Meraih Bintang

Meraih Bintang

Episode 1

Bab 001

Malam Gala

Rangga Wicaksana tahu ia hanya punya waktu kurang dari tiga menit sebelum layar utama ballroom menyala.

Di depannya, ratusan tamu undangan berdiri dengan gelas kristal di tangan. Gaun malam berkilau, jas hitam mahal, aroma parfum lembut, dan tawa yang sengaja dibuat pelan memenuhi ballroom sebuah hotel bintang lima di Jakarta. Dari luar, gala dinner itu tampak seperti acara amal biasa. Dari dalam, Rangga tahu sebagian besar orang di ruangan itu datang untuk mencuci nama, uang, atau keduanya.

Di panggung utama, Jenderal Hartono Prakoso sedang berbicara tentang pembangunan daerah.

"Kalimantan bukan sekadar tanah," suara Hartono rendah dan berat, disambut kamera media. "Di sana ada masa depan bangsa. Kita tidak boleh membiarkan rakyat kecil tertinggal."

Rangga menatap pria itu dari sisi ruangan, wajahnya tenang seperti biasa. Tangannya menyentuh saku dalam jas, memastikan flashdisk kecil itu masih ada. Di dalamnya tersimpan laporan pengiriman alat berat ilegal, foto lokasi tambang tanpa izin, rekening perantara PT Garuda Perkasa, dan daftar orang yang menerima aliran dana.

Selama enam bulan ia mengumpulkan semuanya.

Malam ini, ia akan membuat ruangan semahal ini menelan kebenaran yang paling kotor.

"Mas Rangga."

Rangga menoleh sedikit. Reno berdiri dua langkah di belakangnya, wajahnya tegang meski suaranya tetap pelan.

"Tim hotel baru saja mengganti operator layar. Orang kita tidak bisa masuk."

"Siapa yang mengganti?"

"Orang Hartono."

Rangga tidak langsung menjawab. Di panggung, Hartono mengangkat tangan, membuat para tamu bertepuk tangan lebih keras. Di meja VIP, beberapa pejabat tersenyum sambil berpura-pura terharu.

"Berarti dia sudah mencium sesuatu," kata Rangga.

"Kita batalkan?"

Rangga menatap layar besar yang masih menampilkan logo acara amal. Kalau ia mundur sekarang, data itu akan segera basi. Sumbernya di Kalimantan sudah hilang kontak sejak pagi. Orang yang berani mengirim bukti itu mungkin sudah tidak hidup saat ini.

"Tidak."

Reno menarik napas pendek. "Mas, ini bukan rapat direksi. Kalau mereka tahu Anda membawa bukti itu, mereka tidak akan menunggu pengacara."

"Saya juga tidak berniat menunggu mereka."

Rangga mengambil ponsel, membuka folder tersembunyi, lalu mengirim satu pesan terjadwal ke tiga alamat email. Kalau ia gagal memasukkan flashdisk ke sistem hotel, berkas itu tetap akan terkirim. Namun tanpa layar, tanpa saksi, tanpa wajah Hartono tepat di depan kamera, dampaknya akan jauh lebih kecil.

Ia bergerak ke sisi ballroom, melewati pelayan yang membawa nampan canape. Langkahnya tidak tergesa. Orang seperti Rangga tidak berlari di ruang publik. Ia cukup berjalan, dan orang-orang biasanya memberi jalan.

Di dekat pintu servis, seorang pelayan perempuan mendorong troli kosong. Rangga mengangguk kecil padanya, lalu melewati pintu tanpa menunggu izin.

Lorong belakang hotel jauh lebih dingin dan terang. Suara musik dari ballroom terdengar teredam. Di ujung lorong, dua teknisi hotel berdiri di depan ruang kontrol, tetapi wajah mereka bukan wajah staf hotel. Sepatu mereka terlalu kaku. Bahu mereka terlalu siap.

Rangga berhenti setengah detik.

Salah satu dari mereka menoleh.

Mata mereka bertemu.

Rangga berbalik tepat saat pria itu menyentuh earpiece di telinganya.

"Dia di lorong servis."

Kalimat itu pelan, tetapi cukup.

Rangga berjalan cepat. Belokan pertama, kiri. Belokan kedua, melewati dapur. Seorang koki hampir menabraknya dengan panci besar.

"Maaf," kata Rangga singkat.

"Pak, area ini tidak boleh..."

Kalimat itu putus ketika dua pria berjas hitam masuk dari belakang Rangga.

Koki itu langsung diam.

Rangga tidak punya pilihan selain masuk ke dapur utama. Panas dari kompor, bau mentega, saus daging, bawang putih, dan gula karamel langsung menyerbu hidungnya. Di antara staf yang sibuk, ada satu gadis berkaus lusuh sedang berdiri di dekat meja dessert dengan mata berbinar.

Gadis itu tidak memakai seragam.

Di tangan kirinya ada piring kecil berisi dua potong steak, tiga udang panggang, dan sepotong roti. Di tangan kanannya ada sendok yang masih meneteskan saus cokelat.

Ia sedang mengunyah.

Rangga dan gadis itu saling menatap.

"Kamu siapa?" tanya Rangga.

Gadis itu menelan buru-buru. "Staf tambahan."

Rangga menatap sendal jepitnya.

Gadis itu ikut menunduk, lalu mengangkat dagu. "Staf tambahan bagian kelaparan."

Dalam keadaan lain, Rangga mungkin akan menganggap jawaban itu mengganggu. Malam ini, ia hanya melihat pintu keluar di belakang gadis itu.

"Minggir."

"Enak aja. Ini jalan gue duluan."

Pria berjas hitam muncul di ambang pintu dapur. Salah satunya mengeluarkan sesuatu dari balik jas. Bukan pistol, terlalu berisiko di hotel penuh pejabat. Sebuah tongkat pendek logam.

Wajah gadis itu berubah. Ia melihat tongkat itu, lalu melihat Rangga.

"Lu dikejar?"

"Ya."

"Utang?"

"Bukti kejahatan."

"Oh." Gadis itu masih memegang piringnya. "Levelnya beda."

Rangga menyambar pergelangan tangannya dan menariknya menjauh tepat saat tongkat logam menghantam meja dessert. Piring kecil gadis itu jatuh. Saus cokelat menciprat ke lantai putih.

"Woi! Makanan gue!"

"Kalau kamu masih ingin makan besok, lari."

Mereka menerobos pintu belakang dapur. Lorong sempit membawa mereka ke area loading. Di luar, hujan Jakarta turun tipis, membuat lantai semen licin. Suara musik gala berganti menjadi deru mesin pendingin, klakson mobil, dan bentakan seseorang dari jarak dekat.

"Tahan dia!"

Gadis itu tiba-tiba menarik tangannya dari Rangga.

"Sini!"

Ia melompat melewati tumpukan peti air mineral dengan gerakan lincah yang tidak cocok dengan tubuh kurus dan kaus usangnya. Rangga mengikuti, meski jasnya tersangkut ujung besi. Di belakang mereka, langkah para pengejar makin dekat.

"Nama kamu?" Rangga bertanya sambil berlari.

"Sekarang kenalan? Romantis banget, Pak!"

"Saya perlu tahu kalau harus menulis laporan kematian."

"Gak usah doain!" Gadis itu menendang pintu samping hingga terbuka. "Bunga. Bunga Lestari."

Mereka keluar ke koridor parkir bawah tanah. Lampu neon berkedip. Aroma bensin dan air hujan bercampur. Beberapa mobil mewah berjajar seperti hewan mahal yang tidur.

Rangga melihat kamera CCTV di sudut, lalu mengutuk dalam hati. Area itu pasti sudah mereka kuasai.

"Ke kanan," katanya.

"Kanan buntu."

"Kiri ada orang mereka."

"Lu tahu dari mana?"

"Dari cara mereka mengepung."

Bunga menatapnya sekilas, seperti baru menyadari jas mahal dan wajah tenangnya bukan sekadar pajangan. "Oke, Tuan Strategi. Kalau buntu, lu yang jadi tumbal."

Mereka berbelok ke kanan. Benar, ujung koridor ditutup pagar besi untuk area renovasi. Bunga tidak berhenti. Ia menarik satu batang pipa kecil dari tumpukan material dan memukul kunci gemboknya dengan sudut yang tepat.

Tak.

Gembok terbuka.

Rangga menatapnya.

"Anak kampung juga punya skill," kata Bunga cepat. "Jangan kagum dulu."

Mereka masuk ke area renovasi. Lantai belum rata, sebagian tertutup plastik, dan bau semen basah menyengat. Rangga meraba saku jasnya lagi.

Flashdisk masih ada.

Bunga melihat gerakan itu. "Benda kecil itu yang bikin kita hampir mati?"

"Ya."

"Kasih ke gue. Kalau mereka cari lu, gue bisa kabur."

"Tidak."

"Percaya sama orang miskin susah banget, ya?"

Rangga menoleh tajam, tetapi tidak sempat menjawab.

Satu orang muncul dari sisi kiri dan langsung mengayunkan tongkat ke kepala Bunga. Bunga menunduk, memutar tubuh, lalu menyikut perut pria itu. Gerakannya cepat, kasar, dan terlatih. Pria itu terdorong, tetapi yang kedua datang dari belakang.

Rangga menarik Bunga ke samping. Pukulan itu mengenai bahunya. Nyeri menjalar sampai ujung jari, namun wajahnya tetap datar.

"Lu bisa berantem juga?" Bunga terkejut.

"Saya bisa bertahan."

"Beda tipis kalau lagi mau mati."

Mereka mundur sampai punggung Bunga hampir menyentuh dinding beton. Tiga pria mengepung. Di belakang mereka, langkah lain mendekat. Rangga menghitung jarak, sudut, kemungkinan. Terlalu sedikit jalan keluar. Terlalu banyak risiko.

Ponselnya bergetar di saku.

Pesan terjadwal terkirim.

Setidaknya bukti itu sudah keluar.

Salah satu pria menyeringai. "Pak Hartono cuma minta flashdisk. Jangan bikin susah, Mas Rangga."

Bunga langsung menoleh. "Mas Rangga?"

Rangga tidak menjawab. Ia menatap pria itu. "Kalau Pak Hartono ingin bicara, dia tahu nomor saya."

"Beliau sudah bosan bicara."

Pria itu menyerang.

Semua bergerak terlalu cepat. Bunga mendorong Rangga ke belakang, menghantam lutut penyerang pertama dengan pipa, lalu berputar untuk menghindari pukulan kedua. Namun orang ketiga tidak menyerang Rangga.

Ia menyerang Bunga.

Tongkat logam itu diarahkan ke tengkuknya.

Rangga melihatnya sepersekian detik sebelum terjadi. Gadis itu tidak akan sempat menghindar. Kepalanya masih miring, kakinya belum menapak sempurna. Tubuhnya kecil, terlalu ringan untuk menahan hantaman seperti itu.

Rangga tidak berpikir.

Ia menerjang ke depan dan memeluk tubuh Bunga dari samping, memutar posisi mereka.

Hantaman keras menghantam belakang kepalanya.

Dunia pecah menjadi cahaya putih.

Ia mendengar Bunga berteriak, sangat dekat di telinganya. Tubuh mereka jatuh bersamaan ke lantai beton. Flashdisk terlepas dari saku jas, meluncur ke bawah lembar plastik basah.

Rangga mencoba mengangkat tangan, tetapi jarinya tidak bergerak.

Di atasnya, lampu neon berkedip sekali, dua kali, lalu berubah buram.

"Pak! Pak jas mahal! Jangan mati di atas gue!"

Suara Bunga terdengar panik. Tangannya menepuk pipi Rangga, kasar dan hangat.

Rangga ingin mengatakan bahwa secara medis, menepuk pipi korban trauma kepala bukan prosedur yang dianjurkan. Ia juga ingin mengatakan agar gadis itu mengambil flashdisk dan lari.

Tidak ada suara keluar.

Yang terakhir ia rasakan adalah bau saus cokelat yang masih menempel di tangan Bunga, bercampur darah dan hujan yang terbawa dari luar.

Lalu semuanya gelap.

Ketika Bunga membuka mata, yang pertama ia lihat adalah lampu putih rumah sakit yang menusuk.

Dadanya sesak. Kepalanya berdenyut. Ada suara mesin monitor di sebelah kanan, tirai hijau pucat, dan seseorang berteriak memanggil perawat dari balik pintu.

Ia mencoba bangun.

"Jangan bergerak."

Bunga membeku.

Suara itu laki-laki. Rendah. Tenang. Terlalu dekat.

Ia menoleh ke kiri. Tidak ada siapa-siapa.

Ia menoleh ke kanan. Hanya infus dan kursi kosong.

"Siapa?" bisiknya serak.

Suara itu terdengar lagi, bukan dari telinga, melainkan dari dalam kepalanya.

"Saya juga sedang berusaha memahami situasi ini."

Napas Bunga tertahan.

Monitor di samping ranjang berbunyi lebih cepat.

"Dan untuk sementara," kata suara itu, dingin dan jelas, "tolong jangan berteriak."

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
Episodes

Updated 100 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!