Kayla buru-buru melangkah menjauh dari ruang rapat.
Jantungnya berdetak lebih cepat, bukan karena rasa penasaran, melainkan karena tidak sengaja mendengar pembicaraan yang seharusnya bukan untuknya.
Ia berhenti di dekat jendela lorong hotel. Dari lantai tiga, halaman depan tampak dipenuhi mobil-mobil tamu yang masih terparkir rapi. Beberapa orang berdiri di teras sambil berbincang pelan, sementara para fotografer mulai sibuk mengambil gambar dekorasi. Mereka belum tahu bahwa di balik pintu ballroom, semuanya berubah.
Kayla mengembuskan napas panjang.
Hari yang seharusnya dipenuhi ucapan selamat justru berubah menjadi kepanikan.
"Kay."
Suara Rafa membuatnya menoleh.
"Kak."
"Kamu ngapain di sini?"
"Tadi aku mau nyari Kakak."
Rafa memperhatikan wajah adiknya yang terlihat murung.
"Kamu dengar sesuatu?"
Kayla terdiam sesaat sebelum mengangguk pelan.
"Aku nggak sengaja."
Rafa mengusap wajahnya pelan.
"Memang lagi kacau."
"Mbak Maya benar-benar pergi?"
"Belum ada yang tahu."
"Kasihan Kak Adrian."
Kalimat itu keluar begitu saja.
Rafa menatap adiknya cukup lama. Sudah lama ia menyadari satu hal yang tidak pernah diucapkan Kayla kepada siapa pun.
Adiknya selalu berubah menjadi lebih pendiam setiap kali nama Adrian disebut.
Dulu ia mengira itu hanya rasa kagum.
Namun seiring waktu, ia mulai curiga bahwa perasaan itu jauh lebih dalam.
Hanya saja Kayla terlalu pandai menyembunyikannya.
"Kamu masih ingat pertama kali kenal Adrian?" tanya Rafa tiba-tiba.
Kayla tersenyum kecil.
"Dia pasti sudah lupa."
"Tapi kamu masih ingat."
"Iya."
Bagaimana mungkin ia lupa?
Hari itu hujan deras mengguyur kampus. Maket tugas akhirnya rusak setelah tersenggol mahasiswa lain. Semua orang terburu-buru menyelamatkan diri dari hujan.
Hanya Adrian yang berhenti.
Pria itu ikut memungut potongan-potongan maket tanpa banyak bicara.
Bahkan setelah selesai membantu, Adrian tidak pernah menanyakan namanya.
Perbuatan sederhana itu justru menetap paling lama di ingatan Kayla.
"Jangan terlalu dipikirkan," ucap Rafa sambil menepuk pelan bahunya.
"Ayo pulang. Sepertinya acara ini memang tidak akan dilanjutkan."
---
Di ruang rapat, keputusan akhirnya diambil.
Pernikahan resmi ditunda.
Pihak keluarga mengumumkan kepada tamu bahwa calon pengantin wanita mengalami keadaan darurat sehingga acara tidak dapat dilaksanakan.
Sebagian tamu menerima penjelasan itu dengan sopan.
Sebagian lagi langsung membuka ponsel dan mulai berspekulasi.
Berita menyebar jauh lebih cepat daripada yang diperkirakan.
Dalam waktu kurang dari satu jam, nama Adrian Mahendra sudah menjadi pembicaraan di berbagai media sosial.
"Pak."
Dimas menunjukkan layar tabletnya.
"Beberapa akun sudah mulai membuat narasi bahwa Nona Maya kabur."
Adrian hanya melihat sekilas.
Ia tidak tertarik membaca komentar orang-orang yang bahkan tidak mengetahui kenyataan.
"Tim pencarian?"
"Masih bekerja."
"Teruskan."
"Baik."
Tak lama kemudian, ponsel Adrian berdering.
Nama yang muncul di layar membuat ekspresinya sedikit berubah.
**Ayah.**
Ia mengangkat panggilan itu.
"Ya."
Suara berat di seberang langsung terdengar.
"Datang ke rumah malam ini."
"Ada yang harus kuselesaikan dulu."
"Tidak."
Nada bicara ayahnya tidak memberi ruang untuk membantah.
"Ini bukan hanya tentangmu. Ini tentang nama keluarga Mahendra."
Sambungan telepon berakhir begitu saja.
Adrian menatap layar ponselnya beberapa saat sebelum memasukkannya kembali ke saku.
Kadang, menjadi pewaris keluarga besar berarti tidak memiliki cukup waktu untuk merasakan kecewa.
---
Sore mulai berganti malam.
Kayla sudah berganti pakaian dan bersiap pulang bersama Rafa.
Mereka berjalan menuju area parkir belakang hotel yang jauh lebih sepi.
"Akhirnya selesai juga."
Rafa meregangkan bahunya.
"Capek?"
"Banget."
Mereka tertawa kecil.
Namun tawa itu terhenti ketika melihat Adrian berdiri sendirian di dekat mobilnya.
Pria itu sedang menatap langit yang mulai gelap.
Dasi yang sejak pagi terpasang rapi kini sudah sedikit longgar.
Entah mengapa, untuk pertama kalinya Adrian tidak terlihat seperti CEO yang selalu percaya diri.
Ia tampak lelah.
Sangat lelah.
Rafa menghampiri lebih dulu.
"Bagaimana?"
"Belum ada kabar."
"Kalau butuh bantuan, bilang."
Adrian mengangguk pelan.
"Terima kasih."
Kayla hanya berdiri beberapa langkah di belakang.
Ia ingin mengatakan sesuatu.
Ingin menghibur.
Namun merasa tidak punya hak.
Beberapa detik kemudian Adrian menoleh ke arahnya.
Tatapan mereka bertemu.
"Terima kasih."
Kayla sedikit bingung.
"Untuk apa?"
"Dimas bilang kamu membantu menenangkan tamu dan panitia."
"Oh... itu bukan apa-apa."
"Bagiku itu membantu."
Kayla tersenyum tipis.
"Semoga Mbak Maya segera ditemukan."
Adrian tidak langsung menjawab.
"Semoga."
Satu kata itu terdengar lebih seperti doa daripada keyakinan.
Mereka kemudian berpisah.
Kayla masuk ke mobil Rafa, sementara Adrian berdiri sampai mobil itu benar-benar keluar dari area hotel.
Ia baru hendak masuk ke mobilnya ketika sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.
Tidak ada nama.
Tidak ada foto profil.
Hanya satu kalimat.
> **"Kalau ingin menemukan Maya hidup-hidup, datang sendiri ke alamat yang kukirim. Jangan bawa polisi."**
Adrian menatap pesan itu tanpa berkedip.
Beberapa detik kemudian, sebuah titik lokasi menyusul masuk.
Ia tidak mengenali alamat tersebut.
Namun firasatnya mengatakan bahwa malam itu, semuanya akan berubah.
**Bersambung ke Episode 4**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments