Istri Cadangan Sang Mayor

Istri Cadangan Sang Mayor

Bab 1. Operasi Penyelamatan Got

Bismillah

🤗🤗🤗

"Pegangan yang kencang, Rafka! Kita akan menembus kecepatan cahaya!"

"Tante Kei, Rafka takut! Sepedanya oleng!"

"Tenang! Kapten Keisha tidak pernah gagal—eh, eh, Rafka! Remnya blong! Remnya bloooong!"

Gubraaaak!

Plung!

Satu sepeda jengki berwarna merah muda sukses mendarat dengan posisi roda berputar di udara. Di bawahnya, dua manusia telentang pasrah di dalam saluran air sedalam setengah meter yang untungnya sedang kering, hanya menyisakan sedikit lumpur hitam di dasarnya.

"Rafka? Kamu masih hidup, Nak?" Keisha meringis, memegangi pinggangnya yang terasa encok. Rambutnya yang semula dikuncir kuda sekarang sudah ketempelan daun kering.

Dari balik tumpukan stang sepeda, bocah berusia lima tahun itu bangkit dengan pipi yang coreng-moreng hitam. Bukannya menangis, Rafka malah menunjuk wajah Keisha lalu tertawa cekikikan. "Tante Kei kayak monster rawa! Hahaha!"

"Heh, bocil! Kamu juga mirip lele got, ya!" Keisha ikut tertawa, melupakan rasa perih di lututnya yang mulai berdarah. "Ayo bangun, sebelum negara api menyerang."

Baru saja Keisha hendak menarik lengan keponakannya, sebuah bayangan besar tiba-tiba merayap di atas mereka, menghalangi cahaya matahari sore. Aroma parfum maskulin yang sangat akrab—campuran wangi sabun dan minyak rambut khas militer—menyengat indra penciuman Keisha.

Keisha mendongak. Jantungnya mendadak copot.

Di atas bibir got, berdiri seorang pria tegap dengan seragam dinas lapangan (PDL) TNI AD lengkap dengan baret hijaunya. Wajahnya yang tegas tampak mengeras, rahangnya mengetat, dan matanya yang tajam menatap lurus ke arah mereka berdua.

"Kak Satria?" cicit Keisha.

"Papa!" Rafka bersorak, langsung merentangkan kedua tangan yang penuh lumpur.

Mayor Satria Pramudya tidak membuang waktu. Pria berusia 33 tahun itu langsung melompat turun ke dalam got tanpa memedulikan sepatu larasnya yang mengilap akan kotor. Dengan satu gerakan tangkas, dia menyambar Rafka ke dalam pitingan lengannya, lalu sebelah tangan lainnya mencengkeram lengan Keisha, menarik gadis itu berdiri dalam sekali sentak.

"Naik," perintah Satria pendek. Suaranya berat, dingin, dan tidak menerima bantahan.

Begitu mereka bertiga sudah berada di atas trotoar, Satria langsung memeriksa tubuh anaknya dengan saksama. "Ada yang sakit, Rafka?"

"Lutut Rafka perih, Pa. Tadi Tante Kei bawanya ngebut banget kayak pembalap!" adu Rafka sambil menunjuk Keisha.

"Heh! Enak aja!" Keisha langsung protes sambil membersihkan sisa tanah di bajunya. "Kan kamu yang tadi minta nambah kecepatan! Katanya mau terbang kayak Iron Man! Tante cuma menuruti permintaan konsumen, ya!"

"Tapi kan Rafka enggak menyuruh Tante Kei menabrak tiang listrik sampai kita nyusruk!" balas bocah itu tak kalah sengit, berkacak pinggang meniru gaya neneknya kalau lagi marah.

"Itu karena rem sepedanya mendadak mogok kerja! Salahin sepedanya, jangan pilotnya!" Keisha membela diri, wajahnya yang coreng-moreng mendongak menantang keponakannya sendiri.

"Cukup."

Satu kata dari Satria langsung membungkam perdebatan antar-generasi itu. Satria menatap Keisha dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tatapannya sedingin es, membuat Keisha yang biasanya barbar mendadak salah tingkah.

"Kamu terluka," ucap Satria datar, matanya tertuju pada darah segar yang mengalir di sela lumpur di lutut Keisha.

"Ah, ini? Cuma lecet dikit, Kak. Biasa, ujian fisik mahasiswa tingkat akhir," gurau Keisha absurd, mencoba mencairkan suasana.

Satria tidak merespons candaan itu. Dia berbalik, menggendong Rafka dengan satu tangan, sementara tangan satunya tiba-tiba menggenggam pergelangan tangan Keisha. Genggamannya kuat, namun anehnya, terasa hangat di kulit Keisha yang dingin karena angin sore.

"Kak, lepasin, ih! Tangan aku kotor penuh daki got!"

"Diam, Keisha. Kita pulang," ujar Satria tanpa menoleh, menarik Keisha berjalan menyusuri kompleks perumahan menuju rumah orang tua Keisha.

***

"Astaga, Keishaaa! Kamu apakan cucu Ibu?!"

Pekikan melengking Ibu Dania langsung menyambut mereka begitu pintu pagar rumah terbuka. Ayah Farrel yang sedang membaca koran di teras sampai meletakkan kacamata bacanya, lalu menepuk jidatnya sendiri begitu melihat pemandangan di depannya.

"Lagian, Bu ... anak bungsu kamu ini memang enggak bisa dipasrahkan urusan ngurus keponakannya," keluh Ayah Farrel sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Ayah, Ibu, jangan potong nama Keisha dong. Tadi itu murni kecelakaan kerja!" Keisha langsung protes begitu Satria melepaskan genggaman tangannya.

"Kecelakaan kerja apa kalau sampai nyemplung got, Kei? Kamu ini sudah umur dua puluh satu tahun, kuliah sudah tingkat empat, tapi kelakuan masih kayak bocah SMP!" omel Ibu Dania sambil merebut Rafka dari gendongan Satria. "Aduh, Rafka sayang, cup cup ... kita mandi ya, Nak. Kakinya nanti diobatin."

"Tante Kei yang salah, Eyang!" Rafka menjulurkan lidahnya ke arah Keisha dari balik pundak Ibu Dania.

"Awas kamu ya, bocil! Nanti malam enggak ada jatah main PS!" ancam Keisha sambil mengepalkan tinjunya di udara.

Ibu Dania membawa Rafka masuk ke dalam rumah, meninggalkan Ayah Farrel, Satria, dan Keisha di teras.

"Satria, kamu kok bisa bareng mereka? Bukannya kamu masih ada dinas di Bogor?" tanya Ayah Farrel, mempersilakan menantunya itu untuk duduk.

"Kebetulan tugas lapangan saya selesai lebih cepat, Ayah. Tadi sedang jalan arah ke sini, lalu melihat sepeda merah muda terbang ke got," jawab Satria. Nadanya tetap formal, kaku seperti biasa.

Keisha yang sedang membersihkan sikunya menggunakan tisu di sudut teras langsung mendengus. Sepeda terbang katanya? Sialan.

"Ya sudah, Satria, kamu duduk dulu. Ayah ambilkan minum. Kamu, Keisha! Cepat bersihkan badan kamu, bau gotnya sampai ke sini!" perintah Ayah Farrel sebelum melangkah masuk ke dalam.

Kini tinggal Keisha dan Satria di teras. Suasana mendadak menjadi canggung. Keisha sibuk menggosok lututnya yang berdarah dengan tisu, sementara Satria hanya berdiri tegak, memperhatikannya dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Kak Satria enggak pulang ke rumah Kakak?" tanya Keisha, memecah keheningan. "Udah lima tahun menduda harusnya Kakak belajar mandiri, jangan mandiin Rafka di sini terus."

Satria melangkah mendekat. Bukannya menjawab, dia malah berjongkok di depan kursi tempat Keisha duduk. Keisha tersentak mundur, punggungnya menempel erat pada sandaran kursi.

"Kak, mau ngapain?"

Satria mengeluarkan sebotol kecil antiseptik dan sekotak plester dari kantong celana PDL-nya—entah sejak kapan pria itu menyiapkannya. Tanpa permisi, tangan besar Satria memegang pergelangan kaki Keisha, menahannya agar tidak bergerak.

"Sakit, Kak! Pelan-pelan!" pekik Keisha saat cairan antiseptik itu menyentuh lukanya.

"Tahan. Kalau berani bawa sepeda seperti kesetanan, harus berani tanggung risiko," ucap Satria dingin. Tangan pria itu bergerak sangat telaten, membersihkan luka Keisha dengan sapuan lembut yang kontras dengan wajah kakunya.

Keisha menatap puncak kepala Satria. Rambut hitamnya yang dipotong cepak khas tentara terlihat rapi. Sudah lima tahun sejak Kak Vania meninggal karena eklamsia saat melahirkan Rafka. Selama lima tahun itu pula, Satria berubah menjadi sosok yang sangat dingin dan menutup diri, hanya fokus pada kerjaan dan anak. Keisha sudah mengenal pria ini sejak dirinya masih berusia 12 tahun, dan Satria selalu memperlakukannya seperti adik kecil yang merepotkan.

"Udah, Kak, perih banget!" keluh Keisha sambil menarik kakinya setelah plester terpasang.

Satria bangkit berdiri, menyimpan kembali botol antiseptik ke saku celananya. "Lain kali kalau jalan, matanya dipakai. Bukan mulutnya yang dipakai teriak-teriak."

"Iya, iya, siap Pak Mayor! Bawel banget," gerutu Keisha pelan sambil memutar bola matanya. "Lagian tumben banget siang-siang gini udah nongol di rumah Ibu? Enggak ada latihan nembak atau upacara apa gitu?"

"Tugas saya di Bogor hari ini sudah selesai," jawab Satria pendek, matanya beralih menatap lurus ke arah pintu rumah yang terbuka. "Saya mau melihat Rafka."

"Alasan. Bilang aja kangen masakan Ibu," celetuk Keisha asal.

Satria kembali menoleh, menatap Keisha dengan sorot mata yang sulit dibaca. Datar, kaku, tapi ada sesuatu yang membuat Keisha menahan napas sejenak. "Kamu sendiri? Tidak ada jadwal kuliah?"

"Enggak ada, ini kan jam bebasnya mahasiswa tingkat empat buat merenungi nasib skripsi," jawab Keisha santai, menepuk-nepuk celananya yang masih sedikit basah. "Ya udah, aku masuk dulu. Mau mandi, gerah."

Satria tidak menjawab, hanya memberikan anggukan kecil yang sangat formal. Keisha berbalik dan melangkah pincang memasuki rumah, meninggalkan kakak iparnya yang masih berdiri tegak di teras, menatap punggungnya dengan saksama tanpa suara.

Bersambung...

Assalamu'alaikum Kakak semuanya. Hari ini saya mau uji nyali dengan karya terbaru setelah karya sebelumnya zonk. Saya sangat berharap kakak semuanya bisa kerja sama dan mendukung dengan karya terbaru ini. Kalau masih zonk juga, ya wassalam gagal lagi 😂😂. Buat yang sukanya tabung bab, sebaiknya bacanya setelah karya sudah tamat ya. Makasih banyak sebelumnya.

Terpopuler

Comments

❤️ mamah kanay ❤️

❤️ mamah kanay ❤️

waalaikumsalam.... semangat mommy 💪💪💪
semoga sehat selalu🥰🥰🥰
terimakasih mommy udah buat karya baru lagi😘😘😘

2026-07-01

2

Euis Amalia

Euis Amalia

waalaikumussalam.. senang baca tulisan mommy loh...semangat up yaa...sehat2 mommy... ceritanya menarik selaluu😍👍

2026-07-02

4

sherly

sherly

mampir setelah baca Raisa..... sepertinya kisah key menarik awalnya aja dah seru masuk got

2026-07-28

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Operasi Penyelamatan Got
2 Bab 2. Makan Siang dan Desakan Ibu
3 Bab 3. Menjemput Keisha
4 Bab 4. Kecurigan di Ruang Tengah
5 Bab 5. Interogasi Sang Mayor
6 Bab 6. Jemputan Tak Terduga Sang Mayor
7 Babb 7. Celetukan Maut
8 Bab 8. Menu Terserah
9 Bab 9. Izin yang Salah Alamat
10 Bab 10. Gendongan Darurat
11 Bab 11. Minyak Urut
12 Bab 12. Nampan Sarapan
13 Bab 13. Masih Nyeri?
14 Bab 14. Sinyal yang Keliru
15 Bab 15. Tamu Sore Hari
16 Bab 16. Kayak Ibu-Ibu Lagi PMS
17 Bab 17. Otak yang Korslet
18 Bab 18. Monolog Tengah Malam
19 Bab 19. Kak Satria Stres
20 Bab 20. Pinangan di Balik Kopi Pagi
21 Bab 21. Penolakan Keisha
22 Bab 22. Kabar Orang Tua Satria
23 Bab 23. Cokelat di Meja Kuliah dan Patroli Status
24 Bab 24. Tamu dari Bandara
25 Bab 25. Singgah di Rumah Pribadi
26 Bab 26. Hidangan Malam Hari
27 Bab 27. Gelas Yang Pecah
28 Bab 28. Calon Istri Cadangan
29 Bab 29. Kedatangan Rombongan Resmi
30 Bab 30. Perjanjian Dua Hari
31 Bab 31. Bujukan Ingrid
32 Babb 32. Penolakan Rafka
33 Bab 33. Cokelat yang Pindah Tangan
34 Bab 34. Laporan Rahasia Bik Nini
35 Bab 35. Batas Waktu
36 Bab 36. Jawaban Keisha
37 Bab 37. Bisik-Bisik di Kamar Tamu
38 Bab 38. Hari Pertunangan
39 Bab 39. Cincin di Jari
40 Bab 40. Siasat yang Tertunda
41 Bab 41. Rahasia di Balik Gaun Pengantin.
42 Bab 42. Bicara Dengan Ibu
43 Bab 43. Janji Suci
44 Bab 44. Patah Hati
45 Bab 45. Pesta Pedang Pora
46 Bab 46. Canggung Di Balik Pelaminan
47 Bab 47. Kamar Utama
48 Bab 48. Ciuman Pertama
49 Bab 49. Aturan Baru
50 Bab 50. Menu Balas Dendam yang Gagal
51 Bab 51. Mengantar Ingrid
52 Bab 52. Ocehan Rafka
53 Bab 53. Teguran Satria
54 Bab 54. Kejutan Untuk Keisha
55 Bab 55. Doa Vania
56 Bab 56. Bermain di Pinggir Pantai
57 Bab 57. Insiden Konyol
58 Bab 58. Tugas Pertama Ibu Persit
59 Bab 59. Masih Canggung
60 Bab 60. Penolakan Satria
61 Bab 61. Badai Cemburu
62 Bab 62. Suka Lihat Keisha Cemburu
63 Bab 63. Kehangatan yang Kian Berakar
64 Bab 64. Seragam Hijau
65 Bab 65. Pijatan Suami
66 Bab 66. Hati Bu Reni yang Luluh
67 Bab 67. Liburan Singkat
68 Bab 68. Kecilin Dulu Ularnya
69 Bab 69. Perpisahan 3 Bulan
70 Bab 70. Istri Cadangan
71 Bab 71. Ide Culas Ingrid
72 Bab 72. Saat Suami Rindu
73 Bab 73. Jangan Berbohongg, Dek!
74 Bab 74. Kedatangan Ingrid
75 Bab 75. Surat dari Pedalaman
76 Bab 76. Teguran Satria
77 Bab 77. Pelukan Hangat di Dapur
78 Bab 78. Sentuhan Hangat
79 Bab 79. Periksa Ke Dokter
80 Bab 80. Kebahagiaan Satria dan Keisha
81 Bab 81. Sayang, Mau Makan Apa?
82 Bab 82. Ketika Sang Mayor Mulai Mual
83 Bab 83. Biar Mas Saja
84 Bab 84. Ngidam Aneh
85 Bab 85. Subuh yang Menghebohkan
86 Bab 86. Momenn Lucu
87 Bab 87. Keisha Lulus Sidang
88 Bab 88. Syukuran Sederhana
89 Bab 89. Babymoon Dadakan
90 Bab 90. Kelas Ibu Hamil
91 Bab 91. Serangan Palsu
92 Bab 92. Kontraksi Palsu
93 Bab 93. Detik-Detik Persalinan
94 Bab 94. Kehadiran Adik Kecil
95 Bab 95. Tangisan Pertama
96 Bab 96. Acara Akikah dan Kebahagiaan Keluarga Besar
97 Bab 97. Rumah yang Penuh Warna
Episodes

Updated 97 Episodes

1
Bab 1. Operasi Penyelamatan Got
2
Bab 2. Makan Siang dan Desakan Ibu
3
Bab 3. Menjemput Keisha
4
Bab 4. Kecurigan di Ruang Tengah
5
Bab 5. Interogasi Sang Mayor
6
Bab 6. Jemputan Tak Terduga Sang Mayor
7
Babb 7. Celetukan Maut
8
Bab 8. Menu Terserah
9
Bab 9. Izin yang Salah Alamat
10
Bab 10. Gendongan Darurat
11
Bab 11. Minyak Urut
12
Bab 12. Nampan Sarapan
13
Bab 13. Masih Nyeri?
14
Bab 14. Sinyal yang Keliru
15
Bab 15. Tamu Sore Hari
16
Bab 16. Kayak Ibu-Ibu Lagi PMS
17
Bab 17. Otak yang Korslet
18
Bab 18. Monolog Tengah Malam
19
Bab 19. Kak Satria Stres
20
Bab 20. Pinangan di Balik Kopi Pagi
21
Bab 21. Penolakan Keisha
22
Bab 22. Kabar Orang Tua Satria
23
Bab 23. Cokelat di Meja Kuliah dan Patroli Status
24
Bab 24. Tamu dari Bandara
25
Bab 25. Singgah di Rumah Pribadi
26
Bab 26. Hidangan Malam Hari
27
Bab 27. Gelas Yang Pecah
28
Bab 28. Calon Istri Cadangan
29
Bab 29. Kedatangan Rombongan Resmi
30
Bab 30. Perjanjian Dua Hari
31
Bab 31. Bujukan Ingrid
32
Babb 32. Penolakan Rafka
33
Bab 33. Cokelat yang Pindah Tangan
34
Bab 34. Laporan Rahasia Bik Nini
35
Bab 35. Batas Waktu
36
Bab 36. Jawaban Keisha
37
Bab 37. Bisik-Bisik di Kamar Tamu
38
Bab 38. Hari Pertunangan
39
Bab 39. Cincin di Jari
40
Bab 40. Siasat yang Tertunda
41
Bab 41. Rahasia di Balik Gaun Pengantin.
42
Bab 42. Bicara Dengan Ibu
43
Bab 43. Janji Suci
44
Bab 44. Patah Hati
45
Bab 45. Pesta Pedang Pora
46
Bab 46. Canggung Di Balik Pelaminan
47
Bab 47. Kamar Utama
48
Bab 48. Ciuman Pertama
49
Bab 49. Aturan Baru
50
Bab 50. Menu Balas Dendam yang Gagal
51
Bab 51. Mengantar Ingrid
52
Bab 52. Ocehan Rafka
53
Bab 53. Teguran Satria
54
Bab 54. Kejutan Untuk Keisha
55
Bab 55. Doa Vania
56
Bab 56. Bermain di Pinggir Pantai
57
Bab 57. Insiden Konyol
58
Bab 58. Tugas Pertama Ibu Persit
59
Bab 59. Masih Canggung
60
Bab 60. Penolakan Satria
61
Bab 61. Badai Cemburu
62
Bab 62. Suka Lihat Keisha Cemburu
63
Bab 63. Kehangatan yang Kian Berakar
64
Bab 64. Seragam Hijau
65
Bab 65. Pijatan Suami
66
Bab 66. Hati Bu Reni yang Luluh
67
Bab 67. Liburan Singkat
68
Bab 68. Kecilin Dulu Ularnya
69
Bab 69. Perpisahan 3 Bulan
70
Bab 70. Istri Cadangan
71
Bab 71. Ide Culas Ingrid
72
Bab 72. Saat Suami Rindu
73
Bab 73. Jangan Berbohongg, Dek!
74
Bab 74. Kedatangan Ingrid
75
Bab 75. Surat dari Pedalaman
76
Bab 76. Teguran Satria
77
Bab 77. Pelukan Hangat di Dapur
78
Bab 78. Sentuhan Hangat
79
Bab 79. Periksa Ke Dokter
80
Bab 80. Kebahagiaan Satria dan Keisha
81
Bab 81. Sayang, Mau Makan Apa?
82
Bab 82. Ketika Sang Mayor Mulai Mual
83
Bab 83. Biar Mas Saja
84
Bab 84. Ngidam Aneh
85
Bab 85. Subuh yang Menghebohkan
86
Bab 86. Momenn Lucu
87
Bab 87. Keisha Lulus Sidang
88
Bab 88. Syukuran Sederhana
89
Bab 89. Babymoon Dadakan
90
Bab 90. Kelas Ibu Hamil
91
Bab 91. Serangan Palsu
92
Bab 92. Kontraksi Palsu
93
Bab 93. Detik-Detik Persalinan
94
Bab 94. Kehadiran Adik Kecil
95
Bab 95. Tangisan Pertama
96
Bab 96. Acara Akikah dan Kebahagiaan Keluarga Besar
97
Bab 97. Rumah yang Penuh Warna

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!