Nana Si Pelindung Tuan Terbuang

Nana Si Pelindung Tuan Terbuang

Episode 1

Bab 1

Dompet kulit itu setengah masuk ke balik lengan jaket Nana ketika pemiliknya berbalik.

Nana menahan napas.

Di depannya, seorang pria berjas abu-abu sedang menawar jeruk mandarin di lapak Pecinan Surabaya. Bau kulit jeruk, dupa, minyak panas, dan knalpot motor bercampur di udara pagi.

Jari Nana berhenti di tempat.

Pria itu hanya menggaruk tengkuknya, lalu kembali membungkuk ke arah tumpukan jeruk.

Nana menarik dompet itu tanpa mengubah irama langkahnya. Begitu dompet menyentuh telapak tangan, dia langsung menyelipkannya ke kantong kain lusuh yang tergantung di bahu.

"Eh!"

Teriakan itu bukan dari si pemilik dompet.

Nana menoleh.

Seorang satpam dari toko perhiasan di seberang jalan menunjuk ke arahnya. Di atas pintu toko, kamera CCTV kecil berwarna hitam mengarah tepat ke kerumunan.

"Pencuri!"

Kerumunan pecah seperti air disiram ke lantai panas.

Nana tidak menunggu teriakan kedua. Kakinya langsung berlari, menyelip di antara pembeli, gerobak, dan sepeda motor yang parkir miring. Seseorang mengumpat ketika bahunya tersenggol. Seorang ibu hampir menjatuhkan kantong belanjaannya.

"Minggir!"

"Tangkap dia!"

Nana menunduk rendah. Sandal jepitnya hampir lepas, tapi dia menekan jempol kakinya kuat-kuat. Ia hafal jalan ini seperti hafal garis di telapak tangannya sendiri. Tiga langkah ke kiri ada kios obat. Lima langkah lagi ada gang sempit yang selalu bau air cucian ikan. Di ujung gang, ada pagar besi yang engselnya rusak.

Kalau sampai pagar itu, dia selamat.

Sebuah tangan nyaris meraih ujung jaketnya.

Nana memutar tubuh, menyenggol tumpukan kardus kosong sampai jatuh berhamburan. Satpam yang mengejarnya tersandung dan mengumpat keras.

"Anak kurang ajar!"

Nana tidak menoleh.

Jantungnya memukul keras. Napasnya panas sampai tenggorokan. Tapi rasa takut bukan hal baru baginya. Sejak kecil, rasa takut sudah mengajarinya bahwa orang miskin tidak boleh lambat.

Ia melompat melewati genangan hitam.

Gang itu sudah di depan mata.

Tiba-tiba sebuah mobil hitam berhenti di mulut gang.

Nana mengerem langkahnya terlalu mendadak. Telapak kakinya tergelincir, bahunya menghantam dinding lembap. Mobil itu terlalu bersih untuk berada di tempat ini. Kaca jendelanya gelap, bodinya mengilap, bannya masih menyimpan sisa air dari jalan raya besar.

Pintu belakang terbuka.

"Masuk."

Suara perempuan.

Nana membeku.

Di dalam mobil, seorang gadis muda menatapnya. Rambutnya terikat rapi, blus putihnya sederhana tapi jelas mahal, dan pergelangan tangannya memakai gelang giok tipis.

Nana mundur setengah langkah.

"Kalau kau mau tertangkap, silakan berdiri di situ," kata gadis itu lagi. "Mereka tinggal beberapa meter."

Teriakan satpam mendekat.

Nana menatap pintu mobil, lalu gang di belakang mobil yang sudah tertutup. Pilihannya tinggal dua, masuk ke kandang orang kaya yang tidak ia kenal, atau kembali ke tangan orang-orang yang pasti akan memukulnya.

Ia masuk.

Pintu tertutup tepat saat satpam muncul di ujung jalan.

"Jalan, Pak," ujar gadis itu kepada sopir.

Mobil bergerak mulus, meninggalkan pasar yang masih ribut di belakang.

Nana menempelkan punggung ke pintu. Tangannya masih mencengkeram kantong kain. Ia menatap gadis di depannya seperti menatap pisau yang dibungkus kain sutra.

"Dompetnya," kata gadis itu.

Nana diam.

"Aku tidak bilang akan menyerahkanmu ke satpam." Gadis itu mengulurkan tangan. Kukunya pendek, bersih, tanpa cat. "Aku bilang dompetnya."

"Bukan punya Cici," jawab Nana pelan.

Alis gadis itu naik sedikit. "Tapi juga bukan punyamu."

Nana menggigit bagian dalam pipinya. Di luar jendela, deretan toko tua bergerak mundur. Lampion merah yang mulai pudar, kabel listrik kusut, dan wajah-wajah orang yang tak pernah benar-benar melihatnya lewat begitu saja.

Ia mengeluarkan dompet itu dan meletakkannya di telapak tangan gadis itu.

Gadis itu membukanya, memeriksa kartu identitas, lalu mengambil ponsel dari tas kecilnya.

"Pak, putar balik sebentar. Dompet ini harus dikembalikan ke pemiliknya." Setelah memberi instruksi, ia kembali menatap Nana. "Namaku Stella Sie."

Sie.

Nama itu membuat punggung Nana menegang.

Di Surabaya, ada nama yang tidak perlu dijelaskan. Orang pasar menyebut keluarga Sie dengan suara pelan, seperti menyebut harga barang yang tidak sanggup mereka beli.

"Aku tidak tahu siapa Cici," kata Nana.

"Sekarang tahu."

"Kalau mau lapor polisi, lapor saja."

Stella memiringkan kepala. "Kau selalu bicara seperti sedang menantang orang menusukmu?"

Nana menutup mulut.

Mobil berputar sebentar. Sopir turun, mengembalikan dompet lewat seorang penjaga toko, lalu kembali masuk tanpa bertanya apa pun.

Nana melihatnya dengan dada sesak yang aneh.

Di dunianya, kalau jatuh, ia bangun sendiri. Kalau lapar, ia mencari sendiri. Kalau tertangkap, ia menanggung sendiri.

"Kau tinggal di mana?" tanya Stella.

"Dekat sini."

"Dekat sini sebelah mana?"

"Dekat sini."

Stella menatap sandal jepit Nana yang basah dan hampir putus, lalu kantong kain yang jahitannya menganga. Tatapannya tidak jijik, tidak geli, tidak juga pura-pura kasihan. Justru karena itu, Nana merasa lebih tidak aman.

"Keluargamu?"

"Tidak ada."

Hening sebentar.

Sopir melirik dari kaca tengah, lalu cepat-cepat menunduk lagi.

Stella menyandarkan tubuh ke kursi. Di wajahnya, sesuatu yang cerah tadi meredup sedikit, seperti lampu terkena angin.

"Usiamu berapa?"

"Tujuh belas." Nana menjawab asal. Ia tidak yakin. Tidak ada yang pernah merayakan tanggal lahirnya.

"Namamu?"

Nana menimbang apakah harus berbohong. Tapi untuk apa? Gadis ini sudah menyelamatkannya, dan itu justru membuat Nana semakin curiga.

"Nana."

"Nana apa?"

"Nana saja."

Stella mengangguk pelan. "Baik. Nana saja."

Jawaban itu membuat Nana menoleh. Biasanya orang akan memaksa. Orang yang punya rumah besar suka memaksa hal-hal kecil agar terasa berkuasa.

"Kenapa menolongku?" tanya Nana akhirnya.

Stella melihat keluar jendela. Mobil meninggalkan Pecinan lama. Toko-toko rapat berganti gedung kantor, pagar tinggi, dan pohon palem rapi.

"Karena kau berlari seperti orang yang sudah terlalu sering dikejar."

Nana tidak punya jawaban untuk itu.

"Dan karena kau tidak mencuri untuk bersenang-senang," lanjut Stella. "Orang yang mencuri untuk gaya tidak memakai sandal yang hampir putus."

Panas naik ke wajah Nana. Ia menarik kakinya ke bawah kursi.

"Aku tidak minta dikasihani."

"Bagus. Aku juga tidak sedang mengasihanimu."

"Lalu?"

Stella tersenyum, kali ini tipis sekali. "Aku sedang menawarkan pekerjaan."

Nana menatapnya tajam. "Pekerjaan apa?"

"Tinggal di rumahku. Bantu hal-hal kecil. Makan teratur. Tidur di tempat yang pintunya bisa dikunci dari dalam."

Tawaran itu terdengar terlalu bersih.

"Orang seperti Cici tidak memberi begitu saja."

"Benar," jawab Stella tanpa tersinggung. "Aku juga butuh sesuatu."

"Apa?"

Stella tidak langsung menjawab. Mobil berbelok melewati gerbang tinggi dengan dua penjaga berseragam. Di baliknya, jalan masuk memanjang di antara taman rapi, kolam kecil, dan pohon kamboja putih.

Nana lupa bernapas.

Rumah di ujung jalan itu seperti dunia lain yang diletakkan di tengah kota, besar, sunyi, dan terlalu terang. Tiang-tiang tinggi menopang teras depan. Jendela-jendelanya berkilau.

Stella membuka pintu mobil.

Angin dari taman membawa wangi bunga dan lantai yang baru dipel.

"Selamat datang di Rumah Besar Sie," katanya.

Nana turun perlahan. Sandalnya yang hampir putus menyentuh batu alam yang dingin.

Di belakang pintu besar itu, beberapa pelayan menoleh. Dua penjaga saling pandang. Dari lantai atas, tirai tipis bergerak lalu diam lagi.

Stella berdiri di samping Nana, masih tersenyum.

"Yang kubutuhkan sederhana," ucapnya pelan. "Di rumah ini, aku perlu seseorang yang tahu cara bertahan hidup."

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
Episodes

Updated 120 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!