The Lecturer'S Secret Wife

The Lecturer'S Secret Wife

Sembilan Hari Setelah Gerimis

​Suasana kelas Arsitektur Digital siang itu mendadak senyap. Bukan karena pendingin ruangan yang mendadak mati, melainkan karena langkah kaki tegap seorang pria yang baru saja memasuki ruangan.

​Pak Labib.

​Dosen muda berusia 31 tahun itu meletakkan laptopnya di meja dengan ketukan tunggal yang tegas. Wajahnya tampan, tipe ketajaman simetris yang sering membuat mahasiswi semester awal sengaja mengambil baris depan. Namun, tatapan matanya yang dingin dan reputasinya sebagai dosen paling galak di fakultas cukup untuk membuat siapa pun mengurungkan niat untuk sekadar pamer senyum.

​Di barisan paling belakang, Yuna (21 tahun), menarik napas dalam-dalam. Ia sengaja menurunkan topi hoodie-nya rendah-rendah.

​Baru sembilan hari yang lalu, rumahnya dipenuhi karangan bunga duka cita. Sembilan hari yang lalu, ayahnya pergi untuk selamanya. Dan baru tadi malam... pria tegas di depan kelas itu menjabat tangan wali hakim, mengucapkan ijab kabul di hadapan penghulu dalam sebuah acara yang hanya dihadiri oleh lima orang.

​"Saya terima nikahnya Yuna bin Adnan..."

​Suara berat Labib saat mengucapkan kalimat itu tadi malam masih terngiang jelas di telinga Yuna. Pernikahan mendadak ini adalah wasiat terakhir almarhum ayahnya, sahabat karib Labib meskipun usia mereka terpaut jauh. Ayah Yuna tahu hidupnya tak lama lagi karena sakit, dan ia memercayakan putri tunggalnya pada satu-satunya pria yang ia tahu punya integritas tinggi: Labib.

​"Yuna Anindya."

​Suara berat itu memecah lamunan Yuna. Ia tersentak, mendongak, dan mendapati seisi kelas kini tengah berbalik menatapnya. Di depan sana, Labib sedang memegang daftar absensi, menatapnya lurus tanpa ekspresi ragu sedikit pun. Profesional. Seolah tadi malam ia tidak menyematkan cincin di jari manis Yuna.

​"Ya, Pak. Hadir," sahut Yuna pelan, mengangkat tangannya sedikit.

​Labib mengangguk sekilas, lalu beralih ke nama berikutnya tanpa jeda. Tidak ada perlakuan khusus. Memang itu yang Yuna inginkan.

​Satu jam kemudian, setelah kelas berakhir dan mahasiswa lain berhamburan keluar sambil berbisik memuji ketampanan Pak Labib, Yuna tetap diam di kursinya. Sesuai pesan singkat yang masuk ke ponselnya sepuluh menit lalu, ia harus menemui Labib di ruang dosen setelah jam kuliah usai.

​Yuna mengetuk pintu kubikel kerja Labib yang agak tertutup.

​"Masuk," terdengar suara dari dalam.

​Yuna melangkah masuk dan segera menutup pintu di belakangnya. Di ruang yang aromanya seperti campuran kopi hitam dan kertas baru itu, Labib sedang memeriksa beberapa cetakan cetak biru. Pria itu melepas kacamata bacanya, menatap Yuna dengan aura tegas yang biasa ia tunjukkan di kelas.

​"Duduk, Yuna."

​Yuna duduk di kursi kayu di hadapan meja kerja pria yang kini sah menjadi suaminya. Suasana mendadak menjadi sangat canggung.

​"Bagaimana keadaanmu? Sudah makan siang?" tanya Labib. Nada suaranya sedikit melunak dibanding saat mengajar, namun tetap terdengar kaku.

​"Sudah, Pak... eh, Mas," Yuna meralat ucapannya dengan gugup. "Soal yang tadi malam... terima kasih karena Mas Labib mau memenuhi keinginan Papa."

​Labib menyandarkan punggungnya ke kursi, melipat tangan di dada. "Sama-sama. Ayahmu adalah orang baik, Yuna. Menjagamu adalah tanggung jawab yang saya ambil dengan sadar. Tapi, kita perlu bicara tentang bagaimana kita menjalani ini ke depan."

​Yuna meremas ujung kemejanya. Ini adalah momen yang sejak tadi malam membuatnya tidak bisa tidur.

​"Mas Labib," panggil Yuna, memberanikan diri menatap mata elang suaminya. "Saya mau minta satu hal. Tolong... jangan ada satu orang pun di kampus ini yang tahu tentang pernikahan kita. Saya ingin pernikahan ini rahasia. Hanya kita berdua yang tahu."

​Labib menaikkan sebelah alisnya. "Alasannya?"

​"Mas tahu sendiri, Mas Labib itu... dosen yang ditaksir hampir setengah mahasiswi di kampus ini," ujar Yuna blak-blakan, membuat sudut bibir Labib berkedut tipis, entah karena geli atau heran. "Kalau mereka tahu saya, mahasiswi semester enam yang biasa-biasa saja ini, tiba-tiba menikah dengan Mas... saya tidak akan bisa kuliah dengan tenang sampai lulus. Lagipula, saya tidak mau orang-orang mengira nilai-nilai saya bagus karena jalur orang dalam."

​Labib diam sejenak, mengetukkan jemarinya di atas meja, menimbang permintaan gadis di depannya. Yuna masih terlalu muda, dunianya baru saja runtuh karena kehilangan ayah, dan Labib paham ego serta ketakutan mahasiswi di usia Yuna.

​"Baik," jawab Labib akhirnya, suaranya terdengar mutlak. "Pernikahan ini akan tetap rahasia dari publik. Di kampus, saya adalah dosenmu, dan kamu adalah mahasiswaku. Tidak ada pengecualian, tidak ada dispensasi tugas, dan tidak ada perlakuan khusus."

​Yuna menghela napas lega. "Terima kasih, Mas."

​"Tapi," Labib memotong kalimat Yuna, memajukan tubuhnya ke arah meja dengan tatapan yang mengunci pergerakan Yuna. "Ada satu syarat dari saya."

​"Apa, Mas?"

​"Sore ini, kamu harus sudah memindahkan semua barang-barangmu ke rumah saya. Kita tidak mungkin tinggal terpisah setelah menikah, Yuna. Dan satu lagi..." Labib memakai kembali kacamata bacanya, kembali ke mode dosennya yang dingin. "...pastikan kamu tidak terlambat mengumpulkan revisi tugas maket minggu depan. Saya tidak menerima alasan apa pun, bahkan dari istri saya sendiri."

​Yuna menelan ludah. Menikah diam-diam dengan dosen paling galak di kampus ternyata akan menjadi babak baru yang jauh lebih menantang daripada yang ia bayangkan.

Terpopuler

Comments

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Masih awal untuk menilai,Tapi awal yang bagus,Moga Misua nya bukan tipe GONTA GANTI cewek sebelum Nikah ya..🙏

2026-08-14

0

Rian Moontero

Rian Moontero

mampiiirrrrR🤣

2026-07-07

1

lihat semua
Episodes
1 Sembilan Hari Setelah Gerimis
2 Pamitan Yang Berat
3 Berbagi Kamar
4 Perut Yang Berdemo
5 Dua Sisi Pak Dosen
6 Batas Guling Yang Goyah
7 Gosip Di Barisan Belakang
8 Kursi Di Depan Meja Dosen
9 Kekesalan Yuna
10 Langkah Di Selaras Kantin
11 Rencana Di Balik Meja Gambar
12 Rumah Yang Sunyi Dan Kamar Kos Yang Riuh
13 Otoritas Di Balik Pintu Yang Tertutup
14 Penyesalan Sang Dosen
15 Kecupan Pagi Menjelang Siang
16 Pesona Di Kantin Fakultas
17 Bayang-bayang Di Balik Studio
18 Permintaan Yang Terabaikan
19 Ujian Kepercayaan Di Balik Pintu Kamar
20 Dinding Di Samping Kulkas
21 Tamu Tak Di Undang
22 Dekapan Yang Menyembuhkan
23 Pulang Ke Dekapan Yang Sama
24 Batas Yang Belum Terlewati
25 Undangan Malam Dan Alibi Yuna
26 Kalimat yang tertahan
27 Lampu hijau Untuk Malam Ini
28 Layar Hp Yang Menyayat Hati
29 Malam Yang Kacau
30 Pecahnya Benteng Kesabaran
31 Sudut Kamar Dan Kebenaran
32 Akhir Dari Sebuah Rahasia
33 Penyatuan Dua Hati
34 Pelayanan Pagi Dan Tatapan Yang Berbeda
35 Keberangkatan Yang Berbeda
36 Konfrontasi Di Ambang Pintu
37 Badai Gosip Dan Ucapan Selamat
38 Konfrontasi Dua Wanita
39 Janji Dan Kepemilikan Mutlak
40 Deretan Gejala Di Layar Ponsel
41 Permintaan Yang Tak Biasa
42 Lima Buah Alat Uji
43 Lelah Yang Menggelayut
44 Garis Merah Yang Mengubah Segalanya
45 Detak Kehidupan Yang Nyata
46 Sebuah Penantian Dan Resep Cinta
47 Panggilan Baru Yang Menghangatkan
48 Sapaan Pertama Untuk Sang Buah Hati
49 Manisnya Perhatian
50 Janji Di Sela Suapan
51 Sang Jagoan Kecil
52 Keputusan Demi Sang Buah Hati
53 Memasuki Trimester Akhir
54 Hari Yang Di nanti
55 Lahirnya Sang Buah Hati
56 Keajaiban di sepertiga malam
57 Langkah Ringan Kembali Ke Kampus
58 Nama Untuk Sang Jagoan
59 Kehangatan Baru Di Rumah
60 Sentuhan Pertama Seorang Ibu
61 Sinar Mentari Dan Tawa Yang Kembali
62 Pelabuhan Terakhir Dan Cinta Yang Abadi
Episodes

Updated 62 Episodes

1
Sembilan Hari Setelah Gerimis
2
Pamitan Yang Berat
3
Berbagi Kamar
4
Perut Yang Berdemo
5
Dua Sisi Pak Dosen
6
Batas Guling Yang Goyah
7
Gosip Di Barisan Belakang
8
Kursi Di Depan Meja Dosen
9
Kekesalan Yuna
10
Langkah Di Selaras Kantin
11
Rencana Di Balik Meja Gambar
12
Rumah Yang Sunyi Dan Kamar Kos Yang Riuh
13
Otoritas Di Balik Pintu Yang Tertutup
14
Penyesalan Sang Dosen
15
Kecupan Pagi Menjelang Siang
16
Pesona Di Kantin Fakultas
17
Bayang-bayang Di Balik Studio
18
Permintaan Yang Terabaikan
19
Ujian Kepercayaan Di Balik Pintu Kamar
20
Dinding Di Samping Kulkas
21
Tamu Tak Di Undang
22
Dekapan Yang Menyembuhkan
23
Pulang Ke Dekapan Yang Sama
24
Batas Yang Belum Terlewati
25
Undangan Malam Dan Alibi Yuna
26
Kalimat yang tertahan
27
Lampu hijau Untuk Malam Ini
28
Layar Hp Yang Menyayat Hati
29
Malam Yang Kacau
30
Pecahnya Benteng Kesabaran
31
Sudut Kamar Dan Kebenaran
32
Akhir Dari Sebuah Rahasia
33
Penyatuan Dua Hati
34
Pelayanan Pagi Dan Tatapan Yang Berbeda
35
Keberangkatan Yang Berbeda
36
Konfrontasi Di Ambang Pintu
37
Badai Gosip Dan Ucapan Selamat
38
Konfrontasi Dua Wanita
39
Janji Dan Kepemilikan Mutlak
40
Deretan Gejala Di Layar Ponsel
41
Permintaan Yang Tak Biasa
42
Lima Buah Alat Uji
43
Lelah Yang Menggelayut
44
Garis Merah Yang Mengubah Segalanya
45
Detak Kehidupan Yang Nyata
46
Sebuah Penantian Dan Resep Cinta
47
Panggilan Baru Yang Menghangatkan
48
Sapaan Pertama Untuk Sang Buah Hati
49
Manisnya Perhatian
50
Janji Di Sela Suapan
51
Sang Jagoan Kecil
52
Keputusan Demi Sang Buah Hati
53
Memasuki Trimester Akhir
54
Hari Yang Di nanti
55
Lahirnya Sang Buah Hati
56
Keajaiban di sepertiga malam
57
Langkah Ringan Kembali Ke Kampus
58
Nama Untuk Sang Jagoan
59
Kehangatan Baru Di Rumah
60
Sentuhan Pertama Seorang Ibu
61
Sinar Mentari Dan Tawa Yang Kembali
62
Pelabuhan Terakhir Dan Cinta Yang Abadi

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!