Bab 3: Dua Sisi Kehidupan

Sinar matahari pagi yang menerobos masuk melalui celah gorden mewah setinggi langit-langit penthouse memaksa Viona untuk membuka matanya. Rasa pening langsung menyerang kepalanya, disertai rasa pegal yang menjalar di sekujur tubuhnya. Viona bergerak perlahan, merasakan halusnya seprei sutra yang membungkus tubuhnya yang polos di balik selimut tebal.

Ingatan tentang malam tadi seketika berputar di otaknya seperti rol film. Sentuhan demi sentuhan, kecupan menuntut yang membakar kulitnya, dan bagaimana Arkan Mahendra memperlakukannya dengan gairah yang begitu intens namun tanpa menyertakan setitik pun kelembutan cinta. Pria itu benar-benar mengambil apa yang telah dia beli dengan uang ratusan juta rupiah.

Viona menoleh ke samping tempat tidur. Kosong. Kasur di sebelahnya sudah mendingin, menandakan bahwa sang pemilik kamar telah lama pergi. Ada sebersit rasa lega sekaligus perih yang aneh di sudut hati Viona. Dia segera bangun, menahan rasa nyeri di tubuhnya, lalu melangkah menuju kamar mandi. Saat menatap cermin, Viona memejamkan mata sesaat melihat beberapa tanda kemerahan yang tertinggal di tulang selangkanya—bukti kepemilikan mutlak dari seorang Arkan Mahendra.

Setelah berganti pakaian dengan terusan sederhana yang telah disiapkan di lemari khusus untuknya, Viona berjalan keluar kamar. Di atas meja makan marmer, sebuah sarapan mewah sudah tersaji hangat bersama sepucuk surat pendek dengan tulisan tangan yang kaku namun tegas.

Supir pribadi akan mengantarmu ke mana pun kamu butuh pergi hari ini. Jangan terlambat kembali ke apartemen sebelum jam delapan malam. – Arkan.

Viona meremas kertas itu pelan. "Jadwal yang ketat untuk sebuah barang pajangan," bisiknya miris pada diri sendiri.

Namun, dia tidak punya waktu untuk meratapi nasib. Hari ini dia harus bekerja. Viona adalah seorang staf administrasi biasa di sebuah perusahaan manufaktur kelas menengah. Dia membutuhkan pekerjaan itu untuk menjaga agar kehidupan normalnya tidak sepenuhnya hancur, sekaligus menyembunyikan status kelamnya dari dunia luar.

Tepat jam delapan pagi, Viona tiba di kantornya setelah diantar oleh Doni—supir pribadi Arkan—yang menurunkannya dua blok sebelum gedung kantor agar tidak memancing kecurigaan rekan kerjanya. Viona sengaja mengenakan kemeja berkerah tinggi untuk menutupi jejak-jejak malam tadi di lehernya.

"Pagi, Viona! Kamu kok pucat sekali? Sakit?" sapa Siska, rekan kerja sekaligus sahabat dekat Viona di divisi administrasi, begitu Viona duduk di kubikalnya.

Viona memaksakan sebuah senyuman tipis. "Pagi, Sis. Ah, tidak apa-apa. Hanya agak kurang tidur karena menjaga Ibu kemarin malam."

"Oh ya, bagaimana keadaan Ibumu? Utang-utang yang kamu ceritakan itu... apa sudah ada jalan keluarnya?" tanya Siska dengan gurat kecemasan yang tulus di wajahnya.

Viona menegang sesaat. Lidahnya terasa kelu untuk berbohong pada sahabatnya sendiri. "Sudah... sudah beres, Sis. Ada seorang... kerabat jauh yang berbaik hati meminjamkan uang untuk melunasi semuanya dan memindahkan Ibu ke rumah sakit yang lebih baik."

"Syukurlah kalau begitu! Aku ikut senang mendengarnya. Sumpah, kemarin aku ikut jantungan memikirkan ancaman para preman itu," ucap Siska lega sambil menepuk pundak Viona, sebelum akhirnya kembali sibuk dengan tumpukan berkas di mejanya.

Viona mengembuskan napas panjang. Maafkan aku, Siska. Aku terpaksa berbohong, batinnya perih.

Hari berjalan seperti biasa, penuh dengan rutinitas mengetik dokumen dan memeriksa laporan keuangan yang membosankan. Namun, fokus Viona buyar ketika jam makan siang tiba. Suasana kantor mendadak riuh dan kasak-kusuk terdengar di setiap sudut ruangan. Beberapa karyawati tampak merapikan riasan wajah mereka dengan heboh.

"Ada apa sih? Kok semuanya heboh banget?" tanya Viona pada Siska yang baru kembali dari toilet.

"Kamu belum tahu, Vi? Hari ini perusahaan kita kedatangan tamu agung! Investor utama yang baru saja membeli saham mayoritas perusahaan ini sedang melakukan inspeksi mendadak!" bisik Siska dengan mata berbinar-binar. "Katanya dia itu CEO muda yang super tampan, kaya raya, tapi dinginnya minta ampun. Namanya Arkan Mahendra!"

DEG!

Jantung Viona seakan merosot hingga ke perutnya. Seluruh darah di tubuhnya mendadak terasa membeku. Arkan? Di sini? Sebelum Viona sempat mencerna rasa syoknya, pintu kaca utama divisi administrasi terbuka lebar. Beberapa jajaran direksi perusahaan berjalan dengan sikap membungkuk hormat, mengawal seorang pria bertubuh tegap yang mengenakan setelan jas formal tiga potong berwarna biru gelap yang sangat mewah.

Itu Arkan. Pria yang beberapa jam lalu mengungkungnya di atas tempat tidur dengan gairah yang membara.

Aura dominan dan intimidatif yang dipancarkan Arkan seketika membungkam seluruh ruangan. Pria itu melangkah dengan dagu terangkat, mendengarkan penjelasan singkat dari direktur utama dengan wajah datar tanpa ekspresi. Tatapan matanya yang setajam elang menyapu seluruh kubikal karyawan.

Viona yang ketakutan setengah mati langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam, berpura-pura sangat sibuk dengan layar komputernya. Dia berdoa dalam hati agar Arkan tidak mengenalinya atau setidaknya berpura-pura tidak mengenalnya di tempat umum, sesuai dengan poin kontrak yang mereka sepakati semalam.

Namun, takdir tampaknya sedang senang mempermainkan Viona. Langkah sepatu pantofel yang mahal itu terdengar berhenti tepat di koridor tengah divisi administrasi, hanya berjarak dua meter dari kubikal milik Viona.

"Bagaimana performa divisi ini selama kuartal terakhir?" suara berat dan bariton Arkan menggema di ruangan yang sunyi, membuat bulu kuduk Viona meremang.

"Sangat stabil, Tuan Mahendra. Semua staf kami bekerja dengan sangat efisien," jawab sang manajer dengan nada gugup.

Arkan tidak langsung menjawab. Matanya yang tajam justru terpaku pada sosok gadis yang sedang menunduk kaku di depannya. Sudut bibir Arkan terangkat seulas, membentuk seringai tipis yang hampir tak terlihat oleh orang lain. Pria itu sengaja melangkah mendekat, berdiri tepat di samping kubikal Viona, membuat aroma parfum maskulinnya yang familier langsung mengepung indra penciuman gadis itu.

"Siapa nama staf yang ini?" tanya Arkan dingin, sambil menunjuk dokumen di atas meja Viona dengan jari telunjuknya yang mengenakan cincin berlogo keluarga Mahendra.

Viona terpaksa mendongak. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga rasanya mau melompat keluar. Dia menatap mata hitam kelam Arkan yang kini sedang menatapnya dengan pandangan yang sarat akan kilatan posesif dan kepuasan terselubung.

"S-Saya... Viona, Tuan," jawab Viona dengan suara sesenyap mungkin, mencoba menjaga profesionalitasnya yang hampir runtuh.

Arkan menatap leher Viona yang tertutup rapat oleh kerah kemeja tinggi, tahu persis apa yang sedang disembunyikan gadis itu di baliknya. Kilatan gairah terlarang kembali melintas di mata sang CEO dalam sekejap sebelum kembali berubah dingin.

"Viona," Arkan mengulang nama itu dengan pelan, seolah sedang mengecap rasa manis di lidahnya. "Pastikan laporan kerja dari divisimu dikirim ke meja sekretaris pribadiku sore ini juga. Aku tidak suka keterlambatan."

"Baik, Tuan Mahendra," lirih Viona sambil kembali menunduk.

Arkan kemudian berbalik dan melanjutkan langkahnya keluar dari ruangan, meninggalkan Viona yang lemas dengan punggung yang basah oleh keringat dingin. Begitu rombongan itu menghilang, Siska langsung menyenggol lengan Viona dengan heboh.

"Wah, Viona! Kamu beruntung banget bisa diajak bicara langsung sama Tuan Arkan! Tapi aslinya beneran bikin merinding ya tatapannya!" seru Siska tanpa tahu badai apa yang sedang berkecamuk di dalam dada sahabatnya.

Viona hanya bisa tersenyum getir. Dia tahu, kunjungan mendadak Arkan ke kantornya bukan sekadar urusan bisnis biasa. Pria itu sedang menegaskan kekuasaannya. Pria itu sedang mengingatkannya bahwa ke mana pun Viona pergi, dia tidak akan pernah bisa lari dari cengkeraman sang CEO dingin tersebut.

Episodes
1 Bab 1: Harga Diri yang Terjual
2 Bab 2: Sangkar Emas Penthouse Mewah
3 Bab 3: Dua Sisi Kehidupan
4 Bab 4: Di Balik Pintu Ruang Kerja Pribadi
5 Bab 5: Menelan Pil Pahit
6 Bab 6: Rahasia yang Mulai Tercium
7 BAB 7: Sisi Lain Sang Tirani
8 BAB 8: Aroma Rahasia dan Kilat Kecemburuan
9 BAB 9: Murka Sang Penguasa
10 BAB 10: Sinar Fajar dan Dinginnya Jarak
11 BAB 11: BayangBayang Masa Lalu
12 BAB 12: Realita Sang Nyonya dan Boneka Tuan
13 BAB 13: Jerat yang Kian Mencekik
14 BAB 14: Jeruji yang Berkilau
15 BAB 15: Siasat di Balik Layar
16 BAB 16: Sangkar Baru di Lantai Tertinggi
17 BAB 17: Tamu yang Tak Diundang
18 BAB 18: Luka yang Menganga
19 BAB 19: Sayap di Atas Awan
20 BAB 20: Batas Keputusasaan
21 BAB 21: Undangan Tersembunyi dan Detak yang Salah
22 BAB 22: Benang Merah yang Kusut
23 BAB 23: Konfrontasi Dewan Direksi
24 BAB 24: Pintu yang Terkunci Rapat
25 BAB 25: Jeruji Tanpa Suara
26 BAB 26: Percikan Cemburu dan Sudut Tergelap Penthouse
27 BAB 27: Jerat yang Kian Mengencang
28 BAB 28: Batasan yang Kian Samar
29 BAB 29: Dinding Es yang Retak
30 BAB 30: Pecahnya Topeng dan Badai Kebenaran
31 BAB 31: Pelarian Hancur dan Rahasia di Balik Dua Garis Merah
32 BAB 32: Jejak yang Terhapus dan Kenyataan di Balik Kegelapan
33 BAB 33: Penyesalan di Ujung Kebenaran dan Rahasia yang Tercium
34 BAB 34: Pertemuan di Batas Keputusasaan dan Kebenaran yang Menghancurkan
35 BAB 35: Puing-Puing Kebenaran dan Pilihan Terakhir
36 BAB 36: Jerat Maut dan Kebenaran yang Terbakar
37 BAB 37: Puncak Labirin dan Kenyataan di Balik Kenyataan
38 BAB 38: Deklarasi Perang dan Kenyataan di Balik Sumpah Palsu
39 BAB 39: Benang Merah yang Terkoyak dan Rencana Terakhir
40 BAB 40: Runtuhnya Sangkar Emas dan Pilihan Terakhir Sang Alpha
41 BAB 41: Jerat Terakhir Sang Manipulator dan Sumpah di Atas Darah
42 BAB 42: Panggung Sandiwara Terakhir dan Racun di Cawan Emas
43 BAB 43: Sisa Abu Manipulasi dan Pewaris yang Sesungguhnya
44 BAB 44: Singgasana yang Berdarah dan Pewaris Pengganti
45 BAB 45: Labirin Ilusi dan Pilihan Berdarah
46 BAB 46: Pilihan Terakhir di Ujung Laras
47 BAB 46: Pilihan Terakhir di Ujung Laras
48 BAB 47: Kartu As Terakhir dan Darah Penebusan
49 BAB 48: Puncak Mahkota Emas dan Deklarasi Posesif
50 BAB 49: Riak Baru di Balik Tirai Sutra
51 BAB 50: Deklarasi Darah dan Sang Penguasa Mutlak
52 Bab 53: Aroma yang Tertinggal
53 Bab 54: Kebenaran yang Menghancurkan
54 Bab 55: Labrakan Sang Tunangan Resmi
55 Bab 56: Jejak yang Hilang
56 Bab 57: Pengejaran di Ujung Waktu
57 Bab 58: Perisai Sang Penguasa
58 Bab 59: Pembalasan Tanpa Ampun
59 Bab 60: Sang Penguasa Sebenarnya
60 Bab 60: Sang Penguasa Sebenarnya
61 Bab 61: Di Antara Hidup dan Mati
62 Bab 62: Perebutan di Lorong Maut
63 Bab 63: Kebenaran Berdarah
64 Bab 64: Pelarian dan Pengkhianatan Terbesar
65 Bab 65: Badai Perang Laut
66 Bab 66: Bayangan di Balik Pengasingan
67 Bab 67: Mahkota sang Ratu
68 Bab 68: Kebangkitan Sang Ratu
69 Bab 69: Di Atas Puing dan Api
70 Bab 70: Rahasia Darah Sang Ratu
71 Bab 71: Dilema Dua Hati
72 Bab 72: Sang Ratu di Garis Depan
73 Bab 73: Takhta, Cinta, dan Bahtera Abadi
74 Bab 74: Bayangan di Luar Gemerlap
75 Bab 75: Mendarat di Tanah Musuh
76 Bab 76: Dansa Muslihat di Gala Malam
77 Bab 77: Dokumen Rahasia Natania
78 Bab 78: Batalyon Hitam dan Murka Sang Penguasa
79 Bab 79: Perang di Bursa Zurich
80 Bab 80: Racun Bayangan dan Introgasi Berdarah
81 Bab 81: Penerbangan di Atas Awan Gelap
82 Bab 82: Pembantaian di Kastil Surrey
83 Bab 83: Pelarian dari Neraka Surrey dan Detik Kritis Viona
84 Bab 84: Pengkhianat di Balik Tahta
85 Bab 85: Identitas Rahasia Sang Ratu dan Eksekusi Sang Pengkhianat
86 Bab 86: Bayangan Masa Lalu di Kastil Vienna
87 Bab 86: Bayangan Masa Lalu di Kastil Vienna
88 Bab 87: Pelukan yang Hilang dan Bayangan Proyek Aurora
89 Bab 88: Badai di Koridor Obsidian dan Kebangkitan Aurora
90 Bab 89: Puncak Tahta di Jenewa dan Ancaman Senyap
91 Bab 91: Racun Dalam Cawan Emas
92 Bab 92: Amarah Sang Iblis Mahendra
93 Bab 93: Pembalasan Tanpa Ampun
94 Bab 94: Dua Garis Merah Di Balik Ketakutan
95 Bab 95: Perang Dua Taipan
96 Bab 96: Jejak Persekutuan Gelap
97 Bab 97: Pertempuran Di Meja Hijau Internasional
98 Bab 98: Perburuan Di Atas Langit Jakarta
99 Bab 99: Darahdan Rahsia Di Dek Kapal Kargo
100 Bab 100: sebuah Rahasia Darah
101 Bab 101: Malam Pengantin Di Bawah Bayang-Bayang Rahasia
102 Bab 102: Belati Di Balik Dekapan Iblis
103 Bab 103: Rencana Dibalik Kepatuhan Palsu
104 Bab 104: Tari Di Atas Permadani Racun
105 Bab 105: Kembalinya Sang Iblis Tua
106 Bab 106: Tangisan Di Balik Badai Monako
107 Bab 107: Infiltrasi Kasino
108 Bab 108: Pecahan Kaca Di Balik Pintu Kayu
109 Bab 109: Retak di Dinding Kaca
110 Bab 110: Sisa Hujan Di Ambang Pintu
111 Bab 111: Kertas Cokelat dan Fajar yang Dingin
112 Bab 112: Aroma Kopi dan Sisa Hujan
113 Bab 113: Sisa Hangat di Ujung Sprei
114 Bab 114: Jejak Oli di Ambang Pintu
115 Bab 115: Uap Kuah dan Cahaya Kuning
116 Bab 116: Bau Pinus dan Kepulan Teh Masala
117 BAB 117
118 Bab 118
119 Bab 119
120 Bab 120
121 Bab 121
122 Bab 122
123 Bab 123
124 Bab 124
Episodes

Updated 124 Episodes

1
Bab 1: Harga Diri yang Terjual
2
Bab 2: Sangkar Emas Penthouse Mewah
3
Bab 3: Dua Sisi Kehidupan
4
Bab 4: Di Balik Pintu Ruang Kerja Pribadi
5
Bab 5: Menelan Pil Pahit
6
Bab 6: Rahasia yang Mulai Tercium
7
BAB 7: Sisi Lain Sang Tirani
8
BAB 8: Aroma Rahasia dan Kilat Kecemburuan
9
BAB 9: Murka Sang Penguasa
10
BAB 10: Sinar Fajar dan Dinginnya Jarak
11
BAB 11: BayangBayang Masa Lalu
12
BAB 12: Realita Sang Nyonya dan Boneka Tuan
13
BAB 13: Jerat yang Kian Mencekik
14
BAB 14: Jeruji yang Berkilau
15
BAB 15: Siasat di Balik Layar
16
BAB 16: Sangkar Baru di Lantai Tertinggi
17
BAB 17: Tamu yang Tak Diundang
18
BAB 18: Luka yang Menganga
19
BAB 19: Sayap di Atas Awan
20
BAB 20: Batas Keputusasaan
21
BAB 21: Undangan Tersembunyi dan Detak yang Salah
22
BAB 22: Benang Merah yang Kusut
23
BAB 23: Konfrontasi Dewan Direksi
24
BAB 24: Pintu yang Terkunci Rapat
25
BAB 25: Jeruji Tanpa Suara
26
BAB 26: Percikan Cemburu dan Sudut Tergelap Penthouse
27
BAB 27: Jerat yang Kian Mengencang
28
BAB 28: Batasan yang Kian Samar
29
BAB 29: Dinding Es yang Retak
30
BAB 30: Pecahnya Topeng dan Badai Kebenaran
31
BAB 31: Pelarian Hancur dan Rahasia di Balik Dua Garis Merah
32
BAB 32: Jejak yang Terhapus dan Kenyataan di Balik Kegelapan
33
BAB 33: Penyesalan di Ujung Kebenaran dan Rahasia yang Tercium
34
BAB 34: Pertemuan di Batas Keputusasaan dan Kebenaran yang Menghancurkan
35
BAB 35: Puing-Puing Kebenaran dan Pilihan Terakhir
36
BAB 36: Jerat Maut dan Kebenaran yang Terbakar
37
BAB 37: Puncak Labirin dan Kenyataan di Balik Kenyataan
38
BAB 38: Deklarasi Perang dan Kenyataan di Balik Sumpah Palsu
39
BAB 39: Benang Merah yang Terkoyak dan Rencana Terakhir
40
BAB 40: Runtuhnya Sangkar Emas dan Pilihan Terakhir Sang Alpha
41
BAB 41: Jerat Terakhir Sang Manipulator dan Sumpah di Atas Darah
42
BAB 42: Panggung Sandiwara Terakhir dan Racun di Cawan Emas
43
BAB 43: Sisa Abu Manipulasi dan Pewaris yang Sesungguhnya
44
BAB 44: Singgasana yang Berdarah dan Pewaris Pengganti
45
BAB 45: Labirin Ilusi dan Pilihan Berdarah
46
BAB 46: Pilihan Terakhir di Ujung Laras
47
BAB 46: Pilihan Terakhir di Ujung Laras
48
BAB 47: Kartu As Terakhir dan Darah Penebusan
49
BAB 48: Puncak Mahkota Emas dan Deklarasi Posesif
50
BAB 49: Riak Baru di Balik Tirai Sutra
51
BAB 50: Deklarasi Darah dan Sang Penguasa Mutlak
52
Bab 53: Aroma yang Tertinggal
53
Bab 54: Kebenaran yang Menghancurkan
54
Bab 55: Labrakan Sang Tunangan Resmi
55
Bab 56: Jejak yang Hilang
56
Bab 57: Pengejaran di Ujung Waktu
57
Bab 58: Perisai Sang Penguasa
58
Bab 59: Pembalasan Tanpa Ampun
59
Bab 60: Sang Penguasa Sebenarnya
60
Bab 60: Sang Penguasa Sebenarnya
61
Bab 61: Di Antara Hidup dan Mati
62
Bab 62: Perebutan di Lorong Maut
63
Bab 63: Kebenaran Berdarah
64
Bab 64: Pelarian dan Pengkhianatan Terbesar
65
Bab 65: Badai Perang Laut
66
Bab 66: Bayangan di Balik Pengasingan
67
Bab 67: Mahkota sang Ratu
68
Bab 68: Kebangkitan Sang Ratu
69
Bab 69: Di Atas Puing dan Api
70
Bab 70: Rahasia Darah Sang Ratu
71
Bab 71: Dilema Dua Hati
72
Bab 72: Sang Ratu di Garis Depan
73
Bab 73: Takhta, Cinta, dan Bahtera Abadi
74
Bab 74: Bayangan di Luar Gemerlap
75
Bab 75: Mendarat di Tanah Musuh
76
Bab 76: Dansa Muslihat di Gala Malam
77
Bab 77: Dokumen Rahasia Natania
78
Bab 78: Batalyon Hitam dan Murka Sang Penguasa
79
Bab 79: Perang di Bursa Zurich
80
Bab 80: Racun Bayangan dan Introgasi Berdarah
81
Bab 81: Penerbangan di Atas Awan Gelap
82
Bab 82: Pembantaian di Kastil Surrey
83
Bab 83: Pelarian dari Neraka Surrey dan Detik Kritis Viona
84
Bab 84: Pengkhianat di Balik Tahta
85
Bab 85: Identitas Rahasia Sang Ratu dan Eksekusi Sang Pengkhianat
86
Bab 86: Bayangan Masa Lalu di Kastil Vienna
87
Bab 86: Bayangan Masa Lalu di Kastil Vienna
88
Bab 87: Pelukan yang Hilang dan Bayangan Proyek Aurora
89
Bab 88: Badai di Koridor Obsidian dan Kebangkitan Aurora
90
Bab 89: Puncak Tahta di Jenewa dan Ancaman Senyap
91
Bab 91: Racun Dalam Cawan Emas
92
Bab 92: Amarah Sang Iblis Mahendra
93
Bab 93: Pembalasan Tanpa Ampun
94
Bab 94: Dua Garis Merah Di Balik Ketakutan
95
Bab 95: Perang Dua Taipan
96
Bab 96: Jejak Persekutuan Gelap
97
Bab 97: Pertempuran Di Meja Hijau Internasional
98
Bab 98: Perburuan Di Atas Langit Jakarta
99
Bab 99: Darahdan Rahsia Di Dek Kapal Kargo
100
Bab 100: sebuah Rahasia Darah
101
Bab 101: Malam Pengantin Di Bawah Bayang-Bayang Rahasia
102
Bab 102: Belati Di Balik Dekapan Iblis
103
Bab 103: Rencana Dibalik Kepatuhan Palsu
104
Bab 104: Tari Di Atas Permadani Racun
105
Bab 105: Kembalinya Sang Iblis Tua
106
Bab 106: Tangisan Di Balik Badai Monako
107
Bab 107: Infiltrasi Kasino
108
Bab 108: Pecahan Kaca Di Balik Pintu Kayu
109
Bab 109: Retak di Dinding Kaca
110
Bab 110: Sisa Hujan Di Ambang Pintu
111
Bab 111: Kertas Cokelat dan Fajar yang Dingin
112
Bab 112: Aroma Kopi dan Sisa Hujan
113
Bab 113: Sisa Hangat di Ujung Sprei
114
Bab 114: Jejak Oli di Ambang Pintu
115
Bab 115: Uap Kuah dan Cahaya Kuning
116
Bab 116: Bau Pinus dan Kepulan Teh Masala
117
BAB 117
118
Bab 118
119
Bab 119
120
Bab 120
121
Bab 121
122
Bab 122
123
Bab 123
124
Bab 124

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!