Menimbun untuk Bertahan: Gadis Pendiam yang Hidup Sendiri

Menimbun untuk Bertahan: Gadis Pendiam yang Hidup Sendiri

Episode 1

Bab 001

Tusuk Konde Mutiara

"Sekar, laporan pengeluaran bulan ini sudah kamu kirim?"

Suara atasannya membuat jari Wen Sekar berhenti di atas keyboard. Di layar komputer, angka-angka kecil masih berbaris rapi, lebih rapi daripada napasnya sendiri.

"Sudah, Pak. Saya kirim lewat email lima menit lalu."

Pria di balik meja partisi itu hanya menggumam tanpa menoleh. Sekar menunduk lagi, memastikan tidak ada satu pun angka yang salah. Di kantor kecil tempatnya bekerja sebagai karyawan administrasi, kesalahan satu angka bisa berarti dimarahi setengah jam. Gajinya hanya sedikit di atas UMR Kota Angin, tapi dimarahi tetap terasa mahal.

Di meja sebelah, dua karyawan lain sedang membicarakan promo makan siang dan cicilan ponsel baru. Sekar tidak ikut tertawa. Ia hanya memasukkan struk bensin ke map plastik, mencatat tanggal, lalu menutup map itu dengan hati-hati.

"Kar, ikut makan di luar?"

Sekar mengangkat wajah. Seorang rekan kerja sudah berdiri sambil menggantung tas di bahu.

"Tidak. Saya bawa bekal."

"Serius? Tiap hari bekal terus. Hemat banget kamu."

Sekar tersenyum tipis. "Iya."

Jawaban satu kata cukup untuk membuat percakapan itu mati dengan sopan. Sekar menunggu sampai langkah mereka benar-benar menjauh, baru membuka kotak makan kecil dari dalam tas.

Nasi putih, telur dadar tipis, dan tumis kangkung sisa semalam.

Ia makan di mejanya, pelan-pelan, sambil melihat pantulan dirinya di layar komputer yang menggelap. Wajahnya biasa saja, rambutnya diikat rendah, kemeja kremnya sudah pudar.

Pukul lima lewat dua puluh, hujan turun.

Sekar berdiri di depan lobi kantor, memegang payung lipat murahnya sampai hujan berubah menjadi gerimis.

Perjalanan menuju kos-kosan memakan waktu empat puluh menit dengan angkot. Jalanan macet, klakson saling bersahutan, dan lututnya pegal karena duduk terjepit di pojok.

Kos-kosannya berdiri di ujung gang, bangunan dua lantai dengan cat hijau yang mulai mengelupas. Kamar Sekar ada di lantai dua, ukuran tiga kali tiga meter, cukup untuk kasur lipat, lemari plastik, meja kecil, dan satu rak buku bekas.

"Baru pulang, Mbak?"

Ibu kos yang sedang menyapu teras menoleh. Perempuan itu selalu ramah, tapi setiap sapaan membuat bahu Sekar menegang sebentar.

"Iya, Bu."

"Makan malam jangan telat. Dari siang tadi kamu kelihatan pucat."

Sekar mengangguk. "Iya, Bu. Terima kasih."

Ia naik tangga dengan langkah cepat, bukan karena tidak suka pada ibu kos, melainkan karena terlalu banyak perhatian membuat dadanya sempit.

Kamar itu menyambutnya dengan bau kain lembap dan minyak kayu putih. Cahaya kuning redup jatuh ke lantai keramik yang dingin.

Di sudut kamar, sebuah kardus tua masih terikat tali rafia.

Sekar memandangnya lama.

Kardus itu dikirim dari rumah lama Kakek Wen dan Nenek Wen di Desa Lembah dua minggu lalu, setelah kerabat jauh yang menjaga rumah itu memutuskan menjual beberapa barang tersisa. Tidak banyak yang sampai ke tangannya, hanya beberapa baju lama, foto yang menguning, dua mangkuk enamel, dan benda-benda kecil dari lemari Nenek.

Sekar belum sanggup membukanya.

Malam ini, entah karena hujan atau karena kamar terasa terlalu sunyi, ia akhirnya menarik kardus itu ke tengah lantai.

Tali rafia sulit dilepas. Ia mengambil gunting kecil dari meja, memotongnya, lalu membuka tutup kardus perlahan. Bau kapur barus dan kayu tua langsung naik, membuat tenggorokannya tercekat.

Di lapisan paling atas ada kain batik cokelat milik Nenek. Sekar mengangkatnya, menempelkan sebentar ke pipi. Kain itu sudah tidak menyimpan hangat tubuh siapa pun, tapi jemarinya masih mengenali lipatan yang dulu sering ia lihat.

"Nenek..." bisiknya.

Tidak ada jawaban. Hanya hujan yang mengetuk seng atap belakang kos.

Sekar menyusun barang satu per satu di atas kasur. Foto Kakek Wen di depan pohon mangga. Gelang giok retak. Buku catatan resep dengan tulisan tangan Nenek yang kecil dan miring. Sebuah kotak beludru merah tua terkubur di bawah kain putih.

Sekar membuka kotak itu.

Di dalamnya terbaring sebuah tusuk konde mutiara.

Benda itu tidak besar. Batangnya seperti perak tua, dengan ukiran halus yang sebagian sudah menghitam. Di ujungnya ada tiga butir mutiara kecil, tidak terlalu bulat, tapi lembut saat terkena cahaya lampu.

Sekar pernah melihat Nenek memakainya saat Imlek ketika ia masih SD. Rambut Nenek disanggul rendah, tusuk konde itu terselip di antara uban, dan Nenek tersenyum sambil memberinya jeruk.

"Kalau suatu hari Nenek sudah tidak ada, barang ini untuk kamu," kata Nenek waktu itu.

Sekar mengira itu hanya ucapan orang tua.

Ia mengambil tusuk konde itu dengan dua tangan. Permukaannya dingin. Ada bagian kecil di dekat ukiran yang terasa kasar. Sekar mengusapnya dengan ibu jari, mencoba melihat apakah ada karat yang bisa dibersihkan.

Rasa perih tiba-tiba menusuk.

"Aduh."

Ia menarik tangannya. Setitik cairan merah muncul di ujung ibu jari, terang, lalu jatuh tepat ke salah satu mutiara.

Sekar membeku.

Mutiara itu menyerap cairan merahnya.

Bukan menodai. Bukan membuat merah menyebar. Setetes cairan itu benar-benar hilang, seperti ditelan oleh permukaan putih susu yang tadi tampak mati.

Lampu kamar berkedip.

Sekar refleks mundur, punggungnya membentur lemari plastik. Tusuk konde itu masih di tangannya. Dinginnya berubah menjadi hangat, lalu panas, seolah benda kecil itu menyimpan bara di dalamnya.

"Apa..."

Belum selesai ia bicara, pandangannya berputar.

Kamar kos hilang.

Sekar berdiri di tempat yang luas dan kosong.

Tidak ada dinding, tapi ada batas yang tidak terlihat. Tidak ada matahari, tapi ruangan itu terang seperti pagi tanpa langit. Lantai di bawah kakinya putih keabu-abuan, halus, tidak dingin, tidak hangat. Udara di sekitarnya terlalu hening sampai Sekar bisa mendengar detak jantungnya sendiri.

Ia menahan napas.

Di tangannya, tusuk konde mutiara masih ada.

"Ini di mana?"

Suaranya terdengar kecil, lalu lenyap tanpa gema.

Sekar memejamkan mata kuat-kuat. Saat membukanya lagi, ia kembali berada di kamar kos. Kardus tua masih terbuka. Hujan masih turun. Lampu masih menyala redup.

Ia jatuh duduk di lantai.

Selama beberapa menit, Sekar tidak bergerak. Ibu jarinya masih perih. Ia memandangi tusuk konde itu seperti memandangi sesuatu yang bisa menggigit.

Mungkin ia terlalu lelah. Mungkin tekanan kerja, kurang tidur, dan makan seadanya akhirnya membuat kepalanya kacau.

Sekar meletakkan tusuk konde itu di atas meja, lalu mengambil segelas air. Tangannya gemetar. Ia meneguk terlalu cepat hingga tersedak.

Matanya kembali pada meja.

Tusuk konde itu tidak bergerak.

Di sampingnya ada kunci kamar, ponsel murah, dan satu bungkus roti tawar diskon. Sekar menatap roti itu, lalu entah dari mana sebuah pikiran muncul.

Kalau tadi bukan mimpi...

Ia menyentuh bungkus roti dengan ujung jari.

Masuk.

Pikiran itu belum selesai dibentuk, tapi bungkus roti di atas meja langsung hilang.

Sekar menjerit tertahan. Kedua tangannya menutup mulut. Ia melihat ke bawah meja, ke kasur, ke kardus, bahkan ke bawah lemari. Tidak ada roti.

Jantungnya memukul dada.

Keluar.

Bungkus roti itu muncul lagi di atas meja.

Sekar mundur sampai betisnya menyentuh kasur. Kali ini ia tidak bisa menyalahkan lelah.

Ia duduk di tepi kasur, menatap benda-benda di meja. Setelah beberapa saat, ia mencoba lagi. Kunci kamar masuk, lalu keluar. Ponsel masuk, lalu keluar. Gelas plastik masuk, lalu keluar dengan air di dalamnya tidak tumpah setetes pun.

Setiap benda lenyap hanya karena ia memikirkannya.

Sekar menggenggam tusuk konde mutiara dengan lebih hati-hati. Tubuhnya masih takut, tapi di balik rasa takut itu ada sesuatu yang lain, tipis dan tajam.

Ruang penyimpanan.

Kata itu muncul begitu saja di benaknya.

Ia kembali masuk ke tempat kosong tadi, kali ini dengan sengaja. Ruang luas itu masih sama, terang, hening, dan seolah tidak berujung. Di lantai dekat kakinya, roti, kunci, ponsel, dan gelas plastik tersusun rapi.

Sekar berjongkok. Ia menyentuh gelas plastik itu.

Air di dalamnya diam.

Bukan tenang karena tidak terguncang. Diam seperti gambar. Sekar mengangkat gelas itu, menggoyangnya pelan. Air tetap tidak bergerak sampai ia memikirkan gelas itu keluar.

Begitu kembali ke kamar, air di dalam gelas baru bergoyang dan menetes sedikit ke punggung tangannya.

Sekar menatap tetes air itu.

Lalu ia melihat roti tawar di meja. Ia merobek sedikit ujung bungkusnya, mencuil remah kecil, menaruhnya di lantai kamar. Semut dari celah dinding biasanya datang dalam hitungan menit. Kamar kos tua ini tidak pernah benar-benar bersih dari mereka.

Sekar memasukkan sisa roti ke dalam ruang itu.

Lima belas menit berlalu. Semut mulai mengerubungi remah di lantai. Sekar duduk tanpa berkedip, memeluk lututnya, menunggu dengan dada yang makin sesak.

Ia mengeluarkan roti dari ruang penyimpanan.

Tidak ada semut. Tidak ada bau berubah. Ujung bungkus yang ia robek pun tampak sama.

Sekar merasakan kulit kepalanya meremang.

Di luar kamar, seseorang tertawa di koridor. Televisi ibu kos menyala samar dari lantai bawah. Kota Angin tetap berisik, tetap lembap, tetap memikirkan makan malam.

Tapi di atas meja kecil Sekar, tusuk konde mutiara milik Nenek baru saja membuka sebuah ruang yang tidak masuk akal.

Dan di dalam ruang itu, waktu tidak berjalan.

Terpopuler

Comments

Tiara Bella

Tiara Bella

aku mampir Thor salam kenal...

2026-08-15

2

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
Episodes

Updated 101 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!