Episode 5

Bab 5

Nana tidak sempat mundur.

Steven mengangkat kepala.

Matanya langsung mengarah ke celah pintu, tajam dan gelap. Nana merasa seluruh tubuhnya membeku. Ia sudah berkali-kali tertangkap basah di pasar, tapi tidak pernah seperti ini. Di hadapan satpam, ia bisa berlari. Di hadapan Steven Sie yang berdiri di depan foto orang mati, bahkan napas pun terasa terlalu berisik.

"Keluar," katanya.

Nana tidak tahu apakah itu berarti keluar dari persembunyian atau keluar dari hidupnya.

Ia mendorong pintu sedikit, cukup untuk memperlihatkan diri. "Saya mau ambil air."

Steven menatapnya beberapa detik. Tidak marah. Tidak terkejut. Justru itu yang membuat Nana lebih tidak nyaman.

"Paviliun belakang punya dispenser."

"Airnya habis."

"Besok minta diisi."

Nana mengangguk. "Baik."

Ia berbalik cepat.

"Dan Nana."

Langkahnya berhenti.

Steven tidak bergerak dari meja kecil itu. Cahaya dupa membuat wajahnya tampak lebih pucat.

"Apa pun yang kau dengar malam ini, simpan untuk dirimu sendiri."

Nana menelan ludah. "Saya tidak mendengar apa-apa."

Untuk pertama kalinya, Steven seperti hampir tersenyum. Bukan senyum ramah, melainkan garis tipis yang membuat orang sadar bahwa ia tahu kebohongan itu.

"Bagus."

Nana pergi tanpa menoleh.

Pagi berikutnya, Rumah Besar Sie bergerak seperti mesin yang semua rodanya sudah dipoles. Pelayan membuka tirai. Sopir memanaskan mobil. Kepala pelayan membagi jadwal. Nana mendapat tugas membawa teko teh ke ruang rapat kecil di dekat ruang kerja William.

"Jangan masuk kalau belum dipanggil," pesan kepala pelayan. "Taruh nampan di meja samping. Jangan bicara kecuali ditanya."

Nana mengangguk.

Ruang rapat kecil itu pintunya tidak tertutup penuh. Dari celahnya, suara William terdengar rendah.

"Kalau kontrak pelabuhan itu lepas, mereka akan masuk lewat rantai distribusi. Setelah itu pabrik kita yang berikutnya."

Nana tidak mengerti semua istilahnya, tapi ia mengerti nada orang yang sedang dikepung.

Tamara menjawab, "Tim legal bilang tekanan dari pihak Victoria Wan makin terang-terangan. Mereka memakai perusahaan lapis. Di kertas terlihat bersih."

"Di kertas semua orang kaya terlihat bersih," suara Lusia menyela dengan malas. "Masalahnya, kenapa kita yang selalu terlihat panik?"

"Karena kau tidak pernah membaca angka," kata Tamara, masih lembut.

Hening sebentar.

Nana hampir tersenyum, lalu cepat menunduk.

"Stella tidak perlu tahu detail ini," ujar William.

"Stella bukan anak kecil," bantah Tamara.

"Dia sudah cukup memikirkan hal lain."

Nama Patrick tidak disebut, tapi Nana merasakan bayangannya lewat di ruangan itu.

Kepala pelayan memberi isyarat dari ujung lorong. Nana masuk dengan nampan. Aroma teh melati naik dari cangkir porselen. Ia menaruhnya satu per satu, mulai dari William, Tamara, Lusia, lalu kursi kosong di sisi kanan yang belum ia tahu milik siapa.

Saat berbalik, ujung lengan seragamnya menyentuh map cokelat di meja. Map itu bergeser. Beberapa lembar dokumen keluar setengah.

Nana langsung menahan napas.

Lusia melihatnya.

"Baru tiga hari sudah mulai menyentuh dokumen?"

"Maaf," ucap Nana cepat. "Tidak sengaja."

"Pencuri memang sering tidak sengaja."

Tangan Nana mengepal di sisi tubuhnya.

William menatapnya tanpa ekspresi. "Rapikan."

Nana merapikan map itu. Ia tidak membaca, tapi matanya menangkap satu baris besar di halaman atas: audit gudang lama, penundaan pengiriman, vendor baru dari Singapore.

Kata Singapore membuatnya ingat Victoria Wan.

"Pelan-pelan," suara seorang pria terdengar dari pintu.

Semua orang menoleh.

Pria itu berdiri sambil memegang tas kulit tua. Usianya lebih tua dari William atau mungkin terlihat begitu karena cara ia membawa tubuhnya, tenang dan tidak terburu-buru. Kemeja batiknya rapi, kacamatanya tipis, rambutnya memutih di pelipis. Di wajahnya ada senyum yang tidak memaksa orang untuk membalas.

William berdiri. "Albert."

Lusia langsung mengubah wajah. "Akhirnya Paman Albert datang. Rumah ini butuh orang waras."

Tamara menyambutnya dengan anggukan hangat. "Perjalanan lancar?"

"Surabaya masih suka membuat orang sabar," jawab Albert Sie ringan. Lalu matanya jatuh ke Nana yang masih memegang map. "Dan ini?"

Stella muncul dari belakang Albert, wajahnya cerah. "Nana. Aku yang membawanya."

"Ah." Albert melangkah masuk. "Anak yang membuat seluruh rumah punya topik baru."

Nana menunduk. "Maaf, Paman Albert."

Ia tidak tahu kenapa memanggilnya begitu. Mungkin karena semua orang di ruangan itu memancarkan rasa hormat yang berbeda kepadanya. Bukan takut seperti pada William, bukan menjaga jarak seperti pada Tamara, bukan waspada seperti pada Lusia.

Albert justru tersenyum.

"Kalau sudah dipanggil Paman, berarti aku harus bersikap seperti paman." Ia mengambil map dari tangan Nana, menyusunnya rapi, lalu meletakkannya kembali di meja. "Anak baru biasanya memang belum tahu meja mana yang bisa disentuh dan meja mana yang beracun."

Lusia tertawa kecil. "Beracun?"

"Di rumah keluarga besar, kadang kertas lebih berbahaya daripada pisau," jawab Albert.

Nana mendongak tanpa sadar.

Kalimat itu terlalu tepat.

William menunjuk kursi. "Duduk. Kami sedang membahas tekanan Victoria Wan."

Albert duduk di kursi kosong yang tadi Nana beri teh. Seolah kursi itu memang menunggu dirinya.

"Aku sudah dengar sedikit," katanya. "Mereka menekan dari pelabuhan karena ingin memaksa kita membuka data gudang. Jangan beri mereka pintu depan."

Tamara menatapnya. "Berarti?"

"Pakai pintu samping. Undang audit independen dari pihak yang mereka tidak bisa beli."

William diam. Lusia juga diam. Untuk pertama kalinya sejak Nana masuk ruangan itu, semua orang mendengarkan satu orang yang tidak perlu mengeraskan suara.

Albert menoleh kepada Nana.

"Nak, boleh tolong ambilkan satu cangkir lagi? Teh ini sudah dingin sebelum aku sempat meminumnya."

Nada suaranya biasa saja, tapi Nana mengerti. Ia diberi alasan untuk keluar dari ruangan sebelum lebih banyak mendengar.

"Baik, Paman Albert."

Di luar, Stella menunggu dekat pilar. Ia menghela napas lega.

"Dia baik, kan?"

Nana menatap pintu ruang rapat yang tertutup perlahan. Di dalam sana, suara Albert tetap tenang di antara nama Victoria Wan, pelabuhan, dan gudang lama.

Untuk pertama kalinya sejak masuk Rumah Besar Sie, Nana hampir ingin percaya pada penilaian orang lain.

"Kelihatannya begitu," jawabnya.

Stella menyikutnya pelan. "Untukmu, itu sudah pujian besar."

Nana tidak membantah.

Namun saat ia berjalan kembali ke dapur, ia melewati jendela samping ruang rapat. Dari pantulan kaca, ia melihat Albert masih tersenyum sambil bicara.

Hanya tangannya yang tidak tersenyum.

Jari-jarinya mengetuk meja tiga kali, berhenti, lalu mengetuk dua kali lagi. Pola itu terlalu rapi untuk kebiasaan biasa.

Nana berhenti setengah detik.

Di pasar, orang yang berjudi memakai pola seperti itu untuk memberi tanda. Tukang parkir liar juga begitu saat polisi lewat. Tiga ketukan, jeda, dua ketukan. Bukan gelisah. Bukan iseng. Ada pesan yang hanya dimengerti orang tertentu.

Lalu suara kepala pelayan memanggil dari ujung lorong, membuatnya cepat kembali berjalan.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
Episodes

Updated 120 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!