Surat itu masih berada di tangan Adrian.
Selembar kertas sederhana yang dalam hitungan detik mengubah seluruh rencana hari itu.
*"Maaf. Aku tidak bisa menikah denganmu. Jangan mencariku."*
Ia membaca kalimat itu sekali lagi, seolah berharap ada bagian yang terlewat. Namun tetap sama. Tidak ada alasan. Tidak ada penjelasan.
Hanya perpisahan yang datang di saat paling tidak seharusnya.
"Pak..."
Suara Dimas terdengar hati-hati.
"Para tamu mulai bertanya."
Adrian melipat surat itu, lalu memasukkannya ke dalam saku jas.
"Berapa lama lagi acara bisa ditunda?"
"Paling lama tiga puluh menit. Setelah itu media pasti mulai curiga."
Adrian mengangguk pelan. Wajahnya tetap tenang, tetapi pikirannya bekerja tanpa henti.
Maya bukan perempuan yang gemar membuat keputusan gegabah. Selama tiga tahun mereka bertunangan, ia selalu memikirkan segala sesuatu dengan matang. Karena itu, surat pendek tanpa penjelasan justru terasa janggal.
"Rekaman CCTV apartemen?"
"Tim keamanan sedang memeriksanya."
"Kalau ada kabar, hubungi aku langsung."
"Baik, Pak."
---
Di ballroom, suasana mulai berubah.
Musik yang semula terdengar meriah kini hanya menjadi pengisi keheningan. Para tamu saling bertukar pandang, sementara beberapa wartawan mulai memperhatikan jam.
Rafa berjalan ke arah ruang tunggu pengantin setelah menerima pesan dari Dimas.
Begitu pintu terbuka, ia langsung menangkap ekspresi sahabatnya.
"Kejadiannya separah itu?"
Adrian tidak menjawab. Ia hanya menyerahkan surat yang ada di sakunya.
Rafa membaca isinya perlahan.
"Lalu... ini maksudnya apa?"
"Aku juga ingin tahu."
"Kamu yakin ini tulisan Maya?"
"Ya."
Rafa mengembalikan surat itu.
"Ada kemungkinan dia dipaksa menulis?"
Adrian mengangkat kepala. Untuk pertama kalinya sejak pagi, ada secercah harapan di matanya.
"Itu juga yang kupikirkan."
"Kalau begitu kita belum bisa menyimpulkan dia sengaja kabur."
Adrian mengangguk.
Ia lebih memilih mempercayai fakta daripada prasangka.
---
Sementara itu, Kayla sedang membantu seorang panitia merapikan meja penerima tamu yang mulai berantakan.
Beberapa tamu bertanya dengan nada tidak sabar.
"Acara jadi dimulai atau tidak?"
"Kami sudah menunggu hampir setengah jam."
Kayla hanya bisa tersenyum sopan.
"Mohon maaf, Bapak, Ibu. Mohon menunggu sebentar lagi."
Begitu tamu itu pergi, Mbak Rina mengembuskan napas panjang.
"Semoga semua cepat selesai."
Kayla ikut mengangguk.
Entah mengapa, sejak tadi hatinya terasa tidak tenang.
Pandangannya tanpa sadar mencari sosok Adrian yang tadi sempat ia lihat dari kejauhan.
Ia masih mengingat pria itu.
Bukan karena statusnya sebagai CEO, melainkan karena sebuah kejadian bertahun-tahun lalu.
Saat itu Kayla masih mahasiswa tingkat akhir. Ia tanpa sengaja menjatuhkan seluruh maket tugas akhirnya di lobi kampus. Orang-orang hanya melihat sekilas lalu berlalu.
Hanya satu orang yang berhenti membantu mengumpulkan potongan-potongan maket itu.
Orang itu adalah Adrian.
Ia bahkan tidak mengenal Kayla.
Setelah selesai membantu, Adrian hanya berkata, *"Kalau menyerah karena hal kecil, dunia kerja akan terasa jauh lebih berat."*
Kalimat sederhana itu terus diingat Kayla sampai sekarang.
Namun Adrian mungkin sudah melupakannya.
---
Ponsel Rafa bergetar.
Pesan dari Dimas.
**Segera ke ruang rapat kecil. Penting.**
Rafa berpamitan kepada Kayla.
"Tunggu di sini, ya."
"Ada apa, Kak?"
"Belum tahu."
"Semoga bukan sesuatu yang buruk."
Rafa memaksakan senyum.
"Aku juga berharap begitu."
---
Ruang rapat hotel dipenuhi wajah-wajah tegang.
Selain Adrian, ada Dimas, kuasa hukum keluarga Mahendra, dan dua orang direktur perusahaan.
"Kita tidak punya banyak waktu," ujar salah satu direktur.
"Kalau berita ini bocor hari ini juga, harga saham bisa langsung terdampak."
"Prioritas saya bukan saham," potong Adrian tenang.
"Saya ingin menemukan Maya."
"Tapi perusahaan juga harus dipikirkan."
"Justru karena itu kita harus berhenti berspekulasi."
Ruangan kembali sunyi.
Tak lama kemudian, Dimas menerima panggilan telepon.
Ia menjauh beberapa langkah sebelum mengangkatnya.
Wajahnya berubah semakin serius.
"Baik... kirim rekamannya sekarang."
Telepon ditutup.
Semua mata tertuju padanya.
"Dimas?"
"Tim keamanan baru mengirim cuplikan CCTV apartemen Nona Maya."
"Apa dia keluar sendiri?"
Dimas menelan ludah.
"Ya."
"Lalu?"
"Dia membawa koper."
Ruangan mendadak senyap.
Adrian tidak langsung bereaksi.
Ia hanya menatap layar tablet yang kini menampilkan gambar seorang perempuan bertopi dan bermasker berjalan meninggalkan lobi apartemen sambil menarik koper berwarna putih.
Wajahnya memang tidak terlihat jelas.
Namun cara berjalan dan pakaian yang dikenakan tidak mungkin salah.
Itu Maya.
Dan yang paling mengejutkan...
Ia pergi seorang diri.
Di luar ruang rapat, Kayla yang sedang mencari Rafa tanpa sengaja melihat pintu yang belum tertutup rapat.
Ia tidak mendengar seluruh pembicaraan.
Tetapi satu kalimat dari dalam ruangan membuat langkahnya terhenti.
"Dengan atau tanpa penjelasan, publik akan menganggap pengantin wanita meninggalkan Pak Adrian."
Kayla menatap lantai beberapa saat.
Entah mengapa, ada rasa iba yang perlahan memenuhi hatinya.
Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Namun untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa pria yang selama ini dikenal sempurna ternyata juga bisa menjadi seseorang yang terluka.
**Bersambung ke Episode 3**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments