Gairah Membara Seorang Wanita Simpanan CEO

Gairah Membara Seorang Wanita Simpanan CEO

Bab 1: Harga Diri yang Terjual

Malam itu, hujan turun sangat deras di sudut ibu kota, seolah-olah langit sedang ikut menangis meratapi nasib sial yang menimpa Viona. Di dalam sebuah gang sempit yang gelap dan becek, gadis berusia dua puluh tiga tahun itu berlari tanpa arah. Napasnya tersengal-sengal, sementara air hujan melarutkan air mata yang terus mengalir di pipinya yang pucat.

Di belakangnya, sayup-sayup terdengar suara langkah sepatu bot yang berat disertai teriakan kasar beberapa orang pria.

"Jangan lari kamu, jalang kecil! Bayar utang ayahmu!" teriak salah satu pria dengan suara serak yang mengerikan.

Viona mempercepat langkahnya, mengabaikan rasa perih di kakinya yang lecet karena hanya mengenakan flat shoes murah. Pikiran gadis itu kacau balau. Ayahnya yang telah meninggal dunia ternyata meninggalkan warisan berupa utang judi sebesar ratusan juta kepada rentenir kelas kakap. Tadi sore, para penagih utang itu datang ke rumah petak mereka, mengacak-acak isinya, dan mengancam akan menghabisi nyawa ibunya yang sedang sakit keras jika utang itu tidak dilunasi malam ini juga. Demi melindungi ibunya, Viona sengaja memancing para preman itu untuk mengejarnya ke luar rumah. Namun sekarang, dia sendiri terjebak dalam keputusasaan yang teramat sangat.

Tuhan, tolong aku... Siapa saja, tolong aku,jerit Viona dalam hati.

Langkah Viona mendadak terhenti ketika dia keluar dari gang dan menembus jalanan raya utama. Di depannya, sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam mengkilap melaju dengan kecepatan sedang. Karena panik dan pandangan yang buram akibat air hujan, Viona tidak sempat menghindar. Dia justru merentangkan kedua tangannya di tengah jalan, mencoba menghentikan kendaraan tersebut sebagai harapan terakhirnya.

CIIIITTTTT!

Suara berdecit nyaring dari ban mobil yang bergesekan dengan aspal basah memecah keheningan malam. Mobil mewah bermerek Rolls-Royce itu berhenti tepat beberapa sentimeter di depan lutut Viona yang gemetar. Tubuh Viona yang lemas seketika limbung dan jatuh terduduk di atas aspal yang dingin.

Di dalam mobil, seorang pria yang duduk di kursi belakang mendengus kesal karena guncangan rem mendadak tersebut. Pria itu adalah Arkan Mahendra, seorang CEO muda berusia dua puluh sembilan tahun yang terkenal kejam, dingin, dan bertangan dingin di dunia bisnis. Wajahnya yang setampan dewa Yunani tampak mengeras, memancarkan aura dominan yang mengintimidasi siapa saja.

"Ada apa, Doni?" tanya Arkan dengan suara berat dan datar, tanpa mengalihkan pandangan dari tablet di tangannya.

"Maaf, Tuan Arkan. Ada seorang wanita yang tiba-tiba menghadang mobil kita. Sepertinya dia hampir pingsan," jawab sang sopir pribadi dengan nada cemas.

Arkan menurunkan sedikit kaca mobilnya. Melalui celah sempit itu, tatapan matanya yang tajam dan sedingin es menangkap sosok seorang gadis yang basah kuyup di bawah guyuran hujan. Gadis itu berwajah oval, dengan rambut panjang yang menempel di lehernya, dan mata bulat yang memancarkan ketakutan yang mendalam. Di saat yang sama, Arkan melihat tiga orang pria berwajah sangar berlari keluar dari gang, bersiap untuk menyeret gadis itu.

Viona yang melihat ada celah harapan, merangkak mendekati pintu mobil belakang. Dia mengetuk kaca mobil dengan tangan yang gemetar hebat.

"Tolong... saya mohon, tolong saya," bisik Viona parau, berharap sang pemilik mobil bisa mendengarnya dari balik badai. "Mereka akan membunuh saya..."

Arkan memperhatikan jemari gadis itu yang memutih karena kedinginan. Biasanya, Arkan tidak pernah peduli dengan urusan orang lain. Baginya, manusia hanyalah bidak catur yang bergerak sesuai keuntungan bisnis. Namun, entah mengapa, ada sesuatu pada tatapan mata gadis itu—sebuah keputusasaan yang murni—yang tiba-tiba memicu rasa penasaran di benak Arkan yang mati rasa akibat pengkhianatan masa lalu.

"Buka pintunya," perintah Arkan singkat.

Doni terkejut, namun segera menekan tombol pembuka kunci. Viona tidak membuang waktu. Dengan sisa tenaga yang dia miliki, dia membuka pintu mobil dan menyusup masuk ke dalam kabin mobil yang hangat dan beraroma parfum maskulin yang sangat mahal. Begitu pintu tertutup rapat, mobil itu langsung melesat membelah jalanan, meninggalkan para rentenir yang memaki di belakang.

Viona duduk meringkuk di lantai mobil, tidak berani duduk di atas jok kulit yang mewah karena tubuhnya yang kotor dan basah kuyup. Dia menangis sesenggukan, memeluk lututnya sendiri, mencoba menetralisir rasa takut yang masih tersisa.

"Sudah aman. Sekarang, keluar dari mobilku," suara dingin Arkan memecah keheningan di dalam kabin.

Viona mendongak. Untuk pertama kalinya, matanya bertemu dengan manik mata hitam kelam milik Arkan. Detak jantung Viona seakan berhenti sedetik. Pria di hadapannya ini begitu tampan, namun tatapannya sangat tidak bersahabat.

"T-Tuan... tolong saya. Saya tidak bisa turun di sini. Mereka pasti masih mencari saya dan ibu saya," ratap Viona dengan suara bergetar. "Saya akan melakukan apa saja, asal Anda menyelamatkan saya dan ibu saya dari rentenir itu. Tolong..."

Arkan menatap Viona dari atas ke bawah. Meskipun tertutup pakaian basah yang melekat di tubuhnya, Arkan bisa melihat lekuk tubuh gadis itu yang indah dan proporsional. Wajah polos Viona yang tanpa riasan justru memancarkan kecantikan alami yang langka. Sebuah seringai tipis yang sarat akan niat tersembunyi muncul di sudut bibir Arkan.

Pria itu mematikan tabletnya, lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Viona. Jarak mereka begitu dekat hingga Viona bisa merasakan embusan napas hangat Arkan yang kontras dengan tubuhnya yang kedinginan.

"Melakukan apa saja, katamu?" tanya Arkan dengan nada meremehkan. "Kamu tahu siapa aku? Aku tidak memberikan tumpangan gratis, apalagi perlindungan cuma-cuma."

"Saya tahu... tapi saya tidak punya apa-apa lagi sekarang," tangis Viona pecah. "Hanya nyawa dan... diri saya."

Arkan terkekeh sinis. Suaranya terdengar seksi namun mematikan. "Dirimu? Baik. Kebetulan sekali, aku sedang membutuhkan sesuatu untuk memuaskan obsesiku, sebuah mainan yang bisa mendengarkan semua perintahku tanpa bantahan. Aku tawarkan sebuah kesepakatan gila padamu."

Viona menahan napasnya. "Kesepakatan... apa, Tuan?"

Arkan mengulurkan jari telunjuknya, mengangkat dagu Viona agar gadis itu menatap langsung ke dalam matanya yang dominan.

"Jadilah wanita simpananku. Tanda tangani kontrak eksklusif denganku. Aku akan melunasi semua utang keluarga itumu, membiayai pengobatan ibumu di rumah sakit terbaik, dan menjamin keselamatan kalian ." Arkan menjeda kalimatnya, tatapannya menggelap dipenuhi gairah yang terpendam. "Tapi imbalannya, tubuhmu, waktumu, dan kebebasanmu adalah milikku sepenuhnya. Kamu harus siap melayaniku kapan pun aku menginginkannya di apartemenku."

Bagai disambar petir di siang bolong, Viona tertegun. Menjadi wanita simpanan? Menjual harga dirinya kepada seorang pria asing demi uang? Hati nurani Viona menjerit menolak. Namun, bayangan wajah ibunya yang pucat dan todongan senjata tajam para rentenir kembali berputar di otaknya. Jika dia menolak, besok mungkin dia hanya akan melihat jasad ibunya.

Dunia ini kejam, dan Viona dipaksa untuk menjadi lebih kejam pada dirinya sendiri.

Dengan air mata yang mengalir semakin deras, Viona memejamkan mata erat-erat. Dia mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih, mengubur dalam-dalam harga diri yang selama ini dia jaga dengan baik.

"Baik... saya menerima kesepakatan itu, Tuan," bisik Viona lirih, menerima takdir kelam yang baru saja dia pilih.

Arkan tersenyum puas. Dia melepaskan cengkeramannya pada dagu Viona. "Pilihan yang cerdas. Mulai malam ini, kamu adalah milikku, Viona."

Mobil Rolls-Royce itu pun berbelok, membelokkan arah menuju ke sebuah gedung pent-house mewah di pusat kota, tempat di mana malam pertama yang penuh gairah terlarang dan air mata akan segera dimulai.

Episodes
1 Bab 1: Harga Diri yang Terjual
2 Bab 2: Sangkar Emas Penthouse Mewah
3 Bab 3: Dua Sisi Kehidupan
4 Bab 4: Di Balik Pintu Ruang Kerja Pribadi
5 Bab 5: Menelan Pil Pahit
6 Bab 6: Rahasia yang Mulai Tercium
7 BAB 7: Sisi Lain Sang Tirani
8 BAB 8: Aroma Rahasia dan Kilat Kecemburuan
9 BAB 9: Murka Sang Penguasa
10 BAB 10: Sinar Fajar dan Dinginnya Jarak
11 BAB 11: BayangBayang Masa Lalu
12 BAB 12: Realita Sang Nyonya dan Boneka Tuan
13 BAB 13: Jerat yang Kian Mencekik
14 BAB 14: Jeruji yang Berkilau
15 BAB 15: Siasat di Balik Layar
16 BAB 16: Sangkar Baru di Lantai Tertinggi
17 BAB 17: Tamu yang Tak Diundang
18 BAB 18: Luka yang Menganga
19 BAB 19: Sayap di Atas Awan
20 BAB 20: Batas Keputusasaan
21 BAB 21: Undangan Tersembunyi dan Detak yang Salah
22 BAB 22: Benang Merah yang Kusut
23 BAB 23: Konfrontasi Dewan Direksi
24 BAB 24: Pintu yang Terkunci Rapat
25 BAB 25: Jeruji Tanpa Suara
26 BAB 26: Percikan Cemburu dan Sudut Tergelap Penthouse
27 BAB 27: Jerat yang Kian Mengencang
28 BAB 28: Batasan yang Kian Samar
29 BAB 29: Dinding Es yang Retak
30 BAB 30: Pecahnya Topeng dan Badai Kebenaran
31 BAB 31: Pelarian Hancur dan Rahasia di Balik Dua Garis Merah
32 BAB 32: Jejak yang Terhapus dan Kenyataan di Balik Kegelapan
33 BAB 33: Penyesalan di Ujung Kebenaran dan Rahasia yang Tercium
34 BAB 34: Pertemuan di Batas Keputusasaan dan Kebenaran yang Menghancurkan
35 BAB 35: Puing-Puing Kebenaran dan Pilihan Terakhir
36 BAB 36: Jerat Maut dan Kebenaran yang Terbakar
37 BAB 37: Puncak Labirin dan Kenyataan di Balik Kenyataan
38 BAB 38: Deklarasi Perang dan Kenyataan di Balik Sumpah Palsu
39 BAB 39: Benang Merah yang Terkoyak dan Rencana Terakhir
40 BAB 40: Runtuhnya Sangkar Emas dan Pilihan Terakhir Sang Alpha
41 BAB 41: Jerat Terakhir Sang Manipulator dan Sumpah di Atas Darah
42 BAB 42: Panggung Sandiwara Terakhir dan Racun di Cawan Emas
43 BAB 43: Sisa Abu Manipulasi dan Pewaris yang Sesungguhnya
44 BAB 44: Singgasana yang Berdarah dan Pewaris Pengganti
45 BAB 45: Labirin Ilusi dan Pilihan Berdarah
46 BAB 46: Pilihan Terakhir di Ujung Laras
47 BAB 46: Pilihan Terakhir di Ujung Laras
48 BAB 47: Kartu As Terakhir dan Darah Penebusan
49 BAB 48: Puncak Mahkota Emas dan Deklarasi Posesif
50 BAB 49: Riak Baru di Balik Tirai Sutra
51 BAB 50: Deklarasi Darah dan Sang Penguasa Mutlak
52 Bab 53: Aroma yang Tertinggal
53 Bab 54: Kebenaran yang Menghancurkan
54 Bab 55: Labrakan Sang Tunangan Resmi
55 Bab 56: Jejak yang Hilang
56 Bab 57: Pengejaran di Ujung Waktu
57 Bab 58: Perisai Sang Penguasa
58 Bab 59: Pembalasan Tanpa Ampun
59 Bab 60: Sang Penguasa Sebenarnya
60 Bab 60: Sang Penguasa Sebenarnya
61 Bab 61: Di Antara Hidup dan Mati
62 Bab 62: Perebutan di Lorong Maut
63 Bab 63: Kebenaran Berdarah
64 Bab 64: Pelarian dan Pengkhianatan Terbesar
65 Bab 65: Badai Perang Laut
66 Bab 66: Bayangan di Balik Pengasingan
67 Bab 67: Mahkota sang Ratu
68 Bab 68: Kebangkitan Sang Ratu
69 Bab 69: Di Atas Puing dan Api
70 Bab 70: Rahasia Darah Sang Ratu
71 Bab 71: Dilema Dua Hati
72 Bab 72: Sang Ratu di Garis Depan
73 Bab 73: Takhta, Cinta, dan Bahtera Abadi
74 Bab 74: Bayangan di Luar Gemerlap
75 Bab 75: Mendarat di Tanah Musuh
76 Bab 76: Dansa Muslihat di Gala Malam
77 Bab 77: Dokumen Rahasia Natania
78 Bab 78: Batalyon Hitam dan Murka Sang Penguasa
79 Bab 79: Perang di Bursa Zurich
80 Bab 80: Racun Bayangan dan Introgasi Berdarah
81 Bab 81: Penerbangan di Atas Awan Gelap
82 Bab 82: Pembantaian di Kastil Surrey
83 Bab 83: Pelarian dari Neraka Surrey dan Detik Kritis Viona
84 Bab 84: Pengkhianat di Balik Tahta
85 Bab 85: Identitas Rahasia Sang Ratu dan Eksekusi Sang Pengkhianat
86 Bab 86: Bayangan Masa Lalu di Kastil Vienna
87 Bab 86: Bayangan Masa Lalu di Kastil Vienna
88 Bab 87: Pelukan yang Hilang dan Bayangan Proyek Aurora
89 Bab 88: Badai di Koridor Obsidian dan Kebangkitan Aurora
90 Bab 89: Puncak Tahta di Jenewa dan Ancaman Senyap
91 Bab 91: Racun Dalam Cawan Emas
92 Bab 92: Amarah Sang Iblis Mahendra
93 Bab 93: Pembalasan Tanpa Ampun
94 Bab 94: Dua Garis Merah Di Balik Ketakutan
95 Bab 95: Perang Dua Taipan
96 Bab 96: Jejak Persekutuan Gelap
97 Bab 97: Pertempuran Di Meja Hijau Internasional
98 Bab 98: Perburuan Di Atas Langit Jakarta
99 Bab 99: Darahdan Rahsia Di Dek Kapal Kargo
100 Bab 100: sebuah Rahasia Darah
101 Bab 101: Malam Pengantin Di Bawah Bayang-Bayang Rahasia
102 Bab 102: Belati Di Balik Dekapan Iblis
103 Bab 103: Rencana Dibalik Kepatuhan Palsu
104 Bab 104: Tari Di Atas Permadani Racun
105 Bab 105: Kembalinya Sang Iblis Tua
106 Bab 106: Tangisan Di Balik Badai Monako
107 Bab 107: Infiltrasi Kasino
108 Bab 108: Pecahan Kaca Di Balik Pintu Kayu
109 Bab 109: Retak di Dinding Kaca
110 Bab 110: Sisa Hujan Di Ambang Pintu
111 Bab 111: Kertas Cokelat dan Fajar yang Dingin
112 Bab 112: Aroma Kopi dan Sisa Hujan
113 Bab 113: Sisa Hangat di Ujung Sprei
114 Bab 114: Jejak Oli di Ambang Pintu
115 Bab 115: Uap Kuah dan Cahaya Kuning
116 Bab 116: Bau Pinus dan Kepulan Teh Masala
117 BAB 117
118 Bab 118
119 Bab 119
120 Bab 120
121 Bab 121
122 Bab 122
123 Bab 123
124 Bab 124
Episodes

Updated 124 Episodes

1
Bab 1: Harga Diri yang Terjual
2
Bab 2: Sangkar Emas Penthouse Mewah
3
Bab 3: Dua Sisi Kehidupan
4
Bab 4: Di Balik Pintu Ruang Kerja Pribadi
5
Bab 5: Menelan Pil Pahit
6
Bab 6: Rahasia yang Mulai Tercium
7
BAB 7: Sisi Lain Sang Tirani
8
BAB 8: Aroma Rahasia dan Kilat Kecemburuan
9
BAB 9: Murka Sang Penguasa
10
BAB 10: Sinar Fajar dan Dinginnya Jarak
11
BAB 11: BayangBayang Masa Lalu
12
BAB 12: Realita Sang Nyonya dan Boneka Tuan
13
BAB 13: Jerat yang Kian Mencekik
14
BAB 14: Jeruji yang Berkilau
15
BAB 15: Siasat di Balik Layar
16
BAB 16: Sangkar Baru di Lantai Tertinggi
17
BAB 17: Tamu yang Tak Diundang
18
BAB 18: Luka yang Menganga
19
BAB 19: Sayap di Atas Awan
20
BAB 20: Batas Keputusasaan
21
BAB 21: Undangan Tersembunyi dan Detak yang Salah
22
BAB 22: Benang Merah yang Kusut
23
BAB 23: Konfrontasi Dewan Direksi
24
BAB 24: Pintu yang Terkunci Rapat
25
BAB 25: Jeruji Tanpa Suara
26
BAB 26: Percikan Cemburu dan Sudut Tergelap Penthouse
27
BAB 27: Jerat yang Kian Mengencang
28
BAB 28: Batasan yang Kian Samar
29
BAB 29: Dinding Es yang Retak
30
BAB 30: Pecahnya Topeng dan Badai Kebenaran
31
BAB 31: Pelarian Hancur dan Rahasia di Balik Dua Garis Merah
32
BAB 32: Jejak yang Terhapus dan Kenyataan di Balik Kegelapan
33
BAB 33: Penyesalan di Ujung Kebenaran dan Rahasia yang Tercium
34
BAB 34: Pertemuan di Batas Keputusasaan dan Kebenaran yang Menghancurkan
35
BAB 35: Puing-Puing Kebenaran dan Pilihan Terakhir
36
BAB 36: Jerat Maut dan Kebenaran yang Terbakar
37
BAB 37: Puncak Labirin dan Kenyataan di Balik Kenyataan
38
BAB 38: Deklarasi Perang dan Kenyataan di Balik Sumpah Palsu
39
BAB 39: Benang Merah yang Terkoyak dan Rencana Terakhir
40
BAB 40: Runtuhnya Sangkar Emas dan Pilihan Terakhir Sang Alpha
41
BAB 41: Jerat Terakhir Sang Manipulator dan Sumpah di Atas Darah
42
BAB 42: Panggung Sandiwara Terakhir dan Racun di Cawan Emas
43
BAB 43: Sisa Abu Manipulasi dan Pewaris yang Sesungguhnya
44
BAB 44: Singgasana yang Berdarah dan Pewaris Pengganti
45
BAB 45: Labirin Ilusi dan Pilihan Berdarah
46
BAB 46: Pilihan Terakhir di Ujung Laras
47
BAB 46: Pilihan Terakhir di Ujung Laras
48
BAB 47: Kartu As Terakhir dan Darah Penebusan
49
BAB 48: Puncak Mahkota Emas dan Deklarasi Posesif
50
BAB 49: Riak Baru di Balik Tirai Sutra
51
BAB 50: Deklarasi Darah dan Sang Penguasa Mutlak
52
Bab 53: Aroma yang Tertinggal
53
Bab 54: Kebenaran yang Menghancurkan
54
Bab 55: Labrakan Sang Tunangan Resmi
55
Bab 56: Jejak yang Hilang
56
Bab 57: Pengejaran di Ujung Waktu
57
Bab 58: Perisai Sang Penguasa
58
Bab 59: Pembalasan Tanpa Ampun
59
Bab 60: Sang Penguasa Sebenarnya
60
Bab 60: Sang Penguasa Sebenarnya
61
Bab 61: Di Antara Hidup dan Mati
62
Bab 62: Perebutan di Lorong Maut
63
Bab 63: Kebenaran Berdarah
64
Bab 64: Pelarian dan Pengkhianatan Terbesar
65
Bab 65: Badai Perang Laut
66
Bab 66: Bayangan di Balik Pengasingan
67
Bab 67: Mahkota sang Ratu
68
Bab 68: Kebangkitan Sang Ratu
69
Bab 69: Di Atas Puing dan Api
70
Bab 70: Rahasia Darah Sang Ratu
71
Bab 71: Dilema Dua Hati
72
Bab 72: Sang Ratu di Garis Depan
73
Bab 73: Takhta, Cinta, dan Bahtera Abadi
74
Bab 74: Bayangan di Luar Gemerlap
75
Bab 75: Mendarat di Tanah Musuh
76
Bab 76: Dansa Muslihat di Gala Malam
77
Bab 77: Dokumen Rahasia Natania
78
Bab 78: Batalyon Hitam dan Murka Sang Penguasa
79
Bab 79: Perang di Bursa Zurich
80
Bab 80: Racun Bayangan dan Introgasi Berdarah
81
Bab 81: Penerbangan di Atas Awan Gelap
82
Bab 82: Pembantaian di Kastil Surrey
83
Bab 83: Pelarian dari Neraka Surrey dan Detik Kritis Viona
84
Bab 84: Pengkhianat di Balik Tahta
85
Bab 85: Identitas Rahasia Sang Ratu dan Eksekusi Sang Pengkhianat
86
Bab 86: Bayangan Masa Lalu di Kastil Vienna
87
Bab 86: Bayangan Masa Lalu di Kastil Vienna
88
Bab 87: Pelukan yang Hilang dan Bayangan Proyek Aurora
89
Bab 88: Badai di Koridor Obsidian dan Kebangkitan Aurora
90
Bab 89: Puncak Tahta di Jenewa dan Ancaman Senyap
91
Bab 91: Racun Dalam Cawan Emas
92
Bab 92: Amarah Sang Iblis Mahendra
93
Bab 93: Pembalasan Tanpa Ampun
94
Bab 94: Dua Garis Merah Di Balik Ketakutan
95
Bab 95: Perang Dua Taipan
96
Bab 96: Jejak Persekutuan Gelap
97
Bab 97: Pertempuran Di Meja Hijau Internasional
98
Bab 98: Perburuan Di Atas Langit Jakarta
99
Bab 99: Darahdan Rahsia Di Dek Kapal Kargo
100
Bab 100: sebuah Rahasia Darah
101
Bab 101: Malam Pengantin Di Bawah Bayang-Bayang Rahasia
102
Bab 102: Belati Di Balik Dekapan Iblis
103
Bab 103: Rencana Dibalik Kepatuhan Palsu
104
Bab 104: Tari Di Atas Permadani Racun
105
Bab 105: Kembalinya Sang Iblis Tua
106
Bab 106: Tangisan Di Balik Badai Monako
107
Bab 107: Infiltrasi Kasino
108
Bab 108: Pecahan Kaca Di Balik Pintu Kayu
109
Bab 109: Retak di Dinding Kaca
110
Bab 110: Sisa Hujan Di Ambang Pintu
111
Bab 111: Kertas Cokelat dan Fajar yang Dingin
112
Bab 112: Aroma Kopi dan Sisa Hujan
113
Bab 113: Sisa Hangat di Ujung Sprei
114
Bab 114: Jejak Oli di Ambang Pintu
115
Bab 115: Uap Kuah dan Cahaya Kuning
116
Bab 116: Bau Pinus dan Kepulan Teh Masala
117
BAB 117
118
Bab 118
119
Bab 119
120
Bab 120
121
Bab 121
122
Bab 122
123
Bab 123
124
Bab 124

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!