Episode 3

Bab 3

Nana menyimpan kalimat itu di kepala sepanjang malam.

Ada nama yang lebih baik tidak kau panggil terlalu keras.

Di jalanan, nama orang dipakai untuk memanggil, menipu, atau mengancam. Di Rumah Besar Sie, nama bisa membuat lorong tiba-tiba sepi. Nana baru tidur menjelang subuh di kamar kecil paviliun belakang, dengan pintu terkunci dua kali dan kantong kain diletakkan di bawah bantal.

Paginya, Stella datang membawa sandal baru.

"Pakai ini," katanya sambil meletakkan sepasang sandal rumah berwarna krem di depan pintu. "Sandalmu yang kemarin hampir putus. Kalau dipakai di marmer, kau bisa terpeleset."

Nana menatap sandal itu. Bersih, empuk, tidak ada bekas kaki orang lain.

"Aku harus bayar?"

Stella berkedip, lalu tertawa kecil. "Kau pikir aku toko?"

"Orang biasanya tidak memberi gratis."

"Di sini juga tidak gratis." Stella mengangkat satu jari. "Bayarnya dengan patuh ikut tur rumah pagi ini."

Nana tidak langsung menyentuh sandal itu.

Stella berjongkok, mendorong sandal itu sedikit lebih dekat. "Nana, kalau aku mau menjebakmu, semalam aku sudah bisa melakukannya. Rumah ini punya lebih banyak kunci daripada pasar punya tikungan."

Nada bicaranya ringan, tapi Nana tahu itu benar.

Ia memakai sandal itu.

Ukuran sandalnya pas.

Stella tersenyum seolah baru menang sesuatu. "Nah. Ayo."

Tur rumah versi Stella ternyata bukan tur untuk memamerkan barang mahal. Ia menunjukkan dapur besar tempat kepala pelayan mengatur jadwal makan, ruang laundry yang tidak boleh dimasuki tanpa izin, pintu samping yang dipakai staf, dan lorong kecil menuju taman belakang.

"Kalau lapar, jangan ambil sendiri dari kulkas utama," kata Stella. "Bilang ke kepala pelayan. Kalau kau ambil sendiri, orang bisa sengaja bilang barang hilang."

"Orang bisa begitu?"

Stella menoleh. "Kau sudah hidup di jalanan. Jangan pura-pura kaget."

Nana diam.

Benar juga.

Di dapur, kepala pelayan memberi Nana seragam sederhana warna abu-abu muda. Perempuan itu tidak banyak bicara, tapi matanya teliti.

"Baju lamamu akan dicuci," katanya.

Nana langsung memegang kantong kainnya. "Barangku tidak ikut dicuci."

Kepala pelayan menatap Stella.

Stella mengangguk cepat. "Biarkan kantongnya. Dia belum percaya siapa pun."

"Kalau begitu jangan sampai kantong itu masuk ruang makan utama," jawab kepala pelayan. "Pak William tidak suka barang lusuh di meja."

Nana hampir menjawab, tapi Stella lebih dulu menarik lengannya.

"Aturan pertama," bisik Stella ketika mereka keluar dapur. "Pilih perangmu. Jangan semua orang kau lawan di hari pertama."

"Aku tidak takut."

"Aku tahu. Itu masalahnya."

Nana menatapnya.

Stella berjalan mundur beberapa langkah sambil tersenyum. "Kau seperti pisau kecil. Tajam, tapi kalau dipakai menusuk semua hal, cepat patah."

"Cici selalu bicara seperti itu?"

"Seperti apa?"

"Seperti orang yang sedang bercanda, tapi sebenarnya memperingatkan."

Langkah Stella berhenti sebentar. Senyumnya masih ada, tetapi matanya berubah.

"Mungkin karena di rumah ini terlalu banyak peringatan yang harus terdengar seperti candaan."

Setelah itu ia membawa Nana ke ruang makan kecil, bukan ruang makan panjang yang kemarin Nana lihat. Di sana sudah ada bubur ayam, telur rebus, dan teh hangat. Stella mengajari Nana cara duduk ketika makan bersama keluarga, kapan harus menunggu William mengambil sumpit lebih dulu, dan kenapa tidak boleh menatap terlalu lama ketika orang-orang dewasa bicara soal bisnis.

"Kalau Cici Tamara bertanya, jawab jujur. Kalau Mama Lusia bertanya, jawab pendek. Kalau Papa diam, jangan isi diamnya."

"Kalau Steven Sie?"

Sendok Stella berhenti di atas mangkuk.

Nana melihatnya.

"Kau penasaran sekali."

"Aku hanya bertanya aturan."

Stella meletakkan sendoknya. "Kalau bertemu Koko Steven, beri jalan. Kalau dia bicara, dengarkan. Kalau dia tidak bicara, jangan paksa."

"Dia selalu begitu?"

"Dulu tidak."

Kata itu keluar terlalu pelan.

Sebelum Nana sempat bertanya, seorang pelayan masuk membawa kotak kayu kecil.

"Nona Stella, barang dari ruang musik sudah ditemukan."

Wajah Stella langsung berubah.

Ia menerima kotak itu dengan kedua tangan. Gerakannya hati-hati, seolah isi kotak bisa pecah hanya karena napas. Di tutupnya ada ukiran kecil berbentuk hujan jatuh di atas jendela.

"Terima kasih," ucap Stella.

Setelah pelayan pergi, Stella membuka kotak itu sedikit. Dari tempat Nana duduk, ia hanya melihat selembar foto tua dan sudut kartu nama dengan tulisan Patrick Pang.

Stella cepat-cepat menutupnya.

"Siapa Patrick?" tanya Nana.

Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, Stella tidak langsung menjawab dengan ringan.

Jari-jarinya menekan tutup kotak. Buku-buku jarinya memucat.

"Seseorang yang pernah membuat rumah ini terdengar lebih ramai," katanya.

"Dia pergi?"

Stella menatap jendela. Di luar, taman belakang basah oleh sisa hujan malam. Daun-daun mengilap. Semua terlihat segar, kecuali wajah Stella.

"Ada orang yang pergi, ada yang dibuat pergi," ucapnya.

Nana merasakan bulu kuduknya naik.

Stella menarik napas, lalu tiba-tiba tersenyum lagi. Senyum itu terlalu cepat kembali, seperti pintu yang ditutup sebelum orang sempat melihat isi ruangan.

"Sudah. Sekarang aturan berikutnya. Jangan pernah masuk ruang kerja Papa. Jangan naik ke lantai tiga tanpa aku. Jangan menyentuh laci di meja koridor timur. Dan kalau ada orang bertanya siapa yang membawamu ke sini, jawab saja aku."

"Kenapa?"

"Karena lebih mudah menyalahkan aku daripada menyalahkanmu."

Nana memandangnya lama.

Orang seperti Stella seharusnya tidak perlu melindungi orang seperti dirinya. Namun sejak kemarin, gadis itu terus berdiri di depannya, bukan di belakang.

"Cici Stella," panggil Nana pelan.

"Hmm?"

"Kenapa mereka memanggilmu Xiao Liu?"

Senyum Stella kali ini lebih sungguh. "Karena aku anak keenam. Dulu, teman-teman dekat juga memanggilku begitu."

"Aku boleh?"

Stella terdiam.

Nana langsung menyesal. "Tidak usah kalau tidak boleh."

"Boleh," jawab Stella cepat. Matanya sedikit merah, tapi ia tetap tersenyum. "Tapi jangan di depan Mama Lusia. Nanti dia bilang aku terlalu mudah dekat dengan orang."

"Xiao Liu," coba Nana.

Stella menunduk, menggigit bibirnya sebentar, lalu tertawa kecil. Suaranya tidak secerah tadi, tetapi lebih nyata.

Mereka keluar dari ruang makan kecil menuju taman belakang. Untuk pertama kalinya sejak masuk Rumah Besar Sie, Nana tidak menghitung pintu keluar.

Ia menghitung langkah Stella di sampingnya.

Di dekat kolam, Stella berhenti.

"Nana."

"Ya?"

Stella menatap pantulan rumah besar di air. Dari sana, bangunan itu terlihat indah, hampir seperti tidak punya retak.

"Kau boleh percaya padaku pelan-pelan," katanya. "Tapi jangan percaya rumah ini terlalu cepat."

Nana mengikuti pandangannya.

Di permukaan air, bayangan jendela lantai tiga tampak gelap meski matahari sudah naik.

Stella menurunkan suaranya.

"Di rumah ini, tidak semua orang seperti yang terlihat."

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
Episodes

Updated 120 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!