Bab 003
Daftar Belanja
Jika mimpi itu benar, apa yang harus aku lakukan?
Sekar menatap kalimat itu sampai tinta hitamnya terasa seperti retakan di atas kertas. Di luar jendela kecil kos, langit Kota Angin sudah gelap, tapi kamar tiga kali tiga meter itu masih terang oleh lampu meja. Tusuk konde mutiara terselip di rambutnya. Buku pengeluaran terbuka di depan lututnya.
Ia bisa pura-pura tidak terjadi apa-apa.
Besok bangun, berangkat kerja, mencatat struk, menerima gaji, membayar kos, makan telur dan kangkung, lalu menjalani hari seperti biasa. Itu pilihan paling masuk akal.
Tapi roti di meja tidak basi di dalam ruang penyimpanan ajaib.
Dan gelombang dalam mimpinya terasa terlalu nyata.
Sekar menarik napas panjang, lalu menulis di halaman baru.
Stok darurat.
Tangannya berhenti sebentar di atas kata itu. Ia bukan orang kaya. Tabungannya tidak banyak. Limit kartu kreditnya pun kecil, hasil tawaran bank yang dulu ia terima hanya karena takut menolak terlalu lama di telepon.
Kalau mimpi itu salah, ia akan menjadi perempuan aneh yang menimbun makanan sampai kamar kosnya tidak muat.
Kalau mimpi itu benar, terlambat satu hari bisa berarti mati.
Sekar menekan ujung pena lebih kuat.
Lebih baik terlihat gila daripada tidak siap.
Ia mulai membuat daftar.
Beras. Minimal 200 kg.
Mie instan. Banyak. Sebanyak mungkin.
Minyak goreng. Gula pasir. Garam. Tepung terigu. Sarden kaleng. Kornet kaleng. Kecap. Saus. Bumbu dapur kering. Air mineral galon. Kopi sachet. Teh. Susu bubuk. Makanan kering yang tidak perlu kulkas.
Daftarnya memanjang sampai satu halaman penuh. Setelah itu ia membuka aplikasi catatan di ponsel dan membuat versi yang lebih rapi, lengkap dengan perkiraan harga. Angka di sisi kanan membuat perutnya mual, tapi Sekar tidak mencoretnya.
Pagi berikutnya, ia mengirim pesan kepada atasannya.
Pak, hari ini saya izin setengah hari karena ada urusan keluarga.
Balasan datang sepuluh menit kemudian.
Oke. Laporan kemarin sudah saya terima.
Sekar menatap layar itu beberapa detik. Dadanya lega, tapi tangannya tetap dingin. Ia mengenakan jaket tipis, memasukkan kartu debit, kartu kredit, dan buku catatan ke tas kecil. Tusuk konde mutiara ia selipkan lebih kuat di ikatan rambut, lalu menutupnya dengan topi kain sederhana.
Pasar grosir di sisi timur Kota Angin selalu ramai sejak pagi. Truk kecil keluar masuk, kuli panggul mengangkat karung beras, pedagang meneriakkan harga, dan bau bawang, plastik, ikan asin, serta kardus basah bercampur di udara.
Sekar berhenti di tepi jalan beberapa detik.
Terlalu banyak orang.
Terlalu banyak suara.
Ia hampir berbalik.
Lalu bayangan dinding air dalam mimpi muncul lagi, membawa mobil dan atap seng. Sekar menggenggam tali tasnya, menunduk, lalu masuk ke lorong pasar.
Toko grosir beras itu punya gudang kecil di belakang. Karung-karung putih tersusun sampai hampir menyentuh plafon. Seorang pemilik toko berkemeja kotak-kotak menatap Sekar dari balik meja kalkulator.
"Mau beli berapa, Mbak?"
"Beras lima puluh kilo, empat karung."
Jari pria itu berhenti di kalkulator. "Dua ratus kilo?"
"Iya."
"Untuk acara?"
Sekar sudah menyiapkan jawaban sejak malam. "Untuk keluarga di desa. Sekalian stok."
Pemilik toko memandangnya dari kepala sampai kaki. Perempuan kurus, tas kecil, suara pelan. Bukan tipe orang yang biasanya membeli beras sebanyak itu.
"Mau dikirim?"
"Tidak perlu. Nanti ada yang ambil."
"Kalau begitu bayar dulu, barang saya sisihkan di belakang."
Sekar mengangguk. Ia membayar dengan kartu debit. Saat mesin mencetak struk, bunyinya terasa terlalu keras. Pemilik toko menyerahkan kertas itu, masih dengan mata curiga.
"Kalau orangnya lama, jangan sampai sore ya, Mbak. Gudang saya penuh."
"Iya, Pak."
Sekar pindah ke toko sebelah. Di sana kardus mie instan menumpuk seperti dinding warna-warni. Ia membeli dua ratus dus, campuran rasa ayam bawang, soto, kari, dan goreng. Penjaga toko tertawa kecil saat mendengar jumlahnya.
"Mbak buka warung?"
"Titipan keluarga."
"Keluarganya banyak sekali."
Sekar hanya tersenyum tipis. "Iya."
Jawaban pendek itu membuat penjaga toko tidak bertanya lebih jauh, walau matanya masih menyimpan rasa ingin tahu.
Setelah mie instan, ia membeli minyak goreng dalam jeriken dan kemasan literan, gula pasir beberapa karung kecil, garam, tepung terigu, sarden kaleng, kornet kaleng, kecap, saus sambal, kopi sachet, teh celup, susu bubuk, dan bumbu dapur kering. Setiap toko memberi reaksi yang hampir sama. Heran. Mengukur tubuhnya. Bertanya apakah ia punya warung, katering, atau acara besar.
Sekar menjawab dengan kalimat yang sama.
Untuk keluarga.
Sekalian stok.
Tidak perlu dikirim.
Nanti ada yang ambil.
Menjelang siang, uang di rekeningnya menyusut seperti air dibuang dari ember bocor. Kartu kreditnya mulai terpakai. Sekar melihat notifikasi transaksi bertumpuk di ponsel, lalu cepat-cepat mematikan layar. Kalau ia memikirkan utang sekarang, kakinya mungkin tidak kuat berdiri.
Barang-barang yang sudah dibayar ditumpuk di beberapa sudut gudang belakang. Pemilik toko beras mengizinkan sementara karena Sekar membayar lebih untuk biaya penitipan singkat. Penjaga toko mie instan juga menyisihkan kardus-kardusnya di lorong belakang, dengan syarat diambil sebelum toko tutup.
Sekar menunggu saat yang tepat.
Saat azan dari kejauhan bercampur dengan suara pasar yang sedikit mereda, beberapa pekerja pergi makan. Lorong belakang toko-toko menjadi lebih lengang. Sekar berjalan sambil menunduk, seolah sedang menelepon. Padahal ponselnya mati di genggaman.
Di gudang beras, ia menyentuh karung paling depan.
Masuk.
Empat karung beras menghilang tanpa suara.
Dada Sekar seperti dipukul dari dalam. Ia menoleh cepat. Tidak ada yang melihat. Hanya kipas tua di dinding yang berputar malas.
Ia keluar dengan langkah biasa, walau telapak tangannya basah.
Di lorong mie instan, kardus-kardus tersusun tinggi. Sekar berdiri di samping tumpukan itu, menunggu dua kuli panggul lewat sambil bercanda. Begitu mereka berbelok, ia menyentuh sisi kardus.
Masuk.
Dua ratus dus mie instan lenyap dari lorong.
Ruang di belakang toko mendadak kosong. Sekar merasa tenaganya turun ke kaki. Ia hampir lari, tapi memaksa diri berjalan pelan. Jika ia panik, orang lain akan melihat.
Satu per satu, ia mengambil semua barang yang sudah dibayar.
Minyak goreng. Gula. Garam. Tepung. Makanan kaleng. Kopi. Teh. Susu. Bumbu dapur. Semuanya masuk ke ruang penyimpanan ajaib, tersusun sesuai bayangannya. Di dalam ruang putih itu, Sekar menempatkan beras di satu sisi, mie instan di sisi lain, makanan kaleng berderet seperti rak toko kecil.
Saat pemilik toko beras kembali dari makan siang, ia melihat sudut gudang kosong.
"Sudah diambil, Mbak?"
Sekar menunduk sopan. "Sudah, Pak. Orangnya tadi datang cepat."
"Cepat sekali."
"Iya, Pak."
Pria itu menggaruk kepala, tapi karena barang sudah dibayar, ia tidak punya alasan untuk bertanya lebih jauh.
Sekar keluar dari pasar grosir dengan tas kecil yang masih tampak ringan. Tubuhnya lelah, tapi di dalam ruang penyimpanan ajaib, tumpukan pertama hidupnya baru saja berdiri.
Di halte angkot, ia duduk di pojok, membuka buku catatan, lalu mencoret barang-barang yang sudah dibeli.
Beras 200 kg. Selesai.
Mie instan 200 dus. Selesai.
Minyak goreng. Selesai.
Garam, gula, tepung, makanan kaleng. Selesai.
Sekar seharusnya merasa lega.
Tapi ketika ia membalik halaman, daftar berikutnya menunggu seperti mulut yang belum kenyang.
Obat-obatan.
Alat.
Energi.
Radio.
Senter.
Panel surya.
Sekar menatap kata-kata itu sampai angkot yang ia tunggu lewat tanpa ia sadari.
Yang sudah ia beli hari ini baru permulaan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments