Pertemuan di Bawah Guyuran Hujan

Keyra berjalan terhuyung-huyung keluar dari restoran mewah itu. Langkah kakinya terasa begitu berat, seolah-olah bumi yang dipijaknya baru saja runtuh. Air mata yang sejak tadi ia tahan kini mengalir deras, membasahi pipi dan merusak riasan tipis di wajahnya. Hatinya hancur berkeping-keping. Tiga tahun pengorbanan, tiga tahun air mata dan peluh yang ia curahkan demi mendukung karier Arkan dari bawah, malam ini berakhir tragis hanya dengan selembar amplop tebal berisi uang seratus juta rupiah.

"Seratus juta..." bisik Keyra dengan suara parau yang bergetar. Senyum mengejek Arkan dan tatapan meremehkan dari Mentari terus berputar-putar di dalam kepalanya bagai kaset rusak. "Apakah harga diriku dan ketulusanku selama tiga tahun ini hanya senilai seratus juta di matamu, Arkan?"

Tepat saat Keyra melangkah keluar ke area parkir terbuka, langit yang sejak sore mendung seolah ikut merasakan kepedihannya. Gemuruh petir menggelegar, disusul dengan tetesan air hujan yang langsung turun dengan sangat deras. Dalam sekejap, tubuh Keyra basah kuyup. Gaun marun sederhana yang ia kenakan kini melekat erat di tubuhnya yang mulai menggigil kedinginan. Namun, Keyra tidak peduli. Rasa dingin yang menusuk kulitnya sama sekali tidak sebanding dengan rasa sakit dan panas yang membakar dadanya saat ini.

Ia terus berjalan tanpa arah, mengabaikan tatapan beberapa orang yang berteduh di lobi restoran. Pandangannya buram, bukan hanya karena air hujan yang menerpa wajahnya, tetapi juga karena air mata yang terus mendesak keluar. Keyra berjalan menyusuri trotoar, lalu tanpa sadar melangkah ke area penyeberangan jalan tepat saat lampu lalu lintas masih berwarna hijau untuk kendaraan.

Tiiiiiiiiiitttt!!!

Suara klakson mobil yang sangat nyaring dan memekakkan telinga tiba-tiba memecah keheningan malam yang pekat. Sorot lampu putih yang sangat terang mendadak menyinari tubuh Keyra, membutakan pandangannya seketika. Sebuah mobil sedan hitam mewah berlogo Rolls-Royce melaju dengan kecepatan tinggi dari arah kanan, mencoba melakukan pengereman mendadak di atas aspal yang licin karena air hujan.

Ckiiiiiiiiiiiieeeettt!!

Bunyi derit ban yang bergesekan keras dengan aspal terdengar memilukan. Keyra yang terkejut hanya bisa terpaku di tempatnya. Kakinya terasa lemas seperti jeli, tidak mampu lagi digerakkan untuk menghindar. Ia memejamkan mata erat-erat, bersiap untuk merasakan hantaman keras yang mungkin akan mengakhiri hidupnya yang malang ini.

Namun, hantaman itu tidak pernah datang.

Mobil mewah itu berhasil berhenti tepat beberapa sentimeter saja dari lutut Keyra. Hembusan angin kencang dari rem mendadak itu sempat membuat gaun basah Keyra berkibar. Keyra perlahan membuka matanya, napasnya terengah-engah karena terkejut. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga rasanya mau melompat keluar dari rongga dada. Karena syok yang luar biasa, kedua kaki Keyra akhirnya benar-benar kehilangan kekuatan. Ia jatuh terduduk di atas aspal yang dingin dan basah, membiarkan air hujan terus mengguyur tubuhnya.

Tak lama kemudian, pintu belakang mobil mewah itu terbuka. Seorang pria bertubuh tinggi tegap keluar dari dalam mobil. Ia tidak menggunakan payung, membiarkan jas hitam mahalnya yang berpotongan sempurna ikut terkena rintik hujan. Pria itu berjalan dengan langkah yang tenang namun penuh wibawa mendekati Keyra.

Pria itu adalah Devan Alister. Pemimpin tertinggi dari Alister Group, konglomerat nomor satu di negara ini yang terkenal dingin, kejam, dan tidak pernah memaafkan kesalahan sekecil apa pun di dunia bisnis. Wajahnya yang tegas dan tampan bak pahatan dewa Yunani tampak datar tanpa ekspresi, namun sepasang mata elangnya yang tajam menatap lurus ke arah gadis yang kini terduduk lemas di hadapan mobilnya.

Sopir Devan, yang baru saja keluar dari pintu depan sambil membawa payung, langsung berlari panik mendekat. "Tuan Muda Devan! Maafkan saya, hujan sangat deras dan wanita ini tiba-tiba menyeberang tanpa melihat jalan. Anda tidak apa-apa?"

Devan tidak menjawab pertanyaan sopirnya. Tatapannya masih terkunci pada Keyra. Di bawah temaram lampu jalanan dan guyuran hujan, Devan bisa melihat dengan jelas bahwa gadis di hadapannya ini tidak sedang terluka secara fisik akibat mobilnya. Namun, ada luka yang jauh lebih besar dan dalam yang terpancar dari kedua matanya yang bengkak dan memerah. Gadis itu tidak menangis ketakutan karena hampir tertabrak, melainkan menatap kosong ke arah aspal dengan tatapan hancur yang amat kentara.

Sesuatu di dalam dada Devan yang biasanya sedingin es, mendadak bergetar samar melihat pemandangan itu. Biasanya, Devan sangat membenci orang-orang yang tidak tertib di jalanan. Namun, melihat kerapuhan sekaligus ketegaran yang aneh dari gadis ini, kemarahannya menguap begitu saja.

Devan melangkah satu kali lagi, kini berdiri tepat di depan Keyra, menghalangi rintik hujan yang menerpa wajah gadis itu dengan tubuh tingginya. "Apa kamu sudah bosan hidup?" suara Devan terdengar berat, dalam, dan dingin, memecah suara gemercik air hujan.

Keyra perlahan mendongak. Melalui sela-sela rambutnya yang basah dan menempel di wajah, ia menatap pria asing yang berdiri di hadapannya. Pria itu memancarkan aura intimidasi yang sangat kuat, tipe pria berkuasa yang berada di puncak dunia—sangat jauh berbeda level dengan Arkan.

Alih-alih takut atau meminta maaf, Keyra justru tersenyum getir dengan sisa-sisa kekuatannya. "Ya... mungkin saja," bisik Keyra lirih, suaranya hampir tenggelam oleh suara hujan. "Jika mati bisa menghapus semua rasa sakit ini, mungkin itu pilihan yang lebih baik."

Mendengar jawaban itu, alis tebal Devan bertaut. Sopir Devan yang memegang payung di belakangnya langsung terbelalak kaget. Berani-beraninya gadis biasa ini berbicara ketus dan tak acuh di depan seorang Devan Alister!

Namun, Devan justru berjongkok di hadapan Keyra. Jarak mereka kini begitu dekat hingga Keyra bisa mencium aroma parfum maskulin yang mahal bercampur dengan aroma segar air hujan dari tubuh pria itu. Devan mengulurkan tangannya yang besar dan hangat, lalu dengan lembut namun tegas mencengkeram dagu Keyra, memaksa gadis itu untuk menatap langsung ke dalam manik mata hitamnya yang pekat.

"Mati karena seorang pria yang mencampakkanmu di restoran itu? Bodoh," ucap Devan dengan nada dingin yang menusuk.

Keyra tertegun. Jantungnya berdesir aneh. Bagaimana pria asing ini bisa tahu apa yang terjadi padanya? Keyra tidak tahu bahwa sebelum hampir menabraknya, mobil Devan sempat terparkir tidak jauh dari lobi restoran dan Devan sempat melihat sekilas dari balik kaca mobilnya saat Arkan menggandeng wanita lain sambil meninggalkan Keyra yang menangis.

Keyra mencoba melepaskan cengkeraman tangan Devan dari dagunya, namun kekuatan pria itu terlalu besar. "Lepaskan... Kamu tidak tahu apa-apa tentang hidupku! Jangan sok tahu!" ujar Keyra dengan napas memburu, ego dan harga dirinya yang terluka membuatnya menolak dikasihani.

Devan tidak melepaskan cengkeramannya, justru tatapannya semakin menajam, mengunci seluruh kesadaran Keyra. "Aku memang tidak tahu, dan aku tidak peduli. Tapi yang aku tahu, menangis di tengah jalan dan menyerahkan nyawamu secara cuma-cuma tidak akan membuat orang yang menyakitimu menyesal. Itu hanya akan membuat mereka tertawa di atas penderitaanmu."

Kata-kata Devan bagaikan petir yang menyambar tepat di dada Keyra. Rasa sakit yang sejak tadi menyelimutinya mendadak digantikan oleh rasa sadar yang menyengat. Pria asing ini benar. Jika ia mati malam ini, Arkan dan Mentari justru akan hidup bahagia tanpa rasa bersalah sama sekali. Mereka akan menertawakan kematiannya yang menyedihkan.

‘Tidak... aku tidak boleh mati seperti ini,’ batin Keyra. Amarah dan keinginan untuk membalas dendam kembali berkobar di dalam hatinya, memberikan secercah kekuatan baru di tubuhnya yang lemas.

Melihat perubahan binar di mata Keyra yang kini kembali hidup dan penuh dengan kilatan amarah, sebuah lengkungan tipis yang hampir tak terlihat terukir di sudut bibir Devan. Pria itu akhirnya melepaskan cengkeramannya pada dagu Keyra, lalu berdiri tegak kembali.

"Jika kamu ingin membalas mereka, hiduplah dengan baik. Jadilah begitu tinggi hingga orang yang membuangmu bahkan tidak akan pernah bisa meraih ujung sepatumu lagi," ucap Devan datar, seolah sedang memberikan sebuah nasihat bisnis yang mutlak.

Sebelum Keyra sempat mencerna kata-kata itu, pandangannya mendadak mengabur. Rasa dingin yang ekstrem, syok emosional, dan kelelahan fisik setelah bekerja paruh waktu seharian akhirnya mencapai batasnya. Tubuh Keyra limbung ke depan.

Grep.

Dengan cekatan, Devan menangkap tubuh Keyra sebelum gadis itu kembali menghantam aspal. Keyra jatuh pingsan sepenuhnya di dalam pelukan hangat Devan. Devan menatap wajah pucat gadis itu yang bersandar di dadanya, lalu tanpa ragu sedikit pun, ia mengangkat tubuh Keyra yang ringan seperti kapas ke dalam gendongannya (bridal style).

"T-Tuan Muda?" sopir Devan bertanya dengan nada sangat tidak percaya. Seorang Devan Alister yang terkenal sangat benci bersentuhan dengan orang asing, kini menggendong seorang gadis jalanan yang basah kuyup ke dalam mobil mewahnya?

"Buka pintunya. Kita bawa dia ke rumah sakit pribadi," perintah Devan mutlak, tanpa menoleh sedikit pun.

Malam itu, di bawah derasnya hujan kota, takdir Keyra resmi berputar arah. Pertemuannya dengan Devan Alister akan menjadi awal dari badai besar yang siap menghancurkan dunia Arkan di masa depan.

Episodes
1 Dicampakkan Setelah Sukses
2 Pertemuan di Bawah Guyuran Hujan
3 Penawaran dari Pria Penguasa
4 Transformasi Sang Ratu
5 Tamparan Tanpa Suara
6 Genggaman Sang Pelindung
7 Langkah Pertama Kehancuran
8 Diambang Kehancuran
9 Panggung Sang Ratu
10 Pengemis di Bawah Kaki
11 Ular yang Kehilangan Bisanya
12 Karma yang Sempurna
13 Bayang-bayang baru
14 Jamuan di Sarang Serigala
15 Benih-benih Intrik
16 Jejak yang Tertinggal
17 Badai yang Mulai Menerjang
18 Panggung Pembalasan
19 Kejatuhan Sang Nona Besar
20 Dermaga Masa Depan
21 Pesta Abad Ini dan Surat Tanpa Nama
22 Altar yang Berdarah
23 Perintah Pengepungan Kota
24 Murka Sang Penguasa
25 Penyerbuan di Pelabuhan Barat
26 Kebenaran di Balik Air Mata
27 Jarak yang Terbentang
28 Bayang-bayang CEO
29 Tamu Tengah Malam
30 Konfrontasi Dua Pria
31 Rencana di Balik Layar
32 Tamu Tak Diundang
33 Jebakan dan Keputusasaan
34 Detik-detik Hilangnya Sang Ratu
35 Panggilan Maut Sang Penculik
36 Konfrontasi di Ujung Maut
37 Badai Pembalasan Sang Penguasa
38 Penjaga dalam Sunyi
39 Hangatnya Perhatian Sang Iblis
40 Tameng Sang Pelindung
41 Istana Rahasia Sang Penguasa
42 Kejutan Manis Dibalik Tirai
43 Runtuhnya Sebuah Dinasti
44 Taman Mawar di Balik Kabut
45 Badai yang Belum Usai
46 Jejak Sang Penghianat
47 Terkepung di Batas Kota
48 Di Bawah Bayang-bayang Maut
49 Pembalasan
50 Buah hati sang penguasa
51 Suami Siaga Tingkat Dewa
52 Pengumuman Ratu Sang CEO
53 Episode 53
54 Detak Kehidupan Pertama
55 Kamar Kecil Si Buah Hati
56 Bikin CEO kelimpungan
57 Emosi Bumil Yang Naik Turun
58 Sensasi Nyidam Jam Tiga Pagi
59 Draft
60 Kejutan Manis Di Usia Tiga Bulan
61 Calon Papa Yg Mulai Posesif
62 Tendangan Pertama Si kecil
63 Borong Perlengkapan Si Kecil
64 Maternity Photoshoot
65 Detik-detik Menjelang Persalinan
66 Perjuangan Melahirkan Buah Hati
67 Tangisan Pertama Devan Kecil
68 Pangeran Kecil Alister Group
69 Papa Bucin vs Bayi Posesif
70 Syukuran Megah Pangeran Kecil Alister Group
71 Senyuman Pertama dan Ancaman Baru
72 Benteng Perlindungan
73 Serangan Balik Sang Penguasa
74 Arka Xavier Si Bayi Muka Dua
75 Posesif Tingkat Dewa
76 Surat Tanpa Nama
77 Perburuan Tanpa Ampun
78 Kejutan Manis Dipulau Pribadi
79 Janji Setia Devan Alister
80 Pesta Meriah Dan Takdir Baru
81 Konflik Baru Dimulai
82 Perang Terbuka
83 Racun dibawah Sinar Rembulan
84 Eksekusi
85 Kebenaran Yang Terkubur
86 Pertempuran Benteng Alister
87 Konfrontasi Puncak
88 Rahasia Lama Yang Terungkap
89 Sebuah Ancaman
90 Eksekusi Puncak Devan Alister
91 Era Baru Dan Ancaman Yg Tersembunyi
92 Kejutan di Balik Senyuman
Episodes

Updated 92 Episodes

1
Dicampakkan Setelah Sukses
2
Pertemuan di Bawah Guyuran Hujan
3
Penawaran dari Pria Penguasa
4
Transformasi Sang Ratu
5
Tamparan Tanpa Suara
6
Genggaman Sang Pelindung
7
Langkah Pertama Kehancuran
8
Diambang Kehancuran
9
Panggung Sang Ratu
10
Pengemis di Bawah Kaki
11
Ular yang Kehilangan Bisanya
12
Karma yang Sempurna
13
Bayang-bayang baru
14
Jamuan di Sarang Serigala
15
Benih-benih Intrik
16
Jejak yang Tertinggal
17
Badai yang Mulai Menerjang
18
Panggung Pembalasan
19
Kejatuhan Sang Nona Besar
20
Dermaga Masa Depan
21
Pesta Abad Ini dan Surat Tanpa Nama
22
Altar yang Berdarah
23
Perintah Pengepungan Kota
24
Murka Sang Penguasa
25
Penyerbuan di Pelabuhan Barat
26
Kebenaran di Balik Air Mata
27
Jarak yang Terbentang
28
Bayang-bayang CEO
29
Tamu Tengah Malam
30
Konfrontasi Dua Pria
31
Rencana di Balik Layar
32
Tamu Tak Diundang
33
Jebakan dan Keputusasaan
34
Detik-detik Hilangnya Sang Ratu
35
Panggilan Maut Sang Penculik
36
Konfrontasi di Ujung Maut
37
Badai Pembalasan Sang Penguasa
38
Penjaga dalam Sunyi
39
Hangatnya Perhatian Sang Iblis
40
Tameng Sang Pelindung
41
Istana Rahasia Sang Penguasa
42
Kejutan Manis Dibalik Tirai
43
Runtuhnya Sebuah Dinasti
44
Taman Mawar di Balik Kabut
45
Badai yang Belum Usai
46
Jejak Sang Penghianat
47
Terkepung di Batas Kota
48
Di Bawah Bayang-bayang Maut
49
Pembalasan
50
Buah hati sang penguasa
51
Suami Siaga Tingkat Dewa
52
Pengumuman Ratu Sang CEO
53
Episode 53
54
Detak Kehidupan Pertama
55
Kamar Kecil Si Buah Hati
56
Bikin CEO kelimpungan
57
Emosi Bumil Yang Naik Turun
58
Sensasi Nyidam Jam Tiga Pagi
59
Draft
60
Kejutan Manis Di Usia Tiga Bulan
61
Calon Papa Yg Mulai Posesif
62
Tendangan Pertama Si kecil
63
Borong Perlengkapan Si Kecil
64
Maternity Photoshoot
65
Detik-detik Menjelang Persalinan
66
Perjuangan Melahirkan Buah Hati
67
Tangisan Pertama Devan Kecil
68
Pangeran Kecil Alister Group
69
Papa Bucin vs Bayi Posesif
70
Syukuran Megah Pangeran Kecil Alister Group
71
Senyuman Pertama dan Ancaman Baru
72
Benteng Perlindungan
73
Serangan Balik Sang Penguasa
74
Arka Xavier Si Bayi Muka Dua
75
Posesif Tingkat Dewa
76
Surat Tanpa Nama
77
Perburuan Tanpa Ampun
78
Kejutan Manis Dipulau Pribadi
79
Janji Setia Devan Alister
80
Pesta Meriah Dan Takdir Baru
81
Konflik Baru Dimulai
82
Perang Terbuka
83
Racun dibawah Sinar Rembulan
84
Eksekusi
85
Kebenaran Yang Terkubur
86
Pertempuran Benteng Alister
87
Konfrontasi Puncak
88
Rahasia Lama Yang Terungkap
89
Sebuah Ancaman
90
Eksekusi Puncak Devan Alister
91
Era Baru Dan Ancaman Yg Tersembunyi
92
Kejutan di Balik Senyuman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!