Episode 2

Bab 002

Mimpi Pertama

Dan di dalam ruang itu, waktu tidak berjalan.

Sekar mengulang kalimat itu di dalam kepala sampai bibirnya ikut bergerak tanpa suara. Ia duduk di lantai kamar kos, punggung menempel pada sisi kasur, sementara tusuk konde mutiara tergeletak di atas meja seperti benda tua biasa.

Biasa.

Kata itu tidak cocok lagi.

Sekar menatap roti tawar yang baru saja keluar dari ruang penyimpanan ajaib. Semut masih mengerubungi remah di lantai, tapi tidak satu pun menyentuh roti dalam bungkus. Seolah roti itu baru dibeli detik ini, bukan disimpan lima belas menit di tempat yang mustahil.

Ia mengambil napas pelan, lalu memaksa dirinya berdiri.

Kalau panik sekarang, ia tidak akan tahu apa-apa.

Sekar mengambil buku tulis kecil dari rak, buku yang biasanya ia pakai mencatat pengeluaran bulanan. Di halaman kosong, ia menulis dengan tangan yang masih sedikit gemetar.

Ruang penyimpanan ajaib.

Di bawahnya, ia membuat garis.

Satu. Masuk dan keluar dengan pikiran.

Dua. Waktu di dalam berhenti.

Tiga. Hanya bisa dipakai saat tusuk konde ada di dekatku?

Ia berhenti di poin ketiga, lalu memandangi tusuk konde itu. Untuk menguji, Sekar meletakkannya di meja, berjalan ke kamar mandi kecil, lalu memikirkan gelas plastik di meja.

Masuk.

Tidak terjadi apa-apa.

Sekar kembali ke meja, menyentuh tusuk konde dengan ujung jari.

Masuk.

Gelas itu hilang.

Sekar menelan ludah. Jadi benda itu bukan hanya kunci, tapi sesuatu yang harus selalu bersamanya.

Ia menyelipkan tusuk konde ke rambutnya. Rambutnya terlalu pendek untuk disanggul rapi seperti Nenek, jadi tusuk itu hanya tertahan miring di ikatan rendah. Aneh, tapi saat benda itu menyentuh kepalanya, Sekar bisa merasakan ruang kosong itu seperti pintu yang berada tepat di belakang pikirannya.

Ia mulai menguji satu per satu.

Baju dari lemari masuk. Keluar.

Mangkuk enamel peninggalan Nenek masuk. Keluar.

Sekar mengisi ember kecil dengan air sampai setengah, lalu memasukkannya. Saat dikeluarkan, permukaan air tetap datar. Tidak ada tumpahan. Tidak ada gerakan sampai ember itu kembali ke kamar.

Sekar menulis lagi.

Benda cair tidak tumpah selama di dalam.

Lalu ia mencoba benda yang lebih besar. Kasur lipatnya.

Ia ragu sebentar. Jika gagal dan kasur itu hilang selamanya, malamnya akan berakhir di lantai. Tapi rasa takut kalah oleh rasa ingin tahu. Sekar menyentuh ujung kasur.

Masuk.

Kasur itu lenyap.

Kamar tiga kali tiga meter itu mendadak terasa lapang.

Sekar berdiri kaku di tengah lantai. Ia masuk ke ruang penyimpanan, dan kasur lipatnya ada di sana, tergeletak rapi di lantai putih keabu-abuan. Tidak terbalik. Tidak rusak. Hanya ada.

Ia mengeluarkannya lagi. Kasur kembali di tempat semula.

Untuk pertama kalinya malam itu, Sekar lupa bernapas karena takjub, bukan takut.

Kapasitasnya besar.

Mungkin sangat besar.

Pikiran itu membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Bukan karena ia langsung membayangkan kekayaan atau hal-hal aneh seperti di cerita fantasi. Sekar tidak punya keberanian sebesar itu. Yang ia pikirkan justru hal kecil dan sangat nyata.

Beras satu karung bisa masuk.

Tabung gas bisa masuk.

Obat bisa masuk.

Barang tidak akan rusak.

Seseorang mengetuk pintu.

Sekar tersentak sampai buku tulisnya hampir jatuh.

"Sekar? Belum tidur?"

Suara ibu kos terdengar dari koridor. Sekar langsung merapikan tusuk konde di rambut, menutup buku tulis, lalu menarik napas.

"Belum, Bu."

"Tadi seperti ada suara barang jatuh. Kamu baik-baik saja?"

Sekar melihat sekeliling. Kasur sudah kembali. Ember ada di kamar mandi. Roti di meja. Tidak ada yang mencurigakan kecuali wajahnya sendiri yang pasti pucat.

"Saya tidak apa-apa, Bu. Maaf, gelas saya hampir jatuh."

"Oh. Jangan begadang, ya."

"Iya, Bu. Terima kasih."

Langkah ibu kos menjauh. Sekar tetap berdiri di balik pintu sampai koridor kembali sepi. Baru setelah itu lututnya terasa lemas.

Ia mematikan lampu utama, menyisakan lampu meja kecil. Hujan di luar sudah berhenti, tapi atap masih menetes satu-satu. Sekar duduk lagi, menulis semua hasil uji coba dengan lebih rapi. Ia menambahkan satu poin baru.

Jangan sampai ada yang tahu.

Kalimat itu ia garis bawahi dua kali.

Menjelang tengah malam, tubuhnya akhirnya menyerah. Sekar menaruh buku tulis di bawah bantal, memastikan tusuk konde masih terselip di rambut, lalu berbaring miring. Matanya sulit terpejam. Setiap kali hampir tidur, ia merasa ruang putih itu memanggil dari belakang pikirannya.

Ia tidak tahu kapan akhirnya tertidur.

Dalam mimpi, Kota Angin tidak punya suara.

Langit hitam menggantung terlalu rendah. Jalan raya yang biasanya penuh motor kosong seperti habis ditinggalkan. Toko-toko tutup, kaca-kacanya pecah, papan reklame bergoyang meski tidak ada angin.

Sekar berdiri di tengah jalan tanpa helm, tanpa tas, tanpa sandal.

Aspal di bawah telapak kakinya basah dan dingin.

Dari jauh terdengar gemuruh.

Awalnya seperti suara truk besar. Lalu berubah menjadi suara ribuan drum dipukul bersamaan. Sekar menoleh ke arah barat. Di antara gedung-gedung, sesuatu yang gelap dan tinggi bergerak mendekat.

Air.

Bukan banjir setinggi betis seperti yang sering muncul di berita Kota Angin saat musim hujan. Ini dinding air. Gelombang hitam membawa mobil, tiang listrik, potongan atap seng, dan tubuh-tubuh yang berteriak tanpa suara.

Sekar ingin lari, tapi kakinya seperti tertanam di aspal.

Tanah bergetar.

Retakan muncul di jalan, tipis seperti garis pensil, lalu membelah lebar. Lampu merah di persimpangan jatuh. Gedung kantor tempat Sekar bekerja miring, kacanya pecah satu per satu seperti hujan tajam.

Seseorang berlari melewatinya, wajahnya penuh lumpur.

"Lari! Airnya naik!"

Sekar mencoba bergerak. Lututnya sakit. Napasnya putus-putus. Gelombang itu sudah terlalu dekat, membawa bau laut, solar, dan sesuatu yang busuk.

Di antara gemuruh air, ia mendengar suara Nenek.

Sekar.

Suara itu lembut, tapi menusuk langsung ke dada.

Bangun.

Air menghantamnya.

Sekar terbangun dengan tubuh tersentak.

Keringat membasahi leher dan punggungnya. Napasnya kasar. Selimut tipis melilit kakinya, dan tangannya mencengkeram pinggir kasur seolah ia benar-benar hampir terseret arus.

Kamar kos gelap.

Tidak ada air. Tidak ada retakan. Tidak ada gedung runtuh.

Hanya kipas angin kecil yang berputar lambat dan suara motor lewat dari jalan besar.

Sekar meraba rambutnya. Tusuk konde masih ada.

Ia turun dari kasur, menyalakan lampu, lalu mengambil ponsel. Pukul 03.17.

Jarinya membuka mesin pencari sebelum pikirannya benar-benar jernih. Ia mengetik dengan cepat.

gelombang besar kota pesisir

gempa bumi retakan tanah

cuaca ekstrem global

Hasil pencarian muncul bertumpuk. Berita tentang banjir rob di beberapa kota pesisir. Artikel tentang suhu laut yang naik. Video pendek dari luar negeri memperlihatkan badai yang merobohkan pohon. Satu berita menyebut gempa besar di negara lain minggu lalu. Berita lain membahas pola hujan yang makin kacau.

Tidak ada yang persis seperti mimpinya.

Tapi semuanya terasa terlalu dekat.

Pagi harinya, Sekar tetap berangkat kerja. Ia tidak berani mengambil cuti tanpa alasan jelas. Di pantry kantor, televisi kecil menyiarkan berita cuaca ekstrem di beberapa daerah. Seorang rekan kerja berdiri sambil menyeduh kopi instan.

"Akhir-akhir ini berita isinya bencana terus, ya," ucap orang itu.

Sekar yang sedang mengambil air panas berhenti sesaat.

"Iya."

"Tapi di sini paling banjir biasa. Kota Angin dari dulu begitu."

Sekar tidak menjawab. Di layar televisi, gambar jalan yang terendam air berganti menjadi rekaman gelombang menghantam tanggul. Suara presenter terdengar datar, terlalu datar untuk gambar sebesar itu.

Jari Sekar mencengkeram gelas kertas sampai penyok.

Sepanjang hari, angka-angka di layar komputer berubah menjadi garis retakan dalam ingatannya. Suara klakson di luar kantor terdengar seperti gemuruh air. Saat ada rekan kerja tertawa, Sekar justru teringat orang yang berlari dalam mimpinya.

Malam itu, setelah pulang ke kos, Sekar membuka kembali buku tulis pengeluaran. Di halaman setelah catatan ruang penyimpanan, ia menulis tanggal hari itu.

Lalu satu kalimat.

Jika mimpi itu benar, apa yang harus aku lakukan?

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
Episodes

Updated 101 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!