Episode 4

Bab 4

"Di rumah ini, tidak semua orang seperti yang terlihat."

Kalimat Stella tidak terdengar seperti nasihat. Bagi Nana, itu terdengar seperti kunci yang baru setengah diputar, sementara pintu di depannya masih belum mau terbuka.

Sepanjang siang, Nana bekerja di dapur kecil paviliun belakang. Ia mencuci gelas, mengelap nampan, dan belajar membedakan cangkir teh untuk tamu biasa dengan cangkir untuk keluarga inti. Kepala pelayan mengawasinya tanpa banyak bicara. Nana melakukan semua dengan cepat, tetapi pikirannya kembali lagi pada kotak kayu di tangan Stella.

Patrick Pang.

Nama itu seperti serpihan kaca kecil. Tidak besar, tapi kalau diinjak bisa membuat orang berdarah.

Sore hari, Stella datang lagi. Kali ini ia tidak memakai senyum secerah biasa. Di tangannya ada payung lipat, padahal langit hanya mendung tipis.

"Ikut aku sebentar," katanya.

"Ke mana?"

"Ruang musik."

Nana mengeringkan tangan di kain lap. "Bukankah tadi Cici bilang ada banyak ruangan yang tidak boleh kumasuki?"

"Ruang musik boleh. Kalau bersamaku."

Mereka berjalan melewati lorong timur. Nana mencatat setiap belokan, setiap pintu, setiap jendela yang bisa dibuka dari dalam. Kebiasaan itu belum bisa hilang. Stella melihatnya, tapi tidak menegur.

Ruang musik berada di sisi rumah yang lebih tua. Begitu pintunya dibuka, bau kayu, debu halus, dan sisa dupa menyambut mereka. Ada piano hitam di sudut, rak piringan hitam, dan beberapa foto lama dalam bingkai perak.

Di salah satu meja kecil, Nana melihat foto tiga pemuda.

Steven Sie lebih muda beberapa tahun, berdiri dengan wajah datar seperti biasa. Di sampingnya, Elvin Song mengenakan kacamata tipis dan tersenyum sopan. Pemuda ketiga berdiri paling dekat dengan Stella, senyumnya lebar, matanya hidup, seolah orang di dalam foto bisa tertawa kapan saja.

"Itu Patrick?" tanya Nana.

Stella mengangguk.

Ia tidak menyentuh foto itu. Justru karena tidak menyentuh, Nana tahu benda itu penting.

"Dulu mereka disebut Trio Hujan," kata Stella pelan. "Koko Steven, Elvin, dan Patrick. Kalau tiga orang itu datang, rumah ini ribut sekali. Mereka selalu pulang dalam keadaan basah karena kehujanan, tapi masih tertawa seolah badai itu hiburan."

"Koko Steven juga tertawa?"

Stella menoleh. Untuk sesaat, wajahnya seperti ingin tertawa juga.

"Dulu, iya."

Nana sulit membayangkannya. Steven yang ia lihat kemarin seperti pintu besi. Tidak ada celah untuk suara tawa.

Stella membuka kotak kayu yang kemarin. Di dalamnya ada foto kecil, tiket konser yang warnanya sudah pudar, kartu nama Patrick Pang, dan sebuah koin tua berlubang di tengah.

"Patrick bukan keluarga Sie," ujar Stella. "Tapi dia lebih sering ada di rumah ini daripada beberapa orang yang benar-benar bermarga Sie."

"Dia pacar Cici?"

Jari Stella berhenti di atas tiket konser.

"Kau selalu langsung ke luka orang?"

Nana menunduk. "Maaf."

"Tidak apa-apa." Stella menarik napas pelan. "Iya. Dia orang yang kusukai. Orang yang membuatku berpikir, mungkin hidup tidak harus selalu mengikuti meja makan keluarga."

Di luar, angin menggoyang jendela. Suaranya tipis, tapi di ruangan yang penuh benda lama, bunyi sekecil itu terasa seperti seseorang mengetuk dari masa lalu.

"Dia meninggal?" tanya Nana.

Stella mengangguk.

"Kecelakaan?"

Senyum Stella muncul, pahit sekali. "Itu yang tertulis di laporan."

Nana mengangkat wajah.

"Mobilnya ditemukan di jalan dekat gudang lama Sie Group. Rem blong. Hujan deras. Tidak ada saksi yang mau bicara. Polisi menutup kasus cepat sekali." Stella menutup kotak itu separuh, lalu membukanya lagi seperti tidak tahu harus menyimpan kenangan atau membiarkannya bernapas. "Semua orang bilang aku harus menerima. Anak baik harus menerima. Keluarga besar harus menjaga nama baik."

"Cici tidak percaya?"

"Aku percaya Patrick tidak sebodoh itu."

Kalimat itu keluar pelan, tapi tajam.

Nana memandang foto Patrick lagi. Senyum pemuda itu memang terlalu hidup untuk cocok dengan kata kecelakaan yang rapi.

"Koko Steven bagaimana?"

Pertanyaan itu membuat Stella memejamkan mata sebentar.

"Setelah Patrick meninggal, Koko Steven berubah. Elvin pergi ke Jakarta untuk sekolah hukum. Aku..." Ia tersenyum kecil, matanya basah. "Aku tetap di sini. Menjadi Xiao Liu yang ceria, supaya Mama tidak menangis tiap melihatku."

Nana tidak tahu harus berkata apa.

Di jalanan, orang mati biasanya menghilang dari percakapan karena yang hidup harus mencari makan. Di rumah besar, orang mati tetap tinggal di dinding, di laci, di sela kalimat yang sengaja dipotong.

Pintu ruang musik tiba-tiba terbuka.

Tamara berdiri di ambang pintu. Wajahnya tetap lembut, tetapi matanya langsung jatuh ke kotak kayu di tangan Stella.

"Kau membukanya lagi?"

Stella menegakkan punggung. "Aku hanya menunjukkan Nana ruang musik."

"Stella."

Hanya satu kata, tapi seluruh ruangan berubah.

Nana menurunkan pandangan. Ia tahu kapan dua orang sedang bertengkar tanpa suara.

Tamara masuk, menutup pintu pelan. "Aku tidak melarangmu mengingat Patrick. Tapi jangan gali hal yang sudah membuatmu hampir hancur."

"Hampir hancur bukan berarti mati, Cici."

"Justru karena kau masih hidup."

Stella menggenggam kotak itu. "Kalau semua orang terus diam, apa bedanya hidup dengan pura-pura?"

Tamara tidak menjawab. Wajahnya tampak lelah, seperti ia sudah pernah mendengar kalimat itu terlalu banyak.

"Nana," katanya akhirnya, "tolong tunggu di luar sebentar."

Nana mengangguk. "Baik, Cici Tamara."

Ia keluar, tetapi tidak pergi jauh. Bukan karena ingin menguping. Setidaknya itu yang ia katakan pada dirinya sendiri. Ia hanya berdiri di lorong, dekat rak bunga kering, cukup dekat untuk mendengar suara Stella yang pecah.

"Aku cuma ingin ada satu orang baru yang tahu bahwa Patrick pernah ada."

Setelah itu, suara mereka mengecil.

Nana menatap lantai.

Untuk pertama kalinya, ia merasa rumah ini bukan hanya besar. Rumah ini penuh ruangan yang dipakai untuk menyimpan kesedihan, lalu semua orang berpura-pura pintunya terkunci dari luar.

Malam itu, Nana sulit tidur.

Hujan turun lewat tengah malam, pelan-pelan, menimpa atap paviliun belakang. Ia terbangun karena ingin mengambil air. Koridor samping sepi. Lampu-lampu kecil menyala redup di dekat lantai.

Saat melewati ruang musik, Nana melihat pintunya tidak tertutup rapat.

Celahnya hanya selebar dua jari.

Dari dalam, cahaya kuning menyentuh lantai.

Nana seharusnya pergi. Aturan Stella jelas. Jangan terlalu banyak melihat.

Namun di meja kecil itu, di depan foto Patrick Pang, sebatang dupa baru saja dinyalakan.

Steven Sie berdiri sendirian di sana.

Kemeja hitamnya basah di bagian bahu, seolah ia baru pulang menerobos hujan. Wajahnya tetap dingin, tapi tangannya yang memegang korek api bergetar sedikit.

Nana menahan napas.

Steven menunduk di depan foto Patrick.

Lalu, dengan suara yang hampir habis, ia berkata pelan, "Maaf."

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
Episodes

Updated 120 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!