Pamitan Yang Berat

​Gerbang kampus yang padat sore itu dilewati Yuna dengan perasaan campur aduk. Di dalam tas ranselnya, selain buku kuliah, kini tersimpan sebuah kunci rumah baru—kunci rumah Labib. Sesuai kesepakatan mereka di ruang dosen tadi, sore ini ia harus mulai mencicil memindahkan barang-barangnya.

​Perjalanan pulang ke rumah dengan angkutan kota terasa lebih lambat dari biasanya. Pikirannya melayang pada ibunya. Sejak kepergian sang ayah sembilan hari yang lalu, rumah mereka terasa begitu sepi. Namun, ada satu hal yang membuat dada Yuna sedikit lebih lapang dan tenang untuk melangkah pergi: keberadaan adik laki-lakinya.

​Begitu sampai di depan rumah minimalis bercat putih pudar milik keluarganya, Yuna menarik napas dalam-dalam sebelum membuka pintu.

​"Assalamu'alaikum," ucap Yuna melangkah masuk.

​"Wa'alaikumussalam. Eh, Mbak Yuna udah pulang," sebuah suara basah khas remaja menyahut.

​Seorang anak laki-laki bertubuh jangkung yang masih mengenakan seragam putih-biru keluar dari arah dapur sambil memegang segelas air. Itu Andra (15 tahun), adik laki-laki Yuna yang kini duduk di bangku kelas 3 SMP. Meskipun usianya masih remaja, kehilangan figur ayah secara mendadak tampaknya memaksa Andra tumbuh dewasa lebih cepat dalam semalam.

​"Ibu di mana, Ndra?" tanya Yuna sambil meletakkan tasnya di kursi ruang tamu.

​"Di kamar, Mbak. Tadi habis minum obat terus tiduran. Tapi udah mendingan kok, tadi udah mau makan bubur sedikit," jawab Andra tenang. Ia menatap kakaknya dengan pandangan yang jauh lebih dewasa dari usianya. "Mbak Yuna... jadi pindah sore ini?"

​Yuna mengangguk pelan, menyentuh bahu adiknya. Ada rasa bersalah yang menyelusup di hatinya karena harus meninggalkan rumah di masa-masa sulit seperti ini. Namun, wasiat almarhum ayahnya dan pernikahan rahasia ini adalah jalur yang harus ia tempuh.

​"Maafin Mbak ya, Ndra. Mbak malah harus pergi ke rumah Mas Labib sekarang. Kamu... nggak apa-apa kan kalau Mbak tinggal?" tanya Yuna lirih, matanya mulai berkaca-kaca.

​Andra tersenyum tipis, lalu menepuk punggung tangan kakaknya dengan mantap. "Mbak Yuna nggak usah kepikiran. Kan ini maunya Almarhum Papa. Mas Labib juga orang baik, Papa percaya banget sama dia. Soal Ibu, Mbak tenang aja. Andra yang bakal jagain Ibu di sini. Andra kan udah gede, udah mau SMA. Mbak fokus aja sama kuliah dan... rumah tangga baru Mbak."

​Mendengar kalimat itu keluar dari mulut adiknya, beban berat yang sejak tadi menggelayuti pundak Yuna seketika luruh. Kehadiran Andra yang bertanggung jawab adalah berkah terbesar bagi Yuna saat ini. Setidaknya, ia tahu ibunya tidak akan sendirian.

​"Makasih ya, Ndra. Kamu emang adik terbaik," ucap Yuna, menahan haru agar tidak menangis.

​Yuna melangkah ke kamar ibunya dengan perlahan. Di dalam, sang ibu sedang bersandar di kepala ranjang, wajahnya masih pucat namun guratan senyum tulus langsung terukir menyambut putri tunggalnya.

​"Yuna... sudah siap-siap, Nak?" tanya Ibu lembut.

​Ibu adalah satu dari sedikit orang yang tahu tentang pernikahan ini, karena beliau juga hadir sebagai saksi tadi malam. Ibu tahu betul komitmen Labib untuk menjaga Yuna, dan beliau mengikhlaskan putrinya diboyong oleh suaminya.

​"Sudah, Bu. Yuna cuma bawa satu koper baju dulu dan beberapa buku kuliah penting. Sisanya biar tetap di sini," kata Yuna sambil duduk di tepi ranjang, memeluk ibunya erat-erat.

​"Nurut ya sama suamimu. Nak Labib itu memang kelihatan tegas dan kaku, tapi dia laki-laki yang bertanggung jawab. Ibu tenang melepas kamu sama dia," bisik Ibu sambil mengusap rambut Yuna. "Jangan khawatirkan Ibu di sini. Ada Andra yang nemenin."

​"Iya, Bu. Yuna bakal sering-sering pulang ke sini kalau Mas Labib nggak ada jadwal padat," janji Yuna.

​Setelah berpamitan dengan pelukan hangat dan beberapa tetes air mata yang tak bisa dibendung, Yuna akhirnya keluar ke teras rumah membawa sebuah koper berukuran sedang. Andra mengantarnya sampai ke depan pagar.

​"Ndra, kalau ada apa-apa sama Ibu, langsung telepon Mbak ya. Nggak usah sungkan," pesan Yuna sekali lagi sebelum naik ke taksi online yang sudah ia pesan.

​"Siap, Mbak. Santai aja, Andra handle semua di sini. Salam buat Mas Labib... eh, Kakak Ipar," goda Andra dengan kedipan mata, mencoba mencairkan suasana sedih.

​Yuna terkekeh pelan, melambaikan tangan dari dalam mobil saat taksi mulai bergerak menjauh. Rasa tenangnya karena Andra menjaga Ibu menjadi modal kekuatan bagi Yuna. Namun, begitu mobil berbelok ke arah kompleks perumahan tempat Labib tinggal, rasa tenang itu perlahan berganti menjadi debaran jantung yang menggila.

​Sore menjelang malam ini, ia bukan lagi sekadar mahasiswi yang pulang ke rumah. Ia sedang menuju ke rumah seorang dosen galak berumur 31 tahun, tempat di mana statusnya berubah total menjadi seorang istri.

Terpopuler

Comments

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Kasian ibunya baru aja ditinggalkan suami sekarang ditinggalin sama anaknya,minimal tunggu 40 hari bapaknya lah,baru sang ibu punya kekuatan balik..

2026-08-14

0

lihat semua
Episodes
1 Sembilan Hari Setelah Gerimis
2 Pamitan Yang Berat
3 Berbagi Kamar
4 Perut Yang Berdemo
5 Dua Sisi Pak Dosen
6 Batas Guling Yang Goyah
7 Gosip Di Barisan Belakang
8 Kursi Di Depan Meja Dosen
9 Kekesalan Yuna
10 Langkah Di Selaras Kantin
11 Rencana Di Balik Meja Gambar
12 Rumah Yang Sunyi Dan Kamar Kos Yang Riuh
13 Otoritas Di Balik Pintu Yang Tertutup
14 Penyesalan Sang Dosen
15 Kecupan Pagi Menjelang Siang
16 Pesona Di Kantin Fakultas
17 Bayang-bayang Di Balik Studio
18 Permintaan Yang Terabaikan
19 Ujian Kepercayaan Di Balik Pintu Kamar
20 Dinding Di Samping Kulkas
21 Tamu Tak Di Undang
22 Dekapan Yang Menyembuhkan
23 Pulang Ke Dekapan Yang Sama
24 Batas Yang Belum Terlewati
25 Undangan Malam Dan Alibi Yuna
26 Kalimat yang tertahan
27 Lampu hijau Untuk Malam Ini
28 Layar Hp Yang Menyayat Hati
29 Malam Yang Kacau
30 Pecahnya Benteng Kesabaran
31 Sudut Kamar Dan Kebenaran
32 Akhir Dari Sebuah Rahasia
33 Penyatuan Dua Hati
34 Pelayanan Pagi Dan Tatapan Yang Berbeda
35 Keberangkatan Yang Berbeda
36 Konfrontasi Di Ambang Pintu
37 Badai Gosip Dan Ucapan Selamat
38 Konfrontasi Dua Wanita
39 Janji Dan Kepemilikan Mutlak
40 Deretan Gejala Di Layar Ponsel
41 Permintaan Yang Tak Biasa
42 Lima Buah Alat Uji
43 Lelah Yang Menggelayut
44 Garis Merah Yang Mengubah Segalanya
45 Detak Kehidupan Yang Nyata
46 Sebuah Penantian Dan Resep Cinta
47 Panggilan Baru Yang Menghangatkan
48 Sapaan Pertama Untuk Sang Buah Hati
49 Manisnya Perhatian
50 Janji Di Sela Suapan
51 Sang Jagoan Kecil
52 Keputusan Demi Sang Buah Hati
53 Memasuki Trimester Akhir
54 Hari Yang Di nanti
55 Lahirnya Sang Buah Hati
56 Keajaiban di sepertiga malam
57 Langkah Ringan Kembali Ke Kampus
58 Nama Untuk Sang Jagoan
59 Kehangatan Baru Di Rumah
60 Sentuhan Pertama Seorang Ibu
61 Sinar Mentari Dan Tawa Yang Kembali
62 Pelabuhan Terakhir Dan Cinta Yang Abadi
Episodes

Updated 62 Episodes

1
Sembilan Hari Setelah Gerimis
2
Pamitan Yang Berat
3
Berbagi Kamar
4
Perut Yang Berdemo
5
Dua Sisi Pak Dosen
6
Batas Guling Yang Goyah
7
Gosip Di Barisan Belakang
8
Kursi Di Depan Meja Dosen
9
Kekesalan Yuna
10
Langkah Di Selaras Kantin
11
Rencana Di Balik Meja Gambar
12
Rumah Yang Sunyi Dan Kamar Kos Yang Riuh
13
Otoritas Di Balik Pintu Yang Tertutup
14
Penyesalan Sang Dosen
15
Kecupan Pagi Menjelang Siang
16
Pesona Di Kantin Fakultas
17
Bayang-bayang Di Balik Studio
18
Permintaan Yang Terabaikan
19
Ujian Kepercayaan Di Balik Pintu Kamar
20
Dinding Di Samping Kulkas
21
Tamu Tak Di Undang
22
Dekapan Yang Menyembuhkan
23
Pulang Ke Dekapan Yang Sama
24
Batas Yang Belum Terlewati
25
Undangan Malam Dan Alibi Yuna
26
Kalimat yang tertahan
27
Lampu hijau Untuk Malam Ini
28
Layar Hp Yang Menyayat Hati
29
Malam Yang Kacau
30
Pecahnya Benteng Kesabaran
31
Sudut Kamar Dan Kebenaran
32
Akhir Dari Sebuah Rahasia
33
Penyatuan Dua Hati
34
Pelayanan Pagi Dan Tatapan Yang Berbeda
35
Keberangkatan Yang Berbeda
36
Konfrontasi Di Ambang Pintu
37
Badai Gosip Dan Ucapan Selamat
38
Konfrontasi Dua Wanita
39
Janji Dan Kepemilikan Mutlak
40
Deretan Gejala Di Layar Ponsel
41
Permintaan Yang Tak Biasa
42
Lima Buah Alat Uji
43
Lelah Yang Menggelayut
44
Garis Merah Yang Mengubah Segalanya
45
Detak Kehidupan Yang Nyata
46
Sebuah Penantian Dan Resep Cinta
47
Panggilan Baru Yang Menghangatkan
48
Sapaan Pertama Untuk Sang Buah Hati
49
Manisnya Perhatian
50
Janji Di Sela Suapan
51
Sang Jagoan Kecil
52
Keputusan Demi Sang Buah Hati
53
Memasuki Trimester Akhir
54
Hari Yang Di nanti
55
Lahirnya Sang Buah Hati
56
Keajaiban di sepertiga malam
57
Langkah Ringan Kembali Ke Kampus
58
Nama Untuk Sang Jagoan
59
Kehangatan Baru Di Rumah
60
Sentuhan Pertama Seorang Ibu
61
Sinar Mentari Dan Tawa Yang Kembali
62
Pelabuhan Terakhir Dan Cinta Yang Abadi

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!