Bab 5: Menelan Pil Pahit

Perjalanan pulang ke apartemen mewah terasa begitu sunyi di dalam mobil Rolls-Royce milik Arkan. Doni, sang supir pribadi, mengemudikan kendaraan dengan tenang tanpa mengucapkan sepatah kata pun, seolah-olah dia sudah sangat paham bahwa penumpangnya malam ini sedang tenggelam dalam kesedihan yang mendalam. Viona menyandarkan kepalanya pada kaca mobil yang dingin, menatap kosong ke arah lampu-lampu jalanan ibu kota yang buram oleh sisa-sisa air hujan.

Genggaman tangannya pada kunci akses digital berwarna emas pemberian Arkan mengerat hingga buku-buku jarinya memutih. Kunci itu terasa sangat berat, seolah-olah menjadi rantai tak kasat mata yang mengunci kebebasannya untuk selamanya. Di dalam benaknya, bayangan wajah cantik Clarissa, tunangan resmi Arkan, terus berputar layaknya mimpi buruk.

Wanita simpanan.Satu kata itu terus berdengung di telinga Viona, mengiris-iris harga dirinya yang sudah hancur. Dia tahu sejak awal bahwa hubungan ini didasari oleh kontrak materi, namun kenyataan bahwa dia harus bersembunyi di balik pintu rahasia saat wanita lain datang mencari pasangannya telah menorehkan luka baru yang begitu perih di hatinya.

"Kita sudah sampai, Nona Viona," suara lembut Doni membuyarkan lamunan Viona.

Viona tersentak pelan, lalu mengangguk lemah. "Terima kasih, Pak Doni."

Dengan langkah gulai, Viona turun dari mobil dan melangkah memasuki gedung penthouse megah itu. Begitu pintu lift pribadi terbuka di lantai teratas, keheningan yang mencekam langsung menyambutnya. Apartemen luas bernuansa monokrom itu terasa begitu asing dan menakutkan bagi Viona. Tidak ada kehangatan sebuah rumah di sini; tempat ini hanyalah sangkar emas yang dibangun oleh Arkan untuk mengurungnya.

Viona berjalan ke arah kamar mandi, membersihkan sisa-sisa keringat dingin dan ketakutan yang dialaminya di kantor tadi. Setelah itu, dia berdiri di depan lemari pakaian besar yang dipenuhi oleh berbagai macam busana tidur mewah berbahan sutra dan renda tipis. Mengingat perintah mutlak Arkan sebelum berpisah tadi, jemari Viona bergetar saat meraih sebuah gaun tidur slip dress sutra berwarna hitam malam dengan potongan dada yang rendah dan belahan tinggi di bagian paha.

Saat mengenakannya di depan cermin, Viona merasa asing dengan pantulan dirinya sendiri. Gaun itu begitu melekat erat pada tubuhnya, memperlihatkan lekuk dada, pinggang yang ramping, serta kulit putihnya yang kontras dengan warna hitam gaun tersebut.

"Apakah ini yang kamu inginkan, Tuan Mahendra? Seorang boneka yang siap melayanimu?" gumam Viona dengan senyuman miris yang menghiasi bibirnya.

Jam di dinding terus berdetak, menunjukkan pukul sembilan malam, lalu bergeser ke pukul sepuluh, dan akhirnya pukul sebelas malam. Arkan belum juga kembali. Viona duduk meringkuk di atas sofa ruang tengah yang luas, memeluk sebuah bantal sofa untuk mengusir rasa sepi dan dingin yang kian menggigit. Karena bosan dan cemas, dia meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja kaca.

Viona membuka aplikasi media sosial secara tidak sengaja, dan sebuah unggahan berita dari akun gosip bisnis terkemuka langsung muncul di baris teratas garis masanya.

"CEO Mahendra Group, Arkan Mahendra, Terlihat Menghadiri Jamuan Makan Malam Mewah Bersama Sang Tunangan, Clarissa, di Hotel Bintang Lima."

Di bawah tajuk berita itu, terpampang sebuah foto beresolusi tinggi. Arkan tampak sangat tampan dan gagah mengenakan setelan tuksedo hitam, berdiri berdampingan dengan Clarissa yang anggun mengenakan gaun malam bertahtahkan payet mewah. Tangan Clarissa menggelayut mesra di lengan kekar Arkan, dan keduanya tampak seperti pasangan sempurna dari kalangan kelas atas yang sangat serasi.

Dada Viona mendadak terasa sesak, seolah-olah seluruh pasokan udara di ruangan itu ditarik paksa keluar. Air mata yang sejak tadi dia tahan akhirnya kembali mengalir membasahi pipinya. Rasa sakit ini begitu aneh dan tidak masuk akal bagi Viona. Kenapa dia harus merasa cemburu? Bukankah dia tidak berhak memiliki perasaan apa pun pada Arkan? Kontrak dengan jelas melarangnya untuk jatuh cinta. Namun, mengapa melihat pria itu tersenyum tipis di samping wanita lain membuat hatinya terasa seperti diremas dengan kuat?

"Sadar, Viona... kamu bukan siapa-siapa baginya. Kamu hanya wanita yang dibeli," bisik Viona pada dirinya sendiri di tengah isak tangisnya yang sunyi.

Tepat pada tengah malam, terdengar suara bip digital dari pintu masuk utama, disusul oleh suara pintu yang terbuka. Viona tersentak panik, segera menghapus air matanya dengan tergesa-gesa dan berdiri dari sofa.

Arkan melangkah masuk ke dalam apartemen. Jas tuksedonya sudah dilepas dan disampirkan di lengan kirinya, sementara dua kancing teratas kemeja putihnya sudah terbuka. Aroma alkohol yang samar bercampur dengan parfum maskulin mahal langsung memenuhi ruangan. Tatapan mata Arkan tampak sedikit lelah, namun begitu pandangannya jatuh pada sosok Viona yang berdiri menantinya dengan gaun tidur sutra hitam tersebut, matanya seketika menggelap. Kilatan gairah yang intens langsung tersorot dari manik mata hitam kelam sang CEO.

Arkan melemparkan jasnya ke sembarang tempat dan berjalan mendekati Viona dengan langkah yang lambat namun penuh tekanan dominasi.

"Kamu belum tidur?" suara bariton Arkan terdengar lebih berat dan serak dari biasanya.

"S-Saya... menanti Anda kembali, Tuan," jawab Viona dengan suara bergetar, tidak berani menatap langsung ke dalam mata Arkan yang seolah bisa menguliti jiwanya.

Arkan berhenti tepat di depan Viona. Jarak mereka begitu dekat hingga Viona bisa merasakan embusan napas hangat Arkan yang berbau alkohol manis. Tangan besar Arkan terangkat, menyentuh helai rambut panjang Viona yang terurai, lalu jemarinya bergerak turun membelai pundak polos gadis itu yang terbuka. Sentuhan kasar namun sensual itu membuat tubuh Viona meremang hebat.

"Pilihan gaun yang bagus. Kamu terlihat sangat cantik malam ini, Viona," bisik Arkan tepat di depan bibir Viona.

Namun, pandangan tajam Arkan mendadak terpaku pada sudut mata Viona yang masih sedikit basah dan kemerahan. Rahang pria itu mengeras seketika. "Kamu menangis lagi? Kenapa? Karena melihat berita makan malamku dengan Clarissa?"

Viona terkejut dan mencoba memalingkan wajahnya, namun Arkan dengan cepat mencengkeram dagu gadis itu, memaksanya untuk terus menatap matanya yang mengintimidasi.

"Jawab aku, Viona. Apakah kamu berani melanggar poin nomor empat di kontrak kita? Apakah kamu mulai cemburu dan jatuh cinta padaku?" tanya Arkan dengan nada suara yang merendah namun sarat akan ancaman berbahaya.

Viona menelan ludah yang terasa getir. Meskipun hatinya hancur, dia tahu dia harus mempertahankan sisa harga dirinya di depan pria kejam ini. "Tidak, Tuan Mahendra... Saya tahu posisi saya. Saya tidak akan pernah melanggar kontrak itu. Saya menangis hanya karena... karena mengkhawatirkan keadaan Ibu saya di rumah sakit."

Arkan menatap Viona dalam-dalam selama beberapa detik, mencoba mencari kebohongan di mata bulat yang indah itu. Sebuah senyuman dingin kembali terukir di bibir Arkan. Dia melepaskan cengkeramannya pada dagu Viona, lalu dengan satu gerakan cepat, tangan kekarnya merengkuh pinggang ramping Viona dan menarik tubuh gadis itu hingga menempel sempurna pada dada bidangnya.

"Bagus jika kamu sadar diri, Viona. Karena apa pun yang terjadi, pernikahan itu akan tetap dilaksanakan bulan depan," bisik Arkan dengan kejam di telinga Viona, mengabaikan fakta bahwa kata-katanya baru saja menancapkan belati sedalam-dalamnya di hati gadis itu. "Tapi malam ini, singkirkan semua pikiran tentang ibumu atau Clarissa. Karena di dalam rumah ini, kamu hanya milikku."

Sebelum Viona sempat mengeluarkan suara, Arkan sudah membungkuk dan meraup bibir Viona dalam sebuah ciuman yang sangat menuntut, penuh dengan gairah yang membara dan keposesifan yang tak terbantahkan, menenggelamkan Viona ke dalam malam panjang yang dipenuhi air mata dan gairah terlarang.

Episodes
1 Bab 1: Harga Diri yang Terjual
2 Bab 2: Sangkar Emas Penthouse Mewah
3 Bab 3: Dua Sisi Kehidupan
4 Bab 4: Di Balik Pintu Ruang Kerja Pribadi
5 Bab 5: Menelan Pil Pahit
6 Bab 6: Rahasia yang Mulai Tercium
7 BAB 7: Sisi Lain Sang Tirani
8 BAB 8: Aroma Rahasia dan Kilat Kecemburuan
9 BAB 9: Murka Sang Penguasa
10 BAB 10: Sinar Fajar dan Dinginnya Jarak
11 BAB 11: BayangBayang Masa Lalu
12 BAB 12: Realita Sang Nyonya dan Boneka Tuan
13 BAB 13: Jerat yang Kian Mencekik
14 BAB 14: Jeruji yang Berkilau
15 BAB 15: Siasat di Balik Layar
16 BAB 16: Sangkar Baru di Lantai Tertinggi
17 BAB 17: Tamu yang Tak Diundang
18 BAB 18: Luka yang Menganga
19 BAB 19: Sayap di Atas Awan
20 BAB 20: Batas Keputusasaan
21 BAB 21: Undangan Tersembunyi dan Detak yang Salah
22 BAB 22: Benang Merah yang Kusut
23 BAB 23: Konfrontasi Dewan Direksi
24 BAB 24: Pintu yang Terkunci Rapat
25 BAB 25: Jeruji Tanpa Suara
26 BAB 26: Percikan Cemburu dan Sudut Tergelap Penthouse
27 BAB 27: Jerat yang Kian Mengencang
28 BAB 28: Batasan yang Kian Samar
29 BAB 29: Dinding Es yang Retak
30 BAB 30: Pecahnya Topeng dan Badai Kebenaran
31 BAB 31: Pelarian Hancur dan Rahasia di Balik Dua Garis Merah
32 BAB 32: Jejak yang Terhapus dan Kenyataan di Balik Kegelapan
33 BAB 33: Penyesalan di Ujung Kebenaran dan Rahasia yang Tercium
34 BAB 34: Pertemuan di Batas Keputusasaan dan Kebenaran yang Menghancurkan
35 BAB 35: Puing-Puing Kebenaran dan Pilihan Terakhir
36 BAB 36: Jerat Maut dan Kebenaran yang Terbakar
37 BAB 37: Puncak Labirin dan Kenyataan di Balik Kenyataan
38 BAB 38: Deklarasi Perang dan Kenyataan di Balik Sumpah Palsu
39 BAB 39: Benang Merah yang Terkoyak dan Rencana Terakhir
40 BAB 40: Runtuhnya Sangkar Emas dan Pilihan Terakhir Sang Alpha
41 BAB 41: Jerat Terakhir Sang Manipulator dan Sumpah di Atas Darah
42 BAB 42: Panggung Sandiwara Terakhir dan Racun di Cawan Emas
43 BAB 43: Sisa Abu Manipulasi dan Pewaris yang Sesungguhnya
44 BAB 44: Singgasana yang Berdarah dan Pewaris Pengganti
45 BAB 45: Labirin Ilusi dan Pilihan Berdarah
46 BAB 46: Pilihan Terakhir di Ujung Laras
47 BAB 46: Pilihan Terakhir di Ujung Laras
48 BAB 47: Kartu As Terakhir dan Darah Penebusan
49 BAB 48: Puncak Mahkota Emas dan Deklarasi Posesif
50 BAB 49: Riak Baru di Balik Tirai Sutra
51 BAB 50: Deklarasi Darah dan Sang Penguasa Mutlak
52 Bab 53: Aroma yang Tertinggal
53 Bab 54: Kebenaran yang Menghancurkan
54 Bab 55: Labrakan Sang Tunangan Resmi
55 Bab 56: Jejak yang Hilang
56 Bab 57: Pengejaran di Ujung Waktu
57 Bab 58: Perisai Sang Penguasa
58 Bab 59: Pembalasan Tanpa Ampun
59 Bab 60: Sang Penguasa Sebenarnya
60 Bab 60: Sang Penguasa Sebenarnya
61 Bab 61: Di Antara Hidup dan Mati
62 Bab 62: Perebutan di Lorong Maut
63 Bab 63: Kebenaran Berdarah
64 Bab 64: Pelarian dan Pengkhianatan Terbesar
65 Bab 65: Badai Perang Laut
66 Bab 66: Bayangan di Balik Pengasingan
67 Bab 67: Mahkota sang Ratu
68 Bab 68: Kebangkitan Sang Ratu
69 Bab 69: Di Atas Puing dan Api
70 Bab 70: Rahasia Darah Sang Ratu
71 Bab 71: Dilema Dua Hati
72 Bab 72: Sang Ratu di Garis Depan
73 Bab 73: Takhta, Cinta, dan Bahtera Abadi
74 Bab 74: Bayangan di Luar Gemerlap
75 Bab 75: Mendarat di Tanah Musuh
76 Bab 76: Dansa Muslihat di Gala Malam
77 Bab 77: Dokumen Rahasia Natania
78 Bab 78: Batalyon Hitam dan Murka Sang Penguasa
79 Bab 79: Perang di Bursa Zurich
80 Bab 80: Racun Bayangan dan Introgasi Berdarah
81 Bab 81: Penerbangan di Atas Awan Gelap
82 Bab 82: Pembantaian di Kastil Surrey
83 Bab 83: Pelarian dari Neraka Surrey dan Detik Kritis Viona
84 Bab 84: Pengkhianat di Balik Tahta
85 Bab 85: Identitas Rahasia Sang Ratu dan Eksekusi Sang Pengkhianat
86 Bab 86: Bayangan Masa Lalu di Kastil Vienna
87 Bab 86: Bayangan Masa Lalu di Kastil Vienna
88 Bab 87: Pelukan yang Hilang dan Bayangan Proyek Aurora
89 Bab 88: Badai di Koridor Obsidian dan Kebangkitan Aurora
90 Bab 89: Puncak Tahta di Jenewa dan Ancaman Senyap
91 Bab 91: Racun Dalam Cawan Emas
92 Bab 92: Amarah Sang Iblis Mahendra
93 Bab 93: Pembalasan Tanpa Ampun
94 Bab 94: Dua Garis Merah Di Balik Ketakutan
95 Bab 95: Perang Dua Taipan
96 Bab 96: Jejak Persekutuan Gelap
97 Bab 97: Pertempuran Di Meja Hijau Internasional
98 Bab 98: Perburuan Di Atas Langit Jakarta
99 Bab 99: Darahdan Rahsia Di Dek Kapal Kargo
100 Bab 100: sebuah Rahasia Darah
101 Bab 101: Malam Pengantin Di Bawah Bayang-Bayang Rahasia
102 Bab 102: Belati Di Balik Dekapan Iblis
103 Bab 103: Rencana Dibalik Kepatuhan Palsu
104 Bab 104: Tari Di Atas Permadani Racun
105 Bab 105: Kembalinya Sang Iblis Tua
106 Bab 106: Tangisan Di Balik Badai Monako
107 Bab 107: Infiltrasi Kasino
108 Bab 108: Pecahan Kaca Di Balik Pintu Kayu
109 Bab 109: Retak di Dinding Kaca
110 Bab 110: Sisa Hujan Di Ambang Pintu
111 Bab 111: Kertas Cokelat dan Fajar yang Dingin
112 Bab 112: Aroma Kopi dan Sisa Hujan
113 Bab 113: Sisa Hangat di Ujung Sprei
114 Bab 114: Jejak Oli di Ambang Pintu
115 Bab 115: Uap Kuah dan Cahaya Kuning
116 Bab 116: Bau Pinus dan Kepulan Teh Masala
117 BAB 117
118 Bab 118
119 Bab 119
120 Bab 120
121 Bab 121
122 Bab 122
123 Bab 123
124 Bab 124
Episodes

Updated 124 Episodes

1
Bab 1: Harga Diri yang Terjual
2
Bab 2: Sangkar Emas Penthouse Mewah
3
Bab 3: Dua Sisi Kehidupan
4
Bab 4: Di Balik Pintu Ruang Kerja Pribadi
5
Bab 5: Menelan Pil Pahit
6
Bab 6: Rahasia yang Mulai Tercium
7
BAB 7: Sisi Lain Sang Tirani
8
BAB 8: Aroma Rahasia dan Kilat Kecemburuan
9
BAB 9: Murka Sang Penguasa
10
BAB 10: Sinar Fajar dan Dinginnya Jarak
11
BAB 11: BayangBayang Masa Lalu
12
BAB 12: Realita Sang Nyonya dan Boneka Tuan
13
BAB 13: Jerat yang Kian Mencekik
14
BAB 14: Jeruji yang Berkilau
15
BAB 15: Siasat di Balik Layar
16
BAB 16: Sangkar Baru di Lantai Tertinggi
17
BAB 17: Tamu yang Tak Diundang
18
BAB 18: Luka yang Menganga
19
BAB 19: Sayap di Atas Awan
20
BAB 20: Batas Keputusasaan
21
BAB 21: Undangan Tersembunyi dan Detak yang Salah
22
BAB 22: Benang Merah yang Kusut
23
BAB 23: Konfrontasi Dewan Direksi
24
BAB 24: Pintu yang Terkunci Rapat
25
BAB 25: Jeruji Tanpa Suara
26
BAB 26: Percikan Cemburu dan Sudut Tergelap Penthouse
27
BAB 27: Jerat yang Kian Mengencang
28
BAB 28: Batasan yang Kian Samar
29
BAB 29: Dinding Es yang Retak
30
BAB 30: Pecahnya Topeng dan Badai Kebenaran
31
BAB 31: Pelarian Hancur dan Rahasia di Balik Dua Garis Merah
32
BAB 32: Jejak yang Terhapus dan Kenyataan di Balik Kegelapan
33
BAB 33: Penyesalan di Ujung Kebenaran dan Rahasia yang Tercium
34
BAB 34: Pertemuan di Batas Keputusasaan dan Kebenaran yang Menghancurkan
35
BAB 35: Puing-Puing Kebenaran dan Pilihan Terakhir
36
BAB 36: Jerat Maut dan Kebenaran yang Terbakar
37
BAB 37: Puncak Labirin dan Kenyataan di Balik Kenyataan
38
BAB 38: Deklarasi Perang dan Kenyataan di Balik Sumpah Palsu
39
BAB 39: Benang Merah yang Terkoyak dan Rencana Terakhir
40
BAB 40: Runtuhnya Sangkar Emas dan Pilihan Terakhir Sang Alpha
41
BAB 41: Jerat Terakhir Sang Manipulator dan Sumpah di Atas Darah
42
BAB 42: Panggung Sandiwara Terakhir dan Racun di Cawan Emas
43
BAB 43: Sisa Abu Manipulasi dan Pewaris yang Sesungguhnya
44
BAB 44: Singgasana yang Berdarah dan Pewaris Pengganti
45
BAB 45: Labirin Ilusi dan Pilihan Berdarah
46
BAB 46: Pilihan Terakhir di Ujung Laras
47
BAB 46: Pilihan Terakhir di Ujung Laras
48
BAB 47: Kartu As Terakhir dan Darah Penebusan
49
BAB 48: Puncak Mahkota Emas dan Deklarasi Posesif
50
BAB 49: Riak Baru di Balik Tirai Sutra
51
BAB 50: Deklarasi Darah dan Sang Penguasa Mutlak
52
Bab 53: Aroma yang Tertinggal
53
Bab 54: Kebenaran yang Menghancurkan
54
Bab 55: Labrakan Sang Tunangan Resmi
55
Bab 56: Jejak yang Hilang
56
Bab 57: Pengejaran di Ujung Waktu
57
Bab 58: Perisai Sang Penguasa
58
Bab 59: Pembalasan Tanpa Ampun
59
Bab 60: Sang Penguasa Sebenarnya
60
Bab 60: Sang Penguasa Sebenarnya
61
Bab 61: Di Antara Hidup dan Mati
62
Bab 62: Perebutan di Lorong Maut
63
Bab 63: Kebenaran Berdarah
64
Bab 64: Pelarian dan Pengkhianatan Terbesar
65
Bab 65: Badai Perang Laut
66
Bab 66: Bayangan di Balik Pengasingan
67
Bab 67: Mahkota sang Ratu
68
Bab 68: Kebangkitan Sang Ratu
69
Bab 69: Di Atas Puing dan Api
70
Bab 70: Rahasia Darah Sang Ratu
71
Bab 71: Dilema Dua Hati
72
Bab 72: Sang Ratu di Garis Depan
73
Bab 73: Takhta, Cinta, dan Bahtera Abadi
74
Bab 74: Bayangan di Luar Gemerlap
75
Bab 75: Mendarat di Tanah Musuh
76
Bab 76: Dansa Muslihat di Gala Malam
77
Bab 77: Dokumen Rahasia Natania
78
Bab 78: Batalyon Hitam dan Murka Sang Penguasa
79
Bab 79: Perang di Bursa Zurich
80
Bab 80: Racun Bayangan dan Introgasi Berdarah
81
Bab 81: Penerbangan di Atas Awan Gelap
82
Bab 82: Pembantaian di Kastil Surrey
83
Bab 83: Pelarian dari Neraka Surrey dan Detik Kritis Viona
84
Bab 84: Pengkhianat di Balik Tahta
85
Bab 85: Identitas Rahasia Sang Ratu dan Eksekusi Sang Pengkhianat
86
Bab 86: Bayangan Masa Lalu di Kastil Vienna
87
Bab 86: Bayangan Masa Lalu di Kastil Vienna
88
Bab 87: Pelukan yang Hilang dan Bayangan Proyek Aurora
89
Bab 88: Badai di Koridor Obsidian dan Kebangkitan Aurora
90
Bab 89: Puncak Tahta di Jenewa dan Ancaman Senyap
91
Bab 91: Racun Dalam Cawan Emas
92
Bab 92: Amarah Sang Iblis Mahendra
93
Bab 93: Pembalasan Tanpa Ampun
94
Bab 94: Dua Garis Merah Di Balik Ketakutan
95
Bab 95: Perang Dua Taipan
96
Bab 96: Jejak Persekutuan Gelap
97
Bab 97: Pertempuran Di Meja Hijau Internasional
98
Bab 98: Perburuan Di Atas Langit Jakarta
99
Bab 99: Darahdan Rahsia Di Dek Kapal Kargo
100
Bab 100: sebuah Rahasia Darah
101
Bab 101: Malam Pengantin Di Bawah Bayang-Bayang Rahasia
102
Bab 102: Belati Di Balik Dekapan Iblis
103
Bab 103: Rencana Dibalik Kepatuhan Palsu
104
Bab 104: Tari Di Atas Permadani Racun
105
Bab 105: Kembalinya Sang Iblis Tua
106
Bab 106: Tangisan Di Balik Badai Monako
107
Bab 107: Infiltrasi Kasino
108
Bab 108: Pecahan Kaca Di Balik Pintu Kayu
109
Bab 109: Retak di Dinding Kaca
110
Bab 110: Sisa Hujan Di Ambang Pintu
111
Bab 111: Kertas Cokelat dan Fajar yang Dingin
112
Bab 112: Aroma Kopi dan Sisa Hujan
113
Bab 113: Sisa Hangat di Ujung Sprei
114
Bab 114: Jejak Oli di Ambang Pintu
115
Bab 115: Uap Kuah dan Cahaya Kuning
116
Bab 116: Bau Pinus dan Kepulan Teh Masala
117
BAB 117
118
Bab 118
119
Bab 119
120
Bab 120
121
Bab 121
122
Bab 122
123
Bab 123
124
Bab 124

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!