Episode 5

Bab 5 Wanita Berbisa

Raden Ayu Anggraini datang ke Puri Timur membawa senyum yang sangat lembut.

Ia tidak datang sendirian. Di belakangnya, dua dayang membawa kotak kayu berisi kain halus dan sebotol minyak kenanga. Alasan yang ia sampaikan kepada penjaga sangat pantas: ia ingin memberi salam kepada Putri Mahkota baru, sekaligus mengantarkan hadiah kecil dari beberapa putri bangsawan yang hadir di sayembara.

Wulan menerima kabar itu dengan wajah hati-hati.

"Gusti Putri," katanya setelah masuk ke kamar, "Raden Ayu Anggraini menunggu di pendopo kecil. Ia berkata ingin memberi selamat."

Anindya yang sedang menata buku catatan di meja berhenti. Nama itu ia ingat. Gadis berkebaya putih yang maju sebelum dirinya di Balai Agung. Cantik, lembut, dan disukai Permaisuri Ratih.

"Apakah Yang Mulia sudah kembali?"

"Belum, Gusti."

Anindya menutup buku. Sejak pagi, ia berusaha memahami aturan Puri Timur yang terasa asing. Terlalu banyak orang memperlakukannya dengan hormat, tetapi setiap tatapan seperti menyimpan pertanyaan. Menolak tamu perempuan pada hari-hari pertama pernikahan bisa menjadi bahan bisik-bisik.

"Kita terima di pendopo kecil. Jangan bawa ia masuk ke kamar dalam."

"Baik, Gusti Putri."

Pendopo kecil di sisi taman dipenuhi cahaya sore. Anggraini berdiri ketika Anindya datang, lalu berlutut dengan gerakan yang indah.

"Hamba memberi hormat kepada Putri Mahkota."

"Berdirilah, Raden Ayu." Anindya duduk di kursi utama. "Terima kasih sudah datang."

Anggraini mengangkat wajah. Matanya basah seolah mudah tersentuh oleh kebaikan kecil. "Hamba hanya ingin menyampaikan rasa bahagia. Saat sayembara, semua orang melihat betapa Yang Mulia Pangeran Mahkota menghormati Gusti Putri."

Kata menghormati terdengar aman. Namun Anindya menangkap sesuatu di baliknya, seperti ujung jarum yang disembunyikan dalam lipatan kain.

"Yang Mulia memperlakukan semua orang sesuai aturan," jawab Anindya.

Senyum Anggraini tidak goyah. "Tentu. Hanya saja, tidak semua wanita seberuntung Gusti Putri. Ada yang sejak kecil diajari untuk menerima takdir, walau takdir itu akhirnya diberikan kepada orang lain."

Wulan menunduk, tetapi jari-jarinya menegang.

Anindya menatap cangkir teh di depannya. Uapnya berputar tipis. Ia baru dua hari menjadi istri Arjuna, tetapi ia sudah memahami satu hal: di keraton, orang jarang datang hanya untuk memberi selamat.

"Raden Ayu masih muda dan berasal dari keluarga baik," kata Anindya tenang. "Takdir baik tidak selalu datang dari pintu yang sama."

Mata Anggraini berkilat. Hanya sesaat.

Sebelum ia bisa menjawab, suara langkah terdengar dari koridor taman. Seorang abdi dalem menunduk di pintu.

"Yang Mulia Pangeran Mahkota kembali."

Anggraini langsung menunduk lebih dalam, tetapi Anindya melihat perubahan halus di wajahnya. Semburat malu yang muncul terlalu tepat waktu. Napas yang sedikit ditahan. Jari yang merapikan ujung kebaya.

Arjuna masuk beberapa saat kemudian.

Tatapannya pertama kali jatuh pada Anindya. Ia memastikan wajah istrinya tidak pucat, memastikan cangkir teh di meja belum tersentuh terlalu banyak. Baru setelah itu ia melihat Anggraini.

Wajahnya langsung dingin.

"Raden Ayu Anggraini," katanya.

Anggraini berlutut. "Hamba tidak menyangka dapat bertemu Yang Mulia di sini. Hamba hanya datang memberi salam kepada Gusti Putri."

"Puri Timur sudah menerima salam itu. Kamu boleh pulang."

Kalimat itu terlalu cepat.

Anindya mengangkat mata, terkejut. Wulan bahkan hampir lupa menunduk. Anggraini sendiri tampak seperti tertampar, tetapi ia segera menundukkan wajah lebih rendah.

"Apakah hamba melakukan kesalahan, Yang Mulia?"

"Belum."

Satu kata itu membuat udara pendopo berubah.

Anggraini menggigit bibir pelan. Matanya mulai berkaca-kaca. Bila orang lain melihatnya, mungkin mereka akan mengira Pangeran Mahkota terlalu kejam pada seorang gadis yang hanya ingin memberi selamat.

"Hamba benar-benar tidak berniat mengganggu," katanya. "Permaisuri selalu mengajarkan bahwa wanita di keraton harus saling mendukung. Hamba pikir, bila Gusti Putri membutuhkan teman untuk memahami adat..."

"Istriku punya Wulan, Adi, dan seluruh Puri Timur untuk membantunya."

"Tentu, Yang Mulia. Namun kadang sesama wanita bisa memahami hal yang tidak dipahami para abdi."

Arjuna melangkah satu langkah lebih dekat. Tidak cukup dekat untuk melanggar tata krama, tetapi cukup untuk membuat Anggraini menahan napas.

"Kamu sangat ingin membantu istriku?"

"Bila diizinkan."

"Kalau begitu, jauhi orang-orang yang ingin memakai namamu untuk mendekati Puri Timur."

Wajah Anggraini memucat.

Anindya menatap Arjuna. Kalimat itu bukan hanya penolakan. Itu peringatan.

Anggraini cepat menunduk. "Hamba tidak mengerti maksud Yang Mulia."

"Kamu akan mengerti nanti."

Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara. Suara air kolam terdengar lebih jelas dari biasanya.

Lalu Anggraini bangkit dengan mata yang benar-benar basah. "Jika kehadiran hamba membuat Yang Mulia dan Gusti Putri tidak nyaman, hamba mohon pamit."

Anindya hendak menjawab sesuai sopan santun, tetapi Arjuna lebih dulu berkata, "Wulan, antar Raden Ayu sampai gerbang luar. Pastikan ia tidak tersesat ke halaman lain."

Perintah itu halus, tetapi artinya jelas. Anggraini tidak dipercaya berjalan bebas di Puri Timur.

Wulan menunduk. "Baik, Yang Mulia."

Anggraini memberi hormat kepada Anindya, lalu kepada Arjuna. Saat ia berbalik, air matanya jatuh satu titik. Tidak banyak, cukup untuk dilihat siapa pun yang ingin melihat.

Anindya memperhatikan punggungnya sampai hilang di balik koridor.

"Yang Mulia," katanya setelah pendopo kembali sepi, "Raden Ayu Anggraini adalah putri bangsawan. Memperlakukannya terlalu keras bisa menimbulkan kabar buruk."

"Kabar buruk lebih mudah dihadapi daripada ular yang dibiarkan masuk ke tempat tidur."

Anindya terdiam.

Arjuna baru sadar ucapannya terlalu tajam. Ia menoleh pada istrinya. "Maaf. Aku tidak bermaksud membuatmu takut."

"Hamba hanya tidak mengerti."

"Kamu tidak perlu mengerti semuanya hari ini."

"Tapi hamba perlu tahu apakah Puri Timur sedang berada dalam bahaya."

Ada ketegasan dalam suaranya. Bukan rengekan, bukan ketakutan. Arjuna melihat sekilas Anindya yang kelak akan berdiri di sisinya saat badai paling besar datang.

Ia melunak.

"Selama aku masih berdiri, bahaya itu tidak akan menyentuhmu."

Anindya ingin mengatakan bahwa janji seperti itu terlalu berat. Namun sebelum ia sempat bicara, suara Wulan terdengar dari koridor luar. Gadis itu belum kembali, tetapi langkah orang lain terdengar lebih cepat, lebih ringan.

Anggraini.

Rupanya ia belum keluar jauh. Ia berdiri di balik tirai bambu samping pendopo, mungkin hendak kembali mengambil saputangan yang sengaja ia jatuhkan di meja kecil. Matanya basah, wajahnya tampak terluka.

"Yang Mulia," ucapnya lirih, seolah tidak sengaja mendengar. "Apakah hamba begitu hina hingga tidak boleh berharap menjadi bagian kecil dari Puri Timur?"

Anindya membeku.

Wulan yang baru menyusul dari belakang juga berhenti dengan wajah pucat.

Arjuna menatap Anggraini tanpa sedikit pun kelembutan.

"Dengarkan baik-baik, Raden Ayu Anggraini. Puri Timur bukan tempat untuk harapan yang sengaja dilemparkan ke kaki pria yang sudah beristri."

Air mata Anggraini menggantung di bulu matanya.

"Istriku hanya satu."

Kata-kata itu jatuh bersih, dingin, dan tidak memberi ruang tafsir.

"Namanya Dewi Anindya."

Anindya berdiri di tempatnya, tetapi dadanya seperti baru saja diketuk dari dalam. Ia tahu seharusnya ia tetap waspada. Ia tahu seorang pangeran bisa mengucapkan kalimat indah demi wibawa. Namun melihat cara Arjuna menutup semua jalan bagi wanita lain, sesuatu yang tipis dan keras di hatinya retak untuk pertama kali.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
126 Episode 126
127 Episode 127
128 Episode 128
129 Episode 129
130 Episode 130
Episodes

Updated 130 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125
126
Episode 126
127
Episode 127
128
Episode 128
129
Episode 129
130
Episode 130

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!