Episode 2

Bab 002

Suara di Dalam Kepala

Bunga tetap berteriak.

Tentu saja ia berteriak.

Siapa pun yang baru bangun di ranjang rumah sakit, dengan kepala seperti dipukul palu dan suara laki-laki asing berbicara dari dalam kepala, pasti akan berteriak. Bunga bahkan merasa teriakannya masih kurang keras untuk ukuran kejadian tidak masuk akal seperti ini.

"Mbak! Mbak, tenang!" Seorang perawat membuka tirai dengan cepat. "Jangan banyak bergerak. Kepalanya baru dijahit."

Bunga menarik selimut sampai ke dada. "Ada orang ngomong!"

Perawat itu menoleh ke kursi kosong, lalu ke bawah ranjang. "Di mana?"

"Di sini!" Bunga menunjuk kepalanya sendiri. "Di dalam sini!"

Wajah perawat berubah satu garis lebih kaku.

"Mbak, coba tarik napas dulu, ya."

"Jangan lihat gue kayak orang gila."

"Saya tidak bilang begitu."

"Muka Mbak bilang begitu."

Suara laki-laki itu kembali terdengar, tenang sampai menyebalkan. "Secara teknis, reaksimu memang membuat mereka sulit menyimpulkan hal lain."

Bunga membeku lagi. Matanya membelalak. "Lu diam!"

Perawat ikut membelalak. "Saya?"

"Bukan Mbak."

"Lalu siapa?"

Bunga membuka mulut, lalu menutupnya. Bagaimana caranya menjelaskan bahwa ada pria berjas mahal yang tadi mungkin mati di atas tubuhnya, sekarang pindah jadi penyiar pribadi di kepalanya?

Ia menekan kedua pelipisnya. "Aduh, rek... gue dipukul atau dikutuk, sih?"

"Tidak ada indikasi kutukan," kata suara itu. "Kemungkinan besar ada anomali neurologis atau sesuatu yang belum bisa saya jelaskan."

"Bahasanya jangan kayak brosur obat!"

Perawat mundur satu langkah. "Saya panggil dokter dulu."

"Jangan!"

Terlambat. Perawat itu sudah keluar dengan langkah cepat.

Bunga menyandarkan punggung ke bantal, napasnya memburu. Ruang gawat darurat itu berbau antiseptik dan obat. Tirai hijau tipis membuat bayangan orang berlalu-lalang terlihat seperti hantu lewat. Di tangan kirinya tertancap infus. Di pergelangan kanannya ada gelang pasien tanpa nama lengkap, hanya tulisan `Perempuan, sekitar 20-an`.

Sekitar 20-an. Bahkan rumah sakit pun tidak yakin dia siapa.

"Kamu bisa mendengar saya?" tanya suara itu.

Bunga menatap langit-langit. "Kalau gue jawab, gue makin kelihatan gila."

"Kamu sudah menjawab sejak tadi."

"Diam."

"Saya perlu memastikan beberapa hal."

"Gue perlu memastikan lu bukan efek obat."

"Kalau saya efek obat, saya tidak akan tahu bahwa di balik tirai sebelah kanan ada petugas administrasi membawa formulir pembayaran."

Bunga spontan menoleh ke kanan. Tirai masih tertutup. Dua detik kemudian, seorang petugas perempuan menyingkapnya sambil membawa papan jalan.

"Mbak, sudah sadar, ya? Kami perlu data pasien. Namanya siapa?"

Bunga menelan ludah. Suara di kepalanya tidak berbohong.

"Bunga," jawabnya pelan. "Bunga Lestari."

"KTP-nya ada?"

Bunga meraba saku celana. Kosong. Celananya bahkan bukan celana yang ia pakai tadi. Rumah sakit memberinya celana pasien longgar. Tas kecilnya entah di mana. Ponsel murahnya hilang. Uang dua puluh ribu yang ia simpan di balik casing ponsel ikut lenyap.

"Gak ada."

"Nomor BPJS?"

"Gak punya."

Petugas itu menghela napas dengan sopan yang dipaksakan. "Keluarga yang bisa dihubungi?"

Bunga menatap selimut.

Tidak ada.

Nenek Ratna sudah lama tidak bisa dihubungi, karena tanah makam tidak punya sinyal. Kak Sari entah di mana, nomor lamanya sudah tidak aktif sejak Bunga datang ke Jakarta. Teman kos? Mereka bahkan tidak tahu nama lengkap Bunga.

"Tidak ada," jawab Bunga.

Petugas menulis sesuatu. "Nanti bagian administrasi akan bicara lagi. Untuk sementara Mbak jangan pergi dulu."

Kalimat `jangan pergi dulu` terdengar seperti pintu besi dikunci dari luar.

Begitu petugas itu pergi, Bunga langsung menurunkan kaki dari ranjang.

"Apa yang kamu lakukan?" suara itu bertanya.

"Kabur."

"Kamu baru saja dijahit."

"Lebih baik dijahit daripada dijual buat bayar tagihan rumah sakit."

"Rumah sakit tidak menjual pasien."

"Lu anak orang kaya, ya?"

Hening sebentar.

Bunga tersenyum miring meski kepalanya berdenyut. "Nah. Ketahuan."

"Saya tidak mengatakan apa pun."

"Justru itu. Orang miskin kalau dengar kata tagihan, refleksnya langsung paham. Lu malah bahas prosedur."

Ia mencabut plester infus dengan gigi.

"Jangan mencabut itu sembarangan," suara itu menajam.

"Kalau lu mau ngatur, muncul sini. Bantu bayar."

"Saya sedang tidak bisa muncul."

"Tentu. Suara kepala memang biasanya gak punya dompet."

Bunga meringis saat jarum infus keluar. Darah kecil muncul di punggung tangannya. Pada detik yang sama, suara laki-laki itu terhenti. Bunga merasakan sesuatu yang aneh, seperti ada orang lain ikut menahan napas di dalam dadanya.

"Kamu merasakannya?" tanyanya curiga.

"Ya."

Nada pria itu berubah. Untuk pertama kalinya, ketenangannya retak tipis.

Bunga menekan bekas infus dengan kapas. "Lu ngerasain sakit gue?"

"Tampaknya begitu."

"Bagus." Bunga menarik napas, lalu mencubit lengannya sendiri keras-keras.

"Akh!" suara itu tertahan.

Bunga hampir tertawa. "Oh, ini menarik."

"Jangan lakukan itu lagi."

"Lu jangan sok jadi bos di kepala gue."

"Kita perlu bekerja sama."

"Kita? Gue belum setuju ada kontrakan gratis di otak gue."

Langkah beberapa orang terdengar dari luar tirai. Dokter dan perawat mungkin kembali, mungkin bersama petugas keamanan kalau mereka menganggapnya pasien bermasalah. Bunga melihat sekeliling. Sandal tidak ada. Tas tidak ada. Pakaian aslinya juga tidak ada.

"Lihat ke kiri," kata suara itu.

"Apa?"

"Kiri. Rak linen."

Bunga menoleh. Di sudut ruangan ada rak berisi selimut bersih, masker, dan beberapa kantong plastik transparan berlabel barang pasien. Salah satunya berisi kaus lusuh, celana jeans, dan sendal jepit merah miliknya.

"Kok lu tahu?"

"Saya melihat ketika perawat masuk tadi. Kamu terlalu sibuk panik."

"Lu bisa lihat yang gue lihat?"

"Sepertinya demikian."

Bunga merinding, bukan karena dingin. Ia merasa telanjang dengan cara yang lebih buruk daripada tubuh tanpa baju. Matanya, telinganya, rasa sakitnya, semua bisa disentuh pria asing ini.

"Jangan lihat sembarangan," katanya pelan.

Suara itu ikut pelan. "Saya akan berusaha menjaga batas."

Jawaban itu terlalu sopan untuk situasi seabsurd ini. Bunga tidak tahu harus percaya atau menendang dinding.

Tirai terbuka sedikit. Sebelum dokter masuk, Bunga menyambar kantong barangnya, merunduk ke balik ranjang sebelah, lalu menyelinap keluar dari celah tirai lain. Tubuhnya limbung. Jahitan di kepala menarik kulitnya setiap kali ia bergerak.

"Jalan biasa," suara itu menginstruksikan. "Jangan seperti orang kabur."

"Gue memang kabur."

"Maka jangan terlihat seperti itu."

Bunga menggigit bibir. Ia menegakkan punggung dan berjalan melewati koridor. Seorang perawat menatapnya.

"Mbak, mau ke mana?"

Bunga hampir berlari.

"Jawab," kata suara itu cepat. "Katakan mau ke toilet. Tunjuk arah yang salah agar dia mengoreksi."

Bunga mengangkat tangan ke kiri. "Toilet sebelah sana, ya?"

"Sebelah kanan, Mbak," jawab perawat otomatis.

"Makasih."

Begitu melewati belokan, Bunga masuk ke toilet. Ia mengganti baju secepat mungkin, menahan nyeri, lalu keluar lewat pintu samping yang menuju lorong staf. Suara itu terus memberi arahan, mengingat posisi kamera, jam pergantian satpam, dan pintu darurat yang tidak dijaga karena dipakai kurir makanan.

"Kamu terlalu pintar buat suara gentayangan," gumam Bunga.

"Saya bukan suara gentayangan."

"Terus siapa?"

Hening.

Bunga berhenti di dekat pintu darurat. Di baliknya, suara jalan raya terdengar samar. "Nama lu siapa?"

"Untuk saat ini, sebut saja saya Tuan Misterius."

Bunga melongo. "Serius? Itu nama pilihan lu?"

"Lebih baik daripada kamu memanggil saya suara kepala."

"Tuan Misterius," ulang Bunga, lalu mendengus. "Norak banget, tapi cocok. Sok mahal."

Ia mendorong pintu darurat dan keluar ke gang samping rumah sakit. Udara malam Jakarta menampar wajahnya, lembap, bau knalpot, gorengan, dan selokan. Kepalanya masih sakit, perutnya kosong, tapi ia bebas dari meja administrasi.

Setidaknya untuk sementara.

Dua puluh menit kemudian, Bunga duduk jongkok di tepi trotoar dekat warung kaki lima. Ia berhasil menukar anting imitasi kecilnya dengan sebungkus nasi, telur dadar, sambal, dan sedikit ayam suwir. Bukan transaksi paling adil dalam hidupnya, tetapi malam ini ia tidak punya tenaga untuk tawar-menawar.

Ia membuka bungkus kertas minyak itu. Uap hangat naik ke wajahnya.

"Kamu yakin itu aman dimakan?" tanya Tuan Misterius.

"Kalau mati karena nasi bungkus, minimal mati kenyang."

"Standar keselamatanmu mengkhawatirkan."

"Standar hidup gue realistis."

Bunga menyuap nasi pertama. Sambal pedas menyengat lidah, telur dadar masih agak hangat, ayam suwirnya asin, dan nasi putihnya pulen di bagian tengah, sedikit keras di pinggir karena sudah lama di termos.

Di dalam kepalanya, Tuan Misterius tiba-tiba diam total.

Bunga berhenti mengunyah. "Kenapa?"

Tidak ada jawaban.

"Woi, Tuan Misterius. Lu mati?"

"Tidak."

Suaranya terdengar lebih rendah dari sebelumnya.

Bunga menyuap lagi, kali ini dengan sambal lebih banyak. Rasa pedas membuat matanya sedikit berair.

Tuan Misterius menarik napas, seolah ia yang sedang makan setelah bertahun-tahun lupa caranya.

"Ini," katanya pelan, "makanan terbaik yang pernah saya makan."

Bunga menatap nasi bungkus di tangannya, lalu tertawa kecil.

"Selamat datang di dunia orang lapar, Tuan."

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
Episodes

Updated 100 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!