Episode 4

Bab 004

Obat dan Alat

Yang sudah ia beli hari itu baru permulaan.

Kalimat itu mengikuti Sekar sampai malam. Di kamar kos, ia mengeluarkan satu dus mie instan dari ruang penyimpanan ajaib, hanya untuk memastikan semuanya benar-benar ada. Kardus itu muncul di lantai tanpa suara, bersih, utuh, seolah baru saja diturunkan dari truk.

Sekar menyentuh tutup kardusnya.

Masuk.

Kardus itu lenyap lagi.

Ia membuka buku catatan. Halaman makanan sudah penuh coretan dan tanda centang. Halaman berikutnya kosong, tapi justru terlihat lebih menakutkan.

Obat-obatan.

Kalau banjir datang, makanan membuat orang bertahan hidup. Tapi luka kecil bisa bernanah. Demam bisa berubah menjadi bahaya. Air kotor bisa membawa penyakit. Sekar bukan dokter, bahkan memasang perban pun hanya pernah ia lihat dari video pendek di internet.

Ia menulis sampai larut malam.

Paracetamol. Betadine. Alkohol swab. Perban gulung. Kasa steril. Plester. Obat diare. Oralit. Salep luka bakar. Masker. Sarung tangan. Vitamin. Termometer. Obat flu. Obat alergi.

Di baris terakhir, ia menulis lebih pelan.

Antibiotik.

Keesokan paginya, Sekar masuk kerja seperti biasa. Ia tidak berani mengambil izin dua hari berturut-turut. Di depan layar komputer, ia menyelesaikan laporan lebih cepat dari biasanya, lalu meminta izin pulang tepat waktu. Tidak lembur. Tidak membantu rekan yang menumpuk struk di mejanya.

"Kar, tumben buru-buru," ucap rekan kerja di sebelah.

"Ada urusan."

"Kencan?"

Beberapa orang tertawa kecil.

Sekar menunduk sambil memasukkan laptop kantor ke laci. "Bukan."

Jawaban itu cukup datar untuk mematikan godaan mereka. Ia keluar dari kantor dengan langkah cepat, membawa tas kecil yang terasa terlalu ringan dibanding daftar di kepalanya.

Apotek pertama berada di ruko dekat jalan besar. Ruangannya terang, berbau alkohol dan obat batuk. Rak-rak putih tersusun rapi, membuat Sekar sedikit lebih tenang daripada pasar grosir.

"Cari apa, Mbak?" tanya petugas apotek.

Sekar membuka daftar di ponsel. "Paracetamol beberapa boks. Betadine. Perban gulung. Kasa steril. Plester. Oralit. Obat diare. Masker. Sarung tangan. Vitamin. Termometer."

Petugas itu mengangkat alis. "Banyak sekali. Untuk posko?"

Sekar menelan ludah. Jawaban semalam kembali ia pakai. "Untuk keluarga di desa. Sekalian stok musim hujan."

"Oh, kalau musim hujan memang banyak yang siap-siap." Petugas mulai mengambil barang dari rak. "Tapi antibiotik tidak bisa sembarangan, Mbak. Ada resep?"

Sekar sudah menduga. Tetap saja dadanya turun sedikit.

"Tidak ada. Kalau yang bisa dibeli?"

Petugas memberi beberapa salep antibiotik luar dan obat antiseptik tambahan. Untuk obat minum, ia hanya mengizinkan jumlah kecil setelah banyak bertanya. Sekar tidak memaksa. Ia tidak ingin diingat terlalu jelas.

"Jangan diminum sembarangan, ya. Harus tahu dosis."

"Iya. Saya mengerti."

Ia membayar dengan kartu kredit. Mesin mengeluarkan bunyi pendek. Notifikasi masuk ke ponsel. Sekar tidak membuka layar.

Dari apotek pertama, ia pindah ke apotek kedua, lalu ketiga. Ia tidak membeli terlalu banyak dari satu tempat. Paracetamol, oralit, betadine, kasa steril, masker, sarung tangan, obat diare, vitamin. Sedikit demi sedikit, tas belanja menumpuk. Setiap keluar dari apotek, ia mencari sudut sepi, menyentuh kantong plastik, lalu memasukkannya ke ruang penyimpanan ajaib.

Sore berubah jingga saat ia tiba di toko bangunan.

Berbeda dengan apotek yang bersih dan terang, toko bangunan penuh bau besi, debu semen, kayu, dan cat. Sekar berdiri di depan rak paku sambil membaca daftar.

Palu. Tang. Obeng. Gergaji. Pisau cutter. Sekop kecil. Tali tambang. Paku berbagai ukuran. Lakban besar. Terpal tahan air. Sarung tangan kerja. Korek api gas. Ember. Jeriken kosong.

Pemilik toko, seorang pria berperut besar, melihat daftar itu dari samping.

"Mau renovasi rumah, Mbak?"

"Rumah keluarga di desa bocor."

"Kalau bocor, ambil terpal yang biru tebal. Jangan yang tipis, sekali kena angin robek."

Sekar mengangguk. "Yang tebal saja, Pak."

Pria itu tampak senang karena pembeli menurut. Ia mengambilkan beberapa gulung terpal, tali tambang, paku, dan alat-alat kecil. Sekar menambah golok ukuran sedang dari rak dekat kasir, lalu berhenti sebentar.

Tangannya dingin saat menyentuh gagangnya.

Alat.

Bukan senjata.

Setidaknya untuk sekarang, ia menyebutnya begitu di dalam hati.

"Goloknya mau sekalian diasah?"

"Iya, Pak."

Sambil menunggu, Sekar menatap bilah logam itu. Dalam mimpinya, orang-orang berlari tanpa sempat membawa apa pun. Ia tidak tahu apakah nanti ia bisa memakai golok untuk melindungi diri. Tapi lebih baik tangannya gemetar sekarang daripada kosong nanti.

Setelah membayar, ia meminta barang-barang ditaruh di dekat pintu samping. Begitu pemilik toko masuk ke gudang untuk mengambil kardus tambahan, Sekar menyentuh tumpukan itu.

Masuk.

Terpal, paku, tali, alat, jeriken, ember, dan golok hilang dalam satu tarikan napas.

Ia keluar sebelum pria itu kembali.

Tempat terakhir adalah toko elektronik.

Langit sudah gelap ketika Sekar masuk. Lampu neon membuat kepalanya sedikit pening. Di rak depan, senter berbagai ukuran tergantung seperti mainan. Di sisi lain ada baterai, power bank, kabel, stop kontak, radio kecil, dan panel surya portabel dengan harga yang membuat tenggorokan Sekar kering.

"Cari apa, Kak?"

Pegawai muda mendekat dengan senyum penjualan yang terlalu cerah.

"Radio yang bisa pakai baterai. Senter. Baterai banyak. Power bank. Panel surya kecil."

"Untuk camping?"

"Untuk keluarga di desa."

Pegawai itu mengangguk seolah jawaban itu cukup masuk akal. Ia menunjukkan radio kecil yang bisa menangkap gelombang AM dan FM, senter kepala, senter genggam, baterai berbagai ukuran, power bank kapasitas besar, charger tenaga surya, dan dua panel surya portabel.

Sekar memilih tanpa banyak menawar. Setiap angka yang muncul di kalkulator seperti batu masuk ke perutnya. Ketika kartu kreditnya digesek untuk terakhir kali malam itu, ia akhirnya membuka aplikasi bank.

Saldo tabungan tersisa tipis.

Limit kartu kredit terpakai hampir penuh.

Sekar berdiri di depan toko elektronik dengan kantong belanja yang segera ia masukkan ke ruang penyimpanan ajaib. Jalan besar di depannya penuh lampu kendaraan. Orang-orang lewat membawa kopi susu, makanan bungkus, tas belanja kecil, hidup mereka tampak normal dan ringan.

Hanya Sekar yang merasa seperti sedang menggali lubang besar di bawah kakinya sendiri.

Kalau mimpi itu tidak benar, ia benar-benar gila.

Ia akan punya utang, gudang makanan tak terlihat, obat-obatan yang mungkin kedaluwarsa suatu hari, dan alat-alat yang tidak tahu kapan dipakai.

Sekar memejamkan mata. Dalam gelap kelopak matanya, dinding air itu kembali berdiri.

Kalau mimpi itu benar, semua ini masih kurang.

Ia membuka mata, lalu mencoret beberapa baris di buku catatan. Makanan, obat, alat, listrik darurat, radio. Selesai.

Di bawahnya, masih ada satu kebutuhan yang tidak bisa ia abaikan.

Jika jalanan kacau, ia tidak bisa mengandalkan angkot.

Sekar menulis satu kata dengan garis tebal.

Motor.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
Episodes

Updated 101 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!