Episode 5

Bab 5

Keira berdiri di ruang tamu, punggung tegak, tangan kosong, dan untuk pertama kalinya sejak dilahirkan kembali di tubuh ini, ia tidak merasa perlu mundur.

Langkah kaki di tangga semakin dekat.

Seline melihat ke arah lantai dua, lalu kembali menatap Keira. Dalam satu tarikan napas, wajahnya berubah. Panik tipis di matanya meleleh menjadi rasa takut yang lembut. Bibirnya bergetar. Bahunya mengecil, seolah Keira baru saja mengatakan sesuatu yang sangat menyakiti.

"Kak Keira," bisiknya. "Aku cuma khawatir."

Keira menatapnya tanpa ekspresi. "Kalau khawatir, panggil ambulans saat aku diusir malam itu. Bukan panggil penonton saat aku pulang."

Mata Seline berkedip cepat.

"Kakak salah paham. Aku benar-benar tidak tahu kamu pergi ke mana. Papa juga marah karena kamu menghilang begitu saja."

"Aku menghilang?"

Keira baru saja mengulang kata itu ketika Seline tiba-tiba maju dan meraih pergelangan tangannya.

Sentuhan itu ringan, hampir tidak bertenaga. Namun pada detik berikutnya, Seline menarik napas tajam, tubuhnya terhuyung, lalu jatuh ke lantai dengan suara kecil yang menyedihkan.

"Aduh!"

Keira bahkan belum menarik tangan.

Seline meringkuk di lantai, satu tangan memegang pergelangan kaki. Air mata langsung menggantung di bulu matanya, cepat dan terlatih.

"Kak, kenapa dorong aku?"

Langkah di tangga berhenti.

"Seline!"

Alvin lebih dulu turun. Wajahnya keras, rambutnya masih sedikit berantakan, seolah ia baru dibangunkan dari tidur siang yang tidak pantas diganggu. Di belakangnya, Gunawan Santoso muncul dengan kemeja rumah mahal dan ekspresi seseorang yang terbiasa membuat semua orang takut hanya dengan diam.

Alvin melihat Seline di lantai, lalu melihat Keira.

Tidak ada pertanyaan.

Tidak ada jeda.

"Lo baru pulang sudah bikin masalah?"

Keira menatapnya. "Aku belum menyentuhnya."

"Seline jatuh sendiri begitu, maksud lo?" Alvin tertawa kasar. Ia berjongkok membantu Seline duduk, gerakannya penuh drama kakak pelindung. "Dasar nggak tahu diri. Tiga hari nggak pulang, sekarang balik buat nyakitin orang?"

Seline menarik lengan Alvin. "Ko Alvin, jangan marah. Mungkin Kak Keira cuma masih kesal..."

Ko Alvin.

Keira mendengar panggilan itu dan merasakan sesuatu yang dingin lewat di dalam dada. Dulu tubuh ini juga pernah ingin memanggil Alvin seperti itu. Pernah menunggu kakak laki-laki itu membela sekali saja. Yang ia dapat hanya punggung, tuduhan, dan pintu tertutup.

Gunawan turun sampai anak tangga terakhir.

"Keira." Suaranya datar, tetapi lebih tajam daripada bentakan. "Kamu belum selesai mempermalukan keluarga ini?"

Keira menoleh padanya. "Keluarga?"

"Jangan bermain kata dengan saya."

"Saya hanya memastikan. Karena terakhir kali saya berada di sini, Anda menyuruh saya keluar di tengah hujan tanpa payung, tanpa ponsel, tanpa uang."

Gunawan tidak tampak bersalah.

Justru sudut bibirnya turun, seolah Keira menyebut hal kecil yang membuang waktunya.

"Itu hukuman."

"Hukuman yang bisa membuat orang mati."

Alvin berdiri, masih memegang bahu Seline. "Kalau lo nggak dramatis dan cari perhatian, lo nggak akan hampir mati."

Kata hampir mati membuat ruang tamu mendadak terasa lebih dingin.

Di atas kepala mereka, Lampu Gantung tua bergetar sangat pelan.

"Hampir mati katanya..." suara serak terdengar di kepala Keira. "Anak ini biru-biru dibuang hujan, masih dibilang cari perhatian. Manusia di bawah sini sudah karatan semua otaknya."

Keira mengangkat mata sebentar.

Lampu Gantung itu besar, kristalnya sudah kusam, rangkanya tua. Dalam ingatan tubuh ini, benda itu sudah bertahun-tahun tidak dirawat. Bautnya longgar, tetapi keluarga Santoso selalu menunda perbaikan karena "masih bisa menyala".

Di meja kaca, gelas hias ikut bergetar kecil.

"Aku mau pecah boleh nggak?" bisik Gelas Kaca. "Sekali aja. Gemes."

Pintu ruang tamu berderit panjang, padahal tidak ada angin.

"Tenang," gumam Pintu. "Kita lihat dulu."

Keira menurunkan pandangan. Dadanya penuh oleh emosi yang bukan hanya miliknya. Kemarahan pemilik tubuh asli bergerak seperti air banjir di balik bendungan, membawa semua malam panjang, semua tuduhan, semua momen ketika ia mencoba menjadi anak baik dan tetap tidak dipilih.

"Malam itu," kata Keira pelan, "Anda tahu hujan deras sejak sore."

Gunawan menatapnya dingin. "Lalu?"

"Anda tahu saya tidak membawa apa-apa."

"Lalu?"

"Anda tahu jalan depan kompleks sepi kalau sudah malam."

Alvin mendengus. "Kalau takut, harusnya lo minta maaf. Bukannya jalan entah ke mana."

Keira menatapnya. "Jadi kalian tahu."

Untuk pertama kalinya, Alvin terdiam setengah detik.

Gunawan mengangkat dagu. Ia percaya rumah ini miliknya, orang-orang di dalamnya miliknya, dan Keira tidak punya siapa pun di luar sana. Karena itu ia tidak merasa perlu berhati-hati.

"Saya tahu kamu keras kepala. Saya tahu kalau dibiarkan di luar, kamu akan belajar konsekuensi."

"Belajar konsekuensi?"

"Kamu tidak akan mati kalau tidak mencari masalah."

Alvin menambahkan dengan nada lebih kejam, "Dan kalaupun waktu itu lo nggak diselamatkan, mungkin rumah ini malah lebih tenang."

Seline menunduk, tetapi Keira melihat sudut bibirnya bergerak sangat tipis.

Itu dia.

Kalimat yang selama ini menunggu bentuk.

Mereka tahu. Mereka benar-benar tahu.

Keira merasakan kuku jarinya menekan telapak tangan. Tidak sakit. Atau mungkin sakit, tetapi tubuh ini sudah pernah menerima yang lebih buruk.

Yang paling menyakitkan bukan pengakuan itu sendiri, melainkan betapa ringannya mereka mengucapkannya. Seolah nyawa Keira memang tidak pernah lebih berat daripada hujan di halaman rumah.

Dalam hatinya, ia berbicara pada jiwa kecil yang tertinggal di tubuh ini.

Aku dengar. Aku ingat. Aku akan menagih semuanya untukmu.

Lampu Gantung di atas kepala Gunawan bergetar lebih keras.

"Nona kecil," suara benda itu terdengar tua, seperti pelayan lama yang akhirnya muak melihat tuannya. "Minggir sedikit."

Keira tidak bergerak besar. Ia hanya mundur setengah langkah, cukup untuk membuat posisinya keluar dari bawah lingkaran cahaya.

Seline melihat gerakan itu. Matanya menyipit.

"Kak Keira, kamu mau pergi lagi? Papa belum selesai bicara."

"Papa kamu," kata Keira dingin, "bukan urusan saya."

Wajah Gunawan menggelap.

"Apa kamu bilang?"

Keira menatap langsung ke matanya. "Saya bilang, Papa kamu. Bukan saya."

Alvin maju satu langkah. "Jaga mulut lo!"

Saat itulah suara logam tua berbunyi.

Krek.

Semua orang mendongak.

Lampu Gantung bergoyang sekali, dua kali, lalu baut terakhir yang menahannya menyerah dengan suara patah yang kering.

"Permisi jatuh!" teriak Lampu Gantung di kepala Keira. "Target utama, kepala batu!"

Kristal dan rangka logam jatuh tepat ke arah Gunawan.

Gunawan sempat mengangkat tangan, tetapi tubuhnya tidak cukup cepat. Lampu itu menghantam bahu dan kakinya, memecah meja kecil di sampingnya. Suara kaca pecah memenuhi ruang tamu. Alvin melompat mundur terlalu lambat, serpihan kristal menggores lengannya.

Seline menjerit.

ART di belakang rumah ikut berteriak.

Gunawan jatuh ke lantai, wajahnya berubah merah oleh sakit. "Aduh! Kaki saya!"

Alvin memegang lengannya yang berdarah tipis. "Sial! Apa-apaan ini?"

Keira berdiri beberapa langkah dari kekacauan, tak tersentuh satu serpihan pun.

Di lantai, Lampu Gantung mengerang bangga.

"Aduh, pinggangku. Tapi puas. Puas banget."

Gelas Kaca berbisik kagum, "Legend."

Gunawan menatap Keira dengan mata penuh kebencian. "Dasar pembawa sial! Kamu masuk rumah ini, langsung ada bencana!"

Keira menunduk melihat rangka lampu yang patah. Ada rasa hangat aneh di dadanya, bukan karena gembira melihat orang terluka, tetapi karena untuk pertama kalinya, rumah ini tidak sepenuhnya diam.

"Mungkin bukan saya yang sial," katanya. "Mungkin rumah ini yang sudah muak dengan penghuninya."

Wajah Seline pucat. Namun bahkan dalam panik, ia masih mencoba berpikir cepat. Ia merangkak mendekati Gunawan, menangis sambil memegang lengannya.

"Papa, jangan bergerak. Kak Keira, tolong bantu! Kamu yang paling dekat. Ambil kotak P3K, panggil dokter, sesuatu!"

Keira tahu rencana itu saat melihat mata Seline.

Kalau Keira tinggal, ia akan dipaksa mengurus Gunawan. Kalau ia menolak, ia akan disebut anak durhaka. Kalau ia pergi, Seline akan punya cerita baru untuk semua orang: Keira pulang, membuat ayahnya terluka, lalu kabur.

Keira berjongkok, bukan ke arah Gunawan, melainkan ke arah Lampu Gantung yang tergeletak.

Dengan hati-hati, ia mengambil satu bagian rangka yang masih utuh.

"Terima kasih," bisiknya.

Lampu Gantung terisak bangga. "Aku... aku masih bisa diperbaiki?"

"Bisa."

"Jangan bohong ya. Aku masih mau lihat muka mereka kalau nanti kamu bahagia."

"Aku janji."

Alvin menatapnya seperti melihat orang gila. "Lo malah ngomong sama rongsokan?"

Keira berdiri, membawa bagian lampu itu. "Setidaknya rongsokan ini lebih tahu melindungi orang daripada kalian."

Gunawan memukul lantai dengan telapak tangan. "Keira! Kamu tidak akan keluar dari rumah ini sebelum bertanggung jawab!"

"Bertanggung jawab atas kelalaian perawatan rumah Anda?"

"Atas semua kekacauan yang kamu bawa!"

Keira membuka mulut untuk menjawab.

Namun sebelum suaranya keluar, pintu depan terbuka.

Udara siang masuk bersama aroma hujan yang tertinggal di halaman. Pak Chen berdiri di luar dengan wajah kaku. Di depannya, seorang wanita melangkah masuk dengan blus sutra warna gelap, rambut tersanggul rapi, dan mata yang dalam satu detik menyapu seluruh ruangan.

Gunawan di lantai.

Alvin dengan lengan berdarah.

Seline berlutut di samping mereka, wajah penuh air mata palsu yang mendadak tertahan.

Keira berdiri tegak di tengah pecahan kristal, memegang bagian Lampu Gantung yang rusak.

Mei Lin berhenti di ambang pintu.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, mantan istri Gunawan Santoso kembali berdiri di rumah itu, bukan sebagai wanita yang dipaksa pergi, melainkan sebagai ibu yang datang menjemput putrinya.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
126 Episode 126
127 Episode 127
128 Episode 128
129 Episode 129
130 Episode 130
Episodes

Updated 130 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125
126
Episode 126
127
Episode 127
128
Episode 128
129
Episode 129
130
Episode 130

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!