Episode 2

Bab 2

Nana tidak langsung menjawab.

Kalimat Stella masih menggantung di antara mereka, lebih dingin daripada batu alam di bawah telapak kakinya. Di rumah ini, aku perlu seseorang yang tahu cara bertahan hidup.

Rumah macam apa yang membutuhkan kemampuan seperti itu?

Stella melangkah lebih dulu. Nana mengikuti setengah langkah di belakangnya, cukup dekat agar tidak tersesat, cukup jauh agar bisa berlari kalau semua ini berubah menjadi jebakan.

Begitu pintu utama terbuka, hawa dingin dari dalam rumah menyentuh kulitnya. Lantai marmer memantulkan cahaya lampu gantung yang besar. Di dinding kiri, ada lukisan keluarga dengan bingkai emas. Di bawahnya, meja altar kecil tertata rapi, lengkap dengan dupa yang baru padam dan buah-buahan segar.

Nana menahan diri agar tidak menatap terlalu lama.

Di tempat seperti ini, bahkan jeruk di atas meja terlihat lebih mahal daripada makan siangnya selama seminggu.

"Sepatumu basah," kata Stella pelan.

Nana spontan menarik kakinya. Jejak air dan debu tertinggal tipis di lantai.

Seorang pelayan perempuan yang berdiri dekat tangga langsung menunduk untuk mengambil lap. Gerakannya cepat, tapi sorot matanya sempat menyentuh sandal Nana. Tidak kasar, namun cukup untuk membuat Nana sadar bahwa seluruh tubuhnya tidak cocok berada di sana.

"Maaf," ucap Nana.

"Tidak apa-apa." Stella menoleh kepada pelayan itu. "Tolong siapkan kamar kecil di paviliun belakang. Baju bersih juga."

Pelayan itu ragu. "Untuk Nona ini?"

"Namanya Nana."

Kata itu jatuh ringan, tapi membuat beberapa orang yang ada di aula saling melirik.

Nana menangkap semuanya.

Di jalanan, orang melirik pisau. Di rumah besar, orang melirik nama.

"Stella."

Suara berat dari ujung ruangan membuat semua orang diam.

Seorang pria berusia hampir enam puluh berdiri di depan pintu ruang tengah. Kemeja putihnya sederhana, tapi jam di pergelangan tangannya berkilau tenang. Wajahnya keras, matanya kecil dan tajam. Ia tidak perlu meninggikan suara untuk membuat rumah sebesar itu berhenti bernapas.

Stella segera tersenyum. "Papa sudah pulang?"

Nana menunduk sedikit. Jadi inilah William Sie.

"Siapa dia?" tanya William.

"Nana. Aku membawanya dari Pecinan."

"Dari Pecinan?" Tatapan William turun ke sandal Nana, kantong kainnya, lalu kembali ke wajahnya. "Rumah ini bukan tempat penampungan."

Nana menelan ludah. Ia sudah sering dihina, tapi hinaan orang kaya berbeda. Tidak perlu kasar. Cukup satu kalimat bersih, dan orang yang mendengarnya tahu tempatnya.

"Aku tahu, Papa," jawab Stella. "Dia bisa bekerja. Aku yang bertanggung jawab."

"Kau bahkan belum tahu asal-usulnya."

"Aku tahu dia tidak punya siapa-siapa."

William menatap putrinya lama. Di belakangnya, seorang perempuan anggun keluar dari ruang tengah. Rambutnya disanggul rendah, wajahnya lembut, dan kalung mutiara di lehernya tidak bergerak saat ia berjalan.

"Kalau Stella sudah membawanya sampai ke sini, biarkan anak itu mandi dulu," ujar perempuan itu. Suaranya tenang, seperti air hangat. "Kita bisa bertanya setelah dia makan."

Stella langsung mendekati perempuan itu. "Cici Tamara, kau memang paling baik."

Tamara Sie tersenyum kecil, lalu menatap Nana. Tidak seperti William yang menimbangnya, Tamara melihatnya seperti melihat luka yang berusaha disembunyikan.

"Nana, ya?" tanyanya.

Nana mengangguk. "Iya, Cici."

"Di sini kau panggil aku Cici Tamara. Kalau butuh sesuatu, bilang ke kepala pelayan. Jangan mengambil sendiri."

Kata terakhir itu halus, tapi Nana mengerti.

Ia mengangguk lagi. "Saya mengerti."

"Mengerti?" Suara perempuan lain terdengar dari tangga. "Anak jalanan biasanya paling cepat mengerti di depan orang banyak."

Nana menoleh.

Seorang perempuan bergaun merah tua turun perlahan, kipas kecil di tangannya terbuka setengah. Wajahnya cantik, tapi senyumnya terlalu tipis untuk disebut ramah.

Stella menarik napas pendek. "Mama."

Lusia Lu berhenti di anak tangga terakhir. "Aku hanya bertanya. Pagi-pagi kau membawa pulang pencuri, sekarang kami semua harus pura-pura ini hal biasa?"

Udara di aula berubah.

Nana tidak terkejut Lusia tahu. Rumah seperti ini pasti punya mata lebih banyak daripada pasar. Yang membuatnya sulit bernapas adalah cara semua orang mendadak tidak melihat ke arahnya, seolah kata pencuri menempel di dahinya.

"Dompetnya sudah dikembalikan," kata Stella.

"Oh, kalau begitu hebat sekali. Dosa selesai setelah dompet kembali." Lusia tersenyum kepada William. "Ko William, kau benar-benar membiarkan ini?"

William tidak menjawab Lusia. Ia tetap menatap Nana.

"Kalau tinggal di rumah ini, kau ikut aturan rumah ini. Tidak mencuri. Tidak berbohong. Tidak masuk ke ruangan yang tidak diizinkan. Kau bekerja di bawah pengawasan kepala pelayan. Kalau ada satu barang hilang, kau pergi hari itu juga."

Nana mengangkat wajahnya.

Tatapan William berat, tapi jelas. Tidak manis, tidak berpura-pura menolong.

Itu lebih mudah ia pahami.

"Baik, Pak William."

Alis Lusia bergerak sedikit, mungkin karena Nana tidak menangis atau membela diri.

Tamara justru terlihat lega. "Stella, bawa dia makan. Setelah itu, aku minta orang menyiapkan kamar."

"Aku ikut," kata Stella cepat, seolah takut Nana akan berubah pikiran dan kabur.

Mereka melewati ruang makan yang pintunya terbuka. Nana sempat melihat meja panjang dengan dua belas kursi, peralatan makan mengilap, mangkuk sup porselen, dan bunga segar di tengah meja. Di salah satu kursi, ada koran bisnis yang dilipat rapi. Judul besarnya menyebut Sie Group dan tekanan dari perusahaan asing.

Stella menutup pintu itu sebelum Nana sempat membaca lebih jauh.

"Jangan terlalu banyak melihat," bisiknya.

"Kenapa?"

"Karena di rumah ini, orang akan marah kalau kau melihat hal yang tepat."

Nana menatap Stella.

Kali ini Stella tidak tersenyum.

Mereka tiba di lorong samping yang lebih sepi. Bau kayu tua dan obat pel lantai memenuhi udara. Di dinding, foto-foto keluarga tersusun rapi. William muda, Tamara saat remaja, Stella kecil dengan rambut dikuncir dua. Ada satu foto yang sengaja diletakkan agak tinggi, separuh tertutup bayangan.

Nana berhenti tanpa sadar.

Dalam foto itu, seorang pemuda berdiri terpisah dari yang lain. Wajahnya tampan, tapi matanya seperti tidak mau berada di sana.

"Jangan lihat lama-lama," bisik Stella.

Terlambat.

Dari belokan lorong, seseorang muncul.

Pemuda itu bukan lagi bayangan di foto. Ia berdiri beberapa langkah dari Nana, memakai kemeja hitam dengan lengan digulung, rambut sedikit berantakan, dan wajah yang terlalu dingin untuk rumah sehangat ini. Di tangannya ada kunci mobil. Matanya menatap Nana, lalu Stella, tanpa rasa ingin tahu sedikit pun.

"Koko Steven," suara Stella melembut.

Steven Sie tidak membalas.

Ia melewati mereka begitu saja. Bahunya hampir menyentuh Nana, membawa aroma hujan dan rokok tipis yang cepat menghilang.

Nana menoleh mengikuti langkahnya.

Di ujung lorong, dua pelayan yang tadi sedang membawa seprai langsung menunduk dan menepi. Tidak ada yang menyapa. Tidak ada yang bertanya. Bahkan Stella hanya berdiri diam sampai pintu samping tertutup di belakang Steven.

"Dia siapa?" tanya Nana pelan.

Stella baru menjawab setelah beberapa detik.

"Putra ketiga keluarga ini."

"Kenapa semua orang seperti takut menyebut namanya?"

Stella menatap pintu yang sudah tertutup itu.

"Karena di Rumah Besar Sie," ucapnya lirih, "ada nama yang lebih baik tidak kau panggil terlalu keras."

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
Episodes

Updated 120 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!