Jurang ditengah hutan

Valerie tersenyum kecil mendengar ucapan Hazel.

Kehangatan yang selalu memenuhi hatinya. Setiap kali ia bersama Hazel, kembali mengalir perasaan menenangkan sekaligus meninggalkan rasa rindu yang sulit dijelaskan. Hazel menggenggam tangannya dengan erat, dan dalam sekejap, taman itu lenyap tanpa jejak.

Valerie membuka matanya perlahan, ia terbangun di kamarnya dengan napas yang sedikit memburu. Sinar matahari pagi menembus celah tirai, menerangi wajahnya.

Tok... tok... tok...

Suara ketukan lembut terdengar dari balik pintu kamar Valerie.

“Valerie sayang, apa kamu sudah bangun?” panggil ibunya dengan suara hangat.

Pintu terbuka perlahan. Lalu senyum lembut terukir di wajahnya saat melihat Valerie sudah terbangun, dan duduk di atas ranjang.

“Selamat pagi tuan putrinya Ibu.” ujarnya sambil melangkah masuk beberapa langkah.

Valerie tersenyum kecil, melihat ibunya mendekat.

“Selamat pagi juga, Ibunda kanjeng ratu.”

Valerie terkekeh meledek ibunya.

“Kamu ini!”

Ibunya mengusap lembut rambut Valerie.

“Ayo, cepat bersiap. Hari ini Ayah dan Ibu yang akan mengantarmu kekampus.”

Valerie mengkerutkan dahinya.

“Kok tumben, apakah matahari mulai terbit dari arah barat?”

Ibunya tertawa mendengar ucapan Valerie.

“Sudah, berhenti bercanda. Ibu sudah masak banyak pagi ini,” lanjut sang ibu dengan senyum ceria. “Ada makanan favoritmu juga, agar kamu selalu semangat.”

Valerie terkekeh kecil.

“Memangnya Ibu masak banyak, untuk menyambut satu keluarga besar ya?”

Ibunya tertawa pelan.

“Ibu masak banyak, karena ingin melihat putri Ibu bahagia menikmati makanan kesukaannya.”

Kehangatan sederhana itu membuat hati Valerie terasa damai. Untuk sesaat, bayangan taman bunga dan sosok Hazel perlahan memudar, tergantikan oleh kebahagiaan kecil yang selalu ia temukan di rumah. Bersama kedua orang tua yang begitu menyayanginya.

“Baiklah Ibunda Kanjeng Ratu, putrimu akan segera mandi dan bersiap-siap.”

“Bagus. Ibu tunggu di bawah.”

Setelah mengucapkan itu, ibunya kembali tersenyum sebelum melangkah keluar dari kamar. Meninggalkan Valerie yang masih duduk sejenak sambil memandangi cahaya pagi yang masuk melalui jendela.

Setelah selesai bersiap-siap, Valerie segera turun ke lantai bawah. Aroma masakan hangat langsung menyambut indra penciumannya, membuat perutnya yang sejak tadi kosong mulai berbunyi pelan.

Sesampainya di ruang makan. Valerie tersenyum melihat kedua orang tuanya tengah duduk berdampingan, sambil mengobrol dan tertawa bersama. Tatapan mereka dipenuhi kasih sayang, seolah waktu tak pernah mengurangi kehangatan cinta yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun.

Valerie berjalan mendekat sambil menggelengkan kepala pelan.

“Astaga, aku selalu melihat pemandangan seperti ini setiap pagi.” godanya seraya menarik kursi dan duduk di hadapan mereka.

Ayahnya tertawa kecil, sementara sang ibu tersipu malu.

“Pemandangan sepasang suami-istri yang saling mencintai ya?” ujar ayahnya sambil menggenggam tangan sang ibu.

Valerie tersenyum melihat tangan ayahnya.

“Benar, Aku sampai iri melihat Ayah dan Ibu. Dan berharap suatu hari nanti, pernikahanku juga sebahagi kalian.”

Ibunya tersenyum lembut.

“Kamu anak yang baik, suatu saat nanti kamu pasti akan bertemu seseorang yang sangat menyayangimu.”

Ayahnya mengangkat sendoknya.

“Kalau ada yang berani menyakitimu, laporkan kepada ayah ya?!”

Mereka bertiga pun tertawa bersama. Tak lama kemudian, Valerie mulai menyantap sarapannya, matanya langsung berbinar.

“Bu, ini enak sekali!” pujinya dengan penuh semangat. “Masakan Ibu paling ajaib didunia.”

Ibunya tersenyum bahagia.

“Kalau begitu makan yang banyak.”

Setelah sarapan, ayah Valerie mengeluarkan sebuah kotak kecil berlapis beludru.

“Ayah punya hadiah untuk tuan putriku,” katanya lembut.

Valerie tampak terkejut.

“Sungguh, untukku Ayah?”

Ayahnya mengangguk.

Saat kotak itu dibuka, tampak sebuah liontin emas yang indah dengan ukiran bintang kecil di bagian tengahnya.

“Ini cantik sekali, terima kasih Ayah.” gumam Valerie takjub.

Kemudian ibunya mengeluarkan sebuah kotak lain dan menyerahkannya kepada Valerie. Di dalamnya terdapat sebuah gelang giok berwarna hijau lembut yang terlihat begitu anggun.

“Dan ini hadiah dari Ibu untuk putri tercintaku.”

Valerie menatap kedua orang tuanya dengan bingung.

“Apa hari ini, hari ulang tahunku?”

Kedua orang tuanya tertawa kecil.

“Bukan sayang,” jawab ibunya lembut.

“Hari ini adalah hari pernikahan Ayah dan Ibu,” lanjut ayahnya sambil tersenyum hangat. “Kami ingin merayakannya, bersama putri kami yang paling berharga.”

Ibunya menggenggam tangan Valerie dengan penuh kasih.

“Terima kasih karena sudah hadir dan menjadi penyempurna dalam kehidupan kami, Valerie.”

“Kamu bukan hanya putri kami, kamu adalah pelengkap kebahagiaan dan cinta yang kami bangun selama ini sayang.”

Mata Valerie mulai berkaca-kaca mendengar ucapan itu, ia bangkit dari duduknya lalu memeluk kedua orang tuanya erat.

“Aku yang seharusnya berterima kasih,” ucapnya pelan. “Karena sudah beruntung memiliki Ayah dan Ibu yang sangat menyayangiku.”

Ayahnya mengusap lembut kepala Valerie.

“Valerie. Apa pun yang terjadi, kami akan selalu mencintaimu.”

Valerie mengangguk sambil tersenyum, meskipun entah mengapa ada perasaan hangat sekaligus aneh yang menyelinap di dalam hatinya.

Setelah menghabiskan sarapan dan berbincang sejenak, Valerie pun bersiap berangkat ke kampus. Kali ini kedua orang tuanya mengantarnya. Sesampainya di kampus, Valerie turun dari mobil sambil tersenyum cerah.

“Terima kasih Ayah, Ibu, selamat menikmati hari sepesial kalian.” ucapnya.

Ibunya tersenyum lembut sambil melambaikan tangan.

“Iya sayang, belajar yang baik ya.”

“Jangan lupa makan siang,” tambah ayahnya dengan nada hangat.

Valerie mengangguk kecil.

“Baiklah yang mulia, hati-hati dijalan...”

Sebelum menutup pintu mobil, Valerie melambaikan tangannya. Hari itu berjalan seperti biasa. Ia mengikuti kelas, mencatat materi, lalu memasuki laboratorium untuk sesi praktikum. Suara alat-alat laboratorium dan percakapan mahasiswa memenuhi ruangan.

Valerie tengah fokus menyelesaikan praktiknya ketika seorang staf laboratorium menghampirinya.

“Valerie Asteria Sinclair?”

Valerie menoleh.

“Iya saya?”

“Profesor memintamu datang ke ruangannya sekarang.”

Valerie tampak bingung.

“Sekarang?”

Staf itu mengangguk pelan.

“Ya, profesor sudah menunggumu.”

Tanpa berpikir panjang, Valerie melepas sarung tangannya lalu berjalan menuju ruang dosen.

Tok... tok...tok.

Valerie mengetuk pintu, lalu terdengar dari dalam suara profesor.

“Masuk.”

Ia membuka pintu perlahan. Begitu masuk, Valerie mendapati dosennya berdiri dengan wajah yang tampak muram. Di sampingnya berdiri dua petugas kepolisian sedang melihatnya melangkah masuk.

Jantung Valerie berdegup kencang, ia bingung melihat polisi ada diruangan dosennya.

“Pak... ada apa memanggil saya?” tanyanya pelan.

Dosen itu menghala napas panjang, seolah kesulitan menyusun kata-kata.

“Valerie...”

“Iya Pak.”

“Kamu harus kuat.”

Kalimat itu membuat tubuh Valerie menegang.

Salah seorang petugas melangkah maju.

“Apakah Anda Valerie Sinclair?”

Valerie mengangguk perlahan.

“Iya.”

Petugas itu menarik napas panjang sebelum akhirnya berkata dengan suara lembut.

“Kami turut berduka cita.”

Episodes
1 Hazel dalam mimpiku
2 Jurang ditengah hutan
3 Permintaan sang nenek
4 Tawaran pernikahan kontrak
5 Pertama kali tidur tanpa mimpi
6 Hari pertama setelah pernikahan
7 Masih ada yang mengkhawatirkanku
8 Perlahan mulai nyaman
9 Mengapa aku cemburu
10 Kedatangan orang ketiga
11 Awal kebenciannya
12 Jarak yang terasa dingin
13 Kamu meragukan ku
14 Kehilangan kasih sayang
15 Dasar manusia kaku
16 Mencari cara membujuknya
17 Hanya bertahan sesaat
18 Ruang rahasia
19 Noda di atas seprai
20 Valerie menghilang
21 Mencarimu ke mana-mana
22 Kesalahpahaman keluarga.
23 Merindukan kasih sayang mereka
24 Mencoba terbuka
25 Kembali pulang
26 Olivia tidak berhenti
27 Aku juga bisa lelah
28 Menangisi nasib
29 Masih ada tempat untuk pulang
30 Mari bercerai
31 Melangkah kehidup yang baru
32 Hampa
33 Mencari kebenaran
34 Mulai memahami perasaannya
35 Dua garis merah
36 Perasaan campur aduk
37 Olivia dan Damian
38 Hilang arah
39 Aku menyerah
40 Tangisanku
41 Obsesi
42 Benturan pada perut Valerie
43 Berpacu dengan waktu
44 Kehilangan bayinya
45 Mencoba berubah
46 Terungkapnya kebusukan
47 Kenyataan yang pahit
48 Korban perjodohan
49 Hari pernikahan
50 Bukan cincin tapi borgol
51 Dalam pelukan Valerie
52 Penolakan yang menyakitkan
53 Prustasi
54 Memohon kembali
55 Aku akan tetap mencarimu
56 Kecelakaan
57 Di alam yang berbeda
58 Reinkarnasi Selena
59 Valerie dan Hazel
60 Mengungkap siapa Hazel
61 Wajah asli Hazel
62 Permohonan Nyonya Margaretha
63 Damian terbaring koma
64 Hari Valerie Wisuda
65 Mengejar Valerie di bandara
66 Perasaan yang gelisah
67 Bangkit lagi
68 Memulai hal baru
69 Kamu yang dimasa lalu
70 Jangan bernostalgia
71 Bukan Valerie yang dulu
72 Dilema
73 Keslaah pahaman
74 Pulang sendirian
75 Preman jalanan
76 Tawaran yang tidak terduga
77 Keputusan sepihak
78 Bertemu kembali
79 Kenyataan yang pahit
80 Bersedia menjauhi putramu
81 Meminta waktumu
82 Pintu yang masih tertutup
83 Jauhi Valerie!
84 Kenapa tidak denganku
85 Mencari kejelasan
86 Akhiri saja
87 Mengundurkan diri
88 Deep talk
89 Luka di masalalu
90 Kamu masih mencintainya
91 Menculik perhatianmu
Episodes

Updated 91 Episodes

1
Hazel dalam mimpiku
2
Jurang ditengah hutan
3
Permintaan sang nenek
4
Tawaran pernikahan kontrak
5
Pertama kali tidur tanpa mimpi
6
Hari pertama setelah pernikahan
7
Masih ada yang mengkhawatirkanku
8
Perlahan mulai nyaman
9
Mengapa aku cemburu
10
Kedatangan orang ketiga
11
Awal kebenciannya
12
Jarak yang terasa dingin
13
Kamu meragukan ku
14
Kehilangan kasih sayang
15
Dasar manusia kaku
16
Mencari cara membujuknya
17
Hanya bertahan sesaat
18
Ruang rahasia
19
Noda di atas seprai
20
Valerie menghilang
21
Mencarimu ke mana-mana
22
Kesalahpahaman keluarga.
23
Merindukan kasih sayang mereka
24
Mencoba terbuka
25
Kembali pulang
26
Olivia tidak berhenti
27
Aku juga bisa lelah
28
Menangisi nasib
29
Masih ada tempat untuk pulang
30
Mari bercerai
31
Melangkah kehidup yang baru
32
Hampa
33
Mencari kebenaran
34
Mulai memahami perasaannya
35
Dua garis merah
36
Perasaan campur aduk
37
Olivia dan Damian
38
Hilang arah
39
Aku menyerah
40
Tangisanku
41
Obsesi
42
Benturan pada perut Valerie
43
Berpacu dengan waktu
44
Kehilangan bayinya
45
Mencoba berubah
46
Terungkapnya kebusukan
47
Kenyataan yang pahit
48
Korban perjodohan
49
Hari pernikahan
50
Bukan cincin tapi borgol
51
Dalam pelukan Valerie
52
Penolakan yang menyakitkan
53
Prustasi
54
Memohon kembali
55
Aku akan tetap mencarimu
56
Kecelakaan
57
Di alam yang berbeda
58
Reinkarnasi Selena
59
Valerie dan Hazel
60
Mengungkap siapa Hazel
61
Wajah asli Hazel
62
Permohonan Nyonya Margaretha
63
Damian terbaring koma
64
Hari Valerie Wisuda
65
Mengejar Valerie di bandara
66
Perasaan yang gelisah
67
Bangkit lagi
68
Memulai hal baru
69
Kamu yang dimasa lalu
70
Jangan bernostalgia
71
Bukan Valerie yang dulu
72
Dilema
73
Keslaah pahaman
74
Pulang sendirian
75
Preman jalanan
76
Tawaran yang tidak terduga
77
Keputusan sepihak
78
Bertemu kembali
79
Kenyataan yang pahit
80
Bersedia menjauhi putramu
81
Meminta waktumu
82
Pintu yang masih tertutup
83
Jauhi Valerie!
84
Kenapa tidak denganku
85
Mencari kejelasan
86
Akhiri saja
87
Mengundurkan diri
88
Deep talk
89
Luka di masalalu
90
Kamu masih mencintainya
91
Menculik perhatianmu

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!