Bab 4: Di Balik Pintu Ruang Kerja Pribadi

Waktu seakan berjalan melambat bagi Viona. Sejak kunjungan mendadak Arkan ke divisinya siang tadi, fokus kerjanya berantakan. Jemarinya yang menari di atas papan ketik komputer berulang kali melakukan kesalahan ketik. Setiap kali dia memejamkan mata, tatapan intens dan penuh arti dari sang CEO selalu membayangi pikirannya.

Tepat jam empat sore, dokumen laporan keuangan kuartal terakhir yang diminta Arkan akhirnya selesai. Manajer divisi administrasi dengan wajah penuh harap segera menyerahkan map jilid tebal berwarna biru tua itu kepada Viona.

"Viona, karena tadi Tuan Mahendra secara spesifik meminta laporan ini diantarkan oleh staf dari divisi kita, saya tugaskan kamu untuk membawanya ke lantai paling atas gedung kantor pusat. Ingat, jangan sampai ada kesalahan. Masa depan divisi kita ada di tanganmu," ujar sang manajer dengan nada yang sarat akan tekanan.

Viona hanya bisa mengangguk pasrah. "Baik, Pak. Saya akan segera mengantarkannya."

Dengan langkah yang berat dan jantung yang bertalu-talu, Viona berjalan menuju lift khusus yang menghubungkan gedung manufaktur mereka dengan gedung menara kantor pusat Mahendra Group yang megah di sebelahnya. Begitu melangkah masuk ke dalam area kantor pusat, suasananya terasa sangat berbeda. Lantai marmer yang mengkilap, dinding kaca besar yang memperlihatkan pemandangan kota, dan para karyawan yang berlalu-lalang dengan setelan pakaian formal yang elegan.

Viona menaiki lift menuju lantai tiga puluh, tempat di mana ruangan kerja sang CEO berada. Begitu pintu lift terbuka, dia disambut oleh sebuah meja sekretaris yang luas. Seorang wanita paruh baya dengan pakaian sangat rapi dan kacamata bertengger di hidungnya mendongak menatap Viona.

"Selamat sore. Saya Viona dari divisi administrasi manufaktur. Saya ingin mengantarkan laporan kerja yang diminta oleh Tuan Mahendra siang tadi," ucap Viona sesopan mungkin.

Sekretaris itu memeriksa jadwal di komputernya sejenak, lalu mengangguk. "Ah, benar. Tuan Mahendra sudah menunggumu. Masuk saja langsung, beliau sedang tidak ingin diganggu oleh siapa pun selain kamu."

Kata-kata 'tidak ingin diganggu oleh siapa pun selain kamu' seketika membuat tenggorokan Viona terasa kering. Dia meletakkan jemarinya di atas gagang pintu kayu jati yang besar dan kokoh. Setelah menarik napas panjang untuk mengumpulkan keberaniannya, Viona mengetuk pintu tersebut tiga kali, lalu mendorongnya perlahan.

Ruangan kerja Arkan sangat luas, bahkan lebih luas dari rumah petak yang dulu ditinggali Viona bersama ibunya. Di ujung ruangan, di balik meja kerja kaca yang besar, Arkan duduk di kursi kebesarannya. Pria itu sudah melepas jas formalnya, hanya menyisakan kemeja putih yang lengan bajunya digulung hingga ke siku, memperlihatkan lengan kekarnya yang kokoh.

"M-Selamat sore, Tuan Mahendra. Saya mengantarkan laporan yang Anda minta," suara Viona terdengar bergetar di tengah keheningan ruangan.

Arkan tidak langsung menjawab. Dia meletakkan pena emasnya, lalu bersandar pada kursi kulitnya. Tatapan matanya yang hitam kelam langsung mengunci sosok Viona yang berdiri kaku di dekat pintu. Seringai tipis yang dingin muncul di wajah ketampanannya.

"Tutup pintunya, Viona. Dan kunci," perintah Arkan dengan suara baritonnya yang berat dan penuh penekanan.

Viona tertegun. "Tapi, Tuan... ini di kantor. Bagaimana jika ada orang lain yang—"

"Aku tidak suka mengulang perintahku, Viona," potong Arkan dingin. Tatapannya menajam, memancarkan aura dominasi yang membuat nyali Viona ciut dalam seketika. "Ingat poin nomor tiga di kontrak kita. Kamu tidak memiliki hak untuk menolak."

Mengingat ancaman dan utang yang mengikatnya, Viona terpaksa membalikkan tubuh. Dengan tangan yang gemetar, dia memutar anak kunci pintu tersebut hingga terdengar suara klik yang mengunci mereka berdua di dalam ruangan kedap suara itu.

Viona berjalan mendekati meja kerja Arkan dengan kepala tertunduk, lalu meletakkan map dokumen itu di atas meja. "Ini laporannya, Tuan."

Arkan sama sekali tidak melirik map tersebut. Fokusnya sepenuhnya terarah pada Viona. Pria itu berdiri dari kursinya dan melangkah memutari meja kerja, berjalan perlahan mendekati Viona. Setiap langkah sepatu Arkan terasa seperti ketukan vonis mati bagi kebebasan Viona.

Viona mundur selangkah demi selangkah hingga punggungnya membentur permukaan meja kerja kaca yang dingin. Dia terperangkap. Arkan meletakkan kedua tangannya di sisi kiri dan kanan tubuh Viona, mengurung gadis itu dalam jarak yang sangat intim. Aroma parfum maskulin yang mahal bercampur aroma kertas dokumen dari tubuh Arkan langsung mereduksi pasokan oksigen di sekitar Viona.

"Kamu tampak sangat ketakutan siang tadi di kubikalmu," bisik Arkan tepat di depan wajah Viona. Embusan napas hangatnya membuat bulu kuduk Viona meremang. "Kenapa? Takut jika teman-teman sekantormu tahu bahwa staf administrasi yang polos ini sebenarnya adalah wanita simpanan rahasia dari pemilik perusahaan mereka?"

Air mata keputusasaan mulai menggenang di pelupuk mata Viona. Kata-kata Arkan selalu berhasil menghancurkan sisa-sisa harga diri yang dia miliki.

"Tuan Mahendra, tolong jangan keterlaluan... Kita berada di lingkungan kerja. Saya mohon, bersikaplah profesional," lirih Viona dengan suara serak menahan tangis.

Arkan terkekeh sinis. Tangan kanannya terangkat, menyentuh dagu Viona dan mengangkatnya dengan agak kasar agar gadis itu menatap matanya. "Profesional? Kamu lupa statusmu? Aku yang membelimu, Viona. Seluruh tempat ini adalah milikku, termasuk dirimu. Aku berhak melakukan apa saja, kapan saja, dan di mana saja."

Jari-jari kokoh Arkan bergerak turun ke kerah kemeja tinggi yang dikenakan Viona. Dengan satu gerakan lambat namun menuntut, Arkan membuka dua kancing teratas kemeja gadis itu, menyingkap kulit putih mulus yang kini dihiasi bercak kemerahan hasil perbuatannya semalam.

"Sangat indah," gumam Arkan, matanya menggelap dipenuhi kilatan gairah yang membara. Ego dan obsesinya meledak setiap kali melihat bagaimana gadis di hadapannya ini benar-benar tunduk di bawah kendalinya.

Viona hanya bisa mencengkeram pinggiran meja kaca di belakangnya dengan erat. Dia memejamkan mata, membiarkan setitik air mata lolos membasahi pipinya saat bibir hangat Arkan mulai mendarat di lehernya, memberikan kecupan-kecupan menuntut yang membakar kesadarannya. Di satu sisi, hati nurani Viona menangis karena merasa terhina, namun di sisi lain, sentuhan intens dari sang CEO entah mengapa selalu berhasil menyalakan getaran gairah yang aneh di dalam tubuhnya yang khianat.

Tiba-tiba, suara interkom di atas meja kerja Arkan berbunyi nyaring, memecah ketegangan intim di antara mereka.

BZZZ... Tuan Mahendra, maaf mengganggu. Nona Clarissa, tunangan Anda, baru saja tiba di lobi bawah dan sedang menuju ke ruangan Anda sekarang.

Mendengar nama itu, Viona langsung membuka matanya dengan terkejut. Tunangan? Arkan sudah punya tunangan? Rasa syok dan sakit yang luar biasa seketika menghantam dada Viona, membuatnya merasa jauh lebih kotor dari apa yang dia bayangkan sebelumnya.

Episodes
1 Bab 1: Harga Diri yang Terjual
2 Bab 2: Sangkar Emas Penthouse Mewah
3 Bab 3: Dua Sisi Kehidupan
4 Bab 4: Di Balik Pintu Ruang Kerja Pribadi
5 Bab 5: Menelan Pil Pahit
6 Bab 6: Rahasia yang Mulai Tercium
7 BAB 7: Sisi Lain Sang Tirani
8 BAB 8: Aroma Rahasia dan Kilat Kecemburuan
9 BAB 9: Murka Sang Penguasa
10 BAB 10: Sinar Fajar dan Dinginnya Jarak
11 BAB 11: BayangBayang Masa Lalu
12 BAB 12: Realita Sang Nyonya dan Boneka Tuan
13 BAB 13: Jerat yang Kian Mencekik
14 BAB 14: Jeruji yang Berkilau
15 BAB 15: Siasat di Balik Layar
16 BAB 16: Sangkar Baru di Lantai Tertinggi
17 BAB 17: Tamu yang Tak Diundang
18 BAB 18: Luka yang Menganga
19 BAB 19: Sayap di Atas Awan
20 BAB 20: Batas Keputusasaan
21 BAB 21: Undangan Tersembunyi dan Detak yang Salah
22 BAB 22: Benang Merah yang Kusut
23 BAB 23: Konfrontasi Dewan Direksi
24 BAB 24: Pintu yang Terkunci Rapat
25 BAB 25: Jeruji Tanpa Suara
26 BAB 26: Percikan Cemburu dan Sudut Tergelap Penthouse
27 BAB 27: Jerat yang Kian Mengencang
28 BAB 28: Batasan yang Kian Samar
29 BAB 29: Dinding Es yang Retak
30 BAB 30: Pecahnya Topeng dan Badai Kebenaran
31 BAB 31: Pelarian Hancur dan Rahasia di Balik Dua Garis Merah
32 BAB 32: Jejak yang Terhapus dan Kenyataan di Balik Kegelapan
33 BAB 33: Penyesalan di Ujung Kebenaran dan Rahasia yang Tercium
34 BAB 34: Pertemuan di Batas Keputusasaan dan Kebenaran yang Menghancurkan
35 BAB 35: Puing-Puing Kebenaran dan Pilihan Terakhir
36 BAB 36: Jerat Maut dan Kebenaran yang Terbakar
37 BAB 37: Puncak Labirin dan Kenyataan di Balik Kenyataan
38 BAB 38: Deklarasi Perang dan Kenyataan di Balik Sumpah Palsu
39 BAB 39: Benang Merah yang Terkoyak dan Rencana Terakhir
40 BAB 40: Runtuhnya Sangkar Emas dan Pilihan Terakhir Sang Alpha
41 BAB 41: Jerat Terakhir Sang Manipulator dan Sumpah di Atas Darah
42 BAB 42: Panggung Sandiwara Terakhir dan Racun di Cawan Emas
43 BAB 43: Sisa Abu Manipulasi dan Pewaris yang Sesungguhnya
44 BAB 44: Singgasana yang Berdarah dan Pewaris Pengganti
45 BAB 45: Labirin Ilusi dan Pilihan Berdarah
46 BAB 46: Pilihan Terakhir di Ujung Laras
47 BAB 46: Pilihan Terakhir di Ujung Laras
48 BAB 47: Kartu As Terakhir dan Darah Penebusan
49 BAB 48: Puncak Mahkota Emas dan Deklarasi Posesif
50 BAB 49: Riak Baru di Balik Tirai Sutra
51 BAB 50: Deklarasi Darah dan Sang Penguasa Mutlak
52 Bab 53: Aroma yang Tertinggal
53 Bab 54: Kebenaran yang Menghancurkan
54 Bab 55: Labrakan Sang Tunangan Resmi
55 Bab 56: Jejak yang Hilang
56 Bab 57: Pengejaran di Ujung Waktu
57 Bab 58: Perisai Sang Penguasa
58 Bab 59: Pembalasan Tanpa Ampun
59 Bab 60: Sang Penguasa Sebenarnya
60 Bab 60: Sang Penguasa Sebenarnya
61 Bab 61: Di Antara Hidup dan Mati
62 Bab 62: Perebutan di Lorong Maut
63 Bab 63: Kebenaran Berdarah
64 Bab 64: Pelarian dan Pengkhianatan Terbesar
65 Bab 65: Badai Perang Laut
66 Bab 66: Bayangan di Balik Pengasingan
67 Bab 67: Mahkota sang Ratu
68 Bab 68: Kebangkitan Sang Ratu
69 Bab 69: Di Atas Puing dan Api
70 Bab 70: Rahasia Darah Sang Ratu
71 Bab 71: Dilema Dua Hati
72 Bab 72: Sang Ratu di Garis Depan
73 Bab 73: Takhta, Cinta, dan Bahtera Abadi
74 Bab 74: Bayangan di Luar Gemerlap
75 Bab 75: Mendarat di Tanah Musuh
76 Bab 76: Dansa Muslihat di Gala Malam
77 Bab 77: Dokumen Rahasia Natania
78 Bab 78: Batalyon Hitam dan Murka Sang Penguasa
79 Bab 79: Perang di Bursa Zurich
80 Bab 80: Racun Bayangan dan Introgasi Berdarah
81 Bab 81: Penerbangan di Atas Awan Gelap
82 Bab 82: Pembantaian di Kastil Surrey
83 Bab 83: Pelarian dari Neraka Surrey dan Detik Kritis Viona
84 Bab 84: Pengkhianat di Balik Tahta
85 Bab 85: Identitas Rahasia Sang Ratu dan Eksekusi Sang Pengkhianat
86 Bab 86: Bayangan Masa Lalu di Kastil Vienna
87 Bab 86: Bayangan Masa Lalu di Kastil Vienna
88 Bab 87: Pelukan yang Hilang dan Bayangan Proyek Aurora
89 Bab 88: Badai di Koridor Obsidian dan Kebangkitan Aurora
90 Bab 89: Puncak Tahta di Jenewa dan Ancaman Senyap
91 Bab 91: Racun Dalam Cawan Emas
92 Bab 92: Amarah Sang Iblis Mahendra
93 Bab 93: Pembalasan Tanpa Ampun
94 Bab 94: Dua Garis Merah Di Balik Ketakutan
95 Bab 95: Perang Dua Taipan
96 Bab 96: Jejak Persekutuan Gelap
97 Bab 97: Pertempuran Di Meja Hijau Internasional
98 Bab 98: Perburuan Di Atas Langit Jakarta
99 Bab 99: Darahdan Rahsia Di Dek Kapal Kargo
100 Bab 100: sebuah Rahasia Darah
101 Bab 101: Malam Pengantin Di Bawah Bayang-Bayang Rahasia
102 Bab 102: Belati Di Balik Dekapan Iblis
103 Bab 103: Rencana Dibalik Kepatuhan Palsu
104 Bab 104: Tari Di Atas Permadani Racun
105 Bab 105: Kembalinya Sang Iblis Tua
106 Bab 106: Tangisan Di Balik Badai Monako
107 Bab 107: Infiltrasi Kasino
108 Bab 108: Pecahan Kaca Di Balik Pintu Kayu
109 Bab 109: Retak di Dinding Kaca
110 Bab 110: Sisa Hujan Di Ambang Pintu
111 Bab 111: Kertas Cokelat dan Fajar yang Dingin
112 Bab 112: Aroma Kopi dan Sisa Hujan
113 Bab 113: Sisa Hangat di Ujung Sprei
114 Bab 114: Jejak Oli di Ambang Pintu
115 Bab 115: Uap Kuah dan Cahaya Kuning
116 Bab 116: Bau Pinus dan Kepulan Teh Masala
117 BAB 117
118 Bab 118
119 Bab 119
120 Bab 120
121 Bab 121
122 Bab 122
123 Bab 123
124 Bab 124
Episodes

Updated 124 Episodes

1
Bab 1: Harga Diri yang Terjual
2
Bab 2: Sangkar Emas Penthouse Mewah
3
Bab 3: Dua Sisi Kehidupan
4
Bab 4: Di Balik Pintu Ruang Kerja Pribadi
5
Bab 5: Menelan Pil Pahit
6
Bab 6: Rahasia yang Mulai Tercium
7
BAB 7: Sisi Lain Sang Tirani
8
BAB 8: Aroma Rahasia dan Kilat Kecemburuan
9
BAB 9: Murka Sang Penguasa
10
BAB 10: Sinar Fajar dan Dinginnya Jarak
11
BAB 11: BayangBayang Masa Lalu
12
BAB 12: Realita Sang Nyonya dan Boneka Tuan
13
BAB 13: Jerat yang Kian Mencekik
14
BAB 14: Jeruji yang Berkilau
15
BAB 15: Siasat di Balik Layar
16
BAB 16: Sangkar Baru di Lantai Tertinggi
17
BAB 17: Tamu yang Tak Diundang
18
BAB 18: Luka yang Menganga
19
BAB 19: Sayap di Atas Awan
20
BAB 20: Batas Keputusasaan
21
BAB 21: Undangan Tersembunyi dan Detak yang Salah
22
BAB 22: Benang Merah yang Kusut
23
BAB 23: Konfrontasi Dewan Direksi
24
BAB 24: Pintu yang Terkunci Rapat
25
BAB 25: Jeruji Tanpa Suara
26
BAB 26: Percikan Cemburu dan Sudut Tergelap Penthouse
27
BAB 27: Jerat yang Kian Mengencang
28
BAB 28: Batasan yang Kian Samar
29
BAB 29: Dinding Es yang Retak
30
BAB 30: Pecahnya Topeng dan Badai Kebenaran
31
BAB 31: Pelarian Hancur dan Rahasia di Balik Dua Garis Merah
32
BAB 32: Jejak yang Terhapus dan Kenyataan di Balik Kegelapan
33
BAB 33: Penyesalan di Ujung Kebenaran dan Rahasia yang Tercium
34
BAB 34: Pertemuan di Batas Keputusasaan dan Kebenaran yang Menghancurkan
35
BAB 35: Puing-Puing Kebenaran dan Pilihan Terakhir
36
BAB 36: Jerat Maut dan Kebenaran yang Terbakar
37
BAB 37: Puncak Labirin dan Kenyataan di Balik Kenyataan
38
BAB 38: Deklarasi Perang dan Kenyataan di Balik Sumpah Palsu
39
BAB 39: Benang Merah yang Terkoyak dan Rencana Terakhir
40
BAB 40: Runtuhnya Sangkar Emas dan Pilihan Terakhir Sang Alpha
41
BAB 41: Jerat Terakhir Sang Manipulator dan Sumpah di Atas Darah
42
BAB 42: Panggung Sandiwara Terakhir dan Racun di Cawan Emas
43
BAB 43: Sisa Abu Manipulasi dan Pewaris yang Sesungguhnya
44
BAB 44: Singgasana yang Berdarah dan Pewaris Pengganti
45
BAB 45: Labirin Ilusi dan Pilihan Berdarah
46
BAB 46: Pilihan Terakhir di Ujung Laras
47
BAB 46: Pilihan Terakhir di Ujung Laras
48
BAB 47: Kartu As Terakhir dan Darah Penebusan
49
BAB 48: Puncak Mahkota Emas dan Deklarasi Posesif
50
BAB 49: Riak Baru di Balik Tirai Sutra
51
BAB 50: Deklarasi Darah dan Sang Penguasa Mutlak
52
Bab 53: Aroma yang Tertinggal
53
Bab 54: Kebenaran yang Menghancurkan
54
Bab 55: Labrakan Sang Tunangan Resmi
55
Bab 56: Jejak yang Hilang
56
Bab 57: Pengejaran di Ujung Waktu
57
Bab 58: Perisai Sang Penguasa
58
Bab 59: Pembalasan Tanpa Ampun
59
Bab 60: Sang Penguasa Sebenarnya
60
Bab 60: Sang Penguasa Sebenarnya
61
Bab 61: Di Antara Hidup dan Mati
62
Bab 62: Perebutan di Lorong Maut
63
Bab 63: Kebenaran Berdarah
64
Bab 64: Pelarian dan Pengkhianatan Terbesar
65
Bab 65: Badai Perang Laut
66
Bab 66: Bayangan di Balik Pengasingan
67
Bab 67: Mahkota sang Ratu
68
Bab 68: Kebangkitan Sang Ratu
69
Bab 69: Di Atas Puing dan Api
70
Bab 70: Rahasia Darah Sang Ratu
71
Bab 71: Dilema Dua Hati
72
Bab 72: Sang Ratu di Garis Depan
73
Bab 73: Takhta, Cinta, dan Bahtera Abadi
74
Bab 74: Bayangan di Luar Gemerlap
75
Bab 75: Mendarat di Tanah Musuh
76
Bab 76: Dansa Muslihat di Gala Malam
77
Bab 77: Dokumen Rahasia Natania
78
Bab 78: Batalyon Hitam dan Murka Sang Penguasa
79
Bab 79: Perang di Bursa Zurich
80
Bab 80: Racun Bayangan dan Introgasi Berdarah
81
Bab 81: Penerbangan di Atas Awan Gelap
82
Bab 82: Pembantaian di Kastil Surrey
83
Bab 83: Pelarian dari Neraka Surrey dan Detik Kritis Viona
84
Bab 84: Pengkhianat di Balik Tahta
85
Bab 85: Identitas Rahasia Sang Ratu dan Eksekusi Sang Pengkhianat
86
Bab 86: Bayangan Masa Lalu di Kastil Vienna
87
Bab 86: Bayangan Masa Lalu di Kastil Vienna
88
Bab 87: Pelukan yang Hilang dan Bayangan Proyek Aurora
89
Bab 88: Badai di Koridor Obsidian dan Kebangkitan Aurora
90
Bab 89: Puncak Tahta di Jenewa dan Ancaman Senyap
91
Bab 91: Racun Dalam Cawan Emas
92
Bab 92: Amarah Sang Iblis Mahendra
93
Bab 93: Pembalasan Tanpa Ampun
94
Bab 94: Dua Garis Merah Di Balik Ketakutan
95
Bab 95: Perang Dua Taipan
96
Bab 96: Jejak Persekutuan Gelap
97
Bab 97: Pertempuran Di Meja Hijau Internasional
98
Bab 98: Perburuan Di Atas Langit Jakarta
99
Bab 99: Darahdan Rahsia Di Dek Kapal Kargo
100
Bab 100: sebuah Rahasia Darah
101
Bab 101: Malam Pengantin Di Bawah Bayang-Bayang Rahasia
102
Bab 102: Belati Di Balik Dekapan Iblis
103
Bab 103: Rencana Dibalik Kepatuhan Palsu
104
Bab 104: Tari Di Atas Permadani Racun
105
Bab 105: Kembalinya Sang Iblis Tua
106
Bab 106: Tangisan Di Balik Badai Monako
107
Bab 107: Infiltrasi Kasino
108
Bab 108: Pecahan Kaca Di Balik Pintu Kayu
109
Bab 109: Retak di Dinding Kaca
110
Bab 110: Sisa Hujan Di Ambang Pintu
111
Bab 111: Kertas Cokelat dan Fajar yang Dingin
112
Bab 112: Aroma Kopi dan Sisa Hujan
113
Bab 113: Sisa Hangat di Ujung Sprei
114
Bab 114: Jejak Oli di Ambang Pintu
115
Bab 115: Uap Kuah dan Cahaya Kuning
116
Bab 116: Bau Pinus dan Kepulan Teh Masala
117
BAB 117
118
Bab 118
119
Bab 119
120
Bab 120
121
Bab 121
122
Bab 122
123
Bab 123
124
Bab 124

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!