Episode 4

Bab 004

Gaun Pinjaman

"Ya. Itu masalah pertama kita."

Kalimat Tuan Misterius masih menempel di kepala Bunga sampai matahari Jakarta naik dengan panas yang tidak sopan. Masalah pertama mereka ternyata bukan Hartono, bukan socialite gathering, bukan cara menyusup ke lingkaran orang kaya.

Masalah pertama mereka adalah sendal jepit Bunga.

"Menurutmu, orang akan langsung mengusirku cuma karena sendal?" Bunga berdiri di depan kaca minimarket yang sama, menatap dirinya dari ujung rambut sampai kaki.

"Tidak langsung," jawab Tuan Misterius. "Mereka akan menilai dalam tiga detik pertama, lalu mengusir dengan cara yang sangat sopan."

"Sopan-sopan tetap aja ngusir."

"Benar."

Bunga mendecak. "Kamu ini kalau jadi motivator pasti bangkrut."

Tuan Misterius menyuruhnya naik ojek online ke sebuah kawasan dekat Blok M. Bunga tidak punya aplikasi, tidak punya ponsel, dan jelas tidak punya saldo. Akhirnya ia berjalan jauh, naik angkot dua kali, lalu menumpang di belakang motor seorang ibu penjual kue yang kasihan melihat perban di kepalanya.

"Ini bagian dari strategi elite juga?" tanya Bunga saat turun dengan lutut pegal.

"Ini bagian dari keterbatasan modal."

"Bahasanya diperhalus, ya. Namanya miskin, Tuan."

Tempat yang mereka tuju bukan butik mewah dengan pintu kaca besar, melainkan rumah dua lantai di gang rapi yang bagian depannya dipenuhi manekin. Dari luar, gaun-gaun itu tampak seperti mimpi yang digantung. Satin, tulle, payet, warna sampanye, biru tua, hitam, merah marun. Ada beberapa kebaya modern yang membuat Bunga langsung berdiri lebih tegak, seolah kain mahal bisa menampar punggungnya agar tidak membungkuk.

Seorang perempuan paruh baya keluar dari dalam. "Cari apa, Mbak?"

Bunga hampir menjawab seadanya, tetapi Tuan Misterius lebih cepat.

"Katakan kamu asisten pribadi tamu acara amal. Butuh gaun malam untuk fitting mendadak. Jangan pakai gue."

Bunga menahan napas. "Saya cari gaun malam untuk acara amal. Mendadak, Bu. Bisa sewa harian?"

Pemilik rental menatap kaus lusuh dan perban di kepala Bunga. Tatapannya tidak jahat, tetapi penuh hitung-hitungan.

"Deposit?"

Bunga terdiam.

"Tawarkan kerja," bisik Tuan Misterius.

"Saya bisa bantu bersih-bersih, setrika uap, antar katalog, apa saja. Depositnya pakai kerja dulu. Gaunnya saya kembalikan besok malam. Kalau rusak, saya kerja sampai lunas."

Pemilik rental mengangkat alis. "Berani sekali."

"Takut juga, Bu. Tapi acara tetap jalan."

Perempuan itu menatapnya lebih lama, lalu tertawa kecil. "Masuk."

Dua jam berikutnya, Bunga belajar bahwa dunia gaun pinjaman lebih kejam daripada latihan silat. Ia diminta mencuci gelas, menyikat sol sepatu pesta, membawa tiga karung kain ke lantai atas, lalu berdiri diam saat pemilik rental mengukur pinggangnya.

"Terlalu kurus," komentar perempuan itu.

"Saya irit biaya hidup," jawab Bunga.

"Jangan bercanda kalau sedang diukur."

"Baik, Bu."

Tuan Misterius, tentu saja, punya komentar untuk semuanya.

"Punggung tegak. Jangan melihat kain seperti melihat gorengan gratis."

"Itu sulit."

"Jangan bicara keras."

"Aku bicara pelan."

"Untuk standar pasar, ya. Untuk acara mereka, belum."

Bunga menggigit bagian dalam pipinya. Kalau suara itu punya leher, mungkin sudah ia cubit.

Pemilik rental mengeluarkan gaun hitam sederhana dengan potongan leher tertutup dan pinggang pas. Tidak terlalu terbuka, tidak terlalu ramai, tetapi saat kainnya menyentuh kulit Bunga, ia tahu benda itu mahal. Bahannya jatuh mengikuti tubuh tanpa membuatnya terlihat seperti sedang meminjam kulit orang lain.

"Ini bekas pemotretan. Ada noda kecil di bagian dalam, tidak terlihat. Kamu boleh pakai kalau berani jaga."

Bunga menyentuh ujung kainnya dengan dua jari. "Saya jaga, Bu."

"Sepatu ukuran berapa?"

Bunga menatap sendal jepitnya. "Ukuran yang tidak bikin jatuh."

Pemilik rental akhirnya benar-benar tertawa.

Sore harinya, setelah mendapat gaun, sepatu, dan clutch kecil yang harus dikembalikan tanpa lecet, Bunga duduk di warung kopi murah di seberang jalan. Tuan Misterius memulai pelajaran kedua: cara makan tanpa mempermalukan diri.

Ia menggambar posisi garpu, pisau, sendok dessert, gelas air, dan gelas lain di atas tisu menggunakan bolpoin pinjaman.

"Garpu dari luar ke dalam," katanya.

Bunga menatap gambar itu. "Kenapa orang kaya butuh banyak garpu buat satu mulut?"

"Karena mereka mengubah kebutuhan menjadi tata krama."

"Berarti kalau gue makan pakai tangan, itu apa?"

"Kejujuran budaya. Tapi jangan lakukan di acara besok."

Bunga mengangkat garpu plastik dari piring mi goreng warung. "Begini?"

"Jangan menggenggam seperti memegang pisau dapur."

"Ini garpu plastik, Tuan. Kalau gue tekan terlalu lembut, patah."

"Tangan kiri menahan, kanan memotong."

"Kalau makanannya sudah kecil?"

"Tetap jangan menusuk semua sekaligus."

Bunga mencoba mengikuti. Potongan mi tergelincir dari garpu dan jatuh ke meja. Ia dan Tuan Misterius sama-sama diam.

"Kalau ada yang lihat," kata Bunga, "bilang saja ini teknik kontemporer."

"Tidak."

"Kamu kaku banget. Pantas hidupmu susah."

Begitu kalimat itu keluar, udara di dalam kepalanya berubah.

Bunga sedang mengangkat garpu ketika tiba-tiba dadanya terasa kosong. Bukan sedih biasa. Bukan lelah. Rasanya seperti lantai di bawah hidupnya hilang, seperti tubuhnya berdiri di tepi tempat tinggi dan ada dorongan dingin yang berkata, lompat saja, selesai saja, tidak ada yang akan kehilangan.

Garpu plastik jatuh.

Bunga mencengkeram tepi meja.

"Tuan?"

Tidak ada jawaban.

Rasa itu bukan miliknya. Bunga tahu kesedihannya sendiri. Kesedihannya panas, berisik, penuh dendam. Yang ini dingin, rapi, dalam, seperti sumur yang ditutup marmer.

Di seberang jalan, lantai dua rumah rental punya balkon kecil. Mata Bunga tertarik ke sana tanpa alasan. Kakinya seperti ingin berdiri.

"Hei." Bunga menekan lututnya dengan kedua tangan. "Jangan."

Hening.

Napasnya mulai pendek. Ia tidak tahu bagaimana menarik seseorang keluar dari tempat yang bahkan tidak bisa ia lihat. Maka ia melakukan satu-satunya hal yang diajarkan hidup padanya: membuat sakit yang nyata mengalahkan sakit yang tidak kelihatan.

Bunga menggigit punggung tangannya sendiri.

Keras.

Rasa nyeri meledak. Tuan Misterius tersentak di dalam kepalanya.

"Apa yang kamu lakukan?"

"Narik kamu balik, bodoh." Suara Bunga bergetar, tetapi ia memaksa marah. "Kamu mau mati? Mati nanti. Sekarang bantuin gue dulu. Gue belum jadi orang kaya, belum masuk acara, belum nampar Hartono pakai bukti. Jangan egois."

Tuan Misterius tidak menjawab.

Bunga menatap bekas giginya yang memerah. "Dengar, Tuan Misterius. Kalau kamu tenggelam lagi, bilang. Jangan diam-diam narik gue ke pinggir jurang."

"Maaf."

Satu kata itu keluar sangat pelan.

Terlalu pelan untuk laki-laki yang sejak semalam bicara seperti kamus berjalan.

Bunga menelan sesuatu yang mengganjal di tenggorokan. "Kamu sering begitu?"

"Cukup sering."

"Ada dokter?"

"Ada."

"Kamu nurut?"

Heningnya adalah jawaban.

Bunga mendengus, tetapi kali ini tidak mengejek. "Orang pintar memang kadang paling susah disuruh hidup."

Malamnya, di kamar sempit kos harian yang berhasil ia bayar dengan membantu pemilik rental sampai tutup, Bunga mencoba gaun hitam itu. Rambutnya ia ikat rendah. Perban di kepalanya ia tutup dengan jepit dan sedikit bedak pinjaman. Sepatu hak membuat betisnya tegang, tetapi ia tidak jatuh.

Di depan cermin retak, gadis yang biasa mencuri sisa makanan hotel berdiri dalam gaun yang membuat bahunya terlihat lebih tegas dan lehernya lebih jenjang. Kaus lusuh hilang. Sendal jepit hilang. Yang tersisa adalah mata tajam yang belum belajar takut pada lampu kristal.

Bunga menahan napas. "Gimana?"

Tuan Misterius diam terlalu lama.

"Kalau jelek, bilang aja. Gue sudah kebal."

"Lumayan," katanya akhirnya.

Nada suaranya tetap datar, tetapi ada sesuatu yang lebih lembut di sana. Sesuatu yang membuat Bunga memalingkan wajah dari cermin lebih cepat dari seharusnya.

"Pujianmu pelit," gerutunya.

"Pujian yang boros menurunkan nilai."

Bunga menatap pantulan dirinya lagi. Kali ini ia tersenyum sedikit.

"Besok," katanya, "kita naik kelas."

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
Episodes

Updated 100 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!