Perut Yang Berdemo

​Suara geseran gantungan baju terakhir di dalam lemari menandakan tugas Yuna merapikan barang selesai. Kamar utama yang tadinya kaku dan terlalu maskulin kini mulai sedikit berwarna dengan kehadiran beberapa pernak-pernik milik Yuna.

​Kruuuk...

​Yuna refleks memegangi perutnya. Wajahnya merona merah sendirian di dalam kamar. Rasa sedih karena merindukan rumah dan rasa tegang karena sekamar dengan dosen galak ternyata tidak bisa bernegosiasi dengan urusan cacing di perutnya. Sejak siang tadi setelah kelas Pak Labib berakhir, ia memang belum sempat memasukkan makanan apa pun selain air putih.

​Dengan langkah ragu, Yuna membuka pintu kamar dan turun ke lantai bawah. Aroma gurih yang sangat menggoda langsung menyapa indra penciumannya begitu ia menginjakkan kaki di ruang tengah. Aroma bawang putih ditumis dan bumbu rempah yang kuat.

​'Katanya mau pesan makan malam?' batin Yuna penasaran.

​Yuna berjalan perlahan menuju dapur bersih yang terletak di bagian belakang rumah. Di sana, ia tertegun.

​Labib sudah menanggalkan kemeja rapinya, menyisakan kaus polos hitam yang pas di tubuh tegapnya. Yang membuat Yuna mengerjapkan mata tidak percaya adalah pemandangan di mana dosen paling ditakuti satu fakultas itu sedang memakai celemek abu-abu, dengan lihai mengayunkan spatula di atas wajan. Gerakannya memotong sayuran di talenan bahkan terlihat sangat presisi—tipikal seorang arsitek.

​Yuna berdiri mematung di ambang pintu dapur, merasa sangat tidak berguna. Sebagai anak perempuan satu-satunya, Yuna harus mengakui sebuah kenyataan pahit: dia adalah anak manja yang benar-benar tidak tahu cara memasak. Jangankan membuat hidangan berat, membedakan jahe dan lengkuas saja kadang ia harus bertanya tiga kali pada ibunya. Selama ini, almarhum ayahnya dan ibunya memang terlalu memanjakannya dalam urusan dapur karena ingin Yuna fokus pada sekolah dan kuliahnya.

​Kruuuk...

​Sialnya, suara perut Yuna kembali berbunyi, dan kali ini cukup keras di tengah keheningan dapur.

​Labib mematikan kompor, lalu berbalik. Pria itu menaikkan sebelah alisnya, menatap Yuna yang kini menunduk dalam-dalam sambil meremas ujung kausnya, menahan malu yang luar biasa.

​"Perutmu sudah berdemo," ucap Labib datar, namun ada nada geli yang tersembunyi di balik suaranya. Pria itu melepas celemeknya dan meletakkannya di kursi. "Kebetulan saya batalkan pesan makanan di luar tadi. Di kulkas masih ada bahan segar, jadi saya putuskan untuk masak sendiri."

​"Ma-maaf, Mas... Yuna nggak bantuin," cicit Yuna pelan, masih tidak berani menatap mata suaminya. "Yuna... Yuna sebenarnya nggak bisa masak sama sekali."

​Labib berjalan mendekati meja makan, membawa sepiring nasi goreng gila yang aromanya luar biasa wangi, lengkap dengan telur mata sapi yang pinggirannya renyah sempurna.

​"Saya tahu," jawab Labib santai sambil menarikkan kursi untuk Yuna. "Ayahmu pernah cerita kalau anak gadisnya ini paling anti masuk dapur. Jangankan masak, menyalakan kompor gas saja kamu sering ketakutan, kan?"

​Wajah Yuna makin memerah. Pria 31 tahun di depannya ini ternyata sudah memegang "kartu AS" kelakuannya di rumah sejak dulu.

​"Saya sudah terbiasa hidup sendiri sejak kuliah, jadi memasak bukan hal sulit untuk saya," lanjut Labib, menduduki kursi di seberang Yuna. Ia menyodorkan sendok dan garpu ke hadapan istrinya. "Duduk dan makanlah. Saya tidak mau besok kamu pingsan di kelas saya hanya karena kelaparan."

​Yuna akhirnya duduk dengan canggung, menerima sendok itu. "Terima kasih, Mas Labib."

​Saat suapan pertama masuk ke dalam mulutnya, mata Yuna langsung melebar. Rasa gurih, manis, dan sedikit pedas berpadu dengan pas. Nasi goreng buatan dosen galak ini jauh lebih enak daripada nasi goreng langganannya di dekat kos-kosan kampus.

​"Enak?" tanya Labib, yang sejak tadi memperhatikan ekspresi wajah Yuna sambil meminum air putihnya.

​"Enak banget, Mas!" jawab Yuna jujur dan antusias, melupakan sejenak rasa canggungnya.

​Melihat binar di mata Yuna yang sempat redup selama sembilan hari terakhir, sudut bibir Labib terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat jarang—bahkan tidak pernah—ia tunjukkan pada siapa pun di area kampus.

​"Habiskan. Setelah ini, kamu yang punya tugas mencuci piringnya," kata Labib, kembali ke mode tegasnya. "Anggap saja itu bagi tugas karena kamu tidak bisa memasak."

​Yuna tersedak kecil, lalu mengangguk cepat. "Siap, Mas! Kalau cuma cuci piring, Yuna bisa kok!"

​Di bawah lampu dapur yang hangat malam itu, Yuna menyadari satu hal. Di balik dinding es dan sikap galak Pak Labib yang ditakuti ribuan mahasiswa, pria berumur 31 tahun yang kini berstatus sebagai suaminya itu memiliki sisi hangat yang perlahan-lahan mulai terbuka, khusus untuk dirinya sendiri.

Episodes
1 Sembilan Hari Setelah Gerimis
2 Pamitan Yang Berat
3 Berbagi Kamar
4 Perut Yang Berdemo
5 Dua Sisi Pak Dosen
6 Batas Guling Yang Goyah
7 Gosip Di Barisan Belakang
8 Kursi Di Depan Meja Dosen
9 Kekesalan Yuna
10 Langkah Di Selaras Kantin
11 Rencana Di Balik Meja Gambar
12 Rumah Yang Sunyi Dan Kamar Kos Yang Riuh
13 Otoritas Di Balik Pintu Yang Tertutup
14 Penyesalan Sang Dosen
15 Kecupan Pagi Menjelang Siang
16 Pesona Di Kantin Fakultas
17 Bayang-bayang Di Balik Studio
18 Permintaan Yang Terabaikan
19 Ujian Kepercayaan Di Balik Pintu Kamar
20 Dinding Di Samping Kulkas
21 Tamu Tak Di Undang
22 Dekapan Yang Menyembuhkan
23 Pulang Ke Dekapan Yang Sama
24 Batas Yang Belum Terlewati
25 Undangan Malam Dan Alibi Yuna
26 Kalimat yang tertahan
27 Lampu hijau Untuk Malam Ini
28 Layar Hp Yang Menyayat Hati
29 Malam Yang Kacau
30 Pecahnya Benteng Kesabaran
31 Sudut Kamar Dan Kebenaran
32 Akhir Dari Sebuah Rahasia
33 Penyatuan Dua Hati
34 Pelayanan Pagi Dan Tatapan Yang Berbeda
35 Keberangkatan Yang Berbeda
36 Konfrontasi Di Ambang Pintu
37 Badai Gosip Dan Ucapan Selamat
38 Konfrontasi Dua Wanita
39 Janji Dan Kepemilikan Mutlak
40 Deretan Gejala Di Layar Ponsel
41 Permintaan Yang Tak Biasa
42 Lima Buah Alat Uji
43 Lelah Yang Menggelayut
44 Garis Merah Yang Mengubah Segalanya
45 Detak Kehidupan Yang Nyata
46 Sebuah Penantian Dan Resep Cinta
47 Panggilan Baru Yang Menghangatkan
48 Sapaan Pertama Untuk Sang Buah Hati
49 Manisnya Perhatian
50 Janji Di Sela Suapan
51 Sang Jagoan Kecil
52 Keputusan Demi Sang Buah Hati
53 Memasuki Trimester Akhir
54 Hari Yang Di nanti
55 Lahirnya Sang Buah Hati
56 Keajaiban di sepertiga malam
57 Langkah Ringan Kembali Ke Kampus
58 Nama Untuk Sang Jagoan
59 Kehangatan Baru Di Rumah
60 Sentuhan Pertama Seorang Ibu
61 Sinar Mentari Dan Tawa Yang Kembali
62 Pelabuhan Terakhir Dan Cinta Yang Abadi
Episodes

Updated 62 Episodes

1
Sembilan Hari Setelah Gerimis
2
Pamitan Yang Berat
3
Berbagi Kamar
4
Perut Yang Berdemo
5
Dua Sisi Pak Dosen
6
Batas Guling Yang Goyah
7
Gosip Di Barisan Belakang
8
Kursi Di Depan Meja Dosen
9
Kekesalan Yuna
10
Langkah Di Selaras Kantin
11
Rencana Di Balik Meja Gambar
12
Rumah Yang Sunyi Dan Kamar Kos Yang Riuh
13
Otoritas Di Balik Pintu Yang Tertutup
14
Penyesalan Sang Dosen
15
Kecupan Pagi Menjelang Siang
16
Pesona Di Kantin Fakultas
17
Bayang-bayang Di Balik Studio
18
Permintaan Yang Terabaikan
19
Ujian Kepercayaan Di Balik Pintu Kamar
20
Dinding Di Samping Kulkas
21
Tamu Tak Di Undang
22
Dekapan Yang Menyembuhkan
23
Pulang Ke Dekapan Yang Sama
24
Batas Yang Belum Terlewati
25
Undangan Malam Dan Alibi Yuna
26
Kalimat yang tertahan
27
Lampu hijau Untuk Malam Ini
28
Layar Hp Yang Menyayat Hati
29
Malam Yang Kacau
30
Pecahnya Benteng Kesabaran
31
Sudut Kamar Dan Kebenaran
32
Akhir Dari Sebuah Rahasia
33
Penyatuan Dua Hati
34
Pelayanan Pagi Dan Tatapan Yang Berbeda
35
Keberangkatan Yang Berbeda
36
Konfrontasi Di Ambang Pintu
37
Badai Gosip Dan Ucapan Selamat
38
Konfrontasi Dua Wanita
39
Janji Dan Kepemilikan Mutlak
40
Deretan Gejala Di Layar Ponsel
41
Permintaan Yang Tak Biasa
42
Lima Buah Alat Uji
43
Lelah Yang Menggelayut
44
Garis Merah Yang Mengubah Segalanya
45
Detak Kehidupan Yang Nyata
46
Sebuah Penantian Dan Resep Cinta
47
Panggilan Baru Yang Menghangatkan
48
Sapaan Pertama Untuk Sang Buah Hati
49
Manisnya Perhatian
50
Janji Di Sela Suapan
51
Sang Jagoan Kecil
52
Keputusan Demi Sang Buah Hati
53
Memasuki Trimester Akhir
54
Hari Yang Di nanti
55
Lahirnya Sang Buah Hati
56
Keajaiban di sepertiga malam
57
Langkah Ringan Kembali Ke Kampus
58
Nama Untuk Sang Jagoan
59
Kehangatan Baru Di Rumah
60
Sentuhan Pertama Seorang Ibu
61
Sinar Mentari Dan Tawa Yang Kembali
62
Pelabuhan Terakhir Dan Cinta Yang Abadi

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!