Setelah Benda-Benda Bicara, Seluruh Keluarga Berlutut Memohon Ampun

Setelah Benda-Benda Bicara, Seluruh Keluarga Berlutut Memohon Ampun

Episode 1

Bab 1

Hujan menghantam wajah Keira seperti jarum kecil.

Ia tersadar dengan pipi menempel pada aspal yang dingin. Air mengalir melewati pelipis, masuk ke sudut bibir, membawa rasa debu, bensin, dan darah tipis dari luka di bibirnya. Piyama kelinci yang melekat di tubuhnya sudah berubah berat seperti kain pel. Telinga panjang di tudungnya menempel basah di bahu, tidak lagi lucu, hanya menyedihkan.

Kota S tidak mengenal salju. Malam itu, gantinya adalah hujan deras dan angin yang menggigit tulang.

Jari-jari Keira mati rasa. Saat ia mencoba mengepalkan tangan, yang bergerak hanya sedikit ujung kuku. Napasnya pendek. Setiap tarikan udara terasa seperti menelan air hujan. Lampu kendaraan sesekali lewat jauh, pecah menjadi garis kuning buram di pandangannya, lalu menghilang begitu saja.

Tidak ada yang berhenti.

Tentu saja tidak ada yang berhenti. Siapa yang mau turun di jalan pinggiran kota pada Jumat malam, di bawah hujan segila ini, hanya karena melihat seorang gadis berpiyama kelinci tergeletak di dekat trotoar?

Keira ingin tertawa, tetapi tenggorokannya hanya serak.

Beberapa jam lalu, Gunawan Santoso berdiri di ambang pintu rumah dengan wajah dingin yang tidak berubah sedikit pun.

"Keluar."

Alvin bahkan tidak repot-repot mengambil payung. Ia menyeret Keira melewati ruang tamu, melewati lantai marmer yang biasanya dipoles sampai licin, lalu mendorongnya keluar pagar seolah membuang barang rusak.

Di belakang mereka, Seline memeluk lengan Tante Lina, mata merah, suara kecilnya gemetar manis. "Kak Keira, jangan marah sama Papa. Kalau Kakak minta maaf sekarang, mungkin Papa..."

Pintu pagar menutup sebelum kalimat itu selesai.

Keira sempat berdiri lama di depan rumah Santoso. Lama sekali, sampai penjaga keamanan pura-pura tidak melihat, sampai air hujan menghapus sisa hangat dari kulitnya, sampai ia sadar satu hal yang sangat sederhana.

Mereka benar-benar ingin ia mati.

"Woy, neng!"

Keira membuka mata.

Tidak ada siapa pun di dekatnya. Hanya jalan basah, selokan yang meluap, dan tiang lampu tua di atas kepala yang cahayanya berkedip-kedip.

"Neng piyama kelinci! Iya, lu! Jangan tidur di situ, astaga. Lu mau jadi berita kriminal subuh-subuh?"

Keira menatap tiang lampu itu.

Cahayanya kembali berkedip. Sekali. Dua kali. Seperti orang yang sedang melambaikan tangan dengan panik.

Untuk beberapa detik, dingin di tubuh Keira kalah oleh rasa takut yang lebih aneh. Ia pernah mendengar benda berbicara sebelumnya, di dunia asalnya, sejak kecil. Saat itu semua orang menyebutnya terlalu imajinatif, lalu terlalu stres, lalu mungkin sakit. Ia belajar menutup telinga, mengabaikan suara-suara yang tidak boleh ada.

Tapi ia sudah mati di dunia asalnya. Ia membuka mata di tubuh Keira Santoso, gadis malang dalam novel yang berakhir mengenaskan.

Dan sekarang sebuah lampu jalan sedang memarahinya dalam bahasa gaul.

"Halusinasi," bisik Keira. Bibirnya bergetar. "Aku pasti demam."

"Demam apaan? Gue lampu, bukan jin penunggu tiang!" suara itu menggerutu. "Dengerin gue. Dari arah selatan ada mobil gede. Mahal banget. Harganya mungkin bisa buat beli satu kompleks ruko kecil. Jalannya pelan karena sopirnya takut ban selip."

Keira memaksa lehernya bergerak.

Jauh di ujung jalan, dua sorot lampu putih muncul di balik tirai hujan. Lambat, tapi mendekat.

"Nah itu! Itu dia!" Lampu Jalan terdengar makin heboh. "Gue udah nyala seterang-terangnya dari tadi, tapi mobil-mobil receh pada kabur semua. Yang ini auranya sombong. Mobil mahal biasanya takut lecet, jadi remnya bagus. Lu masih bisa diselamatkan."

Keira tidak punya tenaga untuk menjawab. Ia hanya menghitung.

Jarak kira-kira enam puluh meter. Kecepatan mungkin dua puluh kilometer per jam karena hujan. Jalan basah, waktu reaksi pengemudi satu sampai dua detik. Kalau ia berguling sekarang, tubuhnya masuk ke jalur terlalu cepat. Sopir bisa menghindar tanpa berhenti.

Kalau terlambat sedikit, ia mati sungguhan.

Lucu. Keluarga Santoso membuangnya untuk mati, dan ia masih harus memakai fisika dasar demi mendapat kesempatan hidup.

Keira menggigit bagian dalam pipinya sampai rasa besi pecah di lidah. Sakit itu membangunkan sedikit sisa kesadaran. Ia menekan siku ke aspal. Kulitnya tergores. Lututnya gemetar. Tubuhnya tidak mau menurut, tetapi ia tidak meminta izin pada tubuhnya.

"Sekarang?" tanyanya nyaris tanpa suara.

"Belum, belum! Sabar, neng. Tiga... dua... eh tunggu, mobilnya cakep juga dari dekat. Rolls-Royce, coy. Sombong banget hidungnya."

"Sekarang?"

"Sekarang! Guling!"

Keira mengerahkan seluruh tenaga yang tersisa.

Tubuhnya jatuh ke tengah jalan dengan gerakan buruk, lebih mirip karung basah daripada manusia. Bahunya membentur aspal. Rasa sakit menyambar putih di matanya. Pada saat yang sama, Lampu Jalan di atasnya berkedip-kedip gila, terang, redup, terang lagi, seperti sirene darurat yang keras kepala.

Suara ban menjerit tertahan di atas aspal basah.

Rolls-Royce hitam berhenti kurang dari dua meter dari tubuh Keira.

Untuk sesaat, hanya ada suara hujan.

Lalu pintu depan terbuka. Seorang pria paruh baya turun membawa payung hitam besar. Wajahnya tegang, jasnya langsung basah diterpa angin. Ia membungkuk dan terkejut saat melihat Keira.

"Ya Tuhan... Nona? Nona masih sadar?"

Keira mencoba menjawab, tetapi bibirnya tidak bekerja.

Pintu belakang mobil terbuka. Suara lelaki tua terdengar dari dalam, berat namun masih jernih. "Chen, bawa dia masuk."

"Pak, dia tiba-tiba berguling ke tengah jalan. Ini bisa saja jebakan."

"Kalau jebakan, jebakannya sedang membiru kedinginan," kata lelaki tua itu. "Bawa masuk. Sekarang."

Pak Chen ragu hanya setengah detik. Setelah itu ia menyelipkan satu tangan di bawah bahu Keira dan mengangkatnya dengan hati-hati. Tubuh Keira terlalu lemah untuk merasa malu. Saat ia dipindahkan ke jok belakang, kehangatan kabin langsung membungkusnya seperti selimut tebal.

Aroma kulit mahal, obat gosok samar, dan teh hangat memenuhi hidungnya.

Di sampingnya duduk seorang lelaki tua berambut putih rapi. Wajahnya pucat, tetapi matanya tajam dan tenang. Ia melepas syal dari lehernya sendiri, lalu menaruhnya di bahu Keira.

"Namamu siapa?" tanyanya.

Keira menelan ludah. "Keira."

"Keira," ulang lelaki tua itu pelan. "Saya Sutedjo Tanuwijaya. Orang-orang biasanya memanggil saya Engkong Tedjo."

Nama itu masuk ke kepala Keira seperti kilat.

Tanuwijaya.

Dalam novel yang pernah ia baca, keluarga Tanuwijaya berdiri jauh di atas keluarga Santoso. Enam cucu laki-laki mereka tersebar di bisnis, hukum, medis, hiburan, investigasi, dan esports. Dan Engkong Tedjo...

Keira menoleh perlahan.

Di balik suara hujan yang menghantam kaca mobil, ada suara lain. Bukan dari Lampu Jalan. Bukan dari jok mobil. Bukan dari payung Pak Chen yang masih menetes di luar.

Suara itu datang dari dada Engkong Tedjo.

"Capek banget..."

Keira membeku.

"Kerja terus dari tujuh puluh tahun lebih. Kapan liburnya? Mau mogok... mau istirahat... mau pensiun dini..."

Itu bukan suara manusia. Itu suara lemah yang berdetak tidak teratur, basah, tua, dan putus asa.

Jantung Engkong Tedjo sedang berbicara.

Keira menatap wajah lelaki tua yang baru saja menyelamatkannya. Hangat dari syal di bahunya tiba-tiba terasa terlalu berat. Ia bisa diam. Ia bisa pura-pura tidak mendengar. Orang normal mana yang akan percaya gadis asing berpiyama kelinci yang baru dipungut dari jalan?

Tapi beberapa menit lalu, Lampu Jalan menyelamatkan hidupnya.

Keira menarik napas. Dadanya sakit, tetapi suaranya keluar lebih jelas dari yang ia kira.

"Engkong sebentar lagi mau meninggal."

Terpopuler

Comments

Dey77

Dey77

baru awal baca,
semangat thor💪

2026-07-28

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
126 Episode 126
127 Episode 127
128 Episode 128
129 Episode 129
130 Episode 130
Episodes

Updated 130 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125
126
Episode 126
127
Episode 127
128
Episode 128
129
Episode 129
130
Episode 130

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!