Penawaran dari Pria Penguasa

Aroma tajam cairan antiseptik dan tenangnya kepungan dinding bernuansa putih menjadi hal pertama yang menyapa kesadaran Keyra. Perlahan, ia menggerakkan kelopak matanya yang terasa sangat berat. Saat matanya benar-benar terbuka, Keyra mengernyitkan dahi. Ia tidak mendapati langit-langit kamarnya yang sempit dan beratap tripleks, melainkan sebuah langit-langit tinggi dengan lampu kristal gantung yang mewah.

Keyra mencoba menggeser tubuhnya, namun rasa pening langsung menghantam kepalanya dengan hebat. Ia melirik ke samping kanan. Sebuah tiang infus berdiri kokoh dengan selang yang mengalirkan cairan menuju punggung tangannya yang pucat. Kamar ini sangat luas, bahkan dilengkapi dengan sofa kulit premium, televisi layar datar berukuran besar, dan jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan lampu-lampu kota dari ketinggian.

‘Aku di mana? Ini bukan puskesmas...’ batin Keyra bingung.

Ingatannya perlahan berputar mundur. Malam yang pias, hujan deras, amplop seratus juta dari Arkan, wanita manja bernama Mentari, lalu... sebuah mobil mewah yang hampir merenggut nyawanya, serta seorang pria berjas hitam dengan sepasang mata elang yang sedingin es.

Cklek.

Suara pintu yang terbuka membuyarkan lamunan Keyra. Ia menoleh dengan cepat, mengabaikan rasa pusing yang kembali mendera. Dari balik pintu, melangkah masuk pria yang ada di dalam ingatannya. Pria itu sudah tidak mengenakan jas hitamnya. Kini ia hanya memakai kemeja putih mahal dengan dua kancing teratas yang terbuka dan lengan yang digulung hingga sebatas siku, menampilkan jam tangan mewah yang berkilau.

Aura penguasa yang mengintimidasi langsung memenuhi ruangan itu. Devan Alister berjalan mendekati ranjang Keyra dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana bahan hitamnya.

"Sudah bangun?" tanya Devan datar, suaranya yang berat menggema rendah.

KeyraRefleks menarik selimutnya hingga sebatas dada, menatap Devan dengan pandangan waspada. "Siapa kamu? Dan... kenapa aku bisa ada di rumah sakit ini?"

Devan berhenti tepat di samping ranjang, menatap Keyra dari ketinggian dengan tatapan menilai. "Pertama, ini bukan rumah sakit umum. Ini VVIP Room Alister Hospital, rumah sakit pribadiku. Kedua, namaku Devan Alister. Dan ketiga, kamu ada di sini karena kamu pingsan di dadaku setelah hampir membuat mobilku menabrakmu semalam."

Keyra tertegun. Nama Alister bukanlah nama yang asing. Di berita bisnis televisi maupun koran, nama Alister Group selalu berada di urutan teratas sebagai konglomerasi raksasa yang menguasai berbagai sektor di negara ini. Jadi, pria di hadapannya ini adalah sang pemilik tunggal? Pria yang kekuasaannya bahkan bisa meruntuhkan perusahaan tempat Arkan bekerja hanya dengan satu jentikan jari?

Menyadari siapa lawan bicaranya, Keyra sempat merasa menciut. Namun, ingatan tentang bagaimana kasarnya Arkan mencampakkannya membuat harga diri Keyra kembali bangkit. Ia melepaskan remasan pada selimutnya dan menatap Devan dengan berani.

"Kalau begitu, terima kasih sudah menolongku dan membawaku ke sini," ucap Keyra, mencoba terdengar formal meskipun suaranya masih agak serak. "Mengenai biaya pengobatan ini, aku akan mencicilnya kepadamu setelah aku keluar dari sini. Aku tidak suka berutang budi."

Mendengar itu, Devan justru mendengus pelan. Sebuah senyum sinis yang tipis muncul di wajah tampannya. "Mencicil? Kamar ini bertarif lima puluh juta per malam. Belum termasuk dokter spesialis terbaik yang kupanggil khusus untuk memeriksa paru-parumu yang sempat mendingin karena hujan. Kamu mau mencicilnya sampai kapan dengan gaji seorang karyawan toko kue?"

Wajah Keyra seketika memerah karena malu sekaligus tersinggung. Kata-kata Devan sangat menusuk dan langsung mengingatkannya pada ucapan Arkan semalam. Mengapa semua pria kaya selalu memandang rendah pekerjaannya?

"Aku tahu aku miskin! Tapi aku punya harga diri!" seru Keyra, matanya mulai berkaca-kaca menahan amarah. "Aku tidak meminta ditumpangi mobil mewahmu, dan aku juga tidak meminta dibawa ke kamar semahal ini! Aku akan keluar sekarang juga!"

Keyra nekat menarik paksa jarum infus di punggung tangannya hingga darah segar menetes keluar. Ia meringis kesakitan, namun keras kepala mencoba menurunkan kakinya dari ranjang.

Namun, sebelum kaki Keyra sempat menyentuh lantai, tangan kekar Devan sudah bergerak cepat mencengkeram kedua bahu Keyra, menekannya kembali ke atas ranjang dengan kekuatan yang tak bisa dibantah.

"Lepaskan aku!" berontak Keyra.

"Diam!" bentak Devan pelan namun sarat akan penekanan yang mutlak. Sepasang mata elangnya menatap lurus ke dalam manik mata Keyra yang bergetar. "Aku tidak suka membuang-buang uang, dan aku lebih tidak suka lagi melihat orang yang sudah kutolong bertindak bodoh untuk kedua kalinya."

Devan menarik selembar tisu dari meja nakas dan dengan gerakan yang tidak terduga, ia menyeka tetesan darah di punggung tangan Keyra dengan perlahan. Tindakan kasarnya yang tiba-tiba berubah menjadi lembut itu membuat jantung Keyra berdegup tak karuan.

"Kamu bilang kamu punya harga diri, bukan?" Devan kembali bersuara, kali ini nadanya merendah, namun terdengar sangat berbahaya. "Lalu, apakah harga dirimu puas hanya dengan menangis dan membiarkan mantan kekasihmu—Arkan—menikahi anak investor itu dan hidup bahagia di atas penderitaanmu?"

Keyra membeku. "Bagaimana... bagaimana kamu tahu nama Arkan?"

Devan menegakkan tubuhnya, kembali memasukkan tangan ke dalam saku. "Tidak ada hal di kota ini yang tidak bisa kuketahui dalam waktu lima menit, Keyra. Aku tahu segalanya. Tentang tiga tahun pengorbananmu, tentang uang seratus juta yang dia lemparkan kepadamu, dan tentang bagaimana dia menghinamu sebagai gadis biasa yang memalukan."

Rasa sakit di hati Keyra kembali berdenyut mendengar kenyataan pahit itu disebut dengan begitu gamblang oleh orang lain. Ia mengepalkan tangannya di atas selimut, menundukkan kepala saat air mata sialan itu kembali menetes.

"Lalu apa yang bisa kulakukan?" bisik Keyra dengan nada putus asa. "Dia sekarang seorang CEO. Dia punya uang, punya kekuasaan, dan didukung oleh investor kaya. Sedangkan aku? Aku benar-benar tidak punya apa-apa untuk melawannya."

Sunyi sempat menjeda ruangan itu selama beberapa detik, hanya menyisakan suara detak jantung Keyra yang bertalu-talu.

"Kamu salah," ujar Devan tiba-tiba.

Keyra mendongak, menatap Devan dengan bingung.

Devan perlahan membungkukkan badannya, mendekatkan wajahnya hingga Keyra bisa merasakan embusan napas pria itu di permukaan kulitnya. "Kamu punya aku, jika kamu mau."

"M-maksudmu?" jantung Keyra berdebar semakin kencang.

"Aku menawarkan sebuah kerja sama," ucap Devan dengan tatapan mata yang berkilat penuh rencana. "Perusahaan tempat Arkan bekerja saat ini sedang mengemis investasi tambahan dari Alister Group. Aku bisa dengan mudah menaikkan posisinya hingga ke langit, atau mengempasnya ke dasar jurang kemiskinan sampai dia tidak punya apa-apa lagi."

Devan menjauhkan wajahnya, menatap Keyra dengan senyum misterius. "Aku akan memberikanmu panggung, harta, status, dan kekuasaan yang tidak akan pernah bisa dijangkau oleh Arkan maupun wanita barunya itu. Aku akan mengubahmu menjadi ratu yang berdiri di tempat yang sangat tinggi."

Keyra menahan napasnya. Tawaran itu terdengar seperti mimpi di siang bolong, namun ia tahu pria di hadapannya memiliki kekuatan nyata untuk mewujudkannya. "Apa syaratnya? Di dunia ini tidak ada makan siang gratis. Apa yang kamu inginkan dariku sebagai gantinya?"

Senyum di bibir Devan semakin melebar, menyukai fakta bahwa gadis di hadapannya ini cukup cerdas untuk tidak langsung terbuai.

"Syaratnya mudah," jawab Devan tenang. "Jadilah wanitaku. Dampingi aku di setiap pertemuan bisnis, bersandarlah di lenganku di depan media, dan biarkan seluruh dunia—termasuk mantan kekasihmu—tahu bahwa wanita yang pernah dicampakkannya, kini adalah milik seorang Devan Alister."

Keyra tertegun, otaknya berputar cepat memikirkan tawaran gila namun menggiurkan ini. Ini adalah tiket emasnya untuk membalas dendam.

"Bagaimana, Keyra? Apakah kamu memilih pergi dari sini sebagai pecundang yang malang... atau tetap di sini dan menandatangani kontrak untuk menghancurkan hidup Arkan bersamaku?"

Episodes
1 Dicampakkan Setelah Sukses
2 Pertemuan di Bawah Guyuran Hujan
3 Penawaran dari Pria Penguasa
4 Transformasi Sang Ratu
5 Tamparan Tanpa Suara
6 Genggaman Sang Pelindung
7 Langkah Pertama Kehancuran
8 Diambang Kehancuran
9 Panggung Sang Ratu
10 Pengemis di Bawah Kaki
11 Ular yang Kehilangan Bisanya
12 Karma yang Sempurna
13 Bayang-bayang baru
14 Jamuan di Sarang Serigala
15 Benih-benih Intrik
16 Jejak yang Tertinggal
17 Badai yang Mulai Menerjang
18 Panggung Pembalasan
19 Kejatuhan Sang Nona Besar
20 Dermaga Masa Depan
21 Pesta Abad Ini dan Surat Tanpa Nama
22 Altar yang Berdarah
23 Perintah Pengepungan Kota
24 Murka Sang Penguasa
25 Penyerbuan di Pelabuhan Barat
26 Kebenaran di Balik Air Mata
27 Jarak yang Terbentang
28 Bayang-bayang CEO
29 Tamu Tengah Malam
30 Konfrontasi Dua Pria
31 Rencana di Balik Layar
32 Tamu Tak Diundang
33 Jebakan dan Keputusasaan
34 Detik-detik Hilangnya Sang Ratu
35 Panggilan Maut Sang Penculik
36 Konfrontasi di Ujung Maut
37 Badai Pembalasan Sang Penguasa
38 Penjaga dalam Sunyi
39 Hangatnya Perhatian Sang Iblis
40 Tameng Sang Pelindung
41 Istana Rahasia Sang Penguasa
42 Kejutan Manis Dibalik Tirai
43 Runtuhnya Sebuah Dinasti
44 Taman Mawar di Balik Kabut
45 Badai yang Belum Usai
46 Jejak Sang Penghianat
47 Terkepung di Batas Kota
48 Di Bawah Bayang-bayang Maut
49 Pembalasan
50 Buah hati sang penguasa
51 Suami Siaga Tingkat Dewa
52 Pengumuman Ratu Sang CEO
53 Episode 53
54 Detak Kehidupan Pertama
55 Kamar Kecil Si Buah Hati
56 Bikin CEO kelimpungan
57 Emosi Bumil Yang Naik Turun
58 Sensasi Nyidam Jam Tiga Pagi
59 Draft
60 Kejutan Manis Di Usia Tiga Bulan
61 Calon Papa Yg Mulai Posesif
62 Tendangan Pertama Si kecil
63 Borong Perlengkapan Si Kecil
64 Maternity Photoshoot
65 Detik-detik Menjelang Persalinan
66 Perjuangan Melahirkan Buah Hati
67 Tangisan Pertama Devan Kecil
68 Pangeran Kecil Alister Group
69 Papa Bucin vs Bayi Posesif
70 Syukuran Megah Pangeran Kecil Alister Group
71 Senyuman Pertama dan Ancaman Baru
72 Benteng Perlindungan
73 Serangan Balik Sang Penguasa
74 Arka Xavier Si Bayi Muka Dua
75 Posesif Tingkat Dewa
76 Surat Tanpa Nama
77 Perburuan Tanpa Ampun
78 Kejutan Manis Dipulau Pribadi
79 Janji Setia Devan Alister
80 Pesta Meriah Dan Takdir Baru
81 Konflik Baru Dimulai
82 Perang Terbuka
83 Racun dibawah Sinar Rembulan
84 Eksekusi
85 Kebenaran Yang Terkubur
86 Pertempuran Benteng Alister
87 Konfrontasi Puncak
88 Rahasia Lama Yang Terungkap
89 Sebuah Ancaman
90 Eksekusi Puncak Devan Alister
91 Era Baru Dan Ancaman Yg Tersembunyi
92 Kejutan di Balik Senyuman
Episodes

Updated 92 Episodes

1
Dicampakkan Setelah Sukses
2
Pertemuan di Bawah Guyuran Hujan
3
Penawaran dari Pria Penguasa
4
Transformasi Sang Ratu
5
Tamparan Tanpa Suara
6
Genggaman Sang Pelindung
7
Langkah Pertama Kehancuran
8
Diambang Kehancuran
9
Panggung Sang Ratu
10
Pengemis di Bawah Kaki
11
Ular yang Kehilangan Bisanya
12
Karma yang Sempurna
13
Bayang-bayang baru
14
Jamuan di Sarang Serigala
15
Benih-benih Intrik
16
Jejak yang Tertinggal
17
Badai yang Mulai Menerjang
18
Panggung Pembalasan
19
Kejatuhan Sang Nona Besar
20
Dermaga Masa Depan
21
Pesta Abad Ini dan Surat Tanpa Nama
22
Altar yang Berdarah
23
Perintah Pengepungan Kota
24
Murka Sang Penguasa
25
Penyerbuan di Pelabuhan Barat
26
Kebenaran di Balik Air Mata
27
Jarak yang Terbentang
28
Bayang-bayang CEO
29
Tamu Tengah Malam
30
Konfrontasi Dua Pria
31
Rencana di Balik Layar
32
Tamu Tak Diundang
33
Jebakan dan Keputusasaan
34
Detik-detik Hilangnya Sang Ratu
35
Panggilan Maut Sang Penculik
36
Konfrontasi di Ujung Maut
37
Badai Pembalasan Sang Penguasa
38
Penjaga dalam Sunyi
39
Hangatnya Perhatian Sang Iblis
40
Tameng Sang Pelindung
41
Istana Rahasia Sang Penguasa
42
Kejutan Manis Dibalik Tirai
43
Runtuhnya Sebuah Dinasti
44
Taman Mawar di Balik Kabut
45
Badai yang Belum Usai
46
Jejak Sang Penghianat
47
Terkepung di Batas Kota
48
Di Bawah Bayang-bayang Maut
49
Pembalasan
50
Buah hati sang penguasa
51
Suami Siaga Tingkat Dewa
52
Pengumuman Ratu Sang CEO
53
Episode 53
54
Detak Kehidupan Pertama
55
Kamar Kecil Si Buah Hati
56
Bikin CEO kelimpungan
57
Emosi Bumil Yang Naik Turun
58
Sensasi Nyidam Jam Tiga Pagi
59
Draft
60
Kejutan Manis Di Usia Tiga Bulan
61
Calon Papa Yg Mulai Posesif
62
Tendangan Pertama Si kecil
63
Borong Perlengkapan Si Kecil
64
Maternity Photoshoot
65
Detik-detik Menjelang Persalinan
66
Perjuangan Melahirkan Buah Hati
67
Tangisan Pertama Devan Kecil
68
Pangeran Kecil Alister Group
69
Papa Bucin vs Bayi Posesif
70
Syukuran Megah Pangeran Kecil Alister Group
71
Senyuman Pertama dan Ancaman Baru
72
Benteng Perlindungan
73
Serangan Balik Sang Penguasa
74
Arka Xavier Si Bayi Muka Dua
75
Posesif Tingkat Dewa
76
Surat Tanpa Nama
77
Perburuan Tanpa Ampun
78
Kejutan Manis Dipulau Pribadi
79
Janji Setia Devan Alister
80
Pesta Meriah Dan Takdir Baru
81
Konflik Baru Dimulai
82
Perang Terbuka
83
Racun dibawah Sinar Rembulan
84
Eksekusi
85
Kebenaran Yang Terkubur
86
Pertempuran Benteng Alister
87
Konfrontasi Puncak
88
Rahasia Lama Yang Terungkap
89
Sebuah Ancaman
90
Eksekusi Puncak Devan Alister
91
Era Baru Dan Ancaman Yg Tersembunyi
92
Kejutan di Balik Senyuman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!