Episode 4

Bab 4

Karena di antara semua kemungkinan yang Keira bayangkan, ia tidak sempat memikirkan bahwa lelaki tua yang baru diselamatkannya akan menawarkan keluarga baru tepat di depan ibu kandungnya sendiri.

Mei Lin berdiri kaku di samping ranjang.

Wajahnya masih cantik dan terkendali, tetapi jemarinya mencengkeram tali tas hingga buku jarinya memutih. Ia menatap Engkong Tedjo, lalu Keira, lalu kembali ke Engkong Tedjo.

"Engkong," suaranya terlalu tenang. "Tidak bisa."

Engkong Tedjo mengangkat alis. "Tidak bisa kenapa?"

Dokter Jason memijat pangkal hidung. "Engkong, secara medis, pasien ICU sebaiknya tidak mengadakan rapat keluarga di kamar pasien lain."

"Jas, nanti kamu bisa marah. Sekarang aku sedang bicara."

"Saya sudah marah sejak Engkong minta kursi roda."

Keira hampir tertawa kalau dadanya tidak sedang sesak. Humor kering Dokter Jason membuat suasana sedikit bergerak, tetapi tidak cukup untuk menghapus ketegangan dari wajah Mei Lin.

"Keira tidak bisa menjadi cucu angkat Engkong," kata Mei Lin akhirnya. "Karena dia..."

Kalimat itu terputus.

Keira menunggu. Ia tidak tahu apakah ia ingin Mei Lin mengatakannya atau tidak. Bagian dewasa dari dirinya tahu fakta harus dibuka. Bagian kecil yang tersisa di tubuh ini takut mendengar ibunya ragu lagi.

Engkong Tedjo menatap Mei Lin lama.

"Karena dia apa, Mei?"

Bibir Mei Lin bergetar sangat tipis.

"Karena Keira anak kandung saya."

Udara di kamar seperti berhenti.

Pak Chen yang berdiri di dekat pintu langsung menundukkan kepala, seolah tidak sengaja mendengar rahasia yang terlalu besar. Dokter Jason, yang biasanya seperti batu es, mengalihkan pandangan dari monitor ke Keira dengan ekspresi yang sulit dibaca.

Engkong Tedjo tidak tampak terkejut selama yang Keira duga. Lelaki tua itu hanya menarik napas panjang, lalu tertawa pelan.

"Begitu."

Mei Lin menatapnya. "Engkong sudah tahu?"

"Belum. Tapi kalau kamu bereaksi sekeras itu, pilihannya tidak banyak." Engkong menatap Keira, matanya melunak. "Kalau begitu lebih sederhana. Dia tidak perlu jadi cucu angkatku karena kasihan. Dia memang cucuku, lewat kamu."

Kata cucu jatuh pelan, tetapi memberi getaran aneh di dada Keira.

Cucu.

Keluarga.

Dua kata yang semalam terasa begitu jauh, sekarang mendadak terlalu dekat hingga membuatnya tidak tahu harus memegang apa.

Mei Lin menarik napas. "Saya perlu bicara dengan Keira."

Engkong Tedjo mengangguk. "Bicara. Tapi jangan terlambat lagi belasan tahun."

Kalimat itu membuat mata Mei Lin merah.

Beberapa menit kemudian, kamar menjadi lebih sepi. Engkong kembali dibawa Dokter Jason ke ruang observasi dengan wajah tidak puas. Pak Chen keluar lebih dulu dan menutup pintu dari luar.

Keira dan Mei Lin tinggal berdua.

Untuk beberapa saat, tidak ada yang bicara.

Mei Lin berdiri di dekat jendela. Cahaya pagi menempel di sisi wajahnya, membuat garis halus di sudut matanya terlihat jelas. Ia tampak seperti wanita yang selama bertahun-tahun memilih rapi agar tidak runtuh.

"Dulu," kata Mei Lin pelan, "di ruang sidang, kamu bilang tidak mau ikut Mama."

Keira menggenggam tepi selimut. "Saya tahu."

"Kamu bilang Mama jahat. Kamu bilang Mama meninggalkan rumah karena tidak sayang keluarga." Suara Mei Lin tertahan. "Kamu bilang ingin tinggal dengan Papa."

Tubuh Keira bereaksi sebelum pikirannya selesai. Dada sesak, mata panas, tenggorokan seperti diganjal kain basah. Itu bukan hanya emosinya. Itu milik Keira kecil yang selama ini terkubur tanpa pernah sempat menjelaskan.

"Gunawan yang menyuruh saya bilang begitu."

Mei Lin menoleh.

Keira memaksa suaranya tetap stabil. "Malam sebelum sidang, dia bilang kalau saya ikut Mama, dia tidak akan pernah menandatangani surat cerai. Dia akan membuat Mama terikat di rumah Santoso selamanya. Dia bilang Tante Lina akan tetap tinggal di sana, dan Mama akan menderita seumur hidup karena saya egois."

Wajah Mei Lin kehilangan warna.

"Tidak..."

"Saya masih kecil. Saya tidak mengerti hukum. Saya cuma tahu Mama sering menangis diam-diam, dan setiap kali Mama melihat Tante Lina, wajah Mama seperti orang yang menelan pecahan kaca." Keira menunduk. "Jadi saya pikir kalau saya memilih Papa, Mama bisa pergi. Mama bisa bebas."

Mei Lin menutup mulut dengan tangan.

Ingatan lama muncul di antara mereka seperti pintu yang akhirnya dibuka paksa. Keira kecil berdiri di ruang sidang dengan sepatu merah muda. Gunawan di belakangnya, tangan berat di bahunya. Mei Lin di seberang sana, air mata sudah jatuh tetapi masih mencoba tersenyum, mungkin berharap putrinya berlari ke arahnya.

Keira kecil tidak berlari.

Ia menyelamatkan ibunya dengan cara paling kejam yang bisa dipikirkan anak kecil.

"Saya tidak membenci Mama," bisik Keira. "Dia tidak pernah membenci Mama."

Kata dia keluar tanpa rencana. Mei Lin mendengarnya, tetapi tidak bertanya. Mungkin ia hanya mengira Keira sedang membicarakan dirinya yang kecil.

Air mata Mei Lin akhirnya jatuh.

"Kei..."

Panggilan itu membuat pertahanan terakhir Keira retak.

Mei Lin bergerak lebih dulu. Ia duduk di tepi ranjang dan memeluk Keira dengan sangat hati-hati, seolah tubuh putrinya masih bisa pecah. Keira kaku satu detik, dua detik, lalu tangannya terangkat perlahan dan menggenggam punggung blus Mei Lin.

Aroma parfum lembut dan teh melati memenuhi hidungnya.

Di dalam pelukan itu, dua kesadaran seperti bertemu di satu titik. Keira yang dewasa merasa lega karena kebenaran akhirnya keluar. Keira kecil di tubuh ini menangis tanpa suara karena akhirnya, akhirnya, Mama tahu.

"Maaf," Mei Lin berbisik berkali-kali. "Mama minta maaf, Kei. Mama seharusnya mencari tahu. Mama seharusnya tidak percaya pada Gunawan."

Keira menutup mata.

"Mama juga korban dia."

Mei Lin memeluknya lebih erat.

Tiga hari kemudian, Keira keluar dari RS Ananda.

Dokter Jason memaksanya membawa obat, vitamin, dan nomor kontak IGD pribadi. Pak Chen menawarkan mengantar sampai pintu rumah Santoso. Mei Lin awalnya ingin ikut, tetapi Keira menolak dengan lembut. Ia hanya perlu mengambil HP, laptop, dan beberapa dokumen kuliah. Setelah itu ia tidak berniat tinggal lebih lama dari perlu.

"Kalau ada apa-apa, telepon Mama," kata Mei Lin di mobil.

Keira menyentuh ponsel baru sementara yang diberikan Mei Lin. "Saya cuma ambil barang. Tidak lama."

"Kei."

Keira menoleh.

Mata Mei Lin lembut, tetapi ada baja di dalamnya. "Kamu tidak harus menghadapi mereka sendirian lagi."

Kalimat itu hangat. Terlalu hangat.

Keira mengangguk. "Saya tahu."

Rumah keluarga Santoso di Pondok Indah tampak sama seperti ingatan tubuh ini. Pagar tinggi, halaman rapi, kaca besar yang selalu dipoles, dan aroma bunga mahal yang tidak pernah berhasil membuat rumah itu terasa hidup.

Saat Keira masuk, seorang ART terkejut melihatnya. Belum sempat wanita itu bicara, suara manis terdengar dari arah tangga.

"Kak Keira?"

Seline Santoso berdiri di anak tangga ketiga dengan gaun rumah warna krem. Rambutnya jatuh rapi, wajahnya terkejut dengan cara yang terlalu indah untuk disebut spontan.

"Kak, kamu ke mana saja? Aku khawatir sekali!"

Ia berlari turun dan mencoba memeluk Keira.

Keira mundur setengah langkah.

Pelukan Seline jatuh kosong di udara.

Senyum gadis itu goyah hanya sekejap, lalu kembali lembut. "Kakak masih marah sama Papa? Sebenarnya Papa juga khawatir. Cuma Papa gengsi."

Keira menatapnya. "HP dan laptop saya di kamar?"

"Kak..." Seline menggigit bibir. "Kenapa dingin sekali? Aku cuma mau bantu."

Di balik tubuhnya, tangan Seline bergerak cepat. Layar ponselnya menyala sebentar.

Keira melihat pantulan samar di vas kaca dekat tangga.

WhatsApp terbuka.

Pesan terkirim ke grup kecil yang namanya disembunyikan sebagian.

Kak Keira sudah pulang.

Keira menurunkan pandangan, lalu tersenyum tipis. "Kalau mau memanggil mereka, setidaknya jangan berdiri di depan vas."

Wajah Seline membeku.

Dari lantai dua, terdengar pintu dibuka keras.

Langkah kaki berat menuruni tangga. Bukan satu orang. Dua.

Keira berdiri di ruang tamu, punggung tegak, tangan kosong, dan untuk pertama kalinya sejak dilahirkan kembali di tubuh ini, ia tidak merasa perlu mundur.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
126 Episode 126
127 Episode 127
128 Episode 128
129 Episode 129
130 Episode 130
Episodes

Updated 130 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125
126
Episode 126
127
Episode 127
128
Episode 128
129
Episode 129
130
Episode 130

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!