Pertama kali tidur tanpa mimpi

Demian mengangguk.

“Benar.”

Valerie menghela napas panjang, lalu perlahan mengambil pena yang telah disiapkan. Tangannya bergetar saat menandatangani surat perjanjian itu. Dengan satu tanda tangan, Valerie tidak hanya menerima sebuah pernikahan kontrak.

•●✿●•

Hari pernikahan berlangsung dengan begitu megah dan meriah.

Ruang resepsi dipenuhi dekorasi putih dan unggu muda, lampu kristal yang berkilauan, serta para tamu undangan dari kalangan terpandang. Senyum, ucapan selamat, dan doa-doa kebahagiaan mengiringi langkah kedua mempelai.

Namun, di balik gaun pengantin yang indah dan senyum tipis yang terlukis di wajahnya. Valerie tidak merasakan kebahagiaan sedikit pun, ia berdiri di pelaminan dengan hati yang kosong.

Tidak ada sosok ayah yang menggandeng tangannya menuju altar, tidak ada ibu yang memperbaiki kerudung atau merapikan rambutnya sambil menahan air mata haru. Kedua orang yang paling ingin ia lihat di hari istimewanya telah pergi.

Valerie menatap kursi tamu yang seharusnya ditempati kedua orang tuanya.

Kosong.

Sama kosongnya dengan hatinya saat ini. Dulu, ia pernah membayangkan pernikahannya akan dipenuhi haru, tangis bahagia, dan kehangatan keluarga. Ia selalu bermimpi memiliki hubungan seperti ayah dan ibunya. Cinta yang sederhana, tulus, dan tetap hangat meski telah melewati bertahun-tahun bersama.

Namun kenyataan yang berdiri di hadapannya jauh berbeda. Ia tidak mencintai pria yang kini menjadi suaminya dan pria itu pun tidak mencintainya, pernikahan mereka hanyalah sebuah kesepakatan. Sebuah ikatan yang dibangun atas rasa tanggung jawab, bukan perasaan.

Valerie menunduk, menggenggam erat liontin emas pemberian ayahnya yang tersembunyi di balik gaun pengantinnya.

“Ayah... Ibu...”

“Lihatlah, putrimu kini sudah menikah.”

Air matanya hampir jatuh, tetapi ia segera menahannya. Di sampingnya, Damian berdiri dengan ekspresi tenang seperti biasa. Tidak ada senyum bahagia, tidak ada tatapan penuh cinta, hanya ketenangan seorang pria yang sedang memenuhi kewajiban.

Setelah seluruh rangkaian acara selesai, Damian mengantar Valerie menuju mansionnya. Mobil hitam mewah itu melaju dalam keheningan, tidak ada percakapan di antara mereka didalamnya. Hanya suara hujan tipis yang menemani perjalanan menuju rumah baru Valerie.

Sesampainya di sana, Valerie menatap kagum bangunan megah yang berdiri di hadapannya. Mansion itu begitu besar, elegan, dan terlihat seperti rumah yang hanya ada dalam film. Namun entah mengapa, kemewahan itu justru membuat Valerie merasa asing.

Damian membawanya masuk ke dalam rumah, beberapa pelayan membungkukkan badan memberi salam.

“Selamat datang, Tuan dan Nyonya Robert.”

Valerie hanya tersenyum kecil, masih belum terbiasa dengan panggilan tersebut. Damian kemudian mengantarnya ke lantai dua, lalu ia membuka sebuah pintu.

“Sekarang, ini adalah kamarmu.”

Valerie menatap ruangan itu. Kamarnya sangat luas, dengan balkon pribadi, lemari pakaian besar, dan jendela tinggi yang menghadap taman belakang.

“Kamu bisa mengatur kamar ini sesuka hatimu,” ujar Damian.

Valerie mengangguk pelan.

“Kita pisah kamar?” tanyanya ragu.

“Iya.”

Damian menunjuk pintu di samping kamar itu.

“Di sebelahmu adalah kamarku.”

Valerie tampak sedikit lega.

“Baiklah.”

Namun Damian kembali berbicara.

“Tapi ada satu hal yang harus kamu ketahui.”

Valerie menoleh.

“Apa?”

Damian menatapnya serius.

“Jika Nenek datang berkunjung atau menginap, kita harus berpura-pura menjadi pasangan yang normal.”

Valerie mengerutkan kening.

“Normal seperti apa?”

Damian menghela napas pendek.

“Kita harus tidur di kamar yang sama.”

Valerie langsung menatapnya terkejut.

“Apa?”

Damian segera mengangkat tangan, berusaha menenangkan.

“Tenang saja,”

“Aku tidak akan menyentuhmu, dan kita hanya perlu berpura-pura menjadi sepasang suami istri yang romantis.”

Valerie terdiam beberapa saat, entah mengapa ucapan itu membuat dadanya semakin sesak.

“Baiklah, aku setuju.”

Damian mengangguk.

“Terima kasih.”

Damian lalu berjalan menuju pintu sebelum berhenti sejenak.

“Dan, satu lagi.”

Valerie menatapnya.

“Kamu tidak perlu malu dengan statusmu sebagai menantu keluarga Robert, Valerie.”

Setelah mengatakan itu, Damian pergi meninggalkannya sendiri. Valerie berdiri mematung di tengah kamar yang kini menjadi tempat tinggal barunya, ia memandang cincin pernikahan di jari manisnya.

Masih sulit dipercaya.

Beberapa bulan yang lalu, ia masih hidup bahagia bersama kedua orang tuanya. Kini, ia telah menjadi istri seorang pria yang nyaris tidak dikenalnya.

•●✿●•

Pagi pertama setelah pernikahannya tiba dengan suasana yang terasa begitu asing bagi Valerie.

Tok... tok... tok...

Suara ketukan lembut di pintu membangunkannya dari tidur. Valerie perlahan membuka matanya, masih berusaha menyesuaikan diri dengan langit-langit kamar yang belum familiar baginya.

Beberapa saat ia hanya terdiam di atas ranjang, lalu keningnya berkerut. Ada sesuatu yang berbeda, sesuatu yang terasa menghilang. Biasanya, setiap kali ia memejamkan mata ia akan berada ditaman bunga. Bertemu Hazel, dan berbagi cerita kepadanya.

Namun pagi ini sangat berbeda. Tidak ada taman bunga, tidak ada Hazel, dan tidak ada suara lembut yang memanggilnya sebagai Violet. Ini pertama kalinya sejak berusia lima tahun, Valerie tidur tanpa bermimpi. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak memimpikan Hazel.

Dadanya mendadak terasa sesak.

“Aneh.”

“Apa yang terjadi?”

“Kenapa tiba-tiba aku tidak bermimpi?”

“Bagaimana dengan Hazel?”

Selama ini ia selalu menganggap mimpi itu sebagai misteri yang membingungkan. Namun ketika mimpi itu benar-benar menghilang, justru ada perasaan kehilangan yang perlahan memenuhi hatinya.

Tok... tok...

Ketukan kembali terdengar.

“Nyonya Valerie, apa kami sudah boleh masuk?" terdengar suara wanita dari balik pintu.

Valerie tersadar dari lamunannya.

“Silakan.”

Pintu terbuka perlahan, tiga orang wanita berseragam pelayan memasuki kamar dengan sikap sopan. Mereka membungkukkan badan secara bersamaan.

“Selamat pagi, Nyonya Valerie.”

Valerie tampak sedikit canggung.

“Selamat pagi... kalian jangan terlalu formal denganku, panggil saja aku Valerie.”

Seorang pelayan yang terlihat paling senior maju selangkah.

“Maaf Nyonya, kami tidak berani. Kalau Nyonya keberatan, mulai hari ini kami akan memanggil Nyonya Valerie menjadi Nona Muda.”

Valerie tersenyum tipis.

“Baiklah, Nona saja.”

Pelayanan itu menundukkan wajahnya.

“Perkenalkan, saya Clara.”

“Saya Bella.”

“Saya Luna.”

“Kami bertiga ditugaskan khusus untuk melayani kebutuhan Nona Muda mulai hari ini.”

Valerie sedikit terkejut.

“Kenapa?”

Ketiganya menunduk sambil tersenyum.

“Karena mulai sekarang, kami akan membantu Nyonya dalam segala hal.”

“Membantu memilih pakaian, menyiapkan kebutuhan harian, serta mendampingi aktivitas Nyonya.”

Valerie tersenyum kikuk, ia masih belum terbiasa dengan kehidupan barunya. Dulu, ia adalah gadis sederhana yang terbiasa melakukan segala sesuatu sendiri. Kini, ada tiga orang yang bertugas mengurusnya.

“Nona Muda, apakah kami boleh membantu Anda bersiap-siap?” tanya Clara lembut.

Valerie akhirnya mengangguk.

Ketiga pelayan itu pun mulai bekerja dengan cekatan. Mereka menyiapkan pakaian, merapikan rambut Valerie, dan membantu memilih aksesori yang sesuai. Tak lama kemudian, Clara tersenyum puas melihat penampilan Valerie.

“Nona Muda terlihat sangat anggun dan cantik.”

Valerie hanya tersenyum kecil.

Kemudian Bella berkata,

“Tuan Damian sudah menunggu Anda di ruang makan, Tuan ingin sarapan bersama."

Valerie sedikit terdiam, masih terasa aneh mendengar nama Damian sebagai suaminya. Namun ia segera mengangguk.

“Baik. Kalian sudah boleh keluar, aku akan segera turun.”

Setelah menarik napas pelan untuk menenangkan dirinya. Valerie melangkah keluar dari kamar, hari pertamanya sebagai Nyonya Robert baru saja dimulai. Namun di dalam hatinya, satu pertanyaan terus berputar.

Ke mana mimpi tentang Hazel pergi?

Mengapa, tepat setelah aku menikah, sosok yang selalu hadir dalam mimpiku selama enam belas tahun tiba-tiba menghilang begitu saja?

Apa jangan-jangan dia kecewa, karena tidak memberi tahu kalau akan menikah?”

Jika benar, bagaimana caraku bisa menjelaskannya?

Episodes
1 Hazel dalam mimpiku
2 Jurang ditengah hutan
3 Permintaan sang nenek
4 Tawaran pernikahan kontrak
5 Pertama kali tidur tanpa mimpi
6 Hari pertama setelah pernikahan
7 Masih ada yang mengkhawatirkanku
8 Perlahan mulai nyaman
9 Mengapa aku cemburu
10 Kedatangan orang ketiga
11 Awal kebenciannya
12 Jarak yang terasa dingin
13 Kamu meragukan ku
14 Kehilangan kasih sayang
15 Dasar manusia kaku
16 Mencari cara membujuknya
17 Hanya bertahan sesaat
18 Ruang rahasia
19 Noda di atas seprai
20 Valerie menghilang
21 Mencarimu ke mana-mana
22 Kesalahpahaman keluarga.
23 Merindukan kasih sayang mereka
24 Mencoba terbuka
25 Kembali pulang
26 Olivia tidak berhenti
27 Aku juga bisa lelah
28 Menangisi nasib
29 Masih ada tempat untuk pulang
30 Mari bercerai
31 Melangkah kehidup yang baru
32 Hampa
33 Mencari kebenaran
34 Mulai memahami perasaannya
35 Dua garis merah
36 Perasaan campur aduk
37 Olivia dan Damian
38 Hilang arah
39 Aku menyerah
40 Tangisanku
41 Obsesi
42 Benturan pada perut Valerie
43 Berpacu dengan waktu
44 Kehilangan bayinya
45 Mencoba berubah
46 Terungkapnya kebusukan
47 Kenyataan yang pahit
48 Korban perjodohan
49 Hari pernikahan
50 Bukan cincin tapi borgol
51 Dalam pelukan Valerie
52 Penolakan yang menyakitkan
53 Prustasi
54 Memohon kembali
55 Aku akan tetap mencarimu
56 Kecelakaan
57 Di alam yang berbeda
58 Reinkarnasi Selena
59 Valerie dan Hazel
60 Mengungkap siapa Hazel
61 Wajah asli Hazel
62 Permohonan Nyonya Margaretha
63 Damian terbaring koma
64 Hari Valerie Wisuda
65 Mengejar Valerie di bandara
66 Perasaan yang gelisah
67 Bangkit lagi
68 Memulai hal baru
69 Kamu yang dimasa lalu
70 Jangan bernostalgia
71 Bukan Valerie yang dulu
72 Dilema
73 Keslaah pahaman
74 Pulang sendirian
75 Preman jalanan
76 Tawaran yang tidak terduga
77 Keputusan sepihak
78 Bertemu kembali
79 Kenyataan yang pahit
80 Bersedia menjauhi putramu
81 Meminta waktumu
82 Pintu yang masih tertutup
83 Jauhi Valerie!
84 Kenapa tidak denganku
85 Mencari kejelasan
86 Akhiri saja
87 Mengundurkan diri
88 Deep talk
89 Luka di masalalu
90 Kamu masih mencintainya
91 Menculik perhatianmu
Episodes

Updated 91 Episodes

1
Hazel dalam mimpiku
2
Jurang ditengah hutan
3
Permintaan sang nenek
4
Tawaran pernikahan kontrak
5
Pertama kali tidur tanpa mimpi
6
Hari pertama setelah pernikahan
7
Masih ada yang mengkhawatirkanku
8
Perlahan mulai nyaman
9
Mengapa aku cemburu
10
Kedatangan orang ketiga
11
Awal kebenciannya
12
Jarak yang terasa dingin
13
Kamu meragukan ku
14
Kehilangan kasih sayang
15
Dasar manusia kaku
16
Mencari cara membujuknya
17
Hanya bertahan sesaat
18
Ruang rahasia
19
Noda di atas seprai
20
Valerie menghilang
21
Mencarimu ke mana-mana
22
Kesalahpahaman keluarga.
23
Merindukan kasih sayang mereka
24
Mencoba terbuka
25
Kembali pulang
26
Olivia tidak berhenti
27
Aku juga bisa lelah
28
Menangisi nasib
29
Masih ada tempat untuk pulang
30
Mari bercerai
31
Melangkah kehidup yang baru
32
Hampa
33
Mencari kebenaran
34
Mulai memahami perasaannya
35
Dua garis merah
36
Perasaan campur aduk
37
Olivia dan Damian
38
Hilang arah
39
Aku menyerah
40
Tangisanku
41
Obsesi
42
Benturan pada perut Valerie
43
Berpacu dengan waktu
44
Kehilangan bayinya
45
Mencoba berubah
46
Terungkapnya kebusukan
47
Kenyataan yang pahit
48
Korban perjodohan
49
Hari pernikahan
50
Bukan cincin tapi borgol
51
Dalam pelukan Valerie
52
Penolakan yang menyakitkan
53
Prustasi
54
Memohon kembali
55
Aku akan tetap mencarimu
56
Kecelakaan
57
Di alam yang berbeda
58
Reinkarnasi Selena
59
Valerie dan Hazel
60
Mengungkap siapa Hazel
61
Wajah asli Hazel
62
Permohonan Nyonya Margaretha
63
Damian terbaring koma
64
Hari Valerie Wisuda
65
Mengejar Valerie di bandara
66
Perasaan yang gelisah
67
Bangkit lagi
68
Memulai hal baru
69
Kamu yang dimasa lalu
70
Jangan bernostalgia
71
Bukan Valerie yang dulu
72
Dilema
73
Keslaah pahaman
74
Pulang sendirian
75
Preman jalanan
76
Tawaran yang tidak terduga
77
Keputusan sepihak
78
Bertemu kembali
79
Kenyataan yang pahit
80
Bersedia menjauhi putramu
81
Meminta waktumu
82
Pintu yang masih tertutup
83
Jauhi Valerie!
84
Kenapa tidak denganku
85
Mencari kejelasan
86
Akhiri saja
87
Mengundurkan diri
88
Deep talk
89
Luka di masalalu
90
Kamu masih mencintainya
91
Menculik perhatianmu

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!