Episode 2

Bab 2 Sayembara

Pagi datang terlalu cepat.

Ketika pelita di Puri Timur dipadamkan satu per satu, Arjuna sudah berdiri di depan cermin perunggu dengan jubah kebesaran Pangeran Mahkota melekat di bahunya. Kain batik sogan berlapis benang emas jatuh rapi sampai mata kaki. Keris kecil terselip di pinggang, bukan sebagai hiasan, melainkan pengingat bahwa kehidupan ini tidak boleh lagi ia jalani dengan mata tertutup.

Adi merapikan tepi jubahnya dengan gerakan hati-hati. Sejak semalam, pemuda itu tidak berani banyak bicara. Barangkali ia mengira tuannya sakit, atau sedang memikirkan sayembara.

"Yang Mulia ingin sarapan dahulu?" tanya Adi.

"Tidak."

"Setidaknya wedang jahe, Yang Mulia. Semalam Yang Mulia..."

Arjuna meliriknya lewat cermin.

Adi langsung menunduk. "Hamba lancang."

Arjuna menarik napas pelan. Dalam kehidupan lalu, ia terlalu sering membiarkan orang-orang setia di sekitarnya hanya mengenal sisi dinginnya. Ia tidak bisa berubah menjadi orang lain dalam semalam, tetapi ia tidak ingin mengulang kebutaan yang sama.

"Simpan wedang itu. Aku akan minum setelah kembali."

Wajah Adi sedikit cerah. "Baik, Yang Mulia."

Di luar, bunyi gamelan dari Balai Agung mulai terdengar. Lembut, teratur, dan penuh kemegahan. Hari ini seluruh keluarga bangsawan besar mengirim putri mereka ke keraton. Di mata orang banyak, sayembara ini adalah upacara memilih pendamping Pangeran Mahkota. Di mata Permaisuri Ratih, ini adalah kesempatan memasukkan bidak ke Puri Timur. Di mata Prabu Naradewa, ini cara mengikat keluarga yang paling berguna untuk takhta.

Bagi Arjuna, hari ini adalah hari ia menjemput kembali takdir yang pernah ia sia-siakan.

***

Balai Agung dipenuhi warna. Para putri bangsawan duduk berderet di sisi kanan, ditemani ibu atau kerabat perempuan. Para adipati dan pejabat tinggi berada di sisi kiri. Di tengah, karpet merah terbentang sampai singgasana Prabu Naradewa.

Arjuna memasuki balai dengan langkah tenang.

Semua orang menunduk.

"Pangeran Mahkota tiba."

Suara Ki Ageng Purwa menggema, disusul hening yang tertib. Arjuna memberi hormat kepada Prabu Naradewa yang duduk di singgasana utama. Di sisi raja, Permaisuri Ratih mengenakan kebaya hijau tua dengan tusuk konde emas berbentuk bunga cempaka. Senyumnya halus, nyaris sempurna. Tidak jauh dari sana, Baskara duduk dengan wajah ramah seorang adik yang tampak ikut berbahagia.

Arjuna tahu isi hati mereka.

"Ananda datang tepat waktu," kata Prabu Naradewa. "Bagus. Hari ini bukan hanya urusan rumah tanggamu. Ini urusan kehormatan kerajaan."

"Ananda mengerti, Baginda."

"Maka pilihlah dengan mata jernih."

Arjuna menunduk. "Tentu."

Permaisuri Ratih tersenyum lebih lebar. "Semua putri yang hadir telah disaring oleh Badan Upacara. Mereka berasal dari keluarga baik-baik. Akan tetapi, Pangeran Mahkota tetap harus mempertimbangkan keseimbangan di dalam keraton."

Keseimbangan.

Kata itu pernah menjadi tali yang mengikat lehernya. Demi keseimbangan, ia menahan diri. Demi keseimbangan, ia membiarkan Ratih memasukkan orang-orangnya. Demi keseimbangan, ia membuat Anindya berdiri sendirian di tengah istana yang lapar.

Kali ini tidak.

"Permaisuri benar," jawab Arjuna datar. "Justru karena ini menyangkut keseimbangan, aku harus memilih orang yang tidak mudah dibeli."

Senyum Ratih berhenti sekejap.

Baskara menunduk untuk menyembunyikan kilatan matanya.

Upacara dimulai. Satu per satu putri bangsawan maju. Ada yang membacakan puisi Jawa Kuno, ada yang menjawab pertanyaan tentang tata rumah tangga keraton, ada yang memainkan kecapi kecil. Setiap kali seorang gadis selesai memberi hormat, Ratih menyebutkan kelebihan keluarganya dengan nada lembut.

Ketika Raden Ayu Anggraini maju, bisik-bisik di balai terdengar lebih jelas.

Ia cantik, sadar bahwa ia cantik. Kebayanya berwarna putih gading, rambutnya disanggul rendah, matanya sedikit menunduk seolah malu. Di kehidupan lalu, wajah polos itu menjadi racun yang merusak kepercayaan Anindya.

"Raden Ayu Anggraini dari keluarga Tumenggung Prabowo," kata Ki Ageng Purwa.

Anggraini berlutut anggun. "Hamba memberi hormat kepada Baginda, Permaisuri, dan Yang Mulia Pangeran Mahkota."

Ratih menoleh pada Arjuna. "Raden Ayu Anggraini dikenal lembut dan pandai mengurus rumah besar. Keluarganya setia pada kerajaan."

Setia pada Baskara, tepatnya.

Arjuna tidak membiarkan matanya tinggal lama pada Anggraini. "Bagus."

Hanya satu kata.

Anggraini tampak kehilangan irama. Ia masih tersenyum, tetapi ujung jarinya mencengkeram kain di pangkuan.

Beberapa kandidat lain maju. Arjuna menjawab secukupnya. Tidak kasar, tetapi tidak memberi ruang harapan. Balai mulai gelisah. Banyak orang mengira Pangeran Mahkota memang sedingin kabar yang beredar.

"Dewi Anindya dari Kadipaten Jayawardana."

Arjuna merasakan seluruh dunia mengecil menjadi satu garis pandang.

Anindya maju dari deretan kursi. Kebayanya berwarna biru lembut, tanpa perhiasan berlebihan. Di rambutnya hanya ada rangkaian melati kecil. Langkahnya teratur, punggungnya tegak, tetapi Arjuna melihat tangan kirinya menahan ujung kain sedikit lebih erat dari perlu.

Ia gugup.

Dulu ia tidak menyadarinya.

Dulu ia hanya melihat cucu Adipati Agung Jayawardana, sebuah nama besar yang bisa memperkuat kedudukannya. Ia tidak melihat gadis muda yang memasuki sarang keraton dengan seluruh keberanian yang dikumpulkan diam-diam.

Anindya berlutut. "Hamba memberi hormat kepada Baginda, Permaisuri, dan Yang Mulia Pangeran Mahkota."

Suaranya jernih. Tidak terlalu pelan, tidak dibuat manis.

Prabu Naradewa mengamati dengan wajah sulit dibaca. "Cucu Jayawardana."

"Benar, Baginda," jawab Anindya.

"Kakekmu tidak hadir?"

"Eyang Jaya memohon ampun karena kesehatannya belum memungkinkan datang ke Balai Agung. Beliau menitipkan hormat untuk Baginda."

Kebohongan yang rapi. Arjuna tahu Eyang Jaya tidak datang bukan karena sakit, melainkan karena tidak sudi menyaksikan Naradewa memainkan cucunya seperti alat politik. Dalam kehidupan lalu, ia baru memahami keberanian lelaki tua itu bertahun-tahun kemudian.

Ratih tersenyum tipis. "Kadipaten Jayawardana sudah lama tidak terlalu aktif di Majelis Kerajaan. Apakah Gusti Putri terbiasa dengan urusan keraton?"

Pertanyaan itu halus, tetapi cukup tajam untuk membuat beberapa ibu bangsawan menunduk menahan senyum.

Anindya mengangkat wajah sedikit. "Hamba belum berani mengatakan terbiasa, Permaisuri. Namun Eyang mengajarkan hamba membaca laporan lumbung, catatan pajak tanah, dan perjanjian dagang keluarga sejak kecil. Bila keraton membutuhkan seseorang yang mau belajar, hamba akan belajar."

Balai Agung sunyi.

Jawaban itu tidak manis, tetapi kuat.

Arjuna hampir tersenyum.

Ratih mengangkat alis. "Laporan pajak dan dagang?"

"Keluarga Jayawardana pernah menjaga perbatasan, Permaisuri. Prajurit tidak bisa hidup dari pedang saja. Mereka butuh beras, kain, garam, dan jalur dagang yang aman."

Kali ini beberapa adipati tua benar-benar mengangguk.

Arjuna melihat Baskara menggeser posisi duduk. Sekecil apa pun, kegelisahan itu nyata. Baskara tidak suka jika keluarga Jayawardana terdengar berguna di hadapan raja.

Ki Ageng Purwa hendak mempersilakan Anindya kembali ke tempatnya, tetapi Arjuna lebih dulu berdiri.

Gerakan itu membuat seluruh balai terdiam.

"Tunggu."

Anindya membeku di tempat.

Arjuna turun dari undakan Pangeran Mahkota. Tidak ada bagian dalam tata upacara yang mengizinkan seorang pangeran mendekati kandidat sebelum keputusan diumumkan. Karena itulah setiap pasang mata langsung mengikuti langkahnya.

Adi yang berdiri di belakang pilar tampak hampir menjatuhkan nampan.

Arjuna berhenti di depan Anindya. Jarak mereka hanya dua langkah.

"Angkat wajahmu," katanya, suaranya lebih lembut daripada yang biasa didengar orang dari dirinya.

Anindya menurut. Mata mereka bertemu.

Untuk sesaat, Balai Agung, gamelan, Ratih, Baskara, bahkan Prabu Naradewa menghilang dari kesadaran Arjuna. Ia melihat lagi mata yang semalam tertutup di pangkuannya. Mata yang pernah memintanya agar tidak membiarkannya menunggu sendirian.

Tangannya bergerak mengambil bunga melati kecil yang terlepas dari sanggul Anindya dan jatuh di bahunya. Ia tidak menyentuh kulitnya. Hanya mengangkat bunga itu, lalu meletakkannya di atas nampan perak milik Ki Ageng Purwa.

Gerakan sederhana itu membuat bisik-bisik meledak tertahan.

Wajah Anindya memerah tipis. "Yang Mulia..."

"Kamu menjawab dengan baik," kata Arjuna.

Ratih akhirnya bersuara. "Pangeran Mahkota, upacara belum selesai."

Arjuna menoleh ke singgasana. "Baginda meminta Ananda memilih dengan mata jernih."

Prabu Naradewa menyipitkan mata. "Lalu?"

Arjuna berdiri tegak di tengah Balai Agung. Suaranya tidak keras, tetapi cukup jelas untuk mencapai sudut terjauh pendopo.

"Ananda memilih Dewi Anindya dari Kadipaten Jayawardana sebagai calon Putri Mahkota."

Hening jatuh seperti gong yang dipukul terlalu keras.

Anggraini menatapnya tanpa berkedip. Beberapa ibu bangsawan menutup mulut. Baskara masih tersenyum, tetapi buku jarinya memutih di lengan kursi. Permaisuri Ratih memandang Arjuna dengan mata yang tetap indah, hanya kehangatannya menghilang.

"Keputusan besar tidak semestinya tergesa," ujar Ratih pelan.

"Aku tidak tergesa," jawab Arjuna.

"Pangeran Mahkota baru mendengar satu jawaban darinya."

"Satu jawaban cukup untuk menunjukkan isi kepala seseorang."

Prabu Naradewa menatap putranya lama. Di wajah raja itu muncul sesuatu yang dulu sering Arjuna abaikan, rasa curiga yang selalu lebih cepat tumbuh daripada kasih.

"Kau yakin?" tanya Naradewa.

Arjuna menunduk hormat, tetapi tidak menurunkan suaranya. "Yakin, Baginda."

Anindya masih berlutut di depannya. Ia seharusnya merasa lega, bangga, atau takut. Namun yang paling kuat justru rasa aneh yang menekan dadanya. Pangeran Mahkota tidak menatapnya seperti seorang pria yang baru saja memilih kandidat terbaik.

Tatapan itu terlalu dalam.

Terlalu sakit.

Seolah ia telah mencarinya di tempat yang sangat jauh, lalu akhirnya menemukannya kembali di tengah balai penuh orang.

Ketika Ki Ageng Purwa mengumumkan keputusan itu dengan suara bergetar, semua orang menunduk memberi selamat. Anindya ikut menunduk, tetapi pikirannya tetap tertahan pada mata Arjuna.

Mengapa Yang Mulia menatapku seperti seseorang yang baru menemukan kembali miliknya yang hilang?

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
126 Episode 126
127 Episode 127
128 Episode 128
129 Episode 129
130 Episode 130
Episodes

Updated 130 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125
126
Episode 126
127
Episode 127
128
Episode 128
129
Episode 129
130
Episode 130

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!