Episode 3

Bab 3 Istri Baru

Pertanyaan itu tetap menempel di benak Anindya sampai hari ia memasuki Puri Timur sebagai istri Pangeran Mahkota.

Kereta keluarga Jayawardana berhenti di depan gerbang timur saat matahari belum tinggi. Di belakangnya, dayang-dayang membawa peti kain, kotak perhiasan, buku catatan, serta beberapa benda kecil dari rumah yang diizinkan masuk setelah diperiksa Badan Upacara. Upacara pernikahan telah berlangsung singkat dan megah di Balai Agung. Semua orang menyebutnya keberuntungan besar.

Anindya hanya merasa seperti melangkah ke rumah yang seluruh pintunya punya mata.

Wulan berjalan setengah langkah di belakangnya. Gadis itu adalah pelayan yang dipilih Eyang Jaya sejak Anindya kecil, dan kini ikut masuk ke Puri Timur.

"Gusti Putri," bisik Wulan, "hamba akan memeriksa kamar lebih dulu."

"Jangan menyentuh apa pun sebelum orang Puri Timur menjelaskan," jawab Anindya pelan.

Wulan mengangguk cepat.

Di halaman dalam, Adi sudah menunggu bersama beberapa abdi dalem. Sikapnya sangat hormat, bahkan lebih hati-hati daripada yang Anindya bayangkan.

"Selamat datang di Puri Timur, Gusti Putri." Adi menunduk. "Yang Mulia Pangeran Mahkota sedang menyelesaikan urusan dengan Badan Upacara. Beliau berpesan agar Gusti Putri langsung beristirahat. Kamar telah disiapkan."

Anindya menatapnya. "Beliau berpesan begitu?"

"Benar, Gusti."

Mereka berjalan melewati koridor kayu yang menghadap taman kecil. Kolam teratai di tengah halaman memantulkan langit pucat. Di sisi pintu kamar, Anindya melihat rangkaian bunga kenanga dan melati, bukan bunga cempaka yang biasa dipakai di kamar pengantin keraton.

Langkahnya berhenti.

Wulan ikut berhenti. "Ada apa, Gusti Putri?"

Anindya tidak segera menjawab. Kenanga adalah bunga kesukaan ibunya. Eyang Jaya hanya pernah menyebutnya sekali di depan orang luar, itu pun bertahun-tahun lalu. Seharusnya Puri Timur tidak tahu.

Adi tampak memahami kebingungannya. "Yang Mulia sendiri yang meminta bunga kenanga disiapkan. Beliau berkata aromanya lebih lembut."

Lebih lembut.

Anindya menelan rasa aneh di tenggorokan. "Sampaikan terima kasihku kepada Yang Mulia."

"Akan hamba sampaikan."

Kamar itu jauh dari kesan dingin yang ia takutkan. Tirai diganti warna biru muda. Meja tulis ditempatkan dekat jendela, lengkap dengan tinta baru dan beberapa lembar kertas kosong. Di dekat dipan, ada baki berisi wedang jahe, kue lapis, dan semangkuk bubur kacang hijau yang masih hangat.

Wulan memeriksa baki, lalu berbisik, "Ini semua makanan yang Gusti sukai."

Anindya menoleh tajam.

Wulan langsung menutup mulut.

Sebelum Anindya sempat bertanya lebih jauh, suara langkah terdengar dari luar. Adi membuka pintu, lalu menunduk.

"Yang Mulia Pangeran Mahkota."

Arjuna masuk tanpa rombongan besar. Ia sudah melepas mahkota upacara, hanya mengenakan jubah luar yang lebih sederhana. Namun kehadirannya tetap membuat ruangan terasa lebih sempit.

Anindya segera berlutut. "Hamba memberi hormat kepada Yang Mulia."

Arjuna berhenti.

Dalam kehidupan lalu, ia membiarkan Anindya berlutut terlalu lama pada hari pertamanya di Puri Timur. Ia bahkan tidak mengingat warna pakaian yang ia kenakan. Sekarang, melihat dahinya hampir menyentuh lantai, rasa sakit lama kembali mencakar dadanya.

"Berdirilah," katanya cepat.

Anindya mengangkat wajah. "Yang Mulia?"

"Di Puri Timur, kamu tidak perlu berlutut padaku kecuali dalam upacara resmi."

Ruangan menjadi sunyi.

Adi menunduk lebih dalam. Wulan menatap lantai, tapi matanya membesar. Anindya sendiri tidak langsung bergerak. Dalam aturan keraton, seorang istri tetap harus menjaga tata hormat kepada Pangeran Mahkota, terutama pada hari pertama.

"Hamba takut melanggar aturan," ucapnya hati-hati.

"Aku yang membuat aturan di Puri Timur."

Kalimat itu pendek, tetapi tidak keras. Justru karena tidak keras, Anindya makin tidak tahu harus menanggapinya bagaimana.

Ia berdiri perlahan.

Arjuna memandangnya, lalu beralih pada baki di meja. "Wedang itu jangan diminum saat perut kosong. Makan bubur sedikit dulu."

Anindya menegang.

Perhatian itu terlalu rinci.

"Yang Mulia tidak perlu repot memikirkan hal kecil."

"Kesehatanmu bukan hal kecil."

Wulan menggigit bibir. Adi pura-pura tidak mendengar.

Anindya menunduk, jari-jarinya saling mengait di depan perut. "Hamba baru datang. Bila Yang Mulia terlalu baik, orang-orang akan salah memahami."

"Biarkan mereka salah memahami."

Ia mengangkat mata, terkejut.

Arjuna baru menyadari kata-katanya terlalu jauh. Ia menahan dorongan untuk meminta maaf dengan cara yang hanya akan membuatnya tampak lebih aneh.

"Maksudku," katanya lebih tenang, "kamu adalah istriku sekarang. Puri Timur harus memperlakukanmu sesuai kedudukanmu."

Istriku.

Kata itu jatuh di antara mereka seperti mangkuk perak yang dipukul pelan. Tidak berisik, tetapi getarannya terasa.

Anindya mengangguk. "Hamba mengerti."

Ia tidak mengerti sama sekali.

Arjuna melihat keraguan di matanya. Ia ingin mengatakan bahwa ia pernah gagal menjaganya. Ia ingin mengatakan bahwa semua bunga, makanan, dan meja tulis itu bukan jebakan, melainkan permohonan maaf yang terlambat satu kehidupan. Tetapi rahasia itu belum bisa keluar. Bila ia memaksakan kebenaran sekarang, Anindya hanya akan semakin takut.

"Beristirahatlah," katanya. "Sore nanti, bila kamu bersedia, aku akan menunjukkan taman belakang. Di sana lebih tenang."

"Baik, Yang Mulia."

Arjuna menahan diri untuk tidak memperbaiki panggilan itu. Belum saatnya.

Ia keluar bersama Adi, meninggalkan aroma kenanga dan kebingungan yang makin padat di kamar.

Begitu pintu tertutup, Wulan mendekat. "Gusti Putri, apakah Pangeran Mahkota memang seperti itu?"

Anindya menatap bubur hangat di meja. Uapnya naik tipis, menyentuh wajahnya.

"Aku baru bertemu beliau dua kali," jawabnya lirih. "Justru karena itu aku tidak tahu harus takut atau bersyukur."

***

Di ruang kerja Puri Timur, Arjuna meletakkan selembar kertas kosong di atas meja.

Adi berdiri di dekat pintu, masih membawa kegelisahan sejak dari kamar pengantin.

"Yang Mulia," katanya akhirnya, "hamba bertanya bukan karena ingin mencampuri urusan pribadi. Namun semua orang akan melihat perlakuan Yang Mulia kepada Gusti Putri."

"Bagus."

Adi terdiam. "Bagus?"

"Biar mereka melihat."

Jika Ratih ingin tahu kelemahannya, biarkan ia mengira kelemahan itu hanya cinta yang baru tumbuh. Jika Baskara ingin menguji rumah tangganya, biarkan ia mendekat dan menunjukkan taringnya lebih awal. Arjuna tidak lagi takut dunia tahu bahwa Anindya penting baginya.

Ia mengambil kuas.

Di bagian atas kertas, ia menulis beberapa nama dan tempat.

Baskara.

Permaisuri Ratih.

Raden Ayu Anggraini.

Raden Ayu Sinta.

Gedung Wayang Enam.

Keluarga Kertanegara.

Eyang Maha.

Pasar Sentosa.

Setiap nama adalah luka dari kehidupan lalu. Setiap tempat adalah pintu menuju dosa yang dulu ia buka terlalu lambat.

"Garuda sudah memberi kabar?" tanya Arjuna.

"Belum lengkap, Yang Mulia. Tapi orang Puri Baskara bergerak sejak pagi. Ada pesan dikirim ke kediaman Tumenggung Prabowo."

Anggraini.

Arjuna menaruh kuas. "Lebih cepat dari dugaanku."

"Apakah hamba harus memerintahkan orang untuk menahan pesan itu?"

"Tidak. Biarkan sampai. Aku ingin tahu apa yang mereka rencanakan saat mengira aku masih mudah dipancing."

Adi menunduk. "Sesuai perintah."

Arjuna menatap daftar di depannya. Pada kehidupan lalu, ia mengabaikan terlalu banyak tanda. Senyum palsu Baskara. Kesabaran Ratih yang terlalu rapi. Kematian kecil yang disebut kecelakaan. Surat-surat dari perbatasan yang dibungkam. Air mata Anindya yang ia kira hanya kelemahan, padahal itu peringatan.

Terlalu banyak petunjuk. Terlalu banyak orang yang ia lihat setelah semuanya terlambat.

Kali ini, ia tidak akan menunggu sampai darah menyentuh lantai.

Arjuna mencelupkan kuas lagi, lalu menggambar satu lingkaran di sekitar nama Anindya yang ia tulis paling akhir.

"Mulai hari ini," katanya pelan, "papan catur ini bergerak dengan aturanku."

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
126 Episode 126
127 Episode 127
128 Episode 128
129 Episode 129
130 Episode 130
Episodes

Updated 130 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125
126
Episode 126
127
Episode 127
128
Episode 128
129
Episode 129
130
Episode 130

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!