Episode 2

Bab 2

"Engkong sebentar lagi mau meninggal."

Kabin Rolls-Royce mendadak sunyi.

Hanya wiper di kaca depan yang masih bergerak, menggesek hujan ke kiri dan kanan dengan ritme dingin. Pak Chen, yang baru saja duduk kembali di kursi sopir, menoleh begitu cepat hingga bahunya menghantam sandaran kursi.

"Apa kamu bilang?"

Keira menekan syal di bahunya. Jari-jarinya masih kaku, tetapi suara dari dada Engkong Tedjo terdengar makin jelas, seperti seseorang yang mengomel dari balik pintu kayu tua.

"Capek... capek banget. Kontrak kerja seumur hidup itu siapa yang tanda tangan? Aku mau cuti. Mau mogok kerja. Mau pensiun dini..."

Keira memejamkan mata sesaat.

Kalau ia menyampaikan ini apa adanya, ia akan terdengar gila. Sayangnya, tidak ada cara yang terdengar waras untuk menjelaskan bahwa jantung seorang konglomerat sedang mengajukan pensiun.

"Jantung Engkong," kata Keira pelan. "Dia bilang capek. Mau mogok kerja. Mau pensiun dini."

Pak Chen langsung membuka pintu mobil dari dalam. Udara hujan menyusup masuk, menggigit kulit Keira yang belum sempat menghangat.

"Pak, saya turunkan dia sekarang."

"Chen."

"Ini kelewatan, Pak!" Suara Pak Chen pecah oleh marah yang ditahan. "Kita baru menolong dia dari jalan. Sekarang dia mengutuk Bapak? Ini modus. Bisa saja dia sengaja pura-pura sekarat supaya masuk mobil Bapak."

Keira tidak membantah. Ia memang tampak seperti masalah yang baru dipungut dari aspal, basah, pucat, berpiyama kelinci, tanpa tas, tanpa HP, tanpa identitas. Kalau ia berada di posisi Pak Chen, mungkin ia juga akan curiga.

Engkong Tedjo menatapnya lama.

Mata lelaki tua itu tidak lembut, tetapi juga tidak menghukum. Ada sesuatu yang tajam dan sabar di sana, seperti orang yang sudah terlalu sering melihat kebohongan hingga tahu kapan harus mendengar kemungkinan yang mustahil.

"Keira," katanya. "Kenapa kamu mengatakan itu?"

Keira mengangkat wajah. Kepalanya pusing, pandangan di tepi matanya masih berbintik putih.

"Karena kalau saya diam dan Engkong benar-benar meninggal, saya akan menyesal."

Pak Chen tertawa pendek, pahit. "Jawaban bagus. Penipu juga biasanya pintar bicara."

Keira menoleh ke arahnya. "Pak Chen, kalau saya penipu, saya akan minta uang. Saya tidak minta apa pun. Saya minta Engkong pergi ke rumah sakit."

"Kamu tahu nama saya dari mana?"

"Engkong memanggil Anda begitu tadi."

Pak Chen tertahan. Ia menatap Engkong Tedjo, lalu kembali menatap Keira dengan curiga yang belum berkurang.

Jantung di dada Engkong kembali bergumam, makin pelan.

"Mogok... mogok... aku mau tidur panjang..."

Keira meremas ujung syal.

"Hidup cuma satu, Engkong. Kalau saya bohong, Engkong rugi waktu dua puluh menit. Mungkin sedikit biaya pemeriksaan. Tapi kalau saya benar dan Engkong tidak pergi ke RS, ruginya seumur hidup."

Kalimat itu membuat tangan Pak Chen yang memegang gagang pintu berhenti.

Engkong Tedjo tiba-tiba tertawa kecil.

Suaranya pendek, serak, tetapi bukan tawa orang yang merasa dihina. Ia malah tampak agak terhibur.

"Logikamu bagus juga."

"Pak," Pak Chen hampir memohon. "Jangan percaya gadis asing begini."

"Aku tidak bilang percaya." Engkong Tedjo menyandarkan tubuhnya, wajahnya masih pucat di bawah lampu kabin. "Aku bilang logikanya bagus. Chen, ke RS Ananda."

"Pak..."

"Sekarang."

Pak Chen menutup pintu dengan gerakan keras. Mesin Rolls-Royce meraung halus, lalu mobil melesat menembus hujan.

Di luar, Lampu Jalan yang semakin jauh terdengar berteriak penuh kebanggaan.

"Nah gitu dong! Hidup dulu, dramanya belakangan! Jangan lupa kalau sukses, bilang sama semua orang Lampu Jalan berjasa, ya!"

Keira tidak sanggup menahan sudut bibirnya yang bergerak sedikit.

Engkong Tedjo menangkap perubahan kecil itu. "Ada yang lucu?"

"Lampu jalan tadi minta disebut berjasa."

Pak Chen dari depan mengerem sedikit lebih kasar daripada perlu. "Pak, dengar sendiri, kan?"

"Dengar apa?"

"Dia bicara dengan lampu jalan."

"Aku juga kadang bicara dengan tanaman bonsai kalau pasar saham turun," jawab Engkong Tedjo tenang. "Bedanya, bonsaiku tidak pernah menjawab."

Keira nyaris tersedak napasnya sendiri.

Pak Chen tampak ingin membantah, tetapi memilih memacu mobil lebih cepat. Jalanan malam itu hampir kosong. Hujan membuat lampu toko kabur menjadi garis panjang. Sesekali ban melewati genangan, air memukul bagian bawah mobil dengan suara berat.

Keira bersandar pada jok. Kehangatan kabin tidak cukup cepat mengusir dingin dari tulangnya. Syal Engkong berbau samar minyak angin dan teh tua. Bau itu anehnya membuatnya ingin tidur.

Tapi jantung Engkong tidak berhenti mengomel.

"Kenapa dibawa ngebut begini? Aku kan mau pensiun, bukan ikut balapan. Pelan-pelan dong. Aduh, ritme kacau. Siapa yang nyuruh minum kopi dua gelas tadi sore?"

Keira membuka mata.

"Engkong minum kopi dua gelas sore ini?"

Engkong Tedjo, yang sejak tadi masih cukup santai, akhirnya mengangkat alis.

Pak Chen membeku di kursi sopir.

"Bapak memang minum kopi," kata Pak Chen pelan. "Tapi hanya saya yang tahu. Dokter sudah melarang, jadi Bapak minta saya jangan bilang siapa-siapa."

Keira tidak merasa menang. Yang ia rasakan justru rasa dingin lain merambat ke punggungnya.

"Tolong lebih cepat, Pak Chen."

Kali ini Pak Chen tidak menjawab. Rolls-Royce melesat semakin cepat.

Lima belas menit kemudian, gerbang RS Ananda muncul di balik hujan. Bangunan kaca dan beton itu menyala terang seperti kapal besar di tengah malam. Petugas keamanan langsung bergerak saat melihat mobil Engkong Tedjo. Payung dibuka, pintu IGD VIP disiapkan, kursi roda didorong keluar.

Keira turun dengan bantuan seorang perawat. Begitu kakinya menyentuh lantai lobi, lututnya hampir menyerah. Perawat itu menahan lengannya.

"Nona juga pasien?"

"Dia ditemukan di jalan," kata Engkong dari kursi roda, lebih cepat daripada Pak Chen. "Periksa dia juga. Hipotermia, luka ringan, mungkin dehidrasi."

Pak Chen menahan napas kesal. "Pak, kondisi Bapak dulu."

"Aku masih bisa memerintah, berarti belum mati."

"Engkong," Keira memanggil pelan.

Lelaki tua itu menoleh. "Apa?"

Jantungnya berbisik, hampir malas.

"Aku mau tidur..."

"Jangan tunggu lama."

Sebelum Pak Chen bisa memarahi Keira lagi, langkah cepat terdengar dari lorong putih. Seorang pria berjas dokter berjalan mendekat, jas putihnya berkibar sedikit, rambut hitamnya rapi, wajahnya dingin seperti alat bedah yang baru disterilkan.

"Engkong."

Nada suaranya tenang, tetapi matanya bergerak cepat dari wajah Engkong ke kulit pucat, napas, posisi tangan, lalu monitor portabel yang mulai dipasang perawat.

Pak Chen seperti mendapat sandaran. "Dokter Jason, akhirnya."

Dokter Jason menoleh sekilas. "Kronologi."

"Kami menemukan gadis ini di jalan," Pak Chen langsung menunjuk Keira. "Setelah masuk mobil, dia bilang Engkong akan meninggal. Dia juga mengaku mendengar jantung Bapak bicara."

Tatapan Dokter Jason berhenti pada Keira.

Tidak ada amarah di sana. Justru lebih buruk, ada penilaian klinis yang dingin, seolah Keira adalah gejala aneh yang harus diklasifikasi.

"Nama?"

"Keira."

"Usia?"

"Dua puluh."

"Riwayat penyakit jiwa?"

Pak Chen tampak puas. Keira menahan napas. Pertanyaan itu seharusnya menyakitkan, tetapi tubuhnya terlalu lelah untuk bereaksi besar.

"Tidak ada diagnosis resmi," jawab Keira. "Tapi malam ini bukan tentang saya."

Alis Dokter Jason bergerak sangat tipis.

Engkong Tedjo tiba-tiba tertawa kecil lagi. "Jas, periksa aku dulu. Setelah itu kamu boleh menginterogasi cucu orang ini."

"Dia bukan cucu siapa-siapa di sini," gumam Pak Chen.

"Kalau begitu jangan kasar pada cucu orang lain."

Dokter Jason tidak ikut bercanda. Ia mendorong kursi roda Engkong sendiri menuju ruang pemeriksaan. Keira dibawa ke ruang sebelah untuk diperiksa suhu tubuh, tetapi pintu dibiarkan terbuka. Mungkin karena Engkong yang meminta. Mungkin karena semua orang masih menganggapnya bagian dari masalah.

Termometer digital berbunyi. Perawat mengerutkan kening.

"Suhu rendah. Nona harus ganti baju dan pakai selimut hangat."

"Nanti," kata Keira. Matanya tetap pada ruang pemeriksaan Engkong.

Di sana, EKG sudah terpasang. Monitor menunjukkan garis yang tampak terlalu rapi. Tekanan darah disebutkan normal. Saturasi normal. Enzim jantung belum keluar, tetapi pemeriksaan awal tidak mengkhawatirkan.

Dokter Jason melepas stetoskop dari telinganya.

"Secara pemeriksaan awal, Engkong stabil."

Pak Chen menatap Keira seolah kalimat itu adalah vonis. "Dengar? Stabil."

Keira tidak menjawab.

Karena jantung Engkong tidak terdengar stabil.

"Hore, alatnya ketipu. Aku istirahat dulu, ya. Capek akting sehat..."

Bulu kuduk Keira berdiri.

"Dokter Jason," panggilnya.

Jason menatapnya dari ambang pintu. "Apa lagi?"

"Jangan lepas monitor."

Pak Chen meledak. "Cukup! Pemeriksaan sudah jelas. Kamu pikir kamu lebih pintar dari Dokter Jason?"

"Tidak."

"Lalu kenapa masih bicara?"

Keira menatap monitor. Angka-angka hijau itu bergerak tenang, terlalu tenang untuk rasa takut yang mengeras di perutnya.

"Karena kalau saya diam, Engkong mati."

Ruangan menjadi sunyi. Beberapa perawat saling pandang. Pak Chen wajahnya merah oleh marah dan malu. Dokter Jason memandang Keira lebih lama, kali ini bukan hanya seperti melihat gejala, tetapi seperti melihat risiko.

Engkong Tedjo menghela napas. "Jas, biarkan monitornya tetap terpasang."

"Engkong, secara prosedur memang bisa observasi tiga puluh menit."

"Bagus. Observasi."

Pak Chen menutup mulutnya rapat-rapat.

Keira duduk di kursi lorong dengan selimut darurat di bahu. Tubuhnya menggigil lebih keras setelah masuk ruangan ber-AC. Perawat memaksa menaruh kompres hangat di tangannya. Di seberang kaca, Engkong Tedjo berbincang pelan dengan Dokter Jason. Lelaki tua itu masih sempat menertawakan sesuatu, sementara cucunya mencatat dengan wajah datar.

Empat menit setelah Dokter Jason menyatakan pemeriksaan awal stabil, suara dari dada Engkong berubah.

Tidak lagi mengomel.

Tidak lagi lucu.

Hanya bisikan yang tipis, jauh, dan menyerah.

"Bye-bye semuanya... aku pamit..."

Keira berdiri begitu cepat hingga selimut jatuh dari bahunya.

Pada detik yang sama, monitor jantung memekik panjang.

Garis hijau yang tadi bergerak rapi berubah kacau, lalu jatuh mengerikan. Tubuh Engkong Tedjo tersentak di ranjang pemeriksaan. Matanya terpejam. Tangannya jatuh lemas dari sisi ranjang.

Pak Chen menjerit, "Pak!"

Wajah Dokter Jason berubah untuk pertama kalinya.

"Code Blue!" suaranya membelah lorong. "Siapkan defibrilator! Panggil tim resusitasi, sekarang!"

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
126 Episode 126
127 Episode 127
128 Episode 128
129 Episode 129
130 Episode 130
Episodes

Updated 130 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125
126
Episode 126
127
Episode 127
128
Episode 128
129
Episode 129
130
Episode 130

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!