Episode 3

Bab 3

"Code Blue!" suara Dokter Jason membelah lorong. "Siapkan defibrilator! Panggil tim resusitasi, sekarang!"

Pintu ruang pemeriksaan tertutup tepat di depan Keira.

Ia berdiri di lorong dengan selimut darurat jatuh di sekitar kakinya. Di balik kaca buram, bayangan orang-orang bergerak cepat. Satu perawat mendorong troli alat. Yang lain menekan kantong ambu. Suara perintah Dokter Jason datang berlapis-lapis, pendek, tajam, tidak memberi ruang untuk panik.

"Kompresi. Hitung."

"Defib siap."

"Clear."

Tubuh Keira menggigil lebih keras. Bukan hanya karena dingin. Di dalam ruangan itu, suara jantung Engkong Tedjo menghilang sejenak, seperti radio yang mendadak kehilangan sinyal.

Pak Chen berdiri tidak jauh darinya. Wajah pria itu sudah tidak merah karena marah. Warnanya pucat, hampir kelabu. Kedua tangannya menggenggam ujung lengan jas basah sendiri sampai kusut.

"Kalau tadi..." suaranya pecah. "Kalau tadi saya menurunkan Nona di jalan..."

Keira tidak menjawab. Ia tidak punya tenaga untuk menghibur orang yang beberapa menit lalu menuduhnya penipu. Ia juga tidak membencinya. Pak Chen hanya melakukan apa yang wajar dilakukan orang loyal saat majikannya terancam.

Yang tidak wajar adalah dunia yang membuat seorang gadis berpiyama kelinci harus menjelaskan isi hati sebuah jantung.

Suara monitor berubah. Dari pekikan panjang menjadi deretan bunyi pendek yang tidak stabil, lalu perlahan menemukan ritmenya.

Di dalam dada Keira, sesuatu ikut kembali bergerak.

Dua jam kemudian, Engkong Tedjo dipindahkan ke ICU dalam keadaan stabil.

Dokter Jason keluar dengan masker menggantung di leher. Rambutnya yang tadi rapi kini sedikit berantakan, tetapi wajahnya kembali dingin. Hanya matanya yang tampak lebih gelap oleh lelah.

"Cardiac arrest berhasil ditangani. Untuk sementara stabil, tapi harus observasi ketat."

Pak Chen menutup wajah dengan kedua tangan. Bahunya turun seperti orang yang baru saja melepas batu besar dari punggung.

Keira duduk di kursi lorong, dibungkus dua selimut, tangan dipasangi infus. Seorang perawat sudah memaksanya mengganti piyama basah dengan baju pasien. Rambutnya masih lembap, tetapi setidaknya tubuhnya tidak lagi terasa seperti terbuat dari es.

Dokter Jason berjalan ke hadapannya.

Ia diam beberapa detik.

Keira mendongak. "Kalau mau tanya riwayat penyakit jiwa lagi, mungkin besok saja. Saya agak mengantuk."

Ada jeda tipis.

Lalu Dokter Jason menundukkan kepala.

"Saya minta maaf."

Keira tidak menyangka pria sedingin itu akan meminta maaf secepat ini. Ia menatapnya, memastikan ia tidak salah dengar.

"Saya menilai Nona dari kondisi luar dan pernyataan yang tidak masuk akal secara medis," lanjut Jason. "Secara profesional, saya tetap tidak bisa menjelaskan bagaimana Nona tahu. Tapi faktanya, peringatan Nona membuat Engkong datang ke rumah sakit sebelum henti jantung terjadi."

Pak Chen juga maju satu langkah. Suaranya lebih rendah.

"Nona Keira, saya juga minta maaf. Saya kasar. Saya hampir... saya hampir membuat Bapak kehilangan kesempatan hidup."

Keira memandang dua orang itu. Rasa puas yang seharusnya muncul ternyata tidak datang. Mungkin karena tubuhnya terlalu lelah. Mungkin karena sejak awal ia tidak ingin menang debat. Ia hanya tidak ingin seseorang mati di depan matanya.

"Engkong selamat. Itu sudah cukup."

Jason menatapnya lebih lama. Kali ini tatapannya tidak seperti memeriksa gejala, tetapi seperti sedang mengukur batas sesuatu yang belum ia pahami.

"Nona tetap harus dirawat malam ini. Suhu tubuh rendah, ada dehidrasi ringan, beberapa luka gesek. Saya sudah siapkan kamar VIP."

"Tidak perlu VIP."

"Itu bukan tawaran." Jason mengambil pulpen dari saku jas putihnya. "Itu instruksi medis."

Pak Chen, mungkin karena masih ingin menebus kesalahan, kembali beberapa menit kemudian membawa bubur hangat dalam mangkuk porselen.

"Dapur rumah sakit membuat ini cepat. Bubur ayam tanpa banyak bumbu. Perawat bilang perut Nona belum boleh langsung makan berat."

Keira menerima mangkuk itu. Uap hangat menyentuh wajahnya. Untuk pertama kalinya sejak ia membuka mata di jalan, sesuatu yang sederhana terasa hampir membuatnya menangis.

"Terima kasih, Pak Chen."

Pria itu menunduk lebih dalam daripada perlu. "Seharusnya saya yang berterima kasih."

Keira makan pelan-pelan. Setiap suapan terasa hambar, tetapi hangatnya turun ke perut seperti bukti kecil bahwa ia belum mati.

Sabtu pagi, hujan sudah berhenti.

Cahaya pucat masuk dari jendela kamar inap Keira. Kota S terlihat basah dan kusam, tetapi tidak lagi mengancam. Setelah tidur tidak sampai empat jam, Keira terbangun oleh suara langkah tertata di koridor.

Pintu kamarnya diketuk pelan.

Seorang wanita masuk bersama Pak Chen.

Wanita itu mengenakan blus sutra warna gading dan celana panjang gelap. Rambutnya disanggul rendah, anting mutiara kecil menempel di telinga, wajahnya anggun dengan ketenangan yang tidak dibuat-buat. Ia bukan tipe orang yang perlu meninggikan suara agar ruangan tahu dirinya penting.

"Nona Keira?" suaranya lembut. "Saya Mei Lin."

Mangkuk air hangat di tangan Keira hampir terlepas.

Nama itu tidak hanya masuk ke telinganya. Nama itu menabrak sesuatu yang tertanam jauh di tubuh ini, lebih tua dari kesadarannya sendiri.

Mama.

Kata itu muncul tanpa izin, bukan dari pikirannya, melainkan dari sisa perasaan pemilik tubuh asli. Rindu yang terlalu lama ditekan, sakit hati yang sudah mengeras, dan satu pertanyaan kecil yang tidak pernah mendapat jawaban: kenapa Mama pergi?

Keira mencengkeram gelas sampai buku jarinya memucat.

Mei Lin tidak menyadari badai kecil itu. Ia duduk di kursi samping ranjang dan meletakkan sebuah amplop putih di meja.

"Engkong sudah sadar sebentar tadi. Dokter Jason melarang terlalu banyak bicara, tapi beliau terus menyebut Nona. Saya datang untuk mengucapkan terima kasih." Ia mendorong amplop itu perlahan. "Ini hanya sedikit tanda terima kasih. Rp 50 juta. Kalau ada kebutuhan lain, katakan pada saya."

Keira menatap amplop itu.

Lima puluh juta rupiah. Bagi keluarga seperti Tanuwijaya, itu mungkin hanya angka sopan. Bagi Keira Santoso yang tadi malam dibuang tanpa ponsel, tanpa dompet, tanpa sepatu layak, angka itu terdengar seperti jarak antara dua dunia.

"Saya tidak menyelamatkan Engkong untuk uang."

Mei Lin tersenyum tipis. "Saya tahu. Justru karena itu saya berterima kasih."

Keira mengangkat wajah. Jantungnya berdetak terlalu keras.

"Nama saya Keira Santoso."

Senyum Mei Lin berhenti.

Untuk beberapa detik, seluruh kelembutan di wajah wanita itu membeku. Bukan menghilang, tetapi tertutup lapisan es yang sangat tipis dan sangat tajam.

"Santoso?"

"Gunawan Santoso adalah ayah kandung saya."

Pak Chen yang berdiri di dekat pintu tampak terkejut. Mei Lin tidak menoleh padanya. Matanya tetap pada Keira.

"Usiamu?"

"Dua puluh."

Warna wajah Mei Lin berubah. Tidak banyak, hanya cukup untuk membuat Keira tahu bahwa ia sedang menghitung tahun, tanggal, luka lama.

Di dalam ingatan tubuh ini, ada ruang sidang yang terlalu besar untuk anak kecil. Ada Gunawan yang menggenggam bahu Keira kecil terlalu keras. Ada Tante Lina berdiri tidak jauh, menunduk seperti wanita paling sabar sedunia. Ada suara hakim bertanya, "Kamu ingin ikut Papa atau Mama?"

Dan ada suara Gunawan malam sebelumnya, rendah di telinga anaknya.

Kalau kamu ikut Mama, Papa tidak akan tanda tangan cerai. Mama kamu tidak akan pernah bebas. Kamu mau membuat Mama menderita selamanya?

Keira kecil menangis sampai napasnya putus-putus. Tetapi di ruang sidang, ia berkata dengan suara yang sudah dilatih.

Aku mau ikut Papa. Aku tidak mau ikut Mama.

Mei Lin menarik napas pelan. Saat ia bicara lagi, suaranya tidak lagi hangat.

"Kamu yang dulu bilang tidak mau ikut Mama."

Kalimat itu mengenai Keira lebih keras daripada angin malam kemarin.

Sisa emosi pemilik tubuh asli menyerbu sampai matanya panas. Keira hampir bisa merasakan tangan kecil yang dulu ingin meraih ujung baju Mei Lin, tetapi dipaksa tetap di sisi tubuh.

Namun Keira sekarang bukan anak kecil itu. Ia menarik napas, menahan air mata di tempatnya.

"Yang terjadi waktu itu ada yang belum Mama tahu."

Mei Lin menatapnya. Dalam tatapan itu ada rindu yang ditahan, marah yang belum sembuh, dan ketakutan untuk percaya lagi.

Sebelum ia menjawab, suara tua terdengar dari pintu.

"Kalau begitu, kita cari tahu pelan-pelan."

Engkong Tedjo duduk di kursi roda, didorong oleh Dokter Jason yang jelas tidak setuju pasien ICU berkeliaran, tetapi kalah oleh keras kepala Engkong.

Wajah Engkong masih pucat. Kabel monitor portabel menempel di dadanya. Namun matanya hidup.

"Keira menyelamatkan nyawaku," katanya. "Aku tidak peduli dia anak siapa, atau kenapa semalam ada di jalan. Mulai hari ini, aku mau menjadikannya cucu angkatku."

Mei Lin membeku.

Keira juga terdiam.

Karena di antara semua kemungkinan yang Keira bayangkan, ia tidak sempat memikirkan bahwa lelaki tua yang baru diselamatkannya akan menawarkan keluarga baru tepat di depan ibu kandungnya sendiri.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
126 Episode 126
127 Episode 127
128 Episode 128
129 Episode 129
130 Episode 130
Episodes

Updated 130 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125
126
Episode 126
127
Episode 127
128
Episode 128
129
Episode 129
130
Episode 130

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!