negara dan memastikan Rafka tumbuh dengan baik."

"Iya, Satria, Ibu paham. Tapi jangan ditutup rapat-rapat perasaannya. Kalau ada wanita yang sekiranya cocok dan bisa menyayangi Rafka seperti anaknya sendiri, kabari Ibu dan ayah, ya," pungkas Ibu Dania dengan senyum lembut, tidak ingin menekan menantunya lebih jauh lagi pada momen makan siang ini.

Satria hanya memberikan anggukan samar sebagai jawaban. Matanya sempat bergulir sekali lagi ke arah Keisha yang kini pura-pura sibuk menambah kuah gulai ayam ke piringnya, sengaja menghindari kontak mata langsung dengan sang kakak ipar.

Di balik sikap kaku dan tenangnya, tidak ada satu orang pun di meja makan itu yang tahu apa yang sebenarnya sedang berkecamuk di dalam kepala Mayor Satria Pramudya.

***

Jarum jam dinding di ruang tengah tepat menunjukkan pukul dua siang ketika Keisha berlari turun tangga setengah terburu-buru. Setelah menyelesaikan makan siang yang penuh dengan atmosfer canggung—terutama karena tatapan sedingin es dari kakak iparnya—Keisha langsung mengurung diri di kamar lantai atas. Bukan hanya untuk bersiap-siap, melainkan juga untuk menata kembali fungsi otaknya yang sempat loading lama akibat obrolan pernikahan tadi.

Hari ini Keisha sudah punya janji penting. Tugas kelompok mata kuliah Metode Penelitian sudah menumpuk dan tenggat waktunya tinggal menghitung hari. Sebagai mahasiswa tingkat tiga yang tidak ingin menambah semester, Keisha tentu harus bergerak cepat.

Di ruang tengah yang sejuk oleh embusan angin dari jendela samping, Satria tampak duduk tegap di sofa kulit. Di hadapannya, sebuah laptop berlogo brand premium menyala, menampilkan grafik angka-angka yang cukup rumit. Selain menjadi seorang Mayor aktif di TNI AD, Satria memang mengelola beberapa bisnis sampingan di bidang logistik dan keamanan yang diwariskan dari keluarga besarnya. Jemari tangannya yang kokoh bergerak lincah di atas papan tik, sesekali matanya membaca dokumen digital dengan dahi yang sedikit berkerut.

Brummm ....

Suara deru mesin sepeda motor matic berkapasitas 150cc terdengar berhenti tepat di depan pagar rumah. Suara mesin yang cukup halus, namun sangat jelas terdengar di keheningan siang itu.

Satria langsung menghentikan ketukannya di atas keyboard. Matanya melirik ke arah pintu depan yang tertutup. Tanpa ekspresi, pria itu menutup layar laptopnya perlahan, lalu bangkit berdiri. Postur tubuhnya yang tinggi besar melangkah dengan tegap menuju pintu utama.

Begitu pintu kayu jati itu dibuka, seorang pemuda dengan jaket denim dan celana jin hitam sedang melepaskan helmnya. Namanya Rendra. Teman satu jurusan Keisha, sekaligus cowok yang akhir-akhir ini sedang gencar mendekati Keisha—atau dalam bahasa gaul Keisha, si 'gebetan'.

Rendra yang berniat langsung memanggil Keisha mendadak membeku di tempat. Senyum yang sempat mengembang di wajahnya langsung surut begitu melihat siapa yang membukakan pintu. Alih-alih pembantu atau orang tua Keisha, yang berdiri di hadapannya adalah seorang pria berbadan tegap dengan potongan rambut cepak militer, berkaos polo ketat yang menonjolkan otot lengannya, dan menatapnya dengan pandangan sedatar papan tulis.

Rendra reflek menelan ludah. Ia sudah beberapa kali melihat Satria jika kebetulan berkunjung ke rumah Keisha, dan aura sang Mayor selalu sukses membuatnya menciut.

"Siang, Kak Satria," sapa Rendra buru-buru, mencoba bersikap sesopan mungkin sambil menganggukkan kepala agak dalam.

Satria tidak tersenyum. Dia hanya mengangguk sekali, sangat formal. "Siang. Ada keperluan apa?"

"Eh, ini, Kak ... saya mau menjemput Keisha. Kami ada janji mau kerja kelompok tugas kuliah di kafe dekat kampus," jawab Rendra sedikit terbata-bata. Tangannya meremas tali helm dengan gugup.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

Kar Genjreng

Kar Genjreng

ada aroma positif plus negatif ya ,,,, padahal bukan begitu Satria. itu beneran mau tugas s kelompok atau di kelopokin 😇. ada yang tidak suka iparnya di samperin sama Rendra si gebetan Kaisha,,,entah lah nanti ya kelanjutan nya karena ada aroma cemburu kayanya. gadis yang sedang di tunggu kelulusan nya ,,,ehhh malah ada yang ingin mendekati marmut wekkk aduh ngakak dah liat kelakuan sang Angkatan Satria,,ok lanjut,,😂😂

2026-07-02

4

Puput Assyfa

Puput Assyfa

roman2 yang kakak ipar ada rasa nih sama adik ipar secara dia kelihatan posesif bgt sama temen Keisha yg cwo

2026-07-02

2

Sugiharti Rusli

Sugiharti Rusli

terkadang mereka berucap apa yang ada dalam pikirannya saja, karena karakter Keisha yang ekstrovet jadi yah dia nyeplos saja sih😁😁😁

2026-07-02

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Operasi Penyelamatan Got
2 Bab 2. Makan Siang dan Desakan Ibu
3 Bab 3. Menjemput Keisha
4 Bab 4. Kecurigan di Ruang Tengah
5 Bab 5. Interogasi Sang Mayor
6 Bab 6. Jemputan Tak Terduga Sang Mayor
7 Babb 7. Celetukan Maut
8 Bab 8. Menu Terserah
9 Bab 9. Izin yang Salah Alamat
10 Bab 10. Gendongan Darurat
11 Bab 11. Minyak Urut
12 Bab 12. Nampan Sarapan
13 Bab 13. Masih Nyeri?
14 Bab 14. Sinyal yang Keliru
15 Bab 15. Tamu Sore Hari
16 Bab 16. Kayak Ibu-Ibu Lagi PMS
17 Bab 17. Otak yang Korslet
18 Bab 18. Monolog Tengah Malam
19 Bab 19. Kak Satria Stres
20 Bab 20. Pinangan di Balik Kopi Pagi
21 Bab 21. Penolakan Keisha
22 Bab 22. Kabar Orang Tua Satria
23 Bab 23. Cokelat di Meja Kuliah dan Patroli Status
24 Bab 24. Tamu dari Bandara
25 Bab 25. Singgah di Rumah Pribadi
26 Bab 26. Hidangan Malam Hari
27 Bab 27. Gelas Yang Pecah
28 Bab 28. Calon Istri Cadangan
29 Bab 29. Kedatangan Rombongan Resmi
30 Bab 30. Perjanjian Dua Hari
31 Bab 31. Bujukan Ingrid
32 Babb 32. Penolakan Rafka
33 Bab 33. Cokelat yang Pindah Tangan
34 Bab 34. Laporan Rahasia Bik Nini
35 Bab 35. Batas Waktu
36 Bab 36. Jawaban Keisha
37 Bab 37. Bisik-Bisik di Kamar Tamu
38 Bab 38. Hari Pertunangan
39 Bab 39. Cincin di Jari
40 Bab 40. Siasat yang Tertunda
41 Bab 41. Rahasia di Balik Gaun Pengantin.
42 Bab 42. Bicara Dengan Ibu
43 Bab 43. Janji Suci
44 Bab 44. Patah Hati
45 Bab 45. Pesta Pedang Pora
46 Bab 46. Canggung Di Balik Pelaminan
47 Bab 47. Kamar Utama
48 Bab 48. Ciuman Pertama
49 Bab 49. Aturan Baru
50 Bab 50. Menu Balas Dendam yang Gagal
51 Bab 51. Mengantar Ingrid
52 Bab 52. Ocehan Rafka
53 Bab 53. Teguran Satria
54 Bab 54. Kejutan Untuk Keisha
55 Bab 55. Doa Vania
56 Bab 56. Bermain di Pinggir Pantai
57 Bab 57. Insiden Konyol
58 Bab 58. Tugas Pertama Ibu Persit
59 Bab 59. Masih Canggung
60 Bab 60. Penolakan Satria
61 Bab 61. Badai Cemburu
62 Bab 62. Suka Lihat Keisha Cemburu
63 Bab 63. Kehangatan yang Kian Berakar
64 Bab 64. Seragam Hijau
65 Bab 65. Pijatan Suami
66 Bab 66. Hati Bu Reni yang Luluh
67 Bab 67. Liburan Singkat
68 Bab 68. Kecilin Dulu Ularnya
69 Bab 69. Perpisahan 3 Bulan
70 Bab 70. Istri Cadangan
71 Bab 71. Ide Culas Ingrid
72 Bab 72. Saat Suami Rindu
73 Bab 73. Jangan Berbohongg, Dek!
74 Bab 74. Kedatangan Ingrid
75 Bab 75. Surat dari Pedalaman
76 Bab 76. Teguran Satria
77 Bab 77. Pelukan Hangat di Dapur
78 Bab 78. Sentuhan Hangat
79 Bab 79. Periksa Ke Dokter
80 Bab 80. Kebahagiaan Satria dan Keisha
81 Bab 81. Sayang, Mau Makan Apa?
82 Bab 82. Ketika Sang Mayor Mulai Mual
83 Bab 83. Biar Mas Saja
84 Bab 84. Ngidam Aneh
85 Bab 85. Subuh yang Menghebohkan
86 Bab 86. Momenn Lucu
87 Bab 87. Keisha Lulus Sidang
88 Bab 88. Syukuran Sederhana
89 Bab 89. Babymoon Dadakan
90 Bab 90. Kelas Ibu Hamil
91 Bab 91. Serangan Palsu
92 Bab 92. Kontraksi Palsu
93 Bab 93. Detik-Detik Persalinan
94 Bab 94. Kehadiran Adik Kecil
95 Bab 95. Tangisan Pertama
96 Bab 96. Acara Akikah dan Kebahagiaan Keluarga Besar
97 Bab 97. Rumah yang Penuh Warna
Episodes

Updated 97 Episodes

1
Bab 1. Operasi Penyelamatan Got
2
Bab 2. Makan Siang dan Desakan Ibu
3
Bab 3. Menjemput Keisha
4
Bab 4. Kecurigan di Ruang Tengah
5
Bab 5. Interogasi Sang Mayor
6
Bab 6. Jemputan Tak Terduga Sang Mayor
7
Babb 7. Celetukan Maut
8
Bab 8. Menu Terserah
9
Bab 9. Izin yang Salah Alamat
10
Bab 10. Gendongan Darurat
11
Bab 11. Minyak Urut
12
Bab 12. Nampan Sarapan
13
Bab 13. Masih Nyeri?
14
Bab 14. Sinyal yang Keliru
15
Bab 15. Tamu Sore Hari
16
Bab 16. Kayak Ibu-Ibu Lagi PMS
17
Bab 17. Otak yang Korslet
18
Bab 18. Monolog Tengah Malam
19
Bab 19. Kak Satria Stres
20
Bab 20. Pinangan di Balik Kopi Pagi
21
Bab 21. Penolakan Keisha
22
Bab 22. Kabar Orang Tua Satria
23
Bab 23. Cokelat di Meja Kuliah dan Patroli Status
24
Bab 24. Tamu dari Bandara
25
Bab 25. Singgah di Rumah Pribadi
26
Bab 26. Hidangan Malam Hari
27
Bab 27. Gelas Yang Pecah
28
Bab 28. Calon Istri Cadangan
29
Bab 29. Kedatangan Rombongan Resmi
30
Bab 30. Perjanjian Dua Hari
31
Bab 31. Bujukan Ingrid
32
Babb 32. Penolakan Rafka
33
Bab 33. Cokelat yang Pindah Tangan
34
Bab 34. Laporan Rahasia Bik Nini
35
Bab 35. Batas Waktu
36
Bab 36. Jawaban Keisha
37
Bab 37. Bisik-Bisik di Kamar Tamu
38
Bab 38. Hari Pertunangan
39
Bab 39. Cincin di Jari
40
Bab 40. Siasat yang Tertunda
41
Bab 41. Rahasia di Balik Gaun Pengantin.
42
Bab 42. Bicara Dengan Ibu
43
Bab 43. Janji Suci
44
Bab 44. Patah Hati
45
Bab 45. Pesta Pedang Pora
46
Bab 46. Canggung Di Balik Pelaminan
47
Bab 47. Kamar Utama
48
Bab 48. Ciuman Pertama
49
Bab 49. Aturan Baru
50
Bab 50. Menu Balas Dendam yang Gagal
51
Bab 51. Mengantar Ingrid
52
Bab 52. Ocehan Rafka
53
Bab 53. Teguran Satria
54
Bab 54. Kejutan Untuk Keisha
55
Bab 55. Doa Vania
56
Bab 56. Bermain di Pinggir Pantai
57
Bab 57. Insiden Konyol
58
Bab 58. Tugas Pertama Ibu Persit
59
Bab 59. Masih Canggung
60
Bab 60. Penolakan Satria
61
Bab 61. Badai Cemburu
62
Bab 62. Suka Lihat Keisha Cemburu
63
Bab 63. Kehangatan yang Kian Berakar
64
Bab 64. Seragam Hijau
65
Bab 65. Pijatan Suami
66
Bab 66. Hati Bu Reni yang Luluh
67
Bab 67. Liburan Singkat
68
Bab 68. Kecilin Dulu Ularnya
69
Bab 69. Perpisahan 3 Bulan
70
Bab 70. Istri Cadangan
71
Bab 71. Ide Culas Ingrid
72
Bab 72. Saat Suami Rindu
73
Bab 73. Jangan Berbohongg, Dek!
74
Bab 74. Kedatangan Ingrid
75
Bab 75. Surat dari Pedalaman
76
Bab 76. Teguran Satria
77
Bab 77. Pelukan Hangat di Dapur
78
Bab 78. Sentuhan Hangat
79
Bab 79. Periksa Ke Dokter
80
Bab 80. Kebahagiaan Satria dan Keisha
81
Bab 81. Sayang, Mau Makan Apa?
82
Bab 82. Ketika Sang Mayor Mulai Mual
83
Bab 83. Biar Mas Saja
84
Bab 84. Ngidam Aneh
85
Bab 85. Subuh yang Menghebohkan
86
Bab 86. Momenn Lucu
87
Bab 87. Keisha Lulus Sidang
88
Bab 88. Syukuran Sederhana
89
Bab 89. Babymoon Dadakan
90
Bab 90. Kelas Ibu Hamil
91
Bab 91. Serangan Palsu
92
Bab 92. Kontraksi Palsu
93
Bab 93. Detik-Detik Persalinan
94
Bab 94. Kehadiran Adik Kecil
95
Bab 95. Tangisan Pertama
96
Bab 96. Acara Akikah dan Kebahagiaan Keluarga Besar
97
Bab 97. Rumah yang Penuh Warna

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!