Episode 3

Bab 003

Perjanjian

"Selamat datang di dunia orang lapar, Tuan."

Bunga mengucapkannya sambil mengaduk sisa sambal di atas kertas minyak. Ia berniat mengejek, tetapi suara itu tidak langsung membalas. Diamnya Tuan Misterius kali ini berbeda. Bukan diam sombong, melainkan seperti orang yang baru menemukan jendela di ruang yang terlalu lama terkunci.

Angin malam membawa bau asap sate dari ujung jalan. Mobil lewat tanpa peduli pada gadis berkaus lusuh yang duduk di trotoar dengan kepala diperban seadanya. Jakarta memang begitu. Kota ini bisa menelan orang tanpa sendawa.

"Kamu selalu makan seperti ini?" tanya Tuan Misterius akhirnya.

"Kalau lagi kaya, pakai kerupuk."

"Itu bukan jawaban serius."

"Itu jawaban paling serius dari orang yang tadi bayar makan pakai anting imitasi."

Bunga melipat kertas nasi, lalu menyelipkannya ke kantong plastik warung. Nenek Ratna dulu selalu bilang, miskin bukan alasan meninggalkan sampah sembarangan. Tangan Bunga bergerak otomatis, seolah omelan Nenek masih berdiri di belakangnya.

Perasaan itu menusuk sedikit.

Tuan Misterius menangkap perubahan napasnya. "Kamu kesakitan?"

"Kepala gue dijahit, Tuan. Masa geli?"

"Bukan itu."

Bunga terdiam. Ia tidak suka laki-laki ini terlalu cepat membaca sela-sela. Di dalam kepala sendiri saja rasanya ia tidak punya tempat bersembunyi.

"Dengar," katanya sambil berdiri pelan. "Kita harus bikin aturan."

"Saya setuju."

"Pertama, jangan komentar setiap kali gue makan."

"Sulit, tapi akan saya usahakan."

"Kedua, jangan lihat kalau gue mandi, ganti baju, atau apa pun yang normalnya orang sopan gak lihat."

"Saya sudah mengatakan akan menjaga batas."

"Ketiga, kalau lu tahu cara keluar dari kepala gue, lakukan."

Hening.

Bunga mengangkat alis. "Nah. Masalahnya di situ, kan?"

"Saya belum tahu caranya."

"Berarti kita sama-sama sial."

"Tidak sepenuhnya." Nada Tuan Misterius kembali rapi. "Kamu butuh bantuan. Saya juga."

Bunga berjalan menjauh dari warung. Kakinya masih sedikit goyah, tetapi ia menolak duduk lagi. Kalau duduk terlalu lama, tubuhnya akan sadar bahwa ia hampir mati malam ini.

"Bantuan apa yang lu punya? Dompet aja gak ada."

"Pengetahuan."

"Pengetahuan gak bisa buat bayar kos."

"Bisa, kalau digunakan benar."

Bunga tertawa pendek. "Orang kaya kalau ngomong memang suka begitu. Uang mereka berubah nama jadi pengetahuan, jaringan, peluang. Di bawah sini namanya tetap nasi dan kontrakan."

"Maka katakan apa yang kamu inginkan."

Langkah Bunga berhenti.

Pertanyaan itu terlalu besar untuk trotoar sempit dan perban murahan di kepalanya. Apa yang ia inginkan? Makan cukup? Tidur di kamar yang pintunya bisa dikunci? Ponsel baru? Tidak dikejar satpam mal karena bajunya lusuh?

Tidak.

Semua itu hanya kulit.

Yang ia inginkan berdiri jauh lebih tinggi, di balik gedung kaca, mobil hitam, meja VIP, dan senyum orang-orang seperti Hartono.

"Gue mau masuk ke dunia mereka," kata Bunga pelan.

"Mereka?"

"Orang-orang di ballroom tadi. Yang sekali buang makanan bisa buat gue makan seminggu. Yang kalau ngomong semua orang diam. Yang kalau salah, ada pengacara. Kalau jahat, ada acara amal buat cuci muka."

Tuan Misterius diam, tetapi Bunga tahu ia mendengarkan.

"Gue mau belajar cara mereka berdiri, cara mereka bicara, cara mereka bohong. Gue mau ada di ruangan yang sama dengan mereka tanpa diusir."

"Untuk apa?"

Bunga menatap pantulan dirinya di kaca minimarket yang sudah tutup. Kausnya kusut, perbannya miring, sendal jepitnya beda warna karena satu tertukar di rumah sakit. Ia tampak seperti lelucon yang tersesat di Jakarta.

Namun matanya tidak bercanda.

"Untuk mendekati Hartono Prakoso."

Nama itu membuat udara di dalam kepalanya berubah. Bunga merasakan dingin yang bukan miliknya, tajam dan tertahan. Tuan Misterius mengenal nama itu. Bukan sekadar tahu, tetapi benci.

"Apa hubunganmu dengan Hartono?" tanyanya.

Bunga menutup mata sebentar.

Desa Kemuning muncul seperti luka lama yang ditekan. Jalan tanah setelah hujan. Bau daun basah. Suara Nenek Ratna menghitung gerakan pencak silat di halaman. Tangan tua itu keras saat membetulkan posisi kuda-kuda Bunga, tetapi selalu hangat saat menyodorkan makan.

Bunga bukan lahir dari keluarga. Ia ditemukan, dibesarkan, dimarahi, dilatih, dan dicintai oleh seorang perempuan tua yang semua orang panggil Nenek Ratna.

"Dia membunuh orang yang membesarkan gue," kata Bunga.

Tidak ada tawa dalam suaranya sekarang.

"Nenek Ratna bukan nenek kandung, tapi dia satu-satunya keluarga gue. Di Desa Kemuning, dia ngajarin gue silat, ngajarin baca, ngajarin jangan takut sama orang yang pakai sepatu mahal. Lalu orang-orang Hartono datang. Katanya tanah desa masuk proyek tambang. Katanya kami harus pergi."

Tangannya mengepal di sisi tubuh.

"Nenek menolak. Banyak orang menolak. Setelah itu rumah-rumah dibakar, beberapa orang hilang, dan Nenek..." Bunga berhenti. Rahangnya mengeras. "Gue cuma sempat lihat tubuhnya di lantai rumah, dengan darah di dekat mulutnya."

Untuk pertama kalinya sejak mereka berbagi kepala, Tuan Misterius tidak menyela dengan logika.

"Gue lari dari Desa Kemuning ke Jakarta," lanjut Bunga. "Gue jadi apa aja. Cuci piring, angkat galon, tidur di emperan, masuk acara orang kaya buat curi makanan. Semua supaya gue bisa tetap hidup sampai punya kesempatan."

"Kesempatan untuk membunuh Hartono?"

Bunga membuka mata. "Kalau bisa."

"Itu bukan rencana. Itu bunuh diri yang diberi nama dendam."

"Lu pikir gue gak tahu?"

"Kalau kamu tahu, kamu seharusnya mencari cara lain."

"Makanya gue butuh masuk ke dunia mereka." Bunga menepuk dadanya sendiri. "Gue punya badan, nyali, dan dendam. Tapi gue gak punya peta."

Tuan Misterius menjawab lebih pelan, "Saya punya peta."

Bunga menunggu.

"Saya juga ingin menjatuhkan Hartono Prakoso."

Kali ini Bunga yang diam.

Sebuah motor lewat terlalu dekat, membuat ujung bajunya berkibar. Ia tidak bergerak. Di dalam kepalanya, kebencian Tuan Misterius terasa seperti baja tipis yang disimpan lama di bawah kain beludru.

"Kenapa?" tanya Bunga.

"Karena dia membangun kerajaan dari tambang ilegal, pembunuhan, pengusiran, dan uang kotor. Karena hukum selalu berhenti satu langkah sebelum menyentuhnya. Karena malam ini saya hampir berhasil membuka buktinya di depan publik."

"Flashdisk itu."

"Ya."

"Berarti lu bukan cuma cowok jas mahal yang apes."

"Deskripsi itu tetap akurat, tetapi tidak lengkap."

Bunga hampir tersenyum, lalu menahannya. "Jadi apa mau lu?"

"Bantu saya bergerak. Tubuh saya tidak bisa saya pakai sekarang. Saya tidak tahu di mana kondisi fisik saya, tetapi selama saya berada di dalam kesadaranmu, saya perlu mata, telinga, dan tangan."

"Tangan gue mahal."

"Saya bisa membayarnya."

"Katanya gak punya dompet."

"Saya punya akses, jaringan, dan pengetahuan tentang cara kerja orang-orang yang ingin kamu masuki."

Bunga mengangkat satu jari. "Syarat gue pertama, lu bantu gue masuk ke lingkaran elite Jakarta."

"Bisa."

"Jangan gampang banget jawabnya. Gue ini cuma cewek kampung dengan baju jelek dan logat medok."

"Justru itu bisa digunakan."

"Digunakan gimana?"

"Kejujuran yang diarahkan dengan benar terlihat seperti keberanian. Kekurangan yang diberi cerita tepat bisa berubah menjadi daya tarik."

Bunga menatap kosong beberapa detik. "Tuan, kalau lu lagi jual seminar motivasi, gue pulang."

"Saya sedang menyusun strategi."

"Syarat kedua," Bunga melanjutkan. "Lu gak boleh mengambil alih badan gue tanpa izin."

Tuan Misterius hening sesaat. "Saya bahkan belum tahu apakah itu mungkin."

"Kalau nanti mungkin, ingat dari sekarang. Ini badan gue."

"Saya setuju."

"Syarat ketiga, jangan bohong soal Hartono."

"Kamu juga."

Bunga mengulurkan tangan ke udara kosong. "Deal?"

"Kamu sadar saya tidak bisa menjabat tanganmu?"

"Simbolis, Tuan. Orang miskin juga ngerti simbol."

Untuk beberapa detik, tidak ada apa-apa. Lalu Bunga merasakan sesuatu yang aneh, bukan sentuhan, tetapi kesadaran lain yang mendekat pelan, seperti seseorang berdiri tepat di sampingnya tanpa mengambil ruang.

"Deal," kata Tuan Misterius.

Bunga menurunkan tangan. "Oke. Sekarang gimana caranya gue masuk dunia mereka?"

"Ada sebuah socialite gathering tiga hari lagi. Tamu utamanya Baskara Prawira."

"Siapa lagi itu?"

"Keponakan Hartono. Pewaris Keluarga Prawira. Akses yang lebih halus menuju pamannya."

Bunga langsung tegak. Rasa sakit di kepalanya seperti lupa hadir. "Lu bisa masukin gue ke sana?"

"Sebagai plus one, mungkin."

"Plus one siapa?"

"Itu yang perlu kita atur."

Bunga menatap bayangannya lagi di kaca minimarket. Kaus lusuh, celana kusut, sendal jepit, rambut berantakan, perban di kepala.

Tuan Misterius juga melihatnya melalui mata yang sama.

Diam mereka kali ini kompak.

Akhirnya Bunga menunjuk dirinya sendiri. "Dengan tampilan begini?"

Suara Tuan Misterius terdengar sangat datar.

"Ya. Itu masalah pertama kita."

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
Episodes

Updated 100 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!