Permintaan sang nenek

“Pagi tadi, telah terjadi kecelakaan beruntun di jalan raya menuju kawasan pegunungan.”

Valerie membeku.

“Dalam kejadian tersebut, Kedua orang tuamu ikut menjadi korban diantara tujuh orang yang meninggal.”

Wajah Valerie perlahan kehilangan warna.

“Apa...?” bisiknya lirih.

Petugas itu melanjutkan dengan hati-hati.

“Setelah kecelakaan terjadi, kedua orang tuamu sebenarnya berhasil selamat. Namun, mereka memilih turun untuk membantu para korban lain yang masih terjebak di dalam kendaraan yang terperosok ke jurang. Mereka menolong satu per satu korban yang masih bisa diselamatkan, hingga pada akhirnya mobil yang mereka tolong meledak dan jatuh kejurang.”

“Kami berhasil turun kebawah jurang untuk mengevakuasi para korban.”

“Tetapi...”

Suara petugas itu terdengar semakin jauh di telinga Valerie.

“Pada akhirnya, Mereka semua tidak berhasil diselamatkan.”

“Mereka meninggal dunia di lokasi kejadian.”

Dunia Valerie seakan berhenti berputar, ia hanya menatap kosong ke depan.

“Tidak.”

“Kalian pasti salah orang.”

Gumamnya berusaha menyangkal informasi yang ia Terima.

Polisi menyerahkan kartu tanda penduduk kedua orang tuanya. Tangannya gemetar melihat kedua kartu tanda penduduk itu, terlihat jelas foto kedua orang tuanya.

Baru beberapa jam yang lalu mereka tertawa bersama. Beberapa jam yang lalu Ayah memberinya liontin emas, dan ibunya memakaikan gelang giok di pergelangan tangannya. Mereka mengatakan bahwa dirinya adalah pelengkap kebahagiaan dalam pernikahan mereka.

“Bagaimana mungkin...”

“Bagaimana mungkin mereka tidak selamat?”

Air mata mulai mengalir tanpa bisa dibendung. Tubuh Valerie melemah, tangannya gemetar hebat. Dengan tatapan kosong, Valerie mengikuti mobil polisi meninggalkan kampus menuju rumah sakit. Sepanjang perjalanan, pikirannya kosong, namun ia tidak dapat membendung air matanya.

Beberapa jam yang lalu, ia masih tertawa bersama kedua orang tuanya, menikmati sarapan yayang lezat, menerima hadiah peringatan hari pernikahan kedua orang tuanya, bahkan berpamitan sebelum memasuki kampus. Namun kini, seketika semua berubah.

Sesampainya di rumah sakit, langkah Valerie terasa begitu berat. Tangis pilu memenuhi lorong rumah sakit. Beberapa keluarga korban terduduk lemas, sementara yang lain menangis histeris memanggil nama orang-orang yang mereka cintai.

Ketika pandangannya tertuju pada dua peti jenazah yang terletak berdampingan, tubuh Valerie seketika melemah.

“Ayah!... Ibu!...”

Suara itu keluar lirih sebelum berubah menjadi tangisan yang pecah tak terkendali. Ia berlutut di hadapan kedua peti itu, menggenggam erat tepinya sambil menangis sesenggukan.

“Aku pasti sedang bermimpi, ini tidak nyata kan?”

“Kita baru saja tertawa bersama, dan kalian mengantarku ke kampus...”

“Bagaimana mungkin kalian pergi meninggalkan aku secepat ini?”

Valerie ingin melihat wajah kedua orang tuanya untuk terakhir kali, ingin memastikan bahwa semua ini hanyalah mimpi buruk. Namun petugas rumah sakit menjelaskan dengan lembut bahwa kondisi jenazah tidak memungkinkan untuk diperlihatkan.

Mendengar hal itu, Valerie semakin hancur. Tangannya meremas liontin emas pemberian ayahnya dan gelang giok dari ibunya, hadiah terakhir yang kini menjadi kenangan paling berharga yang tersisa.

Di tengah kesedihannya, seorang wanita lanjut usia berjalan mendekatinya. Meski matanya sembab karena menangis, wanita itu tetap terlihat anggun dan berwibawa. Rambutnya yang memutih tersanggul rapi, sementara pakaian hitam yang dikenakannya memperlihatkan kesedihan yang mendalam.

Wanita itu berhenti di hadapan Valerie, air mata wanita itu kembali jatuh.

“Nak...” suaranya bergetar.

Valerie mengangkat kepalanya perlahan.

“Aku berutang nyawa pada kedua orang tuamu.”

Valerie menatap wanita itu dengan mata merah dan bengkak.

Nenek itu mengusap air matanya sebelum melanjutkan.

“Saat kecelakaan beruntun terjadi, mobil yang kutumpangi bersama anak dan menantuku terperosok ke jurang.”

“Kami terjebak di dalam kendaraan, lalu orang tuamu datang menolong kami.”

“Mereka berhasil mengeluarkanku.”

Suara wanita itu mulai pecah.

“Namun saat mereka berdua berusaha mengeluarkan anak dan menantuku, mobil kami meledak dan jatuh kejurang membawa mereka semua.”

Tangis wanita itu semakin keras.

“Mereka menyelamatkan orang lain, tanpa memikirkan keselamatannya sendiri.”

Wanita itu menutup wajahnya sambil menangis.

“Maafkan aku nak...”

“Karena aku masih hidup sementara kedua orang tuamu tidak selamat.”

Valerie tak mampu berkata apa pun, dadanya terasa sesak. Ia menggigit bibirnya, air matanya kembali mengalir deras.

Wanita itu kemudian memeluk Valerie erat, keduanya menangis bersama. Dua orang asing yang dipersatukan oleh kehilangan.

“Maafkan aku nak.” ujar wanita itu lirih.

“Kedua orang tuamu adalah orang-orang baik, mereka pasti mendapat tempat peristirahatan yang paling indah.”

Valerie menatap dia peti yang berjejer dihadapannya, hatinya remuk redam melihat kedua orang tuanya kini sudah tiada.

•●✿●•

Beberapa hari kemudian, pemakaman dilaksanakan. Langit terlihat gelap berkelabu seakan turut berduka.

Valerie berdiri mematung di depan dua pusara yang baru saja ditutup tanah. Di sebelah makam kedua orang tuanya terdapat makam anak dan menantu wanita tua itu. Tiga keluarga yang sebelumnya tidak saling mengenal kini dipersatukan oleh tragedi yang sama.

Valerie menggenggam liontin emas di dadanya, air matanya kembali jatuh.

“Ayah... Ibu...”

“Aku di sini, mengantar kalian ketempat istirahat keabadian.”

“Maaf, aku tidak sempat mengucapkan happy anniversary pernikahan kalian.”

“Maaf, aku tidak sempat memberikan hadiah kepada kalian.”

“Maaf kan aku Ayah Ibu, aku belum sempat membanggakan kalian.”

“Kalian jangan khawatir, aku akan baik-baik saja.”

Meski jauh di dalam hatinya, ia tahu bahwa sebagian dirinya telah ikut terkubur bersama kedua orang tuanya.

Setelah semua selesai, Valerie kembali ke rumahnya. Rumah yang biasanya dipenuhi tawa, aroma masakan ibunya, dan candaan ayahnya kini terasa sunyi dan dingin.

Ia melangkah perlahan memasuki ruang makan, meja tempat mereka sarapan bersama pagi itu masih terlihat rapi. Kursi ayahnya kosong, kursi ibunya juga kosong. Tidak ada lagi suara lembut yang menyuruhnya sarapan, tidak ada lagi sosok yang mengantarnya ke kampus.

Valerie akhirnya terperosok kelantai, air matanya kembali jatuh tanpa henti. Ia merasa sendirian dalam rumahnya. Rumah yang selama ini menjadi tempat terhangat baginya kini hanya dipenuhi kenangan.

Dan malam itu, Valerie kembali menangis hingga tertidur, memeluk liontin emas pemberian ayahnya dan gelang giok dari ibunya. Air mata masih membasahi pipinya ketika kesadarannya perlahan tenggelam ke dalam mimpi yang telah menemaninya sejak kecil.

Ia kembali berada di taman bunga yang luas itu.

“Hazel!”

“Kamu dimana?”

“Hazel datanglah?!”

Suara Valerie pecah oleh tangisan. Ia menoleh ke segala arah, mencari sosok yang selama ini selalu menjadi tempatnya berbagi cerita.

“Hazel...!”

Air matanya jatuh tanpa henti. Tak jauh dari sana, di bawah pohon besar tempat ayunan mereka berada, Hazel tampak berdiri di sana. Meski wajahnya masih tersembunyi di balik kabut, Valerie tahu itu adalah dirinya.

Tanpa berpikir panjang, Valerie berlari sekencang mungkin. Begitu sampai di hadapannya, ia langsung memeluk tubuh Hazel erat sambil menangis histeris.

Hazel sedikit terkejut, tetapi perlahan ia membalas pelukan itu. Tangannya mengusap lembut kepala Valerie, membiarkannya meluapkan seluruh kesedihan yang selama ini ditahannya.

“Ayah dan Ibuku meninggalkanku.” isak Valerie. “Aku kehilangan duniaku Hazel...”

“Kenapa mereka meninggalkanku secepat ini, aku tidak bisa hidup tanpa mereka.”

Hazel terdiam, ia hanya mendengarkan setiap tangisan Valerie. Kemudian, dengan suara yang lembut dan menenangkan, ia berkata,

“Aku mengerti perasaanmu, kamu saat ini sangat terluka.”

“Aku tahu kamu merasa dunia sangat jahat.”

Hazel mencoba menenangkan Valerie.

“Tapi, Violet...”

Hazel menggenggam kedua tangan Valerie.

“Kamu tidak sendirian, ada aku disini yang akan menemanimu.”

“Aku tidak akan meninggalkanmu sampai kapanpun, aku berjanji.”

Valerie mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata.

“Tapi Hazel, dunia kita berbeda.”

Hazel mengangguk pelan.

“Perbedaan tidak akan menghalangi pertemuan kita, jadi kamu tidak perlu khawatir lagi.”

Meski hanya dalam mimpi, kehadiran Hazel selalu mampu membuat hatinya tenang.

•●✿●•

Beberapa hari setelah pemakaman, suara bel rumah kembali terdengar. Valerie yang masih berduka berjalan perlahan menuju pintu. Saat membukanya, ia melihat wanita lanjut usia yang ditemuinya di rumah sakit berdiri di sana bersama beberapa anggota keluarganya.

Wanita itu tersenyum lembut.

“Maaf kami datang tanpa memberi kabar terlebih dahulu.”

Valerie menggeleng pelan.

“Tidak apa-apa nyonya, silakan masuk.”

Rombongan keluarga itu masuk kedalam rumahnya lalu duduk disofa, Valerie menyuguhkan minuman dan cemilan.

Wanita itu kemudian memperkenalkan dirinya.

“Namaku Margaretha Robert, panggil saja aku Nenek.”

“Kita sudah pernah bertemu sebelumnya, namun belum sempat memperkenalkan diri.”

Mata Valerie kembali berkaca-kaca, Nenek Margaretha menggenggam tangannya dengan hangat.

“Ayah dan ibumu meninggal demi menyelamatkan anakku.”

“Sampai kapanpun aku tetap berhutang nyawa dengan mereka.”

Suara wanita itu mulai bergetar.

“Aku tidak akan membiarkanmu hidup sendirian.”

“Aku akan bertanggung jawab atas hidupmu saat ini.”

Valerie menatapnya dengan bingung, namun kalimat berikutnya membuat tubuhnya membeku.

Nenek Margaretha tersenyum tipis sebelum berkata,

“Menikahlah dengan cucuku, Damian Robert.”

Valerie terdiam, matanya membelalak. Sejenak ia mengira dirinya salah dengar.

“Apa...?”

Episodes
1 Hazel dalam mimpiku
2 Jurang ditengah hutan
3 Permintaan sang nenek
4 Tawaran pernikahan kontrak
5 Pertama kali tidur tanpa mimpi
6 Hari pertama setelah pernikahan
7 Masih ada yang mengkhawatirkanku
8 Perlahan mulai nyaman
9 Mengapa aku cemburu
10 Kedatangan orang ketiga
11 Awal kebenciannya
12 Jarak yang terasa dingin
13 Kamu meragukan ku
14 Kehilangan kasih sayang
15 Dasar manusia kaku
16 Mencari cara membujuknya
17 Hanya bertahan sesaat
18 Ruang rahasia
19 Noda di atas seprai
20 Valerie menghilang
21 Mencarimu ke mana-mana
22 Kesalahpahaman keluarga.
23 Merindukan kasih sayang mereka
24 Mencoba terbuka
25 Kembali pulang
26 Olivia tidak berhenti
27 Aku juga bisa lelah
28 Menangisi nasib
29 Masih ada tempat untuk pulang
30 Mari bercerai
31 Melangkah kehidup yang baru
32 Hampa
33 Mencari kebenaran
34 Mulai memahami perasaannya
35 Dua garis merah
36 Perasaan campur aduk
37 Olivia dan Damian
38 Hilang arah
39 Aku menyerah
40 Tangisanku
41 Obsesi
42 Benturan pada perut Valerie
43 Berpacu dengan waktu
44 Kehilangan bayinya
45 Mencoba berubah
46 Terungkapnya kebusukan
47 Kenyataan yang pahit
48 Korban perjodohan
49 Hari pernikahan
50 Bukan cincin tapi borgol
51 Dalam pelukan Valerie
52 Penolakan yang menyakitkan
53 Prustasi
54 Memohon kembali
55 Aku akan tetap mencarimu
56 Kecelakaan
57 Di alam yang berbeda
58 Reinkarnasi Selena
59 Valerie dan Hazel
60 Mengungkap siapa Hazel
61 Wajah asli Hazel
62 Permohonan Nyonya Margaretha
63 Damian terbaring koma
64 Hari Valerie Wisuda
65 Mengejar Valerie di bandara
66 Perasaan yang gelisah
67 Bangkit lagi
68 Memulai hal baru
69 Kamu yang dimasa lalu
70 Jangan bernostalgia
71 Bukan Valerie yang dulu
72 Dilema
73 Keslaah pahaman
74 Pulang sendirian
75 Preman jalanan
76 Tawaran yang tidak terduga
77 Keputusan sepihak
78 Bertemu kembali
79 Kenyataan yang pahit
80 Bersedia menjauhi putramu
81 Meminta waktumu
82 Pintu yang masih tertutup
83 Jauhi Valerie!
84 Kenapa tidak denganku
85 Mencari kejelasan
86 Akhiri saja
87 Mengundurkan diri
88 Deep talk
89 Luka di masalalu
90 Kamu masih mencintainya
91 Menculik perhatianmu
Episodes

Updated 91 Episodes

1
Hazel dalam mimpiku
2
Jurang ditengah hutan
3
Permintaan sang nenek
4
Tawaran pernikahan kontrak
5
Pertama kali tidur tanpa mimpi
6
Hari pertama setelah pernikahan
7
Masih ada yang mengkhawatirkanku
8
Perlahan mulai nyaman
9
Mengapa aku cemburu
10
Kedatangan orang ketiga
11
Awal kebenciannya
12
Jarak yang terasa dingin
13
Kamu meragukan ku
14
Kehilangan kasih sayang
15
Dasar manusia kaku
16
Mencari cara membujuknya
17
Hanya bertahan sesaat
18
Ruang rahasia
19
Noda di atas seprai
20
Valerie menghilang
21
Mencarimu ke mana-mana
22
Kesalahpahaman keluarga.
23
Merindukan kasih sayang mereka
24
Mencoba terbuka
25
Kembali pulang
26
Olivia tidak berhenti
27
Aku juga bisa lelah
28
Menangisi nasib
29
Masih ada tempat untuk pulang
30
Mari bercerai
31
Melangkah kehidup yang baru
32
Hampa
33
Mencari kebenaran
34
Mulai memahami perasaannya
35
Dua garis merah
36
Perasaan campur aduk
37
Olivia dan Damian
38
Hilang arah
39
Aku menyerah
40
Tangisanku
41
Obsesi
42
Benturan pada perut Valerie
43
Berpacu dengan waktu
44
Kehilangan bayinya
45
Mencoba berubah
46
Terungkapnya kebusukan
47
Kenyataan yang pahit
48
Korban perjodohan
49
Hari pernikahan
50
Bukan cincin tapi borgol
51
Dalam pelukan Valerie
52
Penolakan yang menyakitkan
53
Prustasi
54
Memohon kembali
55
Aku akan tetap mencarimu
56
Kecelakaan
57
Di alam yang berbeda
58
Reinkarnasi Selena
59
Valerie dan Hazel
60
Mengungkap siapa Hazel
61
Wajah asli Hazel
62
Permohonan Nyonya Margaretha
63
Damian terbaring koma
64
Hari Valerie Wisuda
65
Mengejar Valerie di bandara
66
Perasaan yang gelisah
67
Bangkit lagi
68
Memulai hal baru
69
Kamu yang dimasa lalu
70
Jangan bernostalgia
71
Bukan Valerie yang dulu
72
Dilema
73
Keslaah pahaman
74
Pulang sendirian
75
Preman jalanan
76
Tawaran yang tidak terduga
77
Keputusan sepihak
78
Bertemu kembali
79
Kenyataan yang pahit
80
Bersedia menjauhi putramu
81
Meminta waktumu
82
Pintu yang masih tertutup
83
Jauhi Valerie!
84
Kenapa tidak denganku
85
Mencari kejelasan
86
Akhiri saja
87
Mengundurkan diri
88
Deep talk
89
Luka di masalalu
90
Kamu masih mencintainya
91
Menculik perhatianmu

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!