Episode 5

Bab 005

Pesta Pertama

"Besok," kata Bunga pada bayangannya sendiri malam itu, "kita naik kelas."

Keesokan sorenya, saat ia berdiri di depan gerbang rumah besar Keluarga Prawira dengan sepatu hak yang mulai menyiksa jari kakinya, Bunga baru sadar bahwa naik kelas ternyata bisa membuat betis gemetar.

Rumah itu tidak seperti rumah dalam pengertian Bunga. Lebih mirip kompleks kecil dengan halaman luas, lampu taman tersembunyi, kolam memanjang, dan area rumput yang sudah disulap menjadi garden party. Para tamu berdiri dalam kelompok-kelompok kecil, tertawa pelan, memegang gelas, dan memandang dunia seolah semua jalan lahir untuk mengantar mereka.

"Punggung tegak," kata Tuan Misterius.

"Kalau lebih tegak lagi, tulang gue keluar."

"Jangan bicara seperti itu di luar."

"Ini di dalam kepala."

"Tetap kebiasaan buruk."

Bunga menahan keinginan untuk memutar mata. Di tangannya ada undangan digital yang tidak benar-benar miliknya. Tuan Misterius menemukan celah dari daftar tamu yang sempat ia lihat di acara amal sebelum semuanya kacau: satu rombongan tamu dari Jawa Tengah batal datang, tetapi satu slot pendamping belum dihapus dari daftar. Bunga hanya perlu berjalan seolah ia memang pantas ada di sana.

Hanya.

Kata yang sangat sombong.

Petugas di meja registrasi menatap layar tablet. "Nama?"

Bunga menarik napas. "Bunga Lestari. Saya hadir sebagai pendamping dari keluarga rekanan Jawa Tengah."

Petugas menatapnya dari atas ke bawah. Bunga merasakan tatapan itu berhenti sebentar di clutch pinjaman, lalu di perban yang sudah ia tutup rambut dan bedak.

"Undangannya?"

Bunga menunjukkan kode QR. Tuan Misterius membimbingnya mengatur wajah: jangan terlalu berharap, jangan terlalu takut, cukup sedikit bosan, seperti orang yang sering menunggu staf memproses sesuatu.

Tablet berbunyi pelan.

Petugas tersenyum. "Silakan, Mbak."

Bunga melangkah masuk.

Di dalam kepala, ia hampir melompat. Di luar, ia hanya mengangguk kecil.

"Jangan tersenyum seperti habis menang lotre," kata Tuan Misterius.

"Tapi rasanya begitu."

"Menang lotre pun orang-orang di sini akan pura-pura biasa."

"Menyedihkan."

Tuan Misterius tidak menjawab, mungkin karena ia setuju.

Di meja hidangan, Bunga melihat potongan daging panggang, salad kecil dalam mangkuk kaca, kue-kue mungil, dan sesuatu yang bentuknya seperti makanan mainan tetapi aromanya mahal. Perutnya langsung bereaksi, mengingatkan bahwa ia hanya makan roti sisa rental sejak pagi.

"Jangan langsung ke makanan," kata Tuan Misterius.

"Kenapa?"

"Kamu harus terlihat datang untuk bersosialisasi, bukan berburu protein."

"Aku memang berburu protein."

"Bunga."

"Iya, iya."

Ia mengambil segelas air putih, bukan karena ingin, tetapi karena Tuan Misterius mengatakan itu pilihan aman. Baru tiga langkah, seorang perempuan muda bergaun pastel menghampirinya. Wajahnya lembut, matanya jernih, senyumnya tidak setajam tamu lain.

"Hai. Aku Melati," katanya. "Kayaknya kita belum pernah ketemu."

Tuan Misterius langsung berbisik, "Melati Prawira. Adik Baskara. Jangan terlalu defensif."

Bunga tersenyum, mencoba versi senyum orang yang tidak pernah tawar-menawar harga angkot. "Bunga Lestari."

"Dari pihak mana?"

"Keluarga rekanan dari Jawa Tengah," jawab Bunga. "Saya ikut rombongan, tapi mereka tertahan urusan lain."

Melati mengangguk, seolah itu masuk akal. "Pertama kali ke acara keluarga kami?"

"Iya."

"Kalau begitu jangan berdiri sendiri. Orang-orang di sini kalau sudah punya kelompok, suka lupa ada tamu baru."

Bunga menatapnya sebentar. Tidak ada sindiran. Tidak ada tatapan menghitung. Gadis ini benar-benar menawarkan tempat berdiri.

"Terima kasih," kata Bunga.

"Terlalu kaku," komentar Tuan Misterius.

"Makasih," Bunga mengulang lebih ringan.

Melati tertawa kecil. "Nah, begitu lebih enak."

Untuk beberapa menit, Melati memperkenalkan Bunga pada dua tamu lain tanpa membuatnya merasa sedang diuji. Bunga menjawab seperlunya, mengikuti arahan Tuan Misterius: jangan menyebut detail yang bisa dicek, jangan berlebihan membicarakan keluarga, arahkan obrolan ke cuaca, acara, dan pujian kecil pada taman.

Lalu seorang perempuan bergaun merah marun muncul.

Senyumnya manis. Matanya tidak.

"Melati," katanya, lalu menoleh pada Bunga. "Teman baru?"

Tuan Misterius segera berkata, "Ratih Permata. Putri Suryo Permata. Hati-hati. Dia menikmati kelemahan orang."

Bunga mengencangkan jari di gelas.

"Bunga Lestari," kata Melati. "Dari Jawa Tengah."

"Oh?" Ratih menatap Bunga dari sepatu sampai rambut. "Keluarga mana? Aku cukup sering bertemu keluarga-keluarga militer dari sana."

Jebakan pertama datang lebih cepat dari perkiraan.

Bunga ingin menjawab asal-asalan, tetapi Tuan Misterius menahannya.

"Jangan sebut nama. Katakan generasi tua tidak suka diekspos."

Bunga tersenyum tipis. "Keluarga saya tidak terlalu suka disebut di acara sosial. Generasi lama, Mbak. Mereka lebih nyaman bekerja tanpa banyak foto."

Ratih tertawa halus. "Menarik. Biasanya orang justru bangga sekali menyebut keluarganya."

"Mungkin karena saya belum punya apa-apa untuk dibanggakan selain cara berdiri tanpa jatuh di sepatu ini."

Melati tertawa spontan.

Ratih juga tertawa, tetapi matanya menyipit. "Lucu."

"Terima kasih," jawab Bunga.

"Itu bukan pujian," kata Tuan Misterius.

"Aku tahu."

Ratih hendak bertanya lagi ketika suara dari sisi taman membuat beberapa tamu menoleh. Seorang pria tinggi memasuki area pesta dengan setelan abu-abu gelap. Wajahnya tenang, nyaris dingin. Tidak perlu ada yang mengumumkan namanya. Cara orang-orang memberi ruang sudah cukup.

"Baskara Prawira," kata Tuan Misterius.

Bunga melihatnya.

Jadi itu akses halus menuju Hartono.

Baskara tidak tampak seperti laki-laki yang mudah didekati. Ia menyalami beberapa tamu, mengangguk pada yang lain, tetapi sorot matanya seperti pintu yang hanya terbuka dari dalam. Bunga mengenali jenis kesepian seperti itu, meski bungkusnya mahal.

"Jangan menatap terlalu lama," kata Tuan Misterius.

"Aku sedang observasi."

"Kamu sedang melotot."

Bunga cepat memalingkan wajah.

Melati memperhatikan gerakannya, lalu tersenyum kecil. "Kakakku memang bikin orang salah tingkah."

"Saya tidak salah tingkah."

"Belum bilang kamu."

Bunga terbatuk pelan.

Acara mulai bergerak ke sesi makan ringan. Tuan Misterius menyuruh Bunga mengambil satu piring kecil saja. Bunga patuh selama lima menit pertama. Ia mengambil salad, satu potong daging, dan kentang kecil, lalu makan dengan garpu dari luar ke dalam seperti latihan.

Rasa daging itu membuatnya hampir menutup mata.

"Jangan bereaksi berlebihan," kata Tuan Misterius, tetapi suaranya sendiri terdengar lebih pelan.

"Kamu juga suka."

"Saya hanya menganalisis tekstur."

"Bohong."

Piring pertama selesai terlalu cepat.

Bunga menunggu jeda sopan, lalu mengambil piring kedua. Ia berbicara sebentar dengan Melati tentang taman, menghindari Ratih yang masih sesekali melirik. Piring kedua habis dengan strategi yang lebih rapi.

Lalu ada steak kecil di sudut meja yang baru diisi ulang.

"Tidak," kata Tuan Misterius.

"Ini kecil."

"Itu piring ketiga."

"Kalau kecil, hitungannya setengah."

"Tidak ada matematika seperti itu."

Bunga mengambilnya.

Ia berdiri agak menjauh dari keramaian, di dekat tanaman hias tinggi, lalu memotong steak itu dengan konsentrasi penuh. Kali ini gerakannya hampir benar. Garpu tidak terlepas. Pisau tidak berbunyi keras. Saus tidak menetes ke gaun. Kemenangan kecil, tetapi bagi Bunga rasanya seperti lulus ujian negara.

Ia memasukkan potongan pertama ke mulut.

Enak.

Terlalu enak.

Tanpa sadar wajahnya melembut. Bukan wajah gadis yang sedang menyusup. Bukan wajah pembohong. Hanya wajah seseorang yang selama ini terlalu sering lapar dan tiba-tiba diberi sesuatu yang layak.

Di seberang taman, Baskara Prawira berhenti berbicara.

Matanya tidak tertuju pada gaun Bunga. Tidak pada wajahnya yang sudah dipoles seadanya. Tidak pada kisah palsu dari Jawa Tengah.

Ia menatap piring ketiga di tangan Bunga dan ekspresi puas yang gagal ia sembunyikan.

Bunga baru sadar ketika Tuan Misterius berkata pelan, "Dia melihatmu."

Garpu Bunga berhenti di udara.

Baskara masih menatapnya.

Dan untuk alasan yang tidak Bunga pahami, sudut bibir pria itu bergerak sedikit, nyaris seperti senyum.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
Episodes

Updated 100 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!