Dua Sisi Pak Dosen

​Malam makin larut. Suara gemercik air keran di wastafel dapur perlahan berhenti seiring dengan piring terakhir yang selesai dibilas oleh Yuna. Sesuai janjinya, ia menuntaskan tugas mencuci piring dengan bersih, meskipun beberapa kali sempat melirik ruang tengah memastikan keberadaan Labib.

​Pria itu sedang duduk di sofa dengan laptop di pangkuannya, kacamata bacanya kembali terpasang. Jari-jarinya menari dengan cepat di atas papan ketik, kemungkinan besar sedang memeriksa draf tugas akhir mahasiswa atau menyusun materi kuliah untuk besok pagi. Aura serius dan berwibawa itu kembali menguar kuat.

​Yuna berjalan perlahan mendekat, membawa dua cangkir teh hangat yang baru saja ia seduh—satu-satunya hal di dapur yang ia yakin tidak akan gagal ia buat.

​"Mas Labib, ini tehnya," kata Yuna pelan, meletakkan cangkir itu di meja kopi di depan Labib.

​"Ya, terima kasih, Yuna," sahut Labib tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop. Namun, tangannya terulur meraih cangkir tersebut dan menyesapnya sedikit. "Duduklah."

​Yuna mengambil posisi duduk di ujung sofa yang sama, memberikan jarak yang cukup aman. Ia memeluk lututnya, menatap profil samping wajah suaminya dari balik helaian rambutnya. Pikiran yang sejak sore mengganjal di kepalanya mendadak menuntut untuk dikeluarkan.

​"Mas," panggil Yuna ragu.

​"Ya?" Labib menurunkan sedikit layar laptopnya, kini menatap Yuna sepenuhnya.

​"Yuna boleh tanya sesuatu?"

​"Tanya saja."

​Yuna menggigit bibir bawahnya sejenak, menimbang-nimbang apakah pertanyaannya ini akan membuat dosen di depannya ini tersinggung atau tidak. "Kenapa... Mas Labib kalau di kampus galak banget? Maksud Yuna, dingin, tegas, dan nggak pernah senyum sama sekali sampai semua mahasiswa takut. Tapi..." Yuna menjeda kalimatnya, wajahnya agak memanas. "...tapi kalau di rumah, sama Yuna, Mas baik banget. Bahkan mau masakin nasi goreng. Rasanya kayak... beda orang."

​Labib terdiam sebentar. Pria berumur 31 tahun itu meletakkan laptopnya ke meja, lalu menyandarkan punggungnya ke sofa. Matanya menatap Yuna dengan kehangatan yang lagi-lagi membuat jantung Yuna berdesir.

​Sebuah senyuman tipis, hampir tak kentara, muncul di wajah tampan itu.

​"Kamu mau tahu alasannya?" tanya Labib dengan suara beratnya yang tenang.

​Yuna mengangguk cepat, matanya berbinar penasaran.

​"Di kampus, saya memegang tanggung jawab besar," jelas Labib, nadanya terdengar seperti seorang mentor yang sedang berbagi ilmu. "Dunia arsitektur itu keras, Yuna. Garis yang salah satu milimeter saja di atas kertas bisa membuat sebuah bangunan runtuh di dunia nyata dan membahayakan nyawa orang. Saya tidak bisa bersikap lembek atau memaklumi kelalaian mahasiswa. Sikap tegas saya adalah cara saya mendidik kalian agar menjadi profesional yang berintegritas. Lagipula..." Labib menggantung kalimatnya, menatap Yuna dengan tatapan intens. "...kalau saya terlalu ramah, mahasiswa tidak akan fokus belajar, melainkan fokus pada hal lain."

​Yuna langsung teringat desas-desus di kampus tentang deretan mahasiswi yang sengaja berdandan heboh demi menarik perhatian Pak Labib. Apa yang dikatakan suaminya memang ada benarnya. Sikap galak itu adalah tameng profesionalitasnya.

​"Lalu... kenapa sama Yuna beda?" kejar Yuna lagi, suaranya makin lirih.

​Labib memajukan tubuhnya, memotong jarak di antara mereka. Pria itu mengulurkan tangan, mengusap puncak kepala Yuna dengan sangat lembut—sebuah sentuhan yang membuat Yuna merasa begitu dilindungi.

​"Karena di sini, saya bukan Pak Labib dosenmu," ujar Labib pelan namun sarat akan penegasan. "Di sini, saya adalah suamimu. Rumah ini adalah tempat di mana saya melepas semua topeng profesionalitas itu. Tugas saya di rumah ini bukan untuk menguji atau menilaimu, Yuna. Tugas saya di sini adalah menjagamu, menyayangimu, dan memastikan kamu merasa aman setelah kehilangan ayahmu."

​Labib menarik kembali tangannya, lalu menepuk pelan ruang kosong di sofa di sebelahnya. "Kamu tidak perlu takut atau canggung lagi di rumah ini. Saya tidak akan pernah membawa sikap galak di kampus itu ke hadapan istri saya sendiri."

​Mendengar penuturan jujur dan tulus dari Labib, dinding kecanggungan di hati Yuna perlahan mulai terkikis. Rasa heran yang tadi menggelayuti pikirannya kini berubah menjadi rasa syukur yang mendalam. Di balik sosok "dosen pembunuh" yang ditakuti satu universitas, ada seorang pria matang yang memperlakukannya bak seorang ratu di dunia rahasia mereka berdua.

Episodes
1 Sembilan Hari Setelah Gerimis
2 Pamitan Yang Berat
3 Berbagi Kamar
4 Perut Yang Berdemo
5 Dua Sisi Pak Dosen
6 Batas Guling Yang Goyah
7 Gosip Di Barisan Belakang
8 Kursi Di Depan Meja Dosen
9 Kekesalan Yuna
10 Langkah Di Selaras Kantin
11 Rencana Di Balik Meja Gambar
12 Rumah Yang Sunyi Dan Kamar Kos Yang Riuh
13 Otoritas Di Balik Pintu Yang Tertutup
14 Penyesalan Sang Dosen
15 Kecupan Pagi Menjelang Siang
16 Pesona Di Kantin Fakultas
17 Bayang-bayang Di Balik Studio
18 Permintaan Yang Terabaikan
19 Ujian Kepercayaan Di Balik Pintu Kamar
20 Dinding Di Samping Kulkas
21 Tamu Tak Di Undang
22 Dekapan Yang Menyembuhkan
23 Pulang Ke Dekapan Yang Sama
24 Batas Yang Belum Terlewati
25 Undangan Malam Dan Alibi Yuna
26 Kalimat yang tertahan
27 Lampu hijau Untuk Malam Ini
28 Layar Hp Yang Menyayat Hati
29 Malam Yang Kacau
30 Pecahnya Benteng Kesabaran
31 Sudut Kamar Dan Kebenaran
32 Akhir Dari Sebuah Rahasia
33 Penyatuan Dua Hati
34 Pelayanan Pagi Dan Tatapan Yang Berbeda
35 Keberangkatan Yang Berbeda
36 Konfrontasi Di Ambang Pintu
37 Badai Gosip Dan Ucapan Selamat
38 Konfrontasi Dua Wanita
39 Janji Dan Kepemilikan Mutlak
40 Deretan Gejala Di Layar Ponsel
41 Permintaan Yang Tak Biasa
42 Lima Buah Alat Uji
43 Lelah Yang Menggelayut
44 Garis Merah Yang Mengubah Segalanya
45 Detak Kehidupan Yang Nyata
46 Sebuah Penantian Dan Resep Cinta
47 Panggilan Baru Yang Menghangatkan
48 Sapaan Pertama Untuk Sang Buah Hati
49 Manisnya Perhatian
50 Janji Di Sela Suapan
51 Sang Jagoan Kecil
52 Keputusan Demi Sang Buah Hati
53 Memasuki Trimester Akhir
54 Hari Yang Di nanti
55 Lahirnya Sang Buah Hati
56 Keajaiban di sepertiga malam
57 Langkah Ringan Kembali Ke Kampus
58 Nama Untuk Sang Jagoan
59 Kehangatan Baru Di Rumah
60 Sentuhan Pertama Seorang Ibu
61 Sinar Mentari Dan Tawa Yang Kembali
62 Pelabuhan Terakhir Dan Cinta Yang Abadi
Episodes

Updated 62 Episodes

1
Sembilan Hari Setelah Gerimis
2
Pamitan Yang Berat
3
Berbagi Kamar
4
Perut Yang Berdemo
5
Dua Sisi Pak Dosen
6
Batas Guling Yang Goyah
7
Gosip Di Barisan Belakang
8
Kursi Di Depan Meja Dosen
9
Kekesalan Yuna
10
Langkah Di Selaras Kantin
11
Rencana Di Balik Meja Gambar
12
Rumah Yang Sunyi Dan Kamar Kos Yang Riuh
13
Otoritas Di Balik Pintu Yang Tertutup
14
Penyesalan Sang Dosen
15
Kecupan Pagi Menjelang Siang
16
Pesona Di Kantin Fakultas
17
Bayang-bayang Di Balik Studio
18
Permintaan Yang Terabaikan
19
Ujian Kepercayaan Di Balik Pintu Kamar
20
Dinding Di Samping Kulkas
21
Tamu Tak Di Undang
22
Dekapan Yang Menyembuhkan
23
Pulang Ke Dekapan Yang Sama
24
Batas Yang Belum Terlewati
25
Undangan Malam Dan Alibi Yuna
26
Kalimat yang tertahan
27
Lampu hijau Untuk Malam Ini
28
Layar Hp Yang Menyayat Hati
29
Malam Yang Kacau
30
Pecahnya Benteng Kesabaran
31
Sudut Kamar Dan Kebenaran
32
Akhir Dari Sebuah Rahasia
33
Penyatuan Dua Hati
34
Pelayanan Pagi Dan Tatapan Yang Berbeda
35
Keberangkatan Yang Berbeda
36
Konfrontasi Di Ambang Pintu
37
Badai Gosip Dan Ucapan Selamat
38
Konfrontasi Dua Wanita
39
Janji Dan Kepemilikan Mutlak
40
Deretan Gejala Di Layar Ponsel
41
Permintaan Yang Tak Biasa
42
Lima Buah Alat Uji
43
Lelah Yang Menggelayut
44
Garis Merah Yang Mengubah Segalanya
45
Detak Kehidupan Yang Nyata
46
Sebuah Penantian Dan Resep Cinta
47
Panggilan Baru Yang Menghangatkan
48
Sapaan Pertama Untuk Sang Buah Hati
49
Manisnya Perhatian
50
Janji Di Sela Suapan
51
Sang Jagoan Kecil
52
Keputusan Demi Sang Buah Hati
53
Memasuki Trimester Akhir
54
Hari Yang Di nanti
55
Lahirnya Sang Buah Hati
56
Keajaiban di sepertiga malam
57
Langkah Ringan Kembali Ke Kampus
58
Nama Untuk Sang Jagoan
59
Kehangatan Baru Di Rumah
60
Sentuhan Pertama Seorang Ibu
61
Sinar Mentari Dan Tawa Yang Kembali
62
Pelabuhan Terakhir Dan Cinta Yang Abadi

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!