Episode 4

Bab 4 Senyum Palsu

Pagi setelah Anindya masuk Puri Timur, Arjuna datang ke ruang makan lebih lambat dari biasanya.

Di atas meja, semangkuk bubur masih utuh. Wedang jahe tinggal separuh. Wulan berdiri di samping pintu dengan wajah tegang, seolah takut harus melaporkan kesalahan besar.

"Gusti Putri sudah makan?" tanya Arjuna.

Wulan menunduk. "Sudah, Yang Mulia. Hanya sedikit. Setelah itu Gusti Putri meminta izin memeriksa buku-buku yang dibawanya dari Kadipaten Jayawardana."

Sudut bibir Arjuna bergerak tipis. Itu sangat Anindya. Baru sehari masuk Puri Timur, ia sudah mencari sesuatu yang bisa membuat pikirannya tetap tegak.

"Jangan paksa ia menerima terlalu banyak tamu hari ini," katanya. "Jika ada dayang dari Puri Candra atau kediaman Permaisuri Ratih datang membawa alasan memberi salam, minta mereka menunggu sampai aku kembali."

Wulan mengangkat wajah, kaget oleh perintah yang terlalu jelas.

"Katakan itu perintahku."

"Baik, Yang Mulia."

Arjuna berbalik. Di ambang pintu, ia berhenti sebentar. Dari koridor samping, ia bisa melihat pintu kamar Anindya tertutup rapat. Tidak ada suara. Hanya aroma kenanga sisa semalam yang masih tertinggal di udara.

Ia ingin masuk dan memastikan sendiri apakah perempuan itu sungguh baik-baik saja. Namun ada tempat lain yang harus ia datangi lebih dulu.

Majelis Kerajaan menunggu.

***

Balai kecil di sisi utara Balai Agung sudah dipenuhi pejabat ketika Arjuna tiba.

Prabu Naradewa duduk di kursi tinggi, mengenakan kain merah gelap dan cincin besar di ibu jarinya. Di sisi kanan berdiri Emban Agung Darma. Para patih, tumenggung, dan adipati menunduk dalam barisan. Pangeran Baskara sudah berada di tempatnya, sedikit di belakang kursi raja, dengan senyum yang hangat dan tidak pernah mencapai mata.

"Kakanda datang," kata Baskara, seolah benar-benar senang. "Adinda sempat khawatir Puri Timur terlalu sibuk setelah menerima Gusti Putri."

Beberapa pejabat tersenyum tipis.

Arjuna memberi hormat kepada raja terlebih dahulu. "Ananda memberi hormat kepada Baginda."

Naradewa mengamati wajahnya. "Kau tampak segar. Rupanya pernikahan tidak membuatmu lupa pada urusan kerajaan."

"Justru karena sudah menikah, Ananda harus lebih berhati-hati menjaga nama Puri Timur."

Jawaban itu membuat ruangan hening sekejap. Tidak ada yang salah, tetapi semua orang menangkap arah kalimatnya.

Baskara tertawa kecil. "Kakanda selalu serius. Adinda hanya bercanda. Seluruh keraton tahu Kakanda memilih sendiri Putri Mahkota. Tentu semua orang berharap Puri Timur segera penuh kabar baik."

Kabar baik.

Dalam mulut Baskara, kalimat itu bisa berarti doa, bisa juga berarti mata-mata. Pada kehidupan lalu, tidak lama setelah pernikahan, desas-desus tentang hubungan dingin mereka menyebar dari dapur Puri Timur ke telinga Permaisuri Ratih. Dari situlah Anggraini masuk, membawa kelembutan palsu dan air mata yang disiapkan.

Arjuna menatap adiknya. "Kabar baik tidak perlu dikejar dengan telinga orang luar."

Senyum Baskara tidak berubah, tetapi matanya menyipit.

Prabu Naradewa mengetuk sandaran kursi. "Cukup. Hari ini kita membahas laporan dari Bendahara Kerajaan."

Seorang pejabat maju membawa gulungan. Ia melaporkan kenaikan pendapatan dari Pelabuhan Timur, penyusutan pajak kayu cendana di Wilayah Pesisir, dan permintaan tambahan prajurit untuk menjaga jalur dagang. Semua terdengar biasa. Terlalu biasa.

Arjuna mendengarkan sambil menatap peta kecil yang dibentangkan di meja tengah.

Wilayah Pesisir.

Di kehidupan lalu, nama itu baru ia perhatikan setelah Keluarga Kertanegara jatuh terlalu lambat. Jalur kayu cendana, rempah langka, dan mineral dari utara mengalir lewat tangan-tangan yang terlihat resmi, lalu masuk ke kantong Baskara untuk membayar prajurit gelap.

Sekarang laporan itu muncul di hari kedua setelah pernikahannya. Bukan kebetulan.

"Pangeran Mahkota?" panggil Naradewa.

Arjuna mengangkat mata. "Baginda."

"Kau diam saja sejak tadi. Apa pendapatmu?"

Semua orang menoleh.

Baskara menunduk sambil tersenyum. Ia menunggu Arjuna menjawab seperti dulu, datar dan tidak peduli pada urusan dagang. Dalam kehidupan lalu, ia memang membiarkan laporan ini lewat begitu saja karena pikirannya hanya terpaku pada kestabilan politik setelah pernikahan.

Kali ini, Arjuna menunjuk satu titik di peta.

"Tambahan prajurit untuk Wilayah Pesisir perlu ditunda."

Pejabat Bendahara terkejut. "Yang Mulia?"

"Pendapatan Pelabuhan Timur naik, tetapi pajak kayu cendana turun. Jika jalur dagang benar-benar terganggu, pendapatan pelabuhan tidak akan naik setinggi ini. Berarti ada barang yang masuk dan keluar tanpa tercatat di pos tertentu."

Hening kembali jatuh.

Naradewa menatapnya lebih tajam. "Kau menuduh ada kebocoran?"

"Ananda meminta pemeriksaan, Baginda. Bukan menuduh."

Baskara segera masuk dengan suara lembut. "Kakanda sangat teliti hari ini. Namun menunda prajurit bisa membuat daerah pesisir merasa tidak diperhatikan."

"Atau membuat orang yang memanfaatkan nama prajurit kehilangan jalan."

Senyum Baskara berhenti.

Beberapa pejabat saling pandang. Tumenggung Suralegawa yang sejak tadi diam menggerakkan rahang, seperti menahan komentar.

Naradewa mengetuk meja sekali. "Bendahara Kerajaan akan memeriksa ulang catatan itu. Tidak ada tambahan prajurit sampai laporan baru selesai."

"Baginda bijaksana," kata Arjuna.

Baskara ikut menunduk. "Tentu, Baginda."

Namun saat ia mengangkat wajah, Arjuna melihat kilatan marah di matanya. Cepat, halus, lalu hilang lagi di balik senyum adik yang patuh.

Senyum palsu itu sama seperti dulu.

Bedanya, kali ini Arjuna sudah tahu ke mana senyum itu akan bergerak setelah keluar dari balai.

***

Sidang selesai menjelang tengah hari. Para pejabat bubar dalam kelompok kecil, membawa bisik-bisik yang lebih tajam daripada saat mereka datang.

Baskara berjalan mendekati Arjuna di koridor batu yang menghadap taman.

"Kakanda berubah banyak setelah menikah," katanya ringan.

"Benarkah?"

"Dulu Kakanda tidak terlalu suka mencampuri urusan kecil Bendahara."

Arjuna menatap kolam di bawah tangga. Seekor ikan merah bergerak di antara bayangan daun. "Mungkin aku baru sadar urusan kecil sering dipakai untuk menyembunyikan dosa besar."

Baskara tertawa pelan. "Kakanda bicara seperti orang yang telah melihat masa depan."

Jari Arjuna berhenti di lengan jubahnya.

Kalimat itu hanya gurauan. Baskara tidak tahu apa pun. Namun selama satu napas, udara di koridor terasa dingin.

Arjuna menoleh. "Jika aku bisa melihat masa depan, Adinda sebaiknya berhati-hati. Mungkin hal pertama yang kulihat adalah siapa yang akan jatuh."

Senyum Baskara menegang.

Lalu ia menunduk, masih dengan sopan. "Adinda akan mengingat nasihat Kakanda."

Ia pergi dengan langkah tenang. Di ujung koridor, Parman menunggu seperti bayangan biasa, lalu mengikuti dari jarak aman.

Arjuna tidak bergerak sampai Baskara menghilang.

Adi yang sejak tadi berdiri beberapa langkah di belakang akhirnya mendekat. "Yang Mulia?"

"Kirim pesan pada Garuda."

"Sesuai perintah."

"Awasi Parman. Cari tahu siapa yang ia temui setelah keluar dari balai."

Adi mengangguk.

"Dan satu lagi." Arjuna menatap arah Puri Timur, tempat Anindya sedang duduk di kamar baru yang belum sepenuhnya ia percayai. "Selidiki Raden Ayu Anggraini. Asal keluarganya, dayang yang melayaninya, surat-surat yang keluar dari kediaman Tumenggung Prabowo."

Adi tampak terkejut. "Raden Ayu Anggraini, Yang Mulia?"

"Ya."

"Apakah ia berbahaya?"

Arjuna teringat wajah polos yang dulu menangis di depan Anindya, lalu menancapkan pisau paling dalam dengan kata-kata lembut.

"Dia bukan perempuan yang ia katakan."

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
126 Episode 126
127 Episode 127
128 Episode 128
129 Episode 129
130 Episode 130
Episodes

Updated 130 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125
126
Episode 126
127
Episode 127
128
Episode 128
129
Episode 129
130
Episode 130

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!