Benang Merah Diujung Mimpi

Benang Merah Diujung Mimpi

Hazel dalam mimpiku

Valerie kembali berada di dalam mimpinya.

Mimpi yang telah hadir dalam hidupnya sejak ia berusia lima tahun, yang seolah menjadi bagian dari hidupnya yang tak pernah pergi.

Di hadapannya terbentang taman bunga yang begitu luas, seakan tidak memiliki ujung. Kupu-kupu berwarna lembut, menari mengikuti hembusan angin. Air danau yang sebening kristal, memantulkan cahaya matahari. sementara cahaya keemasan senja menyelimuti seluruh taman dengan kehangatan yang menenangkan.

Dan di sanalah, seperti biasa, sahabat dalam mimpinya sudah menunggu kedatangan Valerie.

Hazel.

Pria yang selalu menemaninya di dalam mimpi. Tangan mereka saling bertaut, lalu mereka berlari di antara lautan bunga dan tertawa tanpa beban. Menghabiskan waktu dengan bermain perahu di atas danau, bermain ayunan di bawah pohon besar yang menaungi taman itu. seolah dunia hanya diciptakan untuk mereka berdua.

Setiap Hazel tersenyum, terasa begitu nyata. Setiap sentuhan tangannya terasa begitu hangat. Begitu dekat, namun pada saat yang sama terasa mustahil untuk diterima kenyataan.

Valerie memandangnya lama.

Ada satu pertanyaan, yang selalu membuat hatinya dipenuhi rasa penasaran. Dulu, ketika dirinya masih berusia lima tahun, Hazel juga masih seorang anak laki-laki seumuran dengannya. Saat itu wajahnya terlihat begitu jelas, Valerie dapat mengingat mata hijaunya, senyum jahilnya, bahkan lesung pipi yang muncul setiap kali Hazel tertawa.

Namun kini, seiring waktu berlalu mereka berdua tumbuh dewasa di dalam mimpi yang sama. Valerie tidak dapat melihat dengan jelas wajah Hazel yang dewasa, ia hanya dapat melihat postur tubuhnya saja. Seakan wajah Hazel diselimuti kabut, semakin dirinya berusaha melihat wajahnya, semakin samar sosok itu terlihat.

“Hazel...” panggil Valerie pelan. “Kenapa saat kita kecil, aku bisa melihat wajahmu dengan jelas, tapi sekarang aku tidak bisa melihatnya?”

Hazel tertawa kecil, suara tawanya terdengar ringan tanpa beban. Lalu ia menoleh ke arahnya, meski wajahnya tetap tersembunyi di balik bayang-bayang yang tak dapat disentuh.

“Karena, kalau wajahku terlihat jelas,” ucapnya dengan nada menggoda, “Takutnya Violet akan mencintaiku sampai mati.”

Valerie mendengus pelan.

Hazel kembali tertawa, seperti biasa, ceria, hangat, dan selalu berhasil membuat hatinya terasa damai. Kemudian, pria itu menggenggam tangannya sedikit lebih erat. Angin berembus perlahan, kelopak-kelopak bunga beterbangan mengelilingi taman. Untuk sesaat, waktu seolah berhenti.

Suara Hazel terdengar begitu dekat, begitu lembut, seakan berasal dari tempat yang sangat jauh sekaligus sangat dekat.

“Aku sangat senang setia melihatmu berada di taman.”

“Jangan datang terlambat terus, Violet.”

Detik berikutnya, seluruh taman perlahan memudar, warna-warna menghilang. Angin berhenti berembus, dan sosok Hazel kembali tenggelam dalam kabut.

Valerie terbangun dengan napas memburu, dadanya terasa sesak oleh perasaan yang tidak mampu ia jelaskan. Air mata mengalir di pipinya tanpa alasan yang dapat ia pahami, ini hanyalah mimpinya.

Namun mimpinya terasa begitu sangat nyata. Ia selalu merasa bahwa taman itu benar-benar ada, dan seakan sosok Hazel memang hidup dibelahan bumi yang belum ia ketahui. Meski dirinya telah terbangun, hangat genggaman tangan Hazel masih terasa membekas di telapak tangannya, seolah mimpi itu bukan sekadar ilusi.

Ia mengusap air matanya perlahan.

“Hazel...” bisiknya lirih.

“Mengapa setiap kali aku terbangun, hatiku selalu dipenuhi kerinduan padamu. Yang bahkan kejadian semalam, tidak pernah benar-benar nyata dalam hidupku?”

Sudah bertahun-tahun ia mengenal Hazel dalam mimpinya. Berbagi tawa, cerita, dan kenangan di taman yang hanya ada di dalam tidurnya. Namun anehnya, semakin dewasa mereka semakin banyak hal yang terasa aneh.

Hazel di mimpinya tumbuh menjadi sosok pria dewasa, namun wajahnya berkabut. Tempat itu kini terasa semakin jauh, dan setiap pertemuan mereka selalu diakhiri dengan perasaan yang membuat dadanya sesak.

Malam berikutnya, Valerie kembali tertidur. Dan seperti biasa, taman itu kembali menyambutnya. Hamparan bunga bergoyang lembut diterpa angin, sementara langit senja memancarkan warna jingga keemasan. Hazel sudah berada di sana, duduk di atas ayunan.

“Violet, kamu akhir-akhir ini sering datang terlambat,” katanya sambil mengkerutkan dahinya.

Valerie tersenyum berjalan mendekat.

“Kamu tidak pernah bilang kepadaku, kalau disini ada jam bukanya.”

Hazel tertawa kecil.

“Aku menunggumu dari tadi.”

Valerie menatap sosoknya.

“Hazel!”

“Hm?”

“Siapa sebenarnya kamu?”

Hazel terdiam sejenak. Angin kembali berembus, membuat rambutnya bergerak perlahan.

“Aku Hazel sahabatmu.”

“Bukan itu maksudku.”

Valerie menunduk.

“Kenapa aku selalu bermimpi tentangmu?”

“Kenapa dari kecil aku hanya bertemu denganmu dimimpiku?”

“Dan kenapa rasanya...” suaranya melemah, “...aku takut kehilanganmu, padahal aku bahkan tidak tahu siapa dirimu.”

Hazel tersenyum tipis.

“Aku juga penasaran.”

“Kamu berbohong.”

“Aku tidak berbohong.”

“Lalu kenapa setelah kita tumbuh dewasa, aku tidak bisa melihat wajahmu?”

Hazel bangkit dari ayunan dan berjalan mendekat, mereka kini hanya dipisahkan beberapa langkah.

“Kamu selalu menayangkan hal yang sama berulang-ulang, padahal pertemuan kita sangat singkat.”

“Aku hanya...”

Hazel menyela tanpa memberi Valerie kesempatan menyelesaikan perkataannya.

“Violet, apa kamu sudah mulai bosan bertemu denganku?”

Valerie menggelengkan wajahnya.

“Tidak, tidak sama sekali.”

Hazel menunduk pelan.

“Lalu kenapa kamu selalu ingin tau banyak hal tentangku?” Hazel menghela napas. “Padahal aku tidak pernah mempermasalahkan tentangmu, selama kita masih bisa bertemu.”

“Hazel, aku hanya berfikir suatu saat nanti kita bisa bertemu didunia nyata.”

Hazel tersenyum jahil, seperti biasa.

“Kalau ternyata kita bisa bertemu didunia nyata, apa kamu mau menikah denganku?”

Valerie mendecakkan lidah.

“Kamu menyebalkan.”

“Meski aku menyebalkan, kamu selalu menemuiku setiap datang kesini.”

“Itu karena aku tidak punya pilihan.”

Hazel tertawa lepas.

Suara tawanya terdengar begitu hangat hingga membuat Valerie ikut tersenyum tanpa sadar. Mereka hanya duduk berdampingan di atas ayunan, menikmati hembusan angin dan hamparan bunga yang tak pernah layu.

“Hazel.”

“Iya Violet yang cantik.”

“Kalau suatu hari aku tidak bisa datang lagi...”

Hazel menoleh.

Valerie menggigit bibir bawahnya.

“...apakah kamu akan tetap menungguku?”

Pria itu terdiam, lalu dengan lembut ia menggenggam tangan Valerie.

“Iya, tetap menunggumu sampai kapan pun.”

Valerie melihat wajah Hazel yang berkabut.

“Bahkan jika aku sudah melupakanmu?”

Hazel tersenyum.

“Kalau kamu lupa, aku akan tetap mengingatmu.”

“Kalau aku tidak mengenalmu lagi?”

“Aku akan memperkenalkan diriku lagi, sampai kamu mengingatku kembali.”

Valerie Asteria Sinclair

Damian Juliano Robert

Keenan Gabriel Harrison

Olivia Reina Laurent

Episodes
1 Hazel dalam mimpiku
2 Jurang ditengah hutan
3 Permintaan sang nenek
4 Tawaran pernikahan kontrak
5 Pertama kali tidur tanpa mimpi
6 Hari pertama setelah pernikahan
7 Masih ada yang mengkhawatirkanku
8 Perlahan mulai nyaman
9 Mengapa aku cemburu
10 Kedatangan orang ketiga
11 Awal kebenciannya
12 Jarak yang terasa dingin
13 Kamu meragukan ku
14 Kehilangan kasih sayang
15 Dasar manusia kaku
16 Mencari cara membujuknya
17 Hanya bertahan sesaat
18 Ruang rahasia
19 Noda di atas seprai
20 Valerie menghilang
21 Mencarimu ke mana-mana
22 Kesalahpahaman keluarga.
23 Merindukan kasih sayang mereka
24 Mencoba terbuka
25 Kembali pulang
26 Olivia tidak berhenti
27 Aku juga bisa lelah
28 Menangisi nasib
29 Masih ada tempat untuk pulang
30 Mari bercerai
31 Melangkah kehidup yang baru
32 Hampa
33 Mencari kebenaran
34 Mulai memahami perasaannya
35 Dua garis merah
36 Perasaan campur aduk
37 Olivia dan Damian
38 Hilang arah
39 Aku menyerah
40 Tangisanku
41 Obsesi
42 Benturan pada perut Valerie
43 Berpacu dengan waktu
44 Kehilangan bayinya
45 Mencoba berubah
46 Terungkapnya kebusukan
47 Kenyataan yang pahit
48 Korban perjodohan
49 Hari pernikahan
50 Bukan cincin tapi borgol
51 Dalam pelukan Valerie
52 Penolakan yang menyakitkan
53 Prustasi
54 Memohon kembali
55 Aku akan tetap mencarimu
56 Kecelakaan
57 Di alam yang berbeda
58 Reinkarnasi Selena
59 Valerie dan Hazel
60 Mengungkap siapa Hazel
61 Wajah asli Hazel
62 Permohonan Nyonya Margaretha
63 Damian terbaring koma
64 Hari Valerie Wisuda
65 Mengejar Valerie di bandara
66 Perasaan yang gelisah
67 Bangkit lagi
68 Memulai hal baru
69 Kamu yang dimasa lalu
70 Jangan bernostalgia
71 Bukan Valerie yang dulu
72 Dilema
73 Keslaah pahaman
74 Pulang sendirian
75 Preman jalanan
76 Tawaran yang tidak terduga
77 Keputusan sepihak
78 Bertemu kembali
79 Kenyataan yang pahit
80 Bersedia menjauhi putramu
81 Meminta waktumu
82 Pintu yang masih tertutup
83 Jauhi Valerie!
84 Kenapa tidak denganku
85 Mencari kejelasan
86 Akhiri saja
87 Mengundurkan diri
88 Deep talk
89 Luka di masalalu
90 Kamu masih mencintainya
91 Menculik perhatianmu
Episodes

Updated 91 Episodes

1
Hazel dalam mimpiku
2
Jurang ditengah hutan
3
Permintaan sang nenek
4
Tawaran pernikahan kontrak
5
Pertama kali tidur tanpa mimpi
6
Hari pertama setelah pernikahan
7
Masih ada yang mengkhawatirkanku
8
Perlahan mulai nyaman
9
Mengapa aku cemburu
10
Kedatangan orang ketiga
11
Awal kebenciannya
12
Jarak yang terasa dingin
13
Kamu meragukan ku
14
Kehilangan kasih sayang
15
Dasar manusia kaku
16
Mencari cara membujuknya
17
Hanya bertahan sesaat
18
Ruang rahasia
19
Noda di atas seprai
20
Valerie menghilang
21
Mencarimu ke mana-mana
22
Kesalahpahaman keluarga.
23
Merindukan kasih sayang mereka
24
Mencoba terbuka
25
Kembali pulang
26
Olivia tidak berhenti
27
Aku juga bisa lelah
28
Menangisi nasib
29
Masih ada tempat untuk pulang
30
Mari bercerai
31
Melangkah kehidup yang baru
32
Hampa
33
Mencari kebenaran
34
Mulai memahami perasaannya
35
Dua garis merah
36
Perasaan campur aduk
37
Olivia dan Damian
38
Hilang arah
39
Aku menyerah
40
Tangisanku
41
Obsesi
42
Benturan pada perut Valerie
43
Berpacu dengan waktu
44
Kehilangan bayinya
45
Mencoba berubah
46
Terungkapnya kebusukan
47
Kenyataan yang pahit
48
Korban perjodohan
49
Hari pernikahan
50
Bukan cincin tapi borgol
51
Dalam pelukan Valerie
52
Penolakan yang menyakitkan
53
Prustasi
54
Memohon kembali
55
Aku akan tetap mencarimu
56
Kecelakaan
57
Di alam yang berbeda
58
Reinkarnasi Selena
59
Valerie dan Hazel
60
Mengungkap siapa Hazel
61
Wajah asli Hazel
62
Permohonan Nyonya Margaretha
63
Damian terbaring koma
64
Hari Valerie Wisuda
65
Mengejar Valerie di bandara
66
Perasaan yang gelisah
67
Bangkit lagi
68
Memulai hal baru
69
Kamu yang dimasa lalu
70
Jangan bernostalgia
71
Bukan Valerie yang dulu
72
Dilema
73
Keslaah pahaman
74
Pulang sendirian
75
Preman jalanan
76
Tawaran yang tidak terduga
77
Keputusan sepihak
78
Bertemu kembali
79
Kenyataan yang pahit
80
Bersedia menjauhi putramu
81
Meminta waktumu
82
Pintu yang masih tertutup
83
Jauhi Valerie!
84
Kenapa tidak denganku
85
Mencari kejelasan
86
Akhiri saja
87
Mengundurkan diri
88
Deep talk
89
Luka di masalalu
90
Kamu masih mencintainya
91
Menculik perhatianmu

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!