Sang Pangeran Terlahir Kembali

Sang Pangeran Terlahir Kembali

Episode 1

Bab 1 Mimpi Buruk

Darah mengalir di sela jemari Arjuna.

Ia berlutut di lantai batu yang dingin, napasnya tersangkut seperti ada tangan tak terlihat yang mencekik lehernya. Di hadapannya, kain putih yang dulu pernah dipakai Anindya dalam upacara pernikahan mereka sudah berubah merah. Bukan merah bunga kenanga di taman keraton. Merah yang pekat, panas, dan berbau besi.

"Anindya."

Suaranya keluar patah. Perempuan itu tidak menjawab.

Di kejauhan, suara tawa Baskara menggema dari balik asap dan api. Pendopo Agung runtuh sebagian. Tombak beradu dengan pedang. Ada seruan nama Baginda, ada jeritan abdi dalem, ada suara cap kerajaan dijatuhkan ke lantai seperti benda tak lagi berarti.

Namun Arjuna tidak mendengar apa pun selain napas Anindya yang semakin tipis.

Ia mengangkat tubuh istrinya ke pangkuan, menekan telapak tangan pada luka yang tidak mau berhenti mengalir. Dulu ia selalu terlambat. Terlambat memahami isi hatinya. Terlambat melihat orang-orang yang berkhianat. Terlambat percaya bahwa wanita yang selalu ia jaga jaraknya itulah satu-satunya orang yang tetap berdiri di sisinya ketika seluruh dunia menjauh.

"Jangan tidur," bisiknya. "Adinda, lihat aku."

Bulu mata Anindya bergerak sedikit. Matanya terbuka, sayu, tapi masih memantulkan wajahnya.

"Kakanda..." Suaranya hampir hilang. "Kalau ada kehidupan lain, jangan... jangan biarkan aku menunggu sendirian."

Sesuatu di dada Arjuna pecah.

Ia ingin menjawab. Ia ingin bersumpah. Ia ingin menukar seluruh takhta, seluruh darah Wicaksana, bahkan napas terakhirnya sendiri, asal mata itu tidak tertutup.

Tetapi tangan Anindya jatuh lebih dulu.

"Tidak!"

Arjuna tersentak bangun.

Keringat membasahi punggungnya. Dadanya naik turun, keras dan tak teratur. Untuk beberapa saat ia tidak tahu di mana dirinya berada. Api, darah, dan tubuh Anindya masih melekat di kelopak matanya. Tangannya bergerak panik di atas selimut, mencari kain putih yang tadi berubah merah, mencari nadi di pergelangan tangan istrinya.

Yang tersentuh hanya sutra dingin.

Kamar itu gelap, diterangi nyala pelita kecil di sudut ruangan. Aroma cendana dari dupa malam masih mengambang tipis. Di luar jendela, hujan belum turun, tapi angin awal musim membawa bau tanah basah dari taman Puri Timur.

Puri Timur.

Arjuna membeku.

Ia menatap tiang kayu berukir di samping ranjang. Tirai batik biru tua. Meja rendah dari kayu sonokeling. Keris kecil pemberian mendiang ibunya yang terletak rapi di atas nampan perak.

Semua ini sudah lama tidak ia lihat.

Dalam kehidupan terakhirnya, Puri Timur telah terbakar pada malam pemberontakan. Tiang ini patah. Tirai ini menjadi abu. Keris kecil itu hilang bersama banyak hal lain yang tidak sempat ia selamatkan.

Tetapi sekarang semuanya utuh.

Pintu kamar diketuk dari luar.

"Yang Mulia?" Suara Adi terdengar cemas. "Hamba mendengar Yang Mulia berteriak. Apakah Yang Mulia sakit?"

Arjuna tidak langsung menjawab. Pandangannya jatuh ke tangannya sendiri. Tidak ada darah. Tidak ada luka. Jarinya masih panjang dan kuat, bukan tangan sekarat yang gemetar di antara reruntuhan.

Ia turun dari ranjang. Kakinya menyentuh lantai dingin. Rasa dingin itu nyata.

"Masuk," katanya.

Pintu terbuka. Adi masuk tergesa, masih mengenakan kain luar yang belum terikat sempurna. Wajah pemuda itu pucat, matanya cepat memeriksa keadaan kamar, seolah takut menemukan sesuatu yang mengancam nyawa tuannya.

"Yang Mulia berkeringat banyak." Adi menunduk, tapi kegelisahan membuatnya berani mengangkat mata. "Hamba panggil Tabib Kerajaan Suradi?"

Arjuna menatapnya lama.

Adi masih hidup.

Dalam kehidupan sebelumnya, Adi mati di depan gerbang Puri Timur, menahan pasukan Baskara dengan tubuhnya sendiri agar Arjuna sempat keluar. Pemuda itu bahkan tidak sempat mengucapkan pesan terakhir. Yang tertinggal hanya kain selempang yang robek dan darah di tangga batu.

Tenggorokan Arjuna terasa sakit.

"Tanggal berapa malam ini?" tanyanya.

Adi terkejut. "Yang Mulia?"

"Jawab."

"Malam ketujuh bulan Waisaka, Yang Mulia." Adi menelan ludah. "Besok pagi ada sayembara pemilihan pendamping Pangeran Mahkota di Balai Agung. Apakah Yang Mulia lupa karena terlalu letih?"

Sayembara.

Jantung Arjuna menghantam rusuknya.

Besok adalah hari ia pertama kali melihat Dewi Anindya sebagai calon istrinya. Hari ketika ia, dengan kebodohan yang dibungkus kebanggaan, memilihnya karena perhitungan politik, lalu membiarkan jarak tumbuh di antara mereka. Hari ketika Permaisuri Ratih tersenyum tipis karena yakin ia bisa mengarahkan hati seorang putra mahkota semudah memindahkan bidak di papan catur.

Tiga tahun.

Ia kembali ke tiga tahun sebelum semuanya berakhir.

Arjuna berjalan ke meja. Di sana ada gulungan jadwal upacara, masih tersegel dengan lilin merah Badan Upacara. Ia membuka segelnya dengan jari yang sedikit gemetar. Nama-nama keluarga bangsawan tertulis rapi. Salah satunya membuat napasnya berhenti.

Dewi Anindya dari Kadipaten Jayawardana.

Tinta hitam itu sederhana, hanya satu baris di antara banyak nama. Namun bagi Arjuna, baris itu seperti seseorang membuka pintu dari makam yang gelap.

Ia menyentuh nama itu.

Adi makin cemas melihatnya. "Yang Mulia, tangan Yang Mulia dingin sekali. Hamba benar-benar harus memanggil tabib."

"Tidak perlu."

"Tapi..."

Arjuna menoleh. Tatapannya membuat Adi langsung menunduk.

"Tidak ada seorang pun yang boleh tahu aku terbangun seperti ini."

"Baik, Yang Mulia."

"Katakan pada Bagus untuk mengganti penjagaan luar. Pilih orang yang tidak banyak bicara. Semua pelita di koridor barat tetap menyala sampai pagi."

Adi mengangguk cepat. "Sesuai perintah."

"Dan panggil Garuda. Diam-diam."

Kali ini Adi benar-benar mengangkat kepala. "Garuda, Yang Mulia? Malam ini?"

"Malam ini."

Adi menahan banyak pertanyaan di balik bibirnya. Pada akhirnya ia hanya menunduk lebih dalam. "Hamba mengerti."

Setelah Adi keluar, kamar kembali sunyi.

Arjuna berdiri di depan meja, menatap gulungan nama itu seolah takut nama Anindya akan menghilang bila ia berkedip. Di luar, angin menabrak daun-daun sawo kecik di halaman Puri Timur. Suaranya pelan, seperti bisikan masa lalu yang belum rela pergi.

Ia mengambil keris kecil dari nampan perak. Bilahnya tidak terhunus. Sarungnya dingin di telapak tangan.

Dulu ia mengira musuh terbesarnya adalah Baskara. Lalu ia mengira Permaisuri Ratih. Kemudian, saat semuanya sudah terlambat, ia melihat wajah Prabu Naradewa di balik semua dosa lama, semua darah yang disembunyikan di bawah karpet istana, semua kematian yang disebut pengorbanan demi kerajaan.

Mereka semua masih hidup sekarang.

Mereka semua belum tahu bahwa orang yang pernah mereka bunuh telah membuka mata lagi.

Pintu rahasia di belakang rak kayu bergerak tanpa suara. Seorang lelaki berpakaian gelap muncul dan berlutut dengan satu kaki.

"Garuda menghadap, Yang Mulia."

Arjuna tidak menoleh. "Mulai malam ini, setiap kabar dari Puri Baskara, Puri Candra, dan kediaman Permaisuri Ratih harus sampai kepadaku sebelum matahari terbit."

Garuda diam sejenak. Perintah itu terlalu besar untuk malam sebelum sayembara, tapi ia tidak bertanya. "Siap."

"Jangan gunakan orang lama yang mudah dikenali. Bangunkan jalur yang pernah kita siapkan di Pasar Sentosa."

"Raden Darmawan akan diberi tanda?"

Nama pamannya membuat dada Arjuna menghangat sekaligus nyeri. Dalam kehidupan lalu, ia juga terlambat mempercayai Darmawan.

"Belum. Untuk malam ini, cukup mata dan telinga."

"Siap, Yang Mulia."

Garuda menghilang secepat ia datang.

Arjuna kembali sendirian. Ia menutup jadwal upacara, lalu menekan telapak tangannya di atas segel yang sudah pecah. Pada kehidupan lalu, besok adalah awal dari semua penyesalan. Pada kehidupan ini, besok harus menjadi awal dari perhitungan baru.

Ia tidak akan membiarkan Anindya masuk ke Puri Timur sebagai istri yang kesepian.

Ia tidak akan membiarkan keluarga Jayawardana kembali diinjak oleh dosa lama.

Ia tidak akan membiarkan Baskara, Ratih, atau Naradewa tersenyum di atas makam orang-orang yang ia cintai.

Langkah di koridor terdengar menjauh. Malam masih panjang, tetapi untuk pertama kalinya setelah kematian, Arjuna merasa napasnya benar-benar masuk ke paru-paru.

Ia menatap nama Anindya sekali lagi.

"Kali ini," bisiknya serak, "aku tidak akan kehilangan dia lagi."

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
126 Episode 126
127 Episode 127
128 Episode 128
129 Episode 129
130 Episode 130
Episodes

Updated 130 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125
126
Episode 126
127
Episode 127
128
Episode 128
129
Episode 129
130
Episode 130

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!