Layar ponsel Adrian masih menyala.
> **"Kalau ingin menemukan Maya hidup-hidup, datang sendiri ke alamat yang kukirim. Jangan bawa polisi."**
Ia membaca pesan itu berulang kali. Bukan karena tidak mengerti, melainkan sedang menimbang apakah itu jebakan atau petunjuk yang selama ini ia cari.
Jari telunjuknya mengetuk pelan bodi ponsel.
Kebiasaan itu selalu muncul ketika ia sedang berpikir keras.
Tak lama, Dimas keluar dari hotel sambil membawa map berisi dokumen yang tertunda karena acara batal.
"Pak, mobil sudah siap."
Adrian mengangkat kepala.
"Dimas."
"Iya, Pak?"
"Cek alamat ini."
Dimas menerima ponsel Adrian. Wajahnya berubah serius saat melihat titik lokasi yang dikirim nomor tak dikenal.
"Gudang tua di kawasan pelabuhan."
"Masih aktif?"
"Bangunannya sudah lama tidak dipakai. Setidaknya itu yang tercatat."
Adrian mengangguk pelan.
"Siapkan mobil."
Dimas terdiam beberapa detik.
"Bapak benar-benar akan datang?"
"Aku harus memastikan."
"Kalau ini jebakan?"
"Itu risiko yang harus kuambil."
Sebagai orang yang memimpin ribuan karyawan, Adrian terbiasa mengambil keputusan sulit. Namun kali ini, alasannya bukan perusahaan.
Ia hanya ingin memastikan satu hal.
Apakah Maya benar-benar pergi atas keinginannya sendiri?
---
Sementara itu, di dalam mobil Rafa.
Suasana jauh lebih tenang dibanding beberapa jam sebelumnya.
Lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu, memantul di kaca jendela yang sedikit basah oleh gerimis.
Kayla memandangi jalan tanpa benar-benar melihatnya.
Pikirannya masih tertinggal di hotel.
"Kamu capek?"
Suara Rafa memecah lamunannya.
"Sedikit."
"Bohong."
Kayla menoleh sambil tersenyum tipis.
"Kelihatan, ya?"
"Dari kecil kalau lagi banyak pikiran, kamu selalu diam."
Kayla terkekeh pelan.
"Ternyata Kakak masih hafal."
"Aku ini kakakmu."
Beberapa saat mereka kembali menikmati perjalanan dalam diam.
"Kak."
"Hm?"
"Menurut Kakak... Mbak Maya benar-benar pergi karena tidak ingin menikah?"
Rafa menghela napas.
"Aku tidak tahu."
"Tapi suratnya..."
"Justru itu yang membuatku heran."
Rafa memelankan laju mobil ketika lampu lalu lintas berubah merah.
"Adrian pernah bilang, Maya bukan tipe orang yang menghilang tanpa penjelasan."
"Lalu?"
"Ada kemungkinan kita belum mengetahui cerita yang sebenarnya."
Kayla mengangguk pelan.
Ia ingin percaya bahwa semua ini hanyalah kesalahpahaman.
Entah mengapa, hatinya menolak mempercayai bahwa seseorang bisa meninggalkan hari pernikahannya begitu saja.
---
Di rumah keluarga Mahendra.
Suasana jauh berbeda dibanding biasanya.
Rumah besar itu terasa sunyi.
Pak Surya, kepala pelayan yang telah bekerja lebih dari tiga puluh tahun, menyambut Adrian di ruang tamu.
"Tuan Besar menunggu di ruang kerja."
"Terima kasih."
Adrian melepas jasnya sebelum berjalan menuju lantai dua.
Pintu ruang kerja terbuka perlahan.
Di balik meja kayu besar, Armand Mahendra masih membaca laporan perusahaan.
Usianya sudah melewati enam puluh tahun, tetapi sorot matanya tetap tajam.
"Kau terlambat."
"Ada yang harus diselesaikan."
Armand menutup map di hadapannya.
"Berapa banyak wartawan di luar hotel?"
"Cukup banyak."
"Besok akan lebih banyak."
Adrian tidak membantah.
"Nama keluarga Mahendra sedang dipertaruhkan."
"Aku tahu."
"Kalau begitu, temukan Maya sebelum media menemukan cerita mereka sendiri."
Ucapan itu terdengar dingin.
Namun Adrian memahami maksud ayahnya.
Dalam dunia bisnis, kekosongan informasi akan selalu diisi oleh rumor.
"Tidak hanya perusahaan yang dirugikan," lanjut Armand. "Keluarga Maya juga akan menjadi sasaran."
"Aku sedang mencarinya."
Armand menatap putranya cukup lama.
"Jangan sampai perasaanmu membuatmu kehilangan penilaian."
Adrian tidak menjawab.
Ia pamit setelah pembicaraan selesai.
Namun sebelum keluar dari ruang kerja, Armand kembali bersuara.
"Adrian."
"Ya?"
"Kalau nanti kau menemukan kenyataan yang tidak sesuai harapanmu..."
"...pastikan kau tetap menjadi dirimu."
Kalimat itu terus terngiang di kepala Adrian saat ia meninggalkan rumah.
---
Satu jam kemudian.
Mobil Adrian berhenti tidak jauh dari gudang yang tertera di pesan misterius.
Bangunan itu tampak tua.
Sebagian dindingnya dipenuhi lumut.
Lampu jalan di sekitar area bahkan tidak semuanya menyala.
"Dimas."
"Iya, Pak."
"Kamu tunggu di sini."
"Bapak serius masuk sendirian?"
"Itu syaratnya."
"Kalau terjadi sesuatu?"
Adrian tersenyum tipis.
"Kalau tiga puluh menit aku belum keluar, hubungi polisi."
Dimas ingin membantah.
Namun ia tahu atasannya sudah mengambil keputusan.
Adrian melangkah memasuki gudang.
Suara langkah kakinya bergema di ruangan yang kosong.
Debu beterbangan setiap kali ia berjalan.
"Tidak ada orang?" gumamnya.
Tiba-tiba...
Sebuah suara perempuan terdengar dari arah belakang.
"Adrian..."
Tubuh Adrian langsung menegang.
Ia mengenali suara itu.
Pelan-pelan ia berbalik.
Di ujung ruangan berdiri seorang perempuan dengan gaun putih yang sama seperti gaun pengantin yang seharusnya dikenakan pagi tadi.
Wajahnya pucat.
Matanya sembab.
"Maya..."
Perempuan itu menatap Adrian beberapa detik.
Lalu, dengan suara bergetar, ia berkata,
"Aku tidak punya banyak waktu."
"Kau harus percaya padaku."
"Aku tidak pernah berniat meninggalkanmu."
Kalimat itu belum selesai ketika suara benturan keras terdengar dari luar gudang.
Brak!
Maya menoleh dengan wajah panik.
"Mereka datang..."
**Bersambung ke Episode 5 **
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments